
"Surprise...!!!" Ucap Arfen yang tiba-tiba muncul di depan Dira dan Nayla.
*Si Arfen, nih... Yang katanya Axell "Sahabat tapi sukanya Dira." 🤣
"Arfen." Lirih Dira terkejut.
"Hidung Lo tajemnya juara ya, Ar! Tau banget kalo gue lagi bareng Dira disini." Ucap Nayla pada Arfen. Laki-laki itu terkekeh pelan mendengar apa yang Nayla katakan tentangnya.
"Jodoh kali ..." Jawab Arfen asal sambil terus tersenyum penuh arti ke arah Dira. Tangan kekarnya terulur untuk mengacak pelan rambut gadis yang namanya terukir dalam di hatinya itu. "... Gue kangen banget sama Lo, Dir. Susah banget nemuin Lo sekarang." Ucap Arfen pelan. Terdengar ada nada kesedihan yang laki-laki itu rasakan.
"Jan melow gini, deh!" Protes Nayla pada sahabatnya itu. Ia tahu kalau Arfen sangat kesulitan untuk menghubungi Dira akhir-akhir ini. Entah apa yang terjadi di antara keduanya, Nayla tidaklah tahu.
Mengapa Dira tiba-tiba terkesan menghindar dari Arfen. Setahu Nayla, mungkin ini ada kaitannya dengan Arfen yang sempat menyatakan perasaannya pada Dira beberapa waktu yang lalu. Atau mungkin Dira yang memang sengaja ingin menjaga jarak dengan Arfen karena diam-diam sudah memiliki kekasih, mengingat ia yang pernah menelpon Dira dan mendengar suara cowok yang ia kira adalah teman sekelasnya, Axello. Entahlah.
"Um... kok Lo bisa tau gue disini, Ar?" Tanya Dira penasaran.
"Gue abis nemenin nyokap gue belanja tadi, terus nggak sengaja liat Lo berdua disini." Jawab Arfen yang malah membuat Dira dan Nayla kompak ber-Oh ria saja.
"Terus Tante Fenny mana?" Tanya Nayla sambil melihat ke arah datangnya Arfen tadi.
"Udah pergi duluan ..." Jawab Arfen sambil mengulurkan ponselnya ke arah Dira. Dira yang tak mengerti maksud Arfen pun hanya menatap wajah si pemilik ponsel warna hitam berlogo buah apel itu. "... Simpen nomer baru Lo, biar gue nggak kesulitan kalo mau telepon atau sekedar ng-chat Lo." Ujar Arfen yang mengutarakan maksudnya.
'Mikir, Dira... mikir! Lo nggak mungkin kan ngasih nomor Lo ke Arfen? Bisa marah kak Axell nanti!' Batin Dira bermonolog.
💡
"Ponsel gue lowbat, Ar. Sorry! Lagian gue juga nggak hafal nomor baru gue." Jawab Dira dengan senyum yang di paksakan. Ya, Dira bohong.
Arfen mengangguk. Ia tak sedikit pun menaruh rasa curiga pada Dira. Karena menurut Arfen, Dira tak mungkin membohonginya.
"Tenang, Ar! Gue punya nomor Dira, kok. Nanti gue kirimin ke Lo." Jawab Nayla yang langsung mendapat anggukan kepala dari Arfen.
Deg...
'Ini gimana? Mampus gue.'
__ADS_1
Kan... Dira jadi mikir. Kalau Sampai Nayla memberikan nomor teleponnya pada Arfen, Gimana kalau sampai Arfen tiba-tiba menelepon disaat ia sedang bersama dengan Axell - Suaminya? Bisa-bisa Axell berpikir kalau Dira yang dengan sengaja memberikan nomor teleponnya pada Arfen. Ini bahaya. Bisa perang dunia.
Dira berpikir Axell dan Arfen sedang dalam keadaan yang tidak baik. Dan entah apa pemicunya, Dira tidaklah tahu.
