Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
86. Tersedak.


__ADS_3

"Mel, Lo ikut gue!" Ucap Axell saat berhenti dan kembali melanjutkan langkahnya. Melody menurut dan langsung keluar kantin mengikuti Axell. Laki-laki itu berjalan dengan langkah lebar menuju toilet cewek sampai-sampai Melody sedikit berlari untuk menyusul kakak kelasnya itu.


Kenapa Axell mengajak Melody? Ya karena nggak mungkin kan kalau Axell sampai masuk ke toilet cewek, secara dia kan cowok. Dan kenapa dia nggak minta tolong ke Nayla? Ya karena hubungannya dengan teman sekelasnya itu sedang tidak baik.


"Lo masuk!" Perintah Axell cepat saat keduanya sudah sampai di depan toilet.


Tanpa menjawab, Melody langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam toilet dan segera mencari Dira.


"Gimana?" Satu pertanyaan yang muncul bukan dari mulut Axell, melainkan dari Nayla. Gadis itu juga ikut mencari Dira karena ikut menghawatirkan keadaan dari sahabatnya itu.


"Melody baru masuk. Cepetan Lo ikutan masuk! Gue tunggu sini!" Ujar Axell yang kini masih menunggu di depan pintu toilet.


Nayla memutuskan untuk ikut masuk ke dalam. Dan saat ia berada di dalam, ekspresi keterkejutan Dira sama dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Melody saat mengetahui keadaan Dira saat ini.


"Kok Lo bisa basah kuyup kek gini sih, Dir?" Tanya Melody yang saat ini tengah membantu Dira untuk berdiri. Saat masuk tadi, Dira sedang terduduk lemas di lantai dengan keadaan baju yang basah. Gadis itu nampak menggigil kedinginan dengan wajah yang pucat.


"Siapa yang udah lakuin ini sama Lo?" Tanya Nayla yang juga ikut membantu Dira untuk berdiri. Melihat keadaan Dira yang lemas dan menggigil kedinginan seperti ini membuat Nayla semakin khawatir.


"Gue cuma kepleset tadi." Jawab Dira lirih. Gadis itu kini mulai kehilangan kesadarannya.


Kepleset? Mungkin nggak, sih? Kalau cuma kepleset, nggak mungkin kan Dira sampai basah kuyup kayak sekarang ini. Pasti yang basah cuma roknya doang karena posisi yang terduduk dilantai. Dan, iya, Dira tengah berbohong saat ini.


Melody dan Nayla kini semakin kuat memegang lengan Dira. Keduanya kini tengah memapah Dira untuk keluar dari toilet. Saat keluar dari toilet, Axell terkejut, mata Axell sampai membulat sempurna melihat keadaan Dira yang seperti ini.


"Dira, apa yang terjadi sama Lo?" Tanya Axell tak sabaran. Axell lalu melepas almamaternya dan ia pakaikan pada tubuh basah Dira. Laki-laki berstatuskan suami Dira itu kini meraih tubuh tak sadar Dira untuk ia gendong. Axell memutuskan untuk segera membawa Dira pulang.


Axell berlari sambil membawa tubuh basah Dira. Dan apa yang Axell lakukan saat ini malah membuatnya menjadi pusat perhatian karena banyaknya siswa siswi yang masih menghabiskan jam istirahat di koridor.


Sadar apa yang ia lakukan menjadi pusat perhatian, Axell semakin mempercepat langkahnya. Tanpa menghiraukan setiap pasang mata yang memperhatikan dirinya dan gadis yang ada dalam gendongannya. Whatever dengan apa yang akan mereka pikirkan. Yang terpenting bagi Axell sekarang adalah ia harus cepat-cepat membawa gadisnya itu pulang.


Axell langsung memasukkan Dira kedalam mobil saat setelah tiba di parkiran sekolah. Ia langsung menjalankan mobilnya menuju keluar pintu gerbang.


"Pak, tolong buka pintu gerbangnya!" Pinta Axell setengah berteriak.


"Baik, mas." Jawab pak Prapto selaku satpam yang kebetulan bertugas. Dengan sigap, pak Prapto langsung membukakan pintu gerbang untuk anak dari pemilik sekolah tersebut.


Saat di perjalanan pulang, sesekali pandangan Axell menoleh ke arah Dira. Ia ulurkan tangannya untuk menyentuh kening gadis itu. Axell bisa merasakan suhu tubuh Dira yang mulai naik. Gadisnya itu mulai demam.


"Sayang ... siapa yang udah ngelakuin ini sama Lo?" Satu pertanyaan dari Axell yang Axell sendiri tahu kalau pertanyaannya tadi hanya sia-sia. Gadisnya itu tak mungkin akan menjawabnya disaat ia yang tidak sadarkan diri. Dan itu membuat Axell mencengkram erat stir mobilnya.


Axell kembali mengrutuki dirinya sendiri yang lagi-lagi lalai dalam hal menjaga istrinya. Bisa-bisanya ia membiarkan sesuatu menimpa Dira seperti ini. Ini semua diluar kuasanya.


Tangan Axell kini merogoh ponsel dari saku celananya. Ia melambatkan sedikit laju mobilnya karena tengah mencari kontak seseorang.

__ADS_1


"Halo..."


...***...


Axell telah sampai di apartemen Dira beberapa menit yang lalu. Dan kini Axell tengah selesai menggantikan baju basah Dira dengan bathrobe.


Tok...


Tok...


Tok...


