
"Lo... lagi deketan sama Zaki?" Tanya Axell to the points.
"Hah...?" Cengo Dira.
'Kenapa kak Axell nanya gitu? Zaki?'
Axell mengangkat sebelah alisnya seakan menuntut jawaban dari mulut Dira. Tapi nihil. Gadis itu bahkan masih bungkam. Dan akhirnya Axell kembali membuka suara, "Gue liat semua tadi. Lo yang nurut aja waktu Zaki bawa Lo masuk ke mobilnya, bahkan tanpa penolakan sekali pun?" Jelas Axell dengan nada bicara yang sudah berbeda.
'Nah... kan... mampus gue!'
Melihat reaksi Dira yang hanya diam, membuat Axell akhirnya mendekat ke arah Dira. Axell lalu berhenti tepat di samping gadis itu. Ia membungkukkan badannya agar sejajar dengan istrinya.
"Dir, Lo itu istri gue. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Semua yang ada di Lo itu udah jadi hak gue. Milik gue. Jadi gue nggak suka kalo ada cowo yang bisa bebas sentuh-sentuh Lo. Walau seujung kuku sekalipun, ngerti?" Ujar Axell lagi dengan nada tenang tapi terasa penuh dengan intimidasi bagi Dira.
Dira diam Gadis itu bingung harus menjawab apa? Sebenarnya tanpa Axell bicara seperti itu pun Dira juga sudah tahu dan sangat mengerti. Bahwa semua yang ada pada dirinya itu adalah milik Axell - Suaminya.
Tapi bagaimana ia menjelaskan kalau dia sebenarnya sama sekali tak memiliki kedekatan atau hubungan apapun dengan Zaki. Bahkan Dira masih ingat betul, beberapa hari yang lalu Zaki juga pernah menanyakan tentang perasaan Melody padanya. Itu berarti Zaki menyukai Melody dan bukan dirinya.
"Lo udah jadi seorang istri, Dir. Seharusnya Lo bisa jaga diri Lo supaya nggak ada cowo yang bisa seenaknya nyentuh Lo! Kali ini gue maafin. Tapi sekali lagi gue liat ada cowo yang sentuh-sentuh Lo lagi kayak tadi ..." Axell mendekatkan wajahnya ke telinga Dira dan seketika membuat gadis itu waspada dengan apa yang akan Axell lakukan selanjutnya. "... Gue akan benar-benar minta hak gue sebagai suami Lo." Ancam Axell diakhiri dengan ancakan pelan tangan Axell di puncak kepala Dira. Lalu pergi ke kamar mandi.
Deg...
Deg...
Deg...
Setelah Axell hilang di balik pintu, tangan putih Dira terangkat ke bagian dada. Dira merasai debaran jantungnya yang berdebar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
'Oh God!'
...***...
Malam hari setelah makan malam, Axell berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Satu jari telunjuknya memutar gantungan kunci mobil yang ia bawa.
"Lho! Mau kemana, Xell?" Tanya papa Pras pada menantunya itu.
"Axell mau ke apart, pa. Hari ini Axell izin nggak masuk sekolah karena harus bantu ayah di kantor. Jadi ada tugas sekolah yang harus Axell kerjakan sekarang." Jawab Axell setelah meraih punggung tangan papa Pras dan menciumnya.
"Dira tidak ikut?" Tanya Papa Pras lagi.
"Ekhm." Axell berdehem sebelum menjawab, "Dira masih kangen sama papa katanya." Jawab Axell apa adanya.
Papa Pras menghela nafas pelan. Ia pun merasakan apa yang anaknya itu rasakan. Ia juga sangat merindukan putri semata wayangnya itu. Tapi, putrinya itu kini sudah menikah. Jadi ia harus membiarkan Dira mengikuti kemana suaminya itu tinggal.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Xell! Kalian itu suami istri jadi harus tinggal bersama. Biar papa ngomong dulu sama Dira." Ujar papa Pras lalu berjalan ke kamar Dira.
Setelah menunggu beberapa menit, kini papa Pras kembali dengan Dira yang berjalan sambil menunduk di belakangnya.
"Dira pamit ya, pa." Ucap Dira sambil mencium punggung tangan papanya.
"Iya, sayang. Lain kali Dira kan bisa kesini lagi. Ini juga rumahmu dan selamanya akan tetap begitu. Tapi, seorang istri itu harus selalu ada di samping suaminya. Ingat pesan papa, ya, nak! Jaga dirimu baik-baik. Dan jangan terlalu merepotkan Axell." Titah papa Pras yang mendapat anggukan kepala dari Dira.
"Axell pamit ya, pa?" Ucap Axell sambil berdiri.
"Iya, nak. Tolong jagain Dira ya, Xell!" Ucap papa Pras.
Axell beralih menatap Dira sesaat lalu kembali menatap Papa Pras, "Iya, pa. Axell akan selalu jagain Dira." Jawab Axell sungguh-sungguh.
...***...
Setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit, kini Axell dan Dira sudah sampai di apartemen. Setelah masuk ke kamar, Axell langsung bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai dengan urusan mandinya, Axell keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Dan seperti biasa, Dira sudah menyiapkan baju ganti untuk Axell.
