
"Xello..." Panggil seorang gadis yang berjarak tak jauh dari posisi Axell berdiri sekarang.
Deg...
Jantung Axell seakan berhenti berdetak. Bukan, bukan karena mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Tapi karena mendengar suara dari si pemanggil itu sendiri. Dan juga panggilan 'Xello'. Mengingat tak banyak orang yang memanggilnya demikian. Seketika satu sudut bibir Axell tertarik ke samping. Ia masih bisa mengingat dengan jelas, siapa gadis pemilik suara yang memanggilnya tadi.
Tapi bukan Axell namanya kalau ia tak bisa menguasai keadaan. Masih dengan posisi membelakangi gadis itu, Axell sama sekali tak berniat untuk berbalik atau bahkan menoleh sedikit pun ke arah gadis yang memanggilnya tadi. Ia lebih memilih diam dan membiarkan gadis itu yang menghampirinya.
Dan benar saja, hanya lewat sepersekian detik, gadis itu kini sudah berdiri tepat di depan Axell. Lebih tepatnya menghalangi jalan laki-laki itu.
"Hai, long time no see. Bagaimana kabar Lo, Xell?" Sapa gadis itu dengan senyum yang membingkai di wajah cantiknya. Senyum yang dulu begitu Axell rindukan.
"Baik." Jawab Axell singkat. Lebih tepatnya Axell malas untuk menanggapi gadis yang sedang berdiri tepat didepannya ini.
Seketika senyum di wajah gadis itu memudar, setelah mendengar respon yang Axell berikan. Terkesan cuek dan tak peduli padanya. Axell bahkan tidak menanyakan bagaimana kabarnya saat ini. Begitu jauh berbeda dengan Axell yang ia kenal dulu.
"Udah lama, ya, kita nggak ketemu. Seneng, deh, bisa ketemu sama Lo la -..."
"Ada hal penting yang mau Lo omongin?" Potong Axell cepat. Sungguh, Axell malas berurusan dengan gadis di depannya ini. Gadis yang dulu sempat mengisi relung hati dan pikirannya. Sekaligus gadis pertama yang memberinya luka karena penghianatan yang pernah dilakukannya.
Meskipun sekarang ini sudah ada gadis lain yang menetap dan bersemayam di hati Axell, tetap saja Axell enggan untuk menanggapi gadis yang tak lain bernama Renata itu.
Sementara Renata membelalakkan matanya mendengar Axell yang dengan sengaja memotong ucapannya tadi. Ini sungguh sangat berbeda dengan apa yang ada di bayangan gadis itu.
Pagi tadi saat gadis itu baru bangun tidur, ia nampak bersemangat saat membayangkan respon dari Axell yang pasti akan senang melihat kedatangannya. Tapi saat ia kembali bertemu dengan Axell, kenyataan yang di dapat sangatlah berbeda dengan apa yang ada di bayangan gadis itu.
"Kalo nggak ada gue pergi." Ucap Axell sambil kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti menuju kelasnya. Bahkan tanpa menatap wajah gadis itu sekalipun.
Kedua tangan Rene mengepal di kedua sisi tubuhnya. Setelah melihat Axell yang pergi begitu saja. Ini sungguh di luar dugaannya. Gadis itu tak pernah membayangkan, cowok yang dulu pernah sangat mencintainya, akan berubah sedrastis ini.
"Gue akan buat Lo balik sama gue, Xello! Kita liat aja!"
...***...
Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan kini Axell masih berdiam diri di kelas dengan benda pipih yang berada di genggamannya. Ia sedang mengetikkan sebuah pesan yang akan ia kirimkan pada seseorang.
^^^📤 Axarkan.^^^
^^^Temuin gue di ruang OSIS,^^^
^^^SEKARANG!^^^
Send ✔️
Tanpa perlu menunggu balasan dari pesan yang ia kirimkan, Axell langsung bangkit dan berjalan menuju ke ruang OSIS. Bahkan ia dengan sengaja melewati seseorang yang baru saja masuk kelas dan ingin menghampirinya.
...***...
Seorang gadis tengah berjalan sendirian menyusuri koridor sekolah. Sebelumnya tadi ia berniat pergi ke kantin. Tapi setelah mendapat pesan yang mengharuskannya untuk menemui seseorang di ruang OSIS, gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin dan memilih untuk menemui si pengirim pesan.
__ADS_1
Ceklek...
Setelah masuk ruang OSIS, gadis itu langsung di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Tanpa perlu bertanya siapa yang tengah memeluknya saat ini, gadis yang tak lain bernama Dira itu pun langsung bisa menebak, siapa yang tengah memeluknya sekarang.
Dari aroma parfum yang langsung merasuki Indra penciuman Dira, gadis itu tahu betul kalau laki-laki yang sedang memeluknya saat ini tak lain dan tak bukan adalah Axell - Suaminya.
"Kak Axell kenapa?" Satu pertanyaan muncul dari mulut Dira saat setelah keduanya diam beberapa saat.
"Ssttt... Diem! Gue cuma mau peluk Lo bentar." Jawab Axell dengan nada tak biasa. Bahkan Dira dapat merasakan nafas Axell yang memburu.
Hening. Untuk beberapa saat Dira membiarkan Axell memeluknya. Sampai pada akhirnya Dira memberanikan diri untuk melepas pelukan Axell lalu berbalik menghadap pada sang suami dan menatap wajah laki-laki itu. Bahkan kini pandangan keduanya terkunci satu sama lain.
"Kak Axell kenapa?" Tanya Dira mengulangi pertanyaannya yang tadi. "... Kak Axell sakit?" Tambahnya.
"Gue nggak pa-pa. Cuma lagi pengen di peluk sama Lo." Jawab Axell dengan pandangan yang