Axell yang mendengar seseorang datang mengetuk pintu pun keluar kamar untuk membukakan pintu untuk orang yang ia telpon sebelumnya.


"Axell, siapa yang sakit?" Tanya om David sambil berjalan masuk kedalam apartemen Dira.


"Istri Axell, om." Jawab Axell sambil kembali menutup pintu. Axell berjalan mendahului om David untuk sampai lebih dulu di kamar Dira.


"Kenapa dengan istrimu?" Tanya om David yang kini sudah mulai masuk ke kamar Dira.


"Bisa langsung periksa istri Axell dulu nggak, om?" Ujar Axell yang terkesan menolak untuk menjawab pertanyaan yang om David tanyakan padanya.


Om David menghela nafas, menyadari keponakannya ini masih orang yang sama.


"Gimana, om ... keadaan Dira?" Tanya Axell tak sabaran.


"Dia nggak apa-apa, hanya sedikit demam. Kamu harus sering-sering cek suhu tubuhnya, ya. Nanti jangan lupa kasih dia Paracetamol biar panasnya cepat turun. Segera bawa dia ke rumah sakit kalau demamnya tidak kunjung turun dalam waktu 24 jam!" Jelas om David.


"Baik, om. Tapi istri Axell beneran nggak pa-pa kan, om?" Tanya Axell lagi memastikan.


"Nggak apa-apa, nanti sebentar lagi juga pasti sadar. Kalo begitu om pergi ke rumah sakit dulu. Ada jam praktek setengah jam lagi." Jawab om David.


"Iya, om. Terima kasih." Balas Axell.


Pria paruh baya itu tersenyum sembari menepuk satu pundak Axell, "Jaga istrimu baik-baik, Xell. Om pergi dulu."


Axell mengangguk lalu berjalan mengikuti om David untuk mengantarkan om David keluar dari apartemen Dira. Setelah mengantar om David keluar, Axell mengambil minyak telon dari dalam laci. Menuangkannya ke telapak tangan lalu ia bubuhkan pada bagian perut, leher, telapak tangan dan juga telapak kaki Dira guna menetralisir rasa dingin yang Dira rasakan saat ini.


...***...


"Sialan, niat gue mau ngasih pelajaran, malah jadi kek gini!" Umpat seseorang yang kini tengah mengepalkan tangannya. Ia tadi tidak sengaja melihat Axell yang berlari sambil menggendong Dira yang tengah pingsan karena ulahnya.


"... Okay, gue akan kasih yang lebih dari ini."

__ADS_1


...***...


Axell berjalan menuju kamar Dira dengan segelas teh hangat di tangannya. Setelah meletakkan gelas berisi cairan bening kecoklatan tersebut, laki-laki itu bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sejak sampai dari tadi, Axell terlalu fokus dengan keadaan Dira sampai ia lupa kalau dirinya belum mandi.


Saat Axell masih melanjutkan mandinya, Tak berapa lama kemudian Dira mulai terbangun. Gadis itu kini mulai mengerjapkan matanya guna mengumpulkan kesadarannya.


"Ssshh ... Kepala gue pusing." Keluh Dira sambil memegangi kepalanya.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Axell dari balik pintu, masih dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Lo udah sadar?" Tanya Axell sambil berjalan mendekat ke arah Dira. Lalu duduk di tepi ranjang sambil mengecek suhu tubuh Dira dengan termometer.


"Lo masih demam ..." Ucap Axell saat melihat angka pada termometer di tangannya. "... Apa yang masih Lo rasain sekarang?"


Dira menggeleng lemas, "Cuma agak sedikit pusing, kak."


Axell mengangguk, "Bentar, gue ambilin dulu obat buat Lo!" Ucap Axell sambil berjalan keluar dari dalam kamar Dira. Beberapa menit kemudian Axell kembali dengan satu butir pil di tangannya. "... Lo minum ini dulu, biar panas Lo cepat turun!" Ucap Axell sambil memberikan sebutir Paracetamol pada Dira dan langsung di sambut baik oleh gadis itu.


Tapi, saat Dira meminum obat yang Axell berikan, gadis itu tiba-tiba saja tersedak.


"Uhuukk... uhuukk..."


"Lo kenapa?" Tanya Axell tanpa rasa bersalah.


Gimana Dira nggak tersedak coba, saat Dira tengah meminum obatnya, tanpa sengaja Dira menoleh ke arah Axell yang ternyata tengah nak*d dan sedang memakai baju di samping ranjangnya.


"Kak Axell kenapa ganti bajunya di situ?" Protes Dira sambil menutup mata dengan kedua tangannya.


Axell geleng-geleng kepala sendiri setelah mengetahui apa yang membuat gadisnya tersedak tadi. "Kenapa memangnya?" Tanya Axell tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Jangan ganti baju di situ!" Protes Dira lagi dengan posisi masih menutup kedua matanya.


"Kenapa memangnya?" Tanya Axell yang kembali mengulangi kata-katanya. Hadew ... Axell memang nggak sadar diri. Ini Axell sengaja atau bagaimana?🤣🤣


"Iiihh... Kak Axell -


"Kenapa sih, yang? Gue kan suami Lo! Salah kalo gue ganti baju depan Lo? Harusnya Lo itu bersyukur, Dira. Lo adalah gadis pertama dan bahkan satu-satunya yang bisa dengan mudah liat tubuh polos gue." Ujar Axell yang memotong ucapan Dira tadi.


"Kak Axell -


"Apa sayang?"

__ADS_1


__ADS_2