Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
143. Istri? (Renata)


__ADS_3

"Xell, perusahan bokap gu -


"Saya tau. Bahkan saya tau semua tentang anda dan keluarga anda, pak Nicholas ..." Jawab Axell cepat. Axell lagi-lagi tak membiarkan Nicholas untuk menyelesaikan kalimatnya. "... saya tau segala hal tentang anda." Tegasnya lagi.


"Xell, bantuin gue! Please! Perusahaan bokap gue lagi nggak stabil. Gue butuh suplai dana buat proyek bokap gue." Ucap Nicholas penuh harap. Semoga dengan ini, Axell akan menerima kerja samanya.


"Tapi sayangnya, gue sama sekali ... nggak tertarik ..." Jawab Axell dengan kedua tangan yang sengaja ia masukkan kedalam saku celana. "... Karena apapun hasilnya, gue nggak mendapatkan keuntungan lain disini, selain hanya uang." Jawab Axell dengan tatapan dingin.


Nicholas membuang nafas kasar. Ia sungguh di buat bingung dan frustasi dengan sikap Axell sekarang ini. Harus dengan cara apa ia bisa membujuk Axell agar mau menyetujui kerja sama antara Maha Group dan MJ Corps.


"Gue akan lakuin apapun untuk bales kebaikan Lo, Xell." Ujar Nicholas lagi.


'Gotcha.'


Peluru yang Axell luncurkan tepat mengenai sasaran. Ia menarik satu alisnya mendengar ucapan Nicholas. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk bernegosiasi dengan Nicholas ... tentang hal lain.


Tapi Axell masih enggan menjawab. Tatapannya masih intens menatap wajah laki-laki yang berdiri tepat di depannya sekarang ini.


"... Gue akan lakuin apapun -


"Apapun?" Sahut Axell cepat. Ia suka dengan kata 'apapun' yang keluar dari mulut Nicholas barusan.


"Iya. Apapun." Ucap Nicholas membenarkan dan itu sukses mengundang senyum tipis di wajah Axell.


"Itu mudah. Gue punya dua syarat." Jawab Axell.


"Okay, apapun itu." Jawab Nicholas cepat. Ia ingin urusannya cepat selesai.


Axell tersenyum miring, lalu mengangkat dagunya dengan angkuh, "Pertama, jauhi Dira, istri gue!"


Nicholas diam. Akhirnya ia mendengarnya sendiri. Axell mengakui hubungannya dengan Dira. Hubungan yang sebenarnya. Nicholas tak lagi terkejut karena memang Nicholas sudah tau hal itu. Ia akhirnya menjawab singkat, "Okay."


"Dan yang kedua ...."


...***...


"Si Dira mana, sih? Ke toilet aja lama banget?" Keluh Melody sambil menengok ke arah ujung koridor sana. Gadis itu sudah lebih dari setengah jam menunggu Dira yang pergi meninggalkannya ke toilet tadi.


"Lah, Mel, Dira mana? Tadi katanya mau pulang bareng kan?" Tanya Zaki yang baru saja datang. Cowok itu tadi sudah sampai di pintu gerbang, tapi kembali turun dan meninggalkan mobilnya di sana karena tidak melihat adanya Melody dan juga Dira. Jadilah ia kembali berjalan menuju ke kelas. "... Atau udah di jemput duluan sama Axell?" Tanyanya lagi.


Melody menatap Zaki, lalu menggeleng. "Nah... itu dia, Zak! Si Dira bilang mau ke toilet tadi. Tapi udah gue tungguin setengah jaman, Dira nggak balik-balik." Jelas Melody.

__ADS_1


"Ke toilet? Sama siapa?" Tanya Zaki tak sabaran.


"Sendiri, orang gue di tinggalin tadi." Jawab Melody yang mengatakan kebenaranya.


"Sendiri?" Ulang Zaki yang tak yakin dengan apa yang baru ia dengar. Detik kemudian matanya terbuka lebar karena menyadari satu hal. "... Kenapa Lo biarin Dira pergi sendiri?" Tanya Zaki yang tiba-tiba terdengar khawatir.


"Gue -


"Kalo terjadi apa-apa sama dia gimana?" Tanya Zaki lagi sedikit ngegas. Detik kemudian ia berdecak karena teringat akan satu hal. "... Lo nggak tau, kalo Dira itu lagi ... Ckk. Ayo kita cari dia!" Ucapnya yang kini pergi ke toilet untuk mencari Dira. Meninggalkan Melody dengan berbagai macam tanda tanya yang muncul di benaknya.


Melody terpaku dengan sikap Zaki. Terlihat begitu khawatir dan cemas yang begitu ketara.


Tadi itu benar pacarnya, kan?


"Dira kenapa? Kenapa Zaki jadi kek khawatir gitu?" Gumamnya. Lalu tanpa membuang waktu, langkah kakinya berjalan mengikuti Zaki yang sudah hampir tak terlihat.


...***...


"Dir...! Dira...!" Panggil Zaki saat memasuki toilet cewek. cowok itu langsung membuka satu persatu bilik kamar kecil itu. Namun nihil. Ia tak menemukan Dira disana.


