Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
157. Masih di rumah sakit 2.


__ADS_3

Nayla, Verrel dan Bastian tengah duduk di satu sofa panjang yang sebenarnya muat untuk duduk 4 orang. Ketiganya masih berada di ruang VVIP dimana Dira di rawat.


Ketiga orang itu sedang menikmati camilan yang mereka bawa tadi dan pandangan yang kompak memperhatikan interaksi pasangan muda nan halal didepannya. Andira dan Axello.


Nampak terlihat dengan jelas, tangan kanan Axell tengah mengusap dengan sayang kepala Dira yang tengah bersandar pada brankar yang sedikit di naikkan. Lalu tangan kirinya menggenggam tangan Dira yang terbebas dari selang infus.


Jangan tanyakan kemana arah pandang Axell?!Sudah pasti pandangannya sama sekali tak beralih sedikit pun dari Dira.


Secara Dira dunianya kan? So, Berpaling dari dunia sendiri, rasanya tidak akan mungkin bagi seorang Axello.


Dari ketiga pasang mata tersebut, Nampak keduanya tengah membicarakan sesuatu hal yang entah, mereka bertiga tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


Dira dan Axell seperti tengah berbisik satu sama lain.


"Dunia emang benar milik berdua ya, Bro?!" Celetuk si tengil - Babas. Laki-laki itu tengah melihat keduanya sambil mengunyah keripik kentang dengan sangat pelan bak gaya slow motion. Seolah tengah menikmati adegan Drakor didepannya secara langsung yang sayang untuk di lewatkan begitu saja.


Nayla tak menjawab, tapi ia mengangguk perlahan. Ia setuju dengan apa yang Bastian katakan.


Sementara Verrel, ia menghela nafas pelan. Seketika ia teringat saat betapa patah hatinya Bastian saat mengetahui hubungan Axell dan Dira saat itu. Lalu dengan santainya ia mengangkat satu tangannya untuk menutupi pandangan mata Bastian.


Takut-takut kalau temannya masih merasakan sakit hati karena mungkin masih memiliki perasaan terhadap Dira, meski pun sedikit.


"Babas ... Anak kecil nggak boleh liat! Lo masih belum cukup umur!" Tegur Verrel yang malah terdengar sok bijak. "... Nanti Lo mewek lagi, bahaya! Gue bukan seorang ibu yang kalo anaknya nangis langsung di susuin!"


Bastian langsung berdecak. "Ckk. Ashuw! Nggak keliatan, Njir!" Protesnya sedikit ngegas tak terima dengan perlakuan Verrel yang seenak jidat menghalangi pandangannya. Dan juga, apa yang Verrel katakan tadi?


Hey, Babas sudah menghapus semua perasaannya pada Dira yang sekarang sudah berstatuskan istri dari sahabatnya sendiri.


"... Shuw! Tangan Lo bau kek e'ek kucing!". Bastian berdiri. Ia beralih duduk di single sofa sambil menutup hidungnya dramatis. "... Jauh-jauh dari gue!" Ucapnya dengan ekspresi seperti mau muntah.


Verrel memutar matanya jengah, respon Bastian terlalu berlebihan menurutnya.


Jelas-jelas sebelum masuk ruang rawat Dira mereka lebih dulu memakai hand sanitizer. Jadi sudah dapat di pastikan tangannya bersih, higienis dan pastinya tidak bau sama sekali.


Emang dasar si Babas.


Axell dan Dira yang tadi sempat asyik sendiri menoleh ke arah dua tukang rusuh itu.


"Kenapa berhenti? Lanjutin aja!" Ucap Bastian pada Axell dan Dira. Bastian lalu meraih botol air mineral. Membuka tutupnya dan meminum airnya beberapa teguk untuk mendorong kripik kentang yang baru saja ia telan.


"... anggap aja kita bertiga cuma pajangan di sini!" Tambahnya setelah selesai dengan minumnya.


Dira tertawa pelan melihat tingkah Bastian yang selalu lucu menurutnya. Sahabat dari suaminya itu memang selalu bisa mengundang tawanya.


Axell menarik sudut bibirnya melihat tawa sang istri. Tidak salah ia mengizinkan mereka datang mengunjungi Dira di rumah sakit seperti sekarang ini. Kedatangan sahabat-sahabatnya bisa menghibur istrinya.

__ADS_1


"Cih ... bucin!" Cibir Verrel yang melihat Axell yang tengah tersenyum sambil terus menatap ke arah Dira.


Axell yang mendengar cibiran Verrel langsung mengubah arah pandangnya. Ia menatap Verrel dingin bak seekor elang yang sedang mengincar mangsanya.


Verrel yang melihat tatapan mata Axell yang jelas tertuju padanya reflek mengangkat 2 jari tangannya bentuk peace.


"Aman-aman." Ucap Verrel sambil nyengir.


Drrtt... drrtt...


