Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
148. Dosa apa?


__ADS_3

Axell keluar dari dalam mobil yang di kemudikan Bastian dengan langkah yang tergesa-gesa dan tangan yang sibuk melepaskan jas kantor yang masih melekat di tubuhnya. Meninggalkan kemeja putih polos yang masih membungkus tubuh kekar bagian atasnya.


Meskipun raut cemas dan khawatir tergambar jelas di wajah Axell, tetapi hal itu tak bisa mengurangi pesona dari seorang Axello yang tetap terlihat berkarisma.


Nayla yang melihat kedatangan Axell pun spontan berdiri. Ia ingin membuat perhitungan dengan teman satu kelas, sekaligus ketua OSIS itu.


Tapi sayang, saat Nayla hampir melangkah untuk menghampiri Axell, Verrel sudah lebih dulu menarik lengan sang kekasih dan membuatnya terduduk kembali. "Lo mau ngapain?" Tanya Verrel penuh curiga.


Verrel tahu, Nayla sedang marah dengan Axell saat ini. Perihal Axell yang telah membuat Dira hamil. Tanpa Nayla tahu bahwa Dira dan Axell sudah menikah sebelumnya.


Nayla mendengus kesal, "Lo masih tanya gue mau ngapain? Gue mau bikin perhitungan sama sahabat Lo." Jawabnya mulai emosi. Nayla kembali berdiri dan lagi-lagi di tahan oleh Verrel.


"Nay!" Cegahnya pelan.


"Apa, sih?!" Jawab Nayla tak terima dengan Verrel yang kembali menghentikan aksinya. "... Sahabat Lo itu udah bikin sahabat gue hamil, Rel! Lo masih bisa minta gue buat diem gitu aja?! Nggak bisa, Rel ..." Nayla membuang nafas kasar.


"... Hati nurani Lo dimana?" Protes Nayla yang kini mulai jengah dengan kekasihnya sendiri. Ia sampai tak habis pikir dengan cowok yang terhitung sudah hampir 9 bulan ini menjadi kekasihnya itu.


Untuk kesekian kalinya, Verrel kembali meraih pergelangan tangan Nayla. Ia mendongak untuk menatap wajah gadis yang berdiri tepat di sampingnya itu.


Kali ini Verrel menggenggam pergelangan tangan Nayla dengan kuat, membuat Gadis itu menatap wajah Verrel yang ternyata juga sedang menatap padanya.


"Apa?" Tanyanya Nayla kesal. Nayla semakin emosi saat melihat Axell yang bebas masuk ruang pemeriksaan Dira, bahkan tanpa melewatinya terlebih dahulu.


"Ada sesuatu hal yang kita nggak tau." Jawab Verrel yang tiba-tiba terdengar datar di telinga Nayla.


Verrel tengah serius sekarang ini.


"Maksud Lo apa?" Tanya Nayla menuntut.


"Sementara ini kita cukup diam dan menyimak. Disini bukan kapasitas kita untuk ikut campur!" Jawab Verrel yang malah membuat Nayla semakin tidak mengerti.


"Tapi Dira itu sahabat gue, Rel. Ngeliat Dira yang kek gitu, gue nggak bisa diem aja." Ucap Nayla yang kini sepertinya mulai melunak.


"Gue ngerti perasaan Lo, Nay. Tapi, please! Kali ini aja Lo nurut apa kata gue!" Tak lagi membantah, Nayla akhirnya menurut dan pasrah saat Verrel memintanya untuk kembali duduk. Meskipun dengan kepala yang rasanya seperti ingin meledak sekarang juga.


'Maafin gue, Dara! Gue udah gagal jagain adek Lo!'


"Tapi gue pengen liat keadaan Dira sekarang." Ucap Nayla pelan.


Verrel melihat ruang pemeriksaan yang pintunya masih terbuka di depan sana, "Janji jangan buat keributan?" Jawab Verrel.

__ADS_1


Nayla mengangguk dan berdiri, ia mulai berjalan masuk ke ruangan pemeriksaan dimana Dira masih di sana.


...***...


"Maaf bapak ibu, tapi dari yang saya lihat saat memeriksa pasien tadi, Putri bapak dan ibu mengalami tindak kekerasan yang fatal di bagian perut. Dan hal itu menyebabkannya keguguran -


"APA??"


Mendengar ada suara lain, keempatnya kompak menoleh ke arah pintu. Detik kemudian bunda Resty berdiri, ia langsung menghampiri sang putra yang terlihat tak kalah terkejut dengannya dan juga ayah, saat mendengar kabar bahwa Dira yang keguguran.


"Boy." Panggil bunda Resty lalu memeluk putranya yang diam sambil menunggu jawaban dari sang dokter.


"Katakan sekali lagi, Dok!" Pandangan Axell beralih menatap Dira yang masih terbaring di atas brankar dengan wajah yang terlihat begitu pucat. Lalu kembali menatap pada dokter seakan meminta jawaban dari dokter tersebut, "... istri saya ... keguguran?" Tanyanya lagi.


Dokter Aisyah menatap Axell sesaat sampai akhirnya ia mengangguk pelan.


Blash...


Jas kantor yang sudah dari tadi Axell genggam saat mulai berjalan memasuki rumah sakit itu terjatuh begitu saja, saat genggaman tangannya terbuka. Tiba-tiba tangannya melemas.


Terkejut? Tentu.


Kehilangan? Rasa itu nyata adanya.


Sedih? Pertanyaan bodoh.


Semua orang pasti akan merasa sedih mendengar kabar, kalau istri yang begitu dicintainya mengalami hal menyedihkan yang namanya keguguran.