Selesai mengenakan baju, kini Axell sudah duduk di meja belajarnya. Menyalakan laptop untuk mengerjakan tugas sekolahnya yang harus dikumpulkannya besok.
Dengan serius, Axell mulai mengetikan sesuatu pada laptopnya. Ia harus cepat menyelesaikan tugasnya karena malam yang memang sudah mulai larut dan juga bisa cepat untuk tidur karena matanya yang memang sudah mulai mengantuk.
Di sela mengerjakan tugasnya, Axell sesekali menoleh ke arah Dira yang hanya diam sambil mengutak-atik ponselnya. Terlihat, wajah gadis itu sedikit murung.
"Lo kenapa?" Tanya Axell lalu kembali menatap ke layar terang di depannya.
Axell menghela nafas pelan, "Ada orang lain disini?" Tanya Axell balik dan langsung mendapat gelengan kepala dari Dira.
Hening. Axell kembali diam. Laki-laki itu kembali menghela nafas pelan mengingat Dira yang tak berubah. Gadis itu memilih untuk tidak mengatakan apa yang di rasakannya. Axell lalu kembali mengerjakan tugasnya yang masih belum selesai terlebih dahulu. Lalu ia akan mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Dira nanti.
Klik,
Kurang dari dua puluh menit, Axell sudah berhasil menyelesaikan tugas sekolahnya. Axell berdiri untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku karena duduk selama dua jam lebih di depan layar yang menyala. Selain capek yang ia rasakan, matanya juga terasa kering.
Axell lalu berjalan mendekat ke lemari pendingin yang ada di sudut ruangan. Meraih minuman dingin dan menuangkannya ke dalam gelas lalu meminumnya hingga tandas.
Axell lalu berjalan menuju ke tempat tidur dimana sudah ada Dira di sana sejak mereka memasuki kamar tadi.
"Lo kenapa?" Tanya Axell hati-hati sambil mengusap pelan rambut Dira. Dira hanya menjawab dengan gelengan kepala pelan.
"Yakin? Kalo Lo ada masalah, Lo bisa cerita ke gue. Lo bisa anggap gue sebagai temen Lo!" Ujar Axell.
Dira menatap Axell lama lalu kembali menggelengkan kepalanya. "Aku nggak apa-apa, kak." Jawab gadis itu.
__ADS_1
Hening. Untuk sesaat keduanya kembali diam. Axell lalu berpikir tentang kemungkinan apa saja yang bisa membuat Dira berubah murung. Dan dalam sekejap Axell ingat akan sesuatu. Dira berubah seperti ini saat keluar dari kamar bersama Papa Pras beberapa jam tadi. Axell pikir mungkin ini ada kaitannya dengan papa Pras yang meminta gadis itu pulang bersamanya tadi.
"Sorry!" Satu kata lolos dari mulut Axell dan membuat Dira menatap kearahnya.
"Kenapa kak Axell minta maaf?" Tanya Dira bingung
Axell menggelengkan kepalanya. Dan,
Greb...
Axell tiba-tiba menarik Dira masuk ke dalam pelukannya. Ia usap pelan puncak kepala Dira dengan sayang. "Lain kali gue temenin Lo nginep di rumah papa. Gue tadi ada tugas yang harus gue kerjain dan harus gue kumpulin besok." Ucap Axell pelan dengan tangan yang masih mengusap Surai kecoklatan milik gadis dalam pelukannya itu.
"... Gue tau, Lo pasti kangen banget sama papa. Seingat gue setelah kita nikah, Lo belum sempat ketemu sama papa lagi..." Tambah Axell.
"... Besok, pulang sekolah kita ke rumah papa. Kita menginap beberapa hari di sana. OK?" Ujar Axell lagi.
Mendengar kalimat terakhir yang Axell katakan membuat Dira melingkarkan tangannya di pinggang Axell. Gadis itu membalas pelukan hangat yang Axell berikan setelah tadi ia hanya diam tanpa membalasnya.
Dira menganggukkan kepalanya menerima ajakan Axell untuk menginap di rumah papa Pras besok. Dan anggukan kepala membuat kedua sudut bibir Axell tertarik kesamping.
Cukup lama mereka berpelukan dan merasakan kehangatan satu sama lain.
'Kenapa di peluk sama kak Axell rasanya bisa senyaman dan setenang ini?'
Axell lalu melepaskan pelukannya pada Dira. Di tatapnya wajah gadis yang satu bulan ini telah menjadi istrinya itu. Dapat Axell lihat, setetes air bening yang keluar dari mata Dira. Tangan Axell terangkat untuk menghapus air mata gadis itu. Lalu Axell kembali menatap manik mata Dira. Dira pun sama. Keduanya kini saling berpandangan ...
*
*
*
*Gimana, nih? Gimana tanggapan kalian?
*So, mau ngomong apa ke Axell?
*Ke Dira?
*Ke author, mungkin?
*Jangan lupa tinggalkan jejak, ya!
*Like, Komen, dan Vote cerita Raxell!
__ADS_1
*Di jam berapa kalian baca part ini?
*Bagi yang udah komen, kalian terbaik 👍🏻😘..