Axell merogoh ponsel dari dalam saku celananya saat merasakan benda pintar miliknya itu bergetar. Satu alisnya terangkat saat melihat nama sang ayah yang mengiriminya pesan.


📥 Ayah.


Boy, km dimana?


Ayah sama papa mertuamu mau jenguk Dira.


Kami masih di lift.


^^^📤 Axarkan.^^^


^^^Axell sudah di rumah sakit, Yah.^^^


Send ✔️


📲 Papa is Calling...


Axell menatap Dira sekilas yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya seakan bertanya ada apa?


"Papa telepon, Yang." Ucap Axell memberi tahu. "... Aku keluar sebentar, ya?" Pamitnya sambil menepuk pelan kepala Dira dan berjalan keluar ruangan.


Ceklek!


"Hallo. Assalamu'alaikum, Pa." Sapa Axell dengan papa mertuanya itu.


"Wa'alaikumsalam... Axell..." Jawab seseorang yang kini berjalan mendekat bersama ayah Marvellyo di sampingnya.


Axell seketika menoleh dan mendapati ayah serta papa mertuanya yang kini berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Bagaimana keadaan Dira, Xell? Kenapa tidak langsung kasih tau papa, Nak?" Tanya papa Pras saat berhenti di depan Axell.


Axell kembali melihat Dira melalui celah pintu yang memang belum ia tutup dengan sempurna itu.


Nampak Dira tengah bercanda dengan Nayla, Bastian dan juga Verrel yang kini berdiri mengelilingi brankar sang istri.

__ADS_1


Axell beralih menatap wajah papa Pras yang masih betah berdiri menuntut jawaban atas pertanyaannya.


Ceklek!


Axell sengaja menutup pintu agar apa yang akan mereka bicarakan tak sampai terdengar ke dalam ruangan.


Lebih tepatnya, jangan sampai Dira mendengar pembicaraan mereka.


"Maaf, Pa ..." Bukannya menjawab pertanyaan yang papa Pras ajukan, Axell malah meminta maaf atas semua yang terjadi pada Dira. "... Axell lalai jaga Dira. Semuanya di luar kendali Axell, pa. Axell tidak tau kejadian seperti ini akan datang menimpa Dira." Dari nada bicara Axell, siapa saja yang mendengar pasti akan tahu. Axell begitu menyesali hal apa yang sudah terjadi menimpa istrinya. Seakan itu adalah kesalahannya sendiri.


Memangnya siapa yang bisa memprediksi kejadian buruk akan terjadi menimpa siapa, kapan dan bagaimana?


Papa Pras menghela nafas panjang. Ia sangat menyayangkan kejadian ini. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Axell tentang apa yang sudah terjadi dengan putri satu-satunya itu.


"Bagaimana kejadian sebenarnya? Bisa kamu ceritakan pada Papa." Tanya papa Pras lagi.


"Kejadiannya di sekolah dan Axell sedang di kantor, Pa." Axell menceritakan semua yang Zaki ceritakan padanya dengan singkat, padat dan jelas.


Papa Pras diam mendengarkan cerita Axell tanpa menyela sedikit pun. Sementara Ayah Marvellyo yang memang juga tidak tau kejadian pastinya juga ikut mendengarkan dengan serius.


Papa Pras menatap Axell dengan tatapan yang ... entah. Axell sendiri bingung dengan arti tatapan papa Pras yang di tujukan padanya itu.


"Papa dengar Dira sampai keguguran, benar?" Tanya papa Pras lagi.


Axell mengangguk pelan, "Iya, Pa."


Papa Pras spontan memejamkan matanya. Perasaan sedih semakin merasai dirinya sekarang.


"Tapi, Pa. Dira belum tau tentang ini. Dira juga belum tau kalau dia sempat hamil." Aku Axell pada papa Pras.


Papa Pras kembali menatap Axell. Ia tau, menantunya ini pasti punya alasan tersendiri dengan sikap yang diambilnya. Papa Pras lalu menepuk pundak menantunya itu, "Setelah semuanya membaik, kasih tau Dira pelan-pelan. Dia juga harus tau." Titahnya.


Axell kembali mengangguk. Ia memang tidak berencana merahasiakan hal ini selamanya. Hanya menunggu sampai istrinya itu sembuh.


"Tapi, boy ... siapa gadis yang dengan sengaja berani mencari masalah dengan kamu dan juga Dira?" Satu pertanyaan dari ayah Marvellyo berhasil membuat tangan Axell terkepal dengan kuat.


Ia tidak akan semudah itu melupakan orang yang telah menyebabkan istrinya sampai harus masuk rumah sakit seperti sekarang ini.


"Dia -


"Xello!"


Seseorang berjalan mendekat pada Axell dengan langkah yang tak biasa. Dan ...


Brukk!

__ADS_1


Orang itu seketika tersungkur ke lantai rumah sakit saat Axell yang dengan sengaja menendang pinggang lelaki yang baru saja akan melayangkan pukulan untuknya itu.


"Apa-apaan ini?"


__ADS_2