Calon anak itu ... Axell sudah menantikannya sedari lama. Anak yang akan memperkuat tali pernikahannya dengan Dira agar Arfen tak lagi mengganggu istrinya.


Ia bahkan sempat berdebat dengan Dira perihal masalah pengaman beberapa waktu yang lalu.


Lalu setelah ia berhasil meyakinkan sang istri agar tidak perlu khawatir dengan pendidikannya saat hamil nanti. Dan setelah calon anak itu benar-benar hadir, kenapa ia malah tiba-tiba di tampar kenyatakan bahwa sekarang ini istrinya itu mengalami keguguran?


Calon anaknya itu malah pergi begitu cepat. Bahkan ia belum sampai mengetahui keberadaan calon janin itu.


Tiba-tiba setetes air bening mengalir begitu saja di pipi putih kemerahan milik Axell. "Bun ... Anak Axell, Bun ..." Hidung dan dada Axell terlihat kembang kempis saat menahan sesak di dada.



Lagi, setetes air bening kembali mengalir di pipi yang satunya. "... Anak Axell pergi. Bahkan sebelum Axell mengetahui kehadirannya." Ucap Axell pelan.

__ADS_1


Bunda Resty mengusap air matanya yang lebih dulu jatuh sedari tadi. Sebagai seorang ibu, ia juga ikut merasakan apa yang putra dan menantunya rasakan saat ini.


Sementara ayah Marvellyo yang kini berdiri di samping Axell pun memegang pundak dari sang putra.


Ini kali pertama pria paruh baya itu melihat putranya menangis dengan tatapan kosong seperti sekarang ini. Axell terlihat begitu terpukul.


"Ikhlaskan dia, boy!" Titah ayah Marvellyo ikut menguatkan putra semata wayangnya itu.


"Kenapa, Yah? Kenapa? Kenapa hal seperti ini harus terjadi sama Axell? Sama Dira? Padahal selama ini, Axell selalu berusaha jaga istri Axell dengan baik. Axell bahkan nggak pernah biarin istri Axell pergi sendirian..." Axell menggeleng pelan. Ia masih sulit mempercayai apa yang terjadi sekarang ini.


"... Dosa apa yang sudah Axell lakukan, Yah? Kenapa harus istri Axell yang menanggungnya? Kenapa Tuhan lakuin ini sama Axell dan Dira, Yah?" Desah Axell mulai frustasi. Axell tidak mengerti, selama ini ia tidak merasa telah melakukan dosa besar. Tapi sekarang?


"Sabar, Xell! Om ikut sedih mendengarnya." Ujar Om David.


Tak menjawab, perlahan Axell melepas pelukan dari bunda Resty dan berjalan mendekati brankar. Ia ingin melihat istrinya dari jarak dekat. Tangannya mengusap pelan rambut kecoklatan milik Dira.


"Yang, anak kita, Yang ..." Axell pandangi wajah yang terlihat begitu pucat itu. "... pantas saja akhir-akhir ini kamu bersikap aneh. Harusnya Aku bisa lebih ngerti kalau kamu sedang hamil anak kita ..."


Tangan Axell beralih mengusap lembut pipi milik Dira, Pipi yang biasanya ia kecup tak terhitung berapa kali setiap harinya? "... Nggak pa-pa ya, Yang? Mungkin dia memang belum rezeki kita. Sepertinya Tuhan masih belum mengizinkan kita untuk menjadi orang tua ..." Axell tersenyum getir. "... mungkin di sini aku yang terlalu memaksakan kehendak." Ucap Axell. Ia menghela nafas berat.


'Ya sudah, semua sudah terjadi. Mau bagaimana lagi?'


Axell mendekatkan wajahnya. Ia mengecup pelan pipi yang di sentuhnya tadi. Dengan pandangan yang enggan beralih dari Dira, Axell kembali mengusap pipi yang baru saja ia kecup tadi. Dan hal itu pun tak luput dari pandangan mereka semua yang berada di ruangan tersebut. Keempat orang dewasa itu menatap iba pada pasangan suami-istri muda itu.


'Ada sebab, ada akibat.'


"Dokter ..." Panggil Axell tiba-tiba. "... Bisa anda jelaskan, apa yang membuat istri saya bisa sampai mengalami keguguran?" Pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari Axell, saat pewaris dari MJ Corps itu melihat plester yang melekat di dahi sebelah kiri milik Dira.


Tiba-tiba mata Axell mendelik tajam.


Tunggu! Bukankah tadi dia dengar dokter itu mengatakan kalau Dira mengalami tindak kekerasan?


Seketika Axell beralih menatap sang dokter.


"Usia janin baru menginjak empat minggu. Dalam trimester Pertama seperti sekarang ini, janin masih sangat rentan. Apalagi usia ibu yang masih sangat muda. Kandungan yang lemah karena usianya yang belum matang, dan juga benturan keras yang tepat mengenai perut bagian bawah dimana itu menjadi letak rahim, membuat calon janin yang masih sangat lemah tadi tidak bisa bertahan -


"Benturan keras?" Bukan Axell, tapi pertanyaannya itu muncul dari Ayah Marvellyo, bahkan di saat dokter itu belum selesai memberikan penjelasan sepenuhnya.


"Apa ada yang mem-bully Dira di sekolah?" Tanya ayah dari Rheyhan itu. Lalu ia beralih menatap Axell sang keponakan, "... Xell?"


Tak menjawab, satu tangan Axell mengepal dengan sempurna. "Aku pergi dulu ya, Yang? Kamu istirahat dulu di sini ...

__ADS_1


__ADS_2