Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
121. Teman main belakang.


__ADS_3

"Kak Rhey...!" Sapa Dira pada sepupu dari suaminya itu. Membuat para gadis yang sedari dari tadi memperhatikan Rheyhan beralih menoleh arahnya dengan tatapan bingung.


Merasa mendengar suara gadis yang sedari tadi ia tunggu, membuat Rheyhan menoleh. Gadis yang menjadi alasan dari sang sepupu yang meminta tolong untuk datang ke sekolah yang sama, dimana ia dulu mengenyam pendidikan untuk menjemput istrinya.


"Eh ... Dira." Balas Rheyhan dengan senyum tampannya. Lalu kembali menatap pada pak satpam yang menemaninya menunggui kedatangan Dira tadi. "... kalo gitu, saya duluan ya, pak." Pamit Rheyhan pada pak Heru.


"Iya, mas. Hati-hati di jalan." Jawab oak Heru yang langsung mendapat anggukan kepala dari Rheyhan.


"Kak Rheyhan ngapain? Kok bisa kesini?" Tanya Dira saat Rheyhan berjalan mendekat ke arahnya.


"Mau jemput Lo." Jawab Rheyhan. Pandangan laki-laki itu kini beralih menatap Melody. "... Lo ... gue kayak pernah ketemu. Tapi dimana, ya? Sorry, gue lupa." Ucapnya pada Melody.


"Iya, kak. Kita emang pernah beberapa kali ketemu sebelumnya. Di d'Axe Cafe dan juga si apart Dira waktu itu." Jelas Melody.


"O ... Ya, gue baru inget sekarang ..." Jawab Rheyhan sambil manggut-manggut setelah mengingat dimana ia pernah melihat Melody. "... Kalo gitu gue duluan, ya." Rheyhan melirik ke arah Dira sekilas. "...udah ditunggu soalnya." Lanjutnya.


Belum sempat Melody menjawab, mobil Zaki sudah lebih dulu datang.


"OK, Kak. Tapi kayaknya gue deh yang duluan ..." Gadis itu lalu menoleh pada Dira, "... Bye, Dir." Sambung Melody lalu mulai memasuki mobil Zaki.


"Bye, Mel." Jawab Dira sambil melambaikan tangannya.


"Ya udah, ayok!" Ajak Rheyhan pada Dira. Gadis itu lalu mengikuti Rheyhan yang lebih dulu berjalan beberapa langkah di depannya. Nampak Rheyhan membukakan pintu untuk Dira dan hal itu tak luput dari pandangan para gadis-gadis.


"Sweet banget, deh!"


"Mau satu yang kayak gitu, dong!"


"Itu cowo siapanya Dira, ya?"


"Sodaranya kali."


"Dari mana sodara? Wajah nggak ada mirip-miripnya gitu!


"Fiks, teman main belakangnya Dira, bisa aja, kan?"


"Mentang-mentang kak Axell lagi nggak masuk sekolah, si Dira selingkuh sama cowo lain!"


"Kak Axell kurang apa, sih, sampe Dira selingkuhin?"


"Ternyata Dira nggak sepolos kelihatannya, ya?"


Begitulah suara bisik-bisik tetangga yang muncul dari para gadis-gadis yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Dira dan juga Rheyhan.


Bahkan tak sedikit yang mengatakan kalau cowok yang datang menjemput Dira tadi adalah selingkuhannya. Padahal tanpa mereka tahu, Axell lah yang meminta Rheyhan untuk datang ke Bhakti Bangsa menjemput Dira.


"Kak Rhey, kak Axell belum selesai ya, meeting nya?" Tanya Dira ingin tahu.


"Udah sih tadi. Tapi ada meeting dadakan. Pihak dari Sean group meminta bertemu untuk membahas proyek yang akan mereka sepakati. Makanya dia gak bisa jemput Lo, om Marvell ada meeting di tempat lain." Jawab Rheyhan yang kini sudah memasang lock safety belt-nya. Ia lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.


Dira mengangguk mengerti. Ia tak lagi bertanya.

__ADS_1


Tapi, baru saja duduk dengan nyaman setelah memasang lock safety belt-nya. Tiba-tiba datang seseorang mengetuk kaca jendela mobil Rheyhan di samping Dira.


Tok...


Tok...


Tok...


Sontak saja hal itu langsung membuat Rheyhan dan Dira kompak menoleh ke samping. Dan mendapati seorang Arfen Arsetya Restu yang berdiri di samping mobilnya.


"Arfen." Gumam keduanya secara bersamaan.


"Lo kenal?" Tanya Rheyhan pada Dira.


Dira mengangguk, "Arfen sahabat aku dari kecil. Kak Rheyhan juga kenal?" Tanya gadis itu balik.