Setahu Dira Axell terlihat begitu membenci Arfen. Mungkin karena Arfen yang sering menerobos masuk ke SMA Bhakti Bangsa yang tak lain adalah sekolah milik orang tua Axell sendiri dan di sekolah SMA Bhakti Bangsa lah tempat dimana Dira mengenyam pendidikan. Arfen sengaja datang untuk menemuinya secara diam-diam. Tanpa Dira tahu, bahkan hubungan keduanya sudah tidak baik-baik saja sedari dulu. Bahkan jauh sebelum Dira masuk ke dalam kehidupan Axell.
"Thanks, Nay. Lo emang selalu bisa gue andelin." Ucap Arfen pada Nayla.
"Itu gunanya sahabat." Jawab Nayla sambil mengutak-atik ponselnya. "Guys, gue balik dulu, ya. Si Verrel lagi ada di rumah gue."
"Bisa pulang sendiri? apa perlu gue anter?" Tanya Arfen.
Nayla menggeleng cepat. Nggak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Kalau Arfen mengantarkannya pulang, ia akan menyia-nyiakan waktunya bersama dengan Dira. "No, thanks. Gue bisa pulang sendiri. Lagian gue bawa mobil tadi. Mending Lo temenin Dira aja dulu. Jan lupa anter dia pulang nanti!" Jawab Nayla lalu pergi dengan tergesa-gesa.
"OK, Lo tau aja, Nay. Gue emang butuh waktu lama bareng Dira." Jawab Arfen sambil tersenyum manis ke arah Dira.
Sementara Dira, ia sedang bingung. Kemana ia akan pulang nanti? Tidak mungkin kan dia meminta Arfen untuk mengantarkannya pulang ke apartemen?
Kalau sampai Arfen tahu di mana letak apartemennya, tidak menutup kemungkinan Arfen akan sering datang kapan saja untuk sekedar berkunjung atau bahkan mengajaknya berangkat sekolah bersama. Dan peluang Arfen bertemu dengan Axell akan semakin besar nanti.
Kalau ke rumah? Ah... itu tambah tidak mungkin lagi. Masalahnya Arfen kenal baik dengan keluarganya. Dira tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi dari papa Pras kalau tahu ia pulang diantar oleh Arfen? Nanti pasti akan timbul pertanyaan tentang ada apa dengan hubungannya dengan Axell? Dan kenapa Arfen yang mengantarkan dirinya pulang? Lalu kemana Axell? Dira tidak ingin keluarganya salah paham.
"Enggak. Nggak ada apa-apa, kok." Jawab Dira sambil menggelengkan kepalanya.
Tangan kekar Arfen bergerak untuk menggenggam tangan Dira. "Dir... Lo udah kenal gue lama. Lo bisa cerita ke gue kalo lagi ada masalah... Apapun masalah Lo." Ucap Arfen pelan dengan pandangan yang tak beralih dari Dira sedikitpun.
Dira diam. Bukan tak ingin menjawab, tapi gadis itu bingung ingin berkata apa? Melihat sikap Arfen yang seperti ini malah membuat Dira semakin merasa bersalah karena tak bisa membalas perasaan Arfen padanya.
Sebelumnya, Dira juga sempat memiliki perasaan yang sama dengan Arfen. Tapi dengan status Dira yang sekarang yang sudah menjadi seorang istri, mau tak mau ia harus menghilangkan rasa itu. Karena Dira sadar perasaannya itu salah. Perempuan yang sudah bersuami tidak boleh memiliki perasaan pada orang yang bukan suaminya.
Sebenarnya, Dira sedang mencari cara untuk mengatakan semuanya pada Arfen. Karena ini adalah kesempatan yang mungkin jarang bisa Dira dapatkan lagi, dimana ia hanya berdua saja dengan Arfen. Tak ada Nayla dan juga tak ada Axell.
