
"Kita sama-sama mabuk waktu itu. Gue bahkan nggak sadar dengan apa yang udah gue lakuin sama dia." Derry berhenti sejenak. "... gue lagi ho**y dan bayangan gue, tuh cewe bukan dia. Gue melihat cewek lain. Pas gue bangun, gue kaget. Ternyata cewe yang gue perawanin semalam, cewe yang gue kenal."
Arfen menarik satu alisnya, "Lo ngeliat wajah cewek lain di dia? Gitu maksud Lo?" Ulang Arfen versi dirinya.
Derry mengangguk. Lalu kembali menenggak minumannya. Ia sedikit meringis dengan mata terpejam saat merasai rasa minumannya yang cenderung pahit. "Bajing*n! Gue nggak bisa bedain mana yang beneran dan mana yang halusinasi waktu itu."
Arfen menggeleng. Itulah sebabnya ia tidak ingin mabuk terlalu berat.
Arfen memang salah satu pecinta minuman beralkohol. Hampir sama dengan Derry. Bedanya Derry tidak akan berhenti sebelum ia mabuk. Sementara Arfen, ia selalu bisa membatasi dirinya sendiri saat minum.
Dalam arti kata lain, Arfen hanya sekedar menikmati minuman tersebut, tanpa berniat untuk mabuk. Karena biasanya, Orang mabuk tidak akan bisa mengontrol diri dan pikirannya.
Seperti apa yang terjadi dengan Derry, Arfen tidak ingin melakukan kesalahan yang nantinya bisa berimbas ke dirinya sendiri.
Seperti misalnya melakukan one night stand yang berujung tumbuhnya bayi dan menuntut sebuah pertanggung jawaban. Atau yang lebih buruk, karena terlalu mabuk, seseorang akan dengan mudah menjebaknya.
Kan, banyak yang seperti itu. Di tuduh melakukan, padahal sebenarnya tidak sama sekali.
Kalau pun ia ingin mabuk, Arfen selalu menghabiskan malamnya seorang diri di private room miliknya di d'Dream club'.
"Terus, tuh cewek gimana?" Tanya Arfen penasaran. Ini pertama kalinya Arfen tertarik untuk berbicara dengan Derry.
Derry melirik Arfen. Tapi enggan menjawab. Ia malah balik bertanya. "Btw, Lo ada urusan apa di Bali? Sampai dua bulan segala?"
Kini giliran Arfen yang enggan menjawab.
Derry tersenyum miring. Ia ingat akan sesuatu. "Oh iya, Gimana kabar sahabat Lo?"
"Siapa?"
"Cewek itu." Jawab Derry tanpa menyebutkan namanya.
Arfen tersenyum kecut, ia tahu siapa yang Derry maksud sekarang ini.
"Gue aja baru sampai Jakarta sore tadi. Dari airport gue langsung kesini." Arfen menggeleng, "... gue belum sempat ketemu sama dia."
__ADS_1
"Lupain!" Tiba-tiba Derry terkekeh geli. "... Ternyata tuh cewek nggak sepolos keliatannya."
Arfen menatap Derry tak suka. "Maksud Lo apa, Bang?" Tanya Arfen dengan nada yang terdengar tak biasa. Arfen kenal dia dari kecil. Dan Arfen tahu betul, Dira itu memang gadis yang polos.
Derry menoleh ke arah Arfen sekilas. Lalu memainkan gelas di tangannya sebelum akhirnya menyesap sedikit cairan memabukkan itu.
Ah... Ia jadi penasaran dengan reaksi Arfen setelah ia mengatakan ini. Fakta tentang gadis yang begitu Arfen kenal itu?
"Terakhir gue liat dia di rumah sakit. Dia hamil dan keguguran ... Anak dari ... Axello."
SRRETT!
PYAARR!!
Arfen langsung berdiri dan menarik kerah baju Derry dengan kuat, membuat tubuh Derry mendekat padanya. Derry yang tak siap dengan reaksi Arfen langsung menjatuhkan gelasnya di lantai. Beruntungnya suara dentuman musik mengalahkan suara dari gelas pecah tersebut.
"Jaga omongan Lo, Bang! Gue nggak segan-segan untuk mukul Lo kalo Lo ngomong yang enggak-enggak tentang dia!" Ucap Arfen sarkastik. Ia tak suka ada orang yang dengan seenaknya menjelekkan Dira.