"Kenal lah, dia kan -


"Dir! Turun bentar! Ada yang perlu gue omongin sama Lo." Ucap Arfen setengah berteriak. Dan seketika menghentikan ucapan yang keluar dari mulut Rheyhan. Arfen kepanasan. Entah kepanasan karena sengatan matahari yang terasa membakar kulit atau karena kepanasan dalam arti kata lain.


"Bentar ya, kak. Kayaknya Arfen mau ngomong sesuatu, deh!" Ucap Dira sebelum kembali membuka pintu mobil.


"Cepetan ya, Dir. Axell sudah nunggu soalnya!" Jawab Rheyhan memperingatkan.


Dira mengangguk sebelum membuka pintu mobil Rheyhan dan langsung keluar untuk menemui Arfen.


"Ada apa, Ar?" Tanya Dira tanpa basa-basi. Dira tak ingin banyak membuang waktu. Selain karena panas matahari, ia juga tak ingin membuat Axell menunggu. Terlebih lagi ada sepupu dari sang suami. Dira tak ingin membuat Rheyhan lama menunggu dan berujung mengatakan pada Axell kalau ia terlambat datang karena Arfen menemuinya.


"Gue pengen ngomong ..." Ucap Arfen menggantung. Laki-laki itu sedikit melihat ke arah Rheyhan yang sedang memainkan ponselnya. Lalu kembali menatap ke arah sang gadis. "... Tapi nggak disini." Sambung laki-laki itu.


"Ada apa, Ar? ngomong aja langsung! Gue buru-buru, udah di tunggu sama kak Axell soalnya." Jawab Dira.


Arfen kembali melihat kearah Rheyhan yang sedang menelpon seseorang. Lalu kembali menatap Dira. "Kenapa nggak dia aja yang jemput Lo?"


"Kak Axell lagi bantu ayah di kantor?" Jawab Dira apa adanya.


'Ayah? Ayah Axell maksudnya?'


Arfen kembali menghela nafas seakan menahan sesuatu. Perasaan sesak dalam dada yang tiba-tiba muncul begitu saja. Arfen mengerang dalam hati. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa kesal sendiri.


Seketika Arfen teringat dengan kejadian pagi tadi. Dimana ia yang sengaja datang ke sekolah Dira untuk menemui gadis itu dan memberinya coklat. Hal biasa yang sering Arfen lakukan. Tapi tiba-tiba Arfen mengurungkan niatnya karena melihat sesuatu yang entah mengapa berhasil membakar hatinya.


Bagaimana tidak? Dengan sangat jelas Arfen tadi dapat melihat. Dimana Dira yang dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada Axell dan berakhir dengan mencium laki-laki itu.


Arfen tak pernah membayangkan sedikitpun sebelumnya. Dira. Gadis yang ia kenal begitu polos, bisa seberani itu mencium seorang Axell. Bahkan didepan pintu gerbang sekolah. Sungguh, menurut Arfen, Axell sudah berhasil mengubah Dira menjadi gadis yang berani sekarang.


"Gue hargai pilihan Lo, Dir. Selama itu bisa bikin Lo bahagia, gue akan rela ngelepas Lo baik-baik ..." Ucap Arfen yang berhenti sesat karena kembali menghela nafas. Sungguh, Arfen benar-benar berusaha menahan dirinya saat ini. "... Tapi, kalo dia bawa pengaruh buruk buat Lo, Tinggalin! Masih banyak cowok baik yang bisa jagain Lo." Ucap Arfen tenang. Bermaksud agar gadis di depannya ini mengerti apa yang diucapkannya tanpa membuat gadis itu salah paham padanya.


Dira mengrenyit bingung. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Arfen katakan padanya barusan. "Maksud Lo apaan sih, Ar? Gue nggak ngerti." Tanya Dira.


"Pagi tadi gue lihat Lo nyium Axell ... tepat di sini!"

__ADS_1


...***...


"Kok jadi bengong? Si Arfen ngomong apa aja tadi?" Tanya Rheyhan sambil melirik Dira sekilas lalu kembali fokus mengemudi. Melihat Dira yang hanya diam tak bersuara, Rheyhan tak tahan untuk menanyakan apa yang Arfen katakan pada gadis itu tadi.


"Bukan hal yang penting kok, kak." Jawab Dira yang malah jadi gugup sendiri. Tak mungkin kan ia bilang kalau Arfen melihatnya mencium Arfen pagi tadi. Bisa mau dia.


Rheyhan mengangguk. Ia tak ingin bertanya lebih karena ini privasi. Tapi melihat ekspresi yang diperlihatkan Arfen tadi, ia jelas tahu ada sesuatu.


"It's okay. Kita sudah sampai." Ucap Rheyhan saat mobil yang ia kemudikan mulai memasuki gedung perkantoran dari MJ Corps. Gedung perkantoran milik ayah Marvellyo.