Tapi, baru saja Dira akan membuka suara, Tiba-tiba saja Dira merasakan nafasnya yang perlahan mulai berat dan dadanya terasa sesak.
Iya. Asma Dira kambuh.
Tangan Dira naik meremas baju seragam tepat di bagian dada, "Kenapa bisa tiba-tiba kambuh, sih?" Lirih Dira yang masih bisa di dengar Arfen. Seketika Arfen khawatir mendengar apa yang Dira katakan barusan.
__ADS_1
"Asma Lo kambuh, Dir? Lo bawa inhaler nggak?" Tanya Arfen yang hanya mendapat gelengan kepala dari Dira.
"Lo bawa obat nggak? Atau mau gue anter ke rumah sakit?" Tanya Arfen yang kini semakin panik.
Dira tak menjawab. Nafasnya bahkan kian sesak. Arfen yang semakin panik itupun memutuskan untuk membawa Dira ke rumah sakit terdekat. Melihat Dira yang semakin sulit untuk bernafas, Arfen semakin merasa khawatir.
Sampai di mobilnya Arfen meletakkan Dira di samping kemudi dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Tahan ya, Dir. Kita akan segera sampai ke rumah sakit. Jangan bikin gue khawatir! Gue takut sampai Lo kenapa-kenapa!"
...***...
"Long time no see, gimana kabar Lo, Xell?" Tanya Derry langsung saat setelah berjabat tangan ala cowok dengan Axell.
"Baik. Lo sendiri?" Tanya Axell balik.
"As you can see, I'm good." Jawab Derry yang di angguki kepala oleh Axell.
"Seneng bisa ketemu Lo lagi, Xell." Sahut Nicholas yang sedari tadi diam.
Enggan menjawab, Axell hanya melirik ke arah Nicholas sekilas tanpa berniat menanggapi apa yang laki-laki itu katakan padanya tadi. Axell lebih tertarik mengutak-atik ponselnya. Laki-laki itu sedang menunggu chat dari Dira.
"Lo udah ketemu adek gue?" Satu pertanyaan yang muncul dari Nicholas dan sukses membuat Axell menatap ke wajah laki-laki itu. Nicholas tersenyum melihat reaksi dari Axell.
"... adek gue berencana pindah sekolah ke indo." Sambung laki-laki itu.
"Bukan urusan gue." Jawab Axell datar.
"Kek nya Xello udah berhasil move on dari Rere, Bro!" Celetuk Derry tersenyum jahil.
Nicholas memperhatikan wajah Axell yang terlihat santai. Mungkin memang benar apa yang di katakan oleh temannya tadi.
"Maafin adek gue, Xell! Maafin kebodohan adek gue yang udah milih ninggalin Lo." Ucap Nicholas yang hanya mendapat tatapan sedingin es di kutub Utara.
"Nggak ada yang perlu dimaafin. Keputusan adik Lo buat pergi dari hidup gue, itu udah keputusan yang paling benar. Dan gue nggak keberatan sama sekali ..." Jawab Axell datar. "... Sekarang... gue udah dapet ganti yang bahkan... lebih dari adek Lo." Tambah Axell lagi.
'Ah... sial!'
__ADS_1
"Are you serious, Xell?" Tanya Derry tak yakin. "... Rere, Lo bisa segitu mudahnya move on dari dia? Wow... Patut gue acungi jempol nih, ini. Dua jempol sekaligus... Gue jadi penasaran, cewe kek apa yang berhasil bikin Lo cepet move on dari seorang Rere?" Tambahnya lagi.
Axell menarik salah satu sudut bibirnya. "Pastinya cewek yang bisa ngasih gue lebih..." Axell semakin tersenyum miring. Kini pandangannya beralih menatap Nicholas. "... Bahkan gue yakin, setelah ini nggak akan ada cewe lain yang bisa ngasih gue sesuatu yang paling berharga dari seorang cewek melebihi dia. Termasuk ...