"Wowowo..." Derry mengangkat kedua tangannya. "... Santai, Arfen! Gue ngomong berdasarkan fakta yang ada ...." Santai Derry bicara tanpa rasa bersalah atau pun takut dengan ancaman Arfen. "... Kalo Lo nggak percaya, Lo bisa tanya Axello sendiri."
...***...
Grafik yang menunjukkan keberhasilannya membantu sang ayah dalam melebarkan sayap MJ Corps.
Jika mata Axell fokus pada layar laptop, beda halnya dengan tangan kekarnya yang sekarang ini sedang sibuk mengelus-elus rambut sang istri yang tengah tertidur lelap di sampingnya.
Menit berlalu, tiba-tiba Axell mengangkat pandanganya. Ia teringat sesuatu.
Tak ingin mengganggu tidur sang istri, Perlahan Axell menyibak selimut yang menutupi kakinya dan turun dari ranjang dengan laptop yang turut serta ia bawa. Lalu meletakkannya di atas meja belajarnya.
Axell membungkuk, ia membuka laci dan mengambil satu laptop yang lama tersimpan di sana. Laptop yang menjadi saksi betapa bucinnya ia dengan Renata di masa lalu.
Axell duduk di kursinya dan menyalakan laptop tersebut. Dulu, Axell sering melakukan programing. Ia suka membuka situs perusahaan hanya untuk mencari tahu letak kelemahan di setiap perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan ayahnya. Bukan untuk curang, hanya ingin tahu saja.
Axell ingat, terakhir kali ia melakukan programing saat ia masih menjalin kasih dengan Renata. Saat ia baru memasuki bangku SMA dan hubungannya dengan Renata sedang hangat-hangatnya.
__ADS_1
Saat itu, MG sedang mengalami penurunan. Axell yang menghawatirkan keadaan perusahan milik papa Renata itu, mencoba mencari letak masalah yang membuat kinerja perusahaan itu menurun serta membuat agar perusahaan tersebut tetap stabil tanpa Renata ketahui.
Dan setelah ia berhasil, Axell hanya memberi tahu Satya Mahaputra - papa Renata, melalui e-mail. Mengetahui apa yang Axell lakukan untuk perusahaannya, Papa Renata mengucapkan banyak terima kasih dan mengapresiasi tindakan Axell tersebut. Dia bahkan sangat senang mengetahui ternyata Axell menjalin kasih dengan putrinya.
Axell mendengus geli saat mengingat hal itu. Tapi ia tidak menyesal dengan apa yang ia lakukan. Ia hanya membantu perusahaan milik orang tua kekasihnya. Dan hal itu bukan sebuah hal yang memalukan bukan?
Jika dulu Axell dengan baik hati mau membantu, maka kali ini ia akan melakukan hal yang berbanding terbalik. Ia akan sedikit bermain dengan perusahaan tersebut.
Salahkan saja putri kesayangan mereka yang telah berani mengusik miliknya.
Axell tersenyum setelah mengakhiri kesenangannya. Ia mematikan Laptop tersebut dan menaruhnya kembali ke dalam laci semula.
Saat akan menutup laci tersebut, Axell melihat ponsel Dira yang sampai sekarang ini masih ia sembunyikan.
Axell menarik satu alisnya saat melihat ada beberapa pesan masuk dan telepon tak terjawab dari seseorang.
Axell menarik satu sudut bibirnya melihat siapa yang mengirimi pesan sang istri. Ini hampir tengah malam dan kafenya masih buka di jam segini. d'Axe Cafe baru akan tutup di jam 2 dini hari, mengingat tepat itu yang selalu ramai.
Axell menoleh ke arah ranjang dimana istrinya yang masih terlelap di sana. Axell harap istrinya itu tidak bangun 1 2 jam ke depan karena menyadari tak adanya ia di sampingnya.
Ya, Axell berencana menemui Arfen setelah ini.
Axell kembali menatap layar ponsel Dira. Jarinya begitu santai mengetikkan pesan balasan untuk laki-laki itu.
Axell membuka lemari. Ia mengambil sebuah sweater dan mengenakannya. Meraih kunci mobil dan menghampiri istrinya. Axell membenarkan selimut Dira dan mendaratkan ciuman pada kening istrinya itu.
"Aku pergi sebentar, Yang..."
...***...
__ADS_1
*Axello Arkana Marvellyo.