Cowok berstatuskan kekasih dari Melody itu pun kembali keluar. Ia menuju ke toilet yang lain. Toilet yang paling dekat dari taman depan. Dan saat ia hampir dekat dengar toilet itu, samar-samar ia mendengar tawa terbahak dari dalam. Suara seorang gadis.


"Akh... Sial!" Umpat Zaki kesal.


"Kenapa, Zak?" Tanya Melody yang kini berada tak jauh dari Zaki.


"Ke kunci." Jawabnya singkat.


Melody semakin mendekat. "Kok kek ada suara mbak Kunti di dalam?" Celetuk Melody saat ia tiba-tiba mendengar tawa gadis di dalam sana.


Zaki mendengus, di saat seperti ini, kenapa kekasihnya itu bisa nyeletuk seperti ini?


"Minggir, Mel. Gue mau dobrak nih pintu!" Ujar Zaki memperingatkan. Ia tengah mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu di depannya. Dan,


Brraakk!


Dengan sekali dorong, pintu toilet itu sudah langsung terbuka. Menampilkan satu gadis yang tengah berdiri dan satu gadis lagi tengah tergeletak tak berdaya di bawahnya.


"Dira!" Teriak Melody panik. Gadis itu melihat sahabatnya pingsan di lantai. Pantas saja ia tak kunjung keluar dari toilet.


"Heh! Cewe gila! Lo apain temen gue?" Tanya Zaki menuntut penjelasan.

__ADS_1


"Temen Lo?" Renata mendengus geli. "... Temen kan? Bukan pacar?" Tanya Renata dengan nada mengejek.


Zaki mendengus kasar. Ia sedang tidak bisa di ajak bercanda dalam keadaan seperti ini. "Gue tanya sekali lagi, Lo apain Dira? Jawab!"


Bukannya takut, Renata malah memutar matanya jengah. "Okay, sih. Dari pada Lo mati penasaran nantinya, gue akan jawab." Renata tersenyum, "... gue abis bersenang-senang sama temen Lo. Membalaskan dendam kesumat yang udah sampai di puncak ubun-ubun gue. Dan Lo tau? Gue menang." Jelasnya penuh rasa bangga tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Lo gila! Lo bener-bener gila! Lo cewe sakit jiwa yang pernah gue temui!" Maki Zaki. Ia jongkok untuk memastikan keadaan Dira.


"Gue udah pernah peringatin tuh cewe. Jadi jangan salahin gue! Dia duluan yang nantangin gue! Siapa suruh?" Jawab Renata tak mau kalah.


"OK, Lo yang mulai. Jadi siapin diri aja! Siap-siap Lo terima kemarahan dari Axell setelah ini!" Ucap Zaki saat setelah dia berdiri dengan Dira yang sudah berada di gendongannya.


"Gue nggak perduli. Gue udah sering ngadepin Xello marah. Dan dia nggak mungkin bales dengan cara nyakitin gue balik." Jawab Renata santai. Bener-bener enteng banget dia ngomong. Tanpa dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


Zaki menatap wajah Renata yang masih tersenyum tanpa beban dan rasa bersalah sedikit pun. Lalu ia menggeleng pelan.


Iya, sih, dalam sekali lihat pun, Zaki akui Renata memang gadis yang cantik. Pantas saja Axell dulu begitu menyukainya. Tapi sayang, kelakuannya berbanding terbalik dengan wajah cantik yang dimilikinya


"Lo nggak mikir, apa yang Lo lakuin barusan, bakalan balik ke diri Lo sendiri?" Tanya Zaki yang kini terdengar seperti tengah menahan sesuatu.


"Yang penting dendam gue terbalaskan." Jawab Renata dengan tangan yang ia lipat di depan dada.


Zaki kembali menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan isi kepala gadis yang masih bisa terlihat angkuh di depannya ini.


"Berdoalah, semoga setelah ini, Axell masih punya rasa iba ke Lo. Gue bener-bener nggak bisa bayangin. Akan semarah apa seorang Axello, kalo tau ISTRI yang begitu di cintainya ..." Ucapan Zaki terhenti. Ia melihat wajah pucat Dira dengan darah yang mengering di dahi. "... pingsan di tangan mantan kekasihnya sendiri?" Ucapnya lalu berjalan keluar dari toilet. Membuat wajah angkuh Renata berubah seketika.


Duarrrr!


'Istri?'


Bak tersambar petir di siang bolong, Renata begitu terkejut dengan apa yang baru ia dengar dari cowok di depannya ini.


"Apa Lo bilang?" Tanya Renata menuntut.


"Lo nggak tuli kan? Jarak kita dekat, gue ngomong juga nggak pelan. Bahkan gue yakin pacar gue juga denger apa yang gue bilang barusan." Jawab Zaki.


"Lo bilang -


"Gue nggak harus kasih penjelasan apapun ke Lo. Pesen gue, siapin mental dan fisik Lo! Cantik-cantik kok Saiko?!" Ucap Zaki yang langsung membuat Renata bungkam. Tak ingin semakin membuang waktu, cepat-cepat Zaki membawa Dira pergi.


'Gue nggak salah denger kan tadi?'

__ADS_1


__ADS_2