"Udah pernah kesini sebelumnya?" Tanya Rheyhan saat melepas lock safety belt-nya dan bersiap untuk membuka pintu mobilnya.


Dira menggeleng, "Belum, kak. Baru kali ini." Jawab Dira yang sudah bersiap keluar setelah melepas lock safety belt-nya.


Dira dan Axell Axell berjalan beriringan memasuki lobby utama.


"Ini udah hampir dua jam. Kayaknya bentar lagi meeting nya selesai ..." Ujar Axell sambil melihat smartwatch miliknya. Tak menjawab, Dira hanya mengangguk mengerti.


"... Tapi, Dir, gue ga bisa nganter Lo ke ruang kerja Axell ... nyokap gue minta jemput." Sambung Rheyhan sambil mengetikan pesan balasan, mungkin untuk mamanya.


"Tapi, kak ... aku nggak tau dimana ruangan kak Axell?"


"Kalo soal itu, Lo bisa tanya ke mbak-mbak resepsionis. Lo bilang kalo Lo istrinya Axell ...!" Jawab Rheyhan. Laki-laki itu lalu kembali memasukkan ponselnya kedalam saku. "OK, Dir. Sorry, gue buru-buru." Lanjut Rheyhan dengan menepuk satu pundak Dira dan pergi setelahnya.


Dira menghela nafas pelan lalu kembali melanjutkan langkahnya mendekat pada bagian resepsionis.


"Permisi..." Sapa Dira ramah pada dua resepsionis.


Keduanya berdiri bersamaan. "Iya, ada yang bisa di bantu ... dek?" Jawab salah satu dari mereka yang ber-nametag Michelle.


"Umm... begini, kak ... saya mau tanya, ruangannya kak Axell di sebelah mana, ya?" Tanya Dira pelan.


"Maaf, tapi adek ini siapa, ya? Dan ada perlu apa mencari oak Axell?" Tanya resepsionis satunya yang ber-nametag Raquel.


"Adek udah bikin janji?" Sahut Michelle kembali bertanya.


"Umm... belum. Tapi saya istrinya kak Axell. Dan tadi saya di suruh ke sini." Dengan sedikit ragu Dira mengatakan seperti apa yang Rheyhan sarankan tadi.


Raquel memincing, dia menatap Dira sinis. "Dek, jangan main asal klaim, ya! Setahu saya pak Axell itu belum menikah. Dan kalo pun sudah menikah ..." Pandangan Raquel menatap penampilan Dira dari atas ke bawah, lalu balik ke atas lagi. "... pasti menikahnya bukan dengan gadis SMA seperti kamu." Jawab Raquel dengan nada tak suka.


Sementara Michelle terdiam sejenak mendengar jawaban Dira. Ia teringat dengan kabar yang sempat beredar beberapa Minggu ini. Dimana pewaris tunggal dari CEO tempatnya bekerja itu memang di kabarkan sudah menikah. Tapi dengan gadis mana dan seperti apa, itu yang masih menjadi teka-teki.


"Jangan dulu berasumsi gitu dong, Quel ...!" Tegur Michelle pada rekan kerjanya itu. Lalu kini kembali menatap Dira. "Dek, bukannya kita nggak percaya. Tapi maaf, sebelumnya memang ada beberapa gadis yang datang mengatasnamakan pacar atau bahkan tunangan pak Axell dan pak Axell terang-terangan membantahnya. Kami hanya sedang menjalankan perintah dengan tidak membiarkan orang yang tidak membuat janji sebelumnya dengan pak Axell masuk. Jadi tolong adek mengerti ... Atau begini saja, adek bisa tunggu di sana ..." Tunjuk Michelle dengan telapak tangannya ke arah sofa yang berada tak jauh dari resepsionis. " ... Nanti kami akan memberi tahu pak Axell setelah meeting selesai. Bagaimana?" Jelas Michelle menawarkan.


Dira nampak menghela nafas pelan. "Ya udah deh, kak. Kalo gitu saya keluar sebentar, nanti ..." Dira nampak melihat ponselnya sekilas. "... setengah jam saya akan kembali lagi. Terima kasih." Jawab Dira sopan. Lalu meninggalkan bagian resepsionis dan berjalan keluar.


"Begitu lebih baik." Gumam Raquel yang jelas bisa di dengar oleh Michelle.


"Jangan gitu, ah... kita kan nggak tahu, bisa saja dia emang bener istrinya pak Axell!" Ucap Michelle mengingatkan.


"Istri dari mana coba? Kita semua tau, pak Axell itu masih sekolah. Jadi mana mungkin dia -

__ADS_1


"Permisi ..."


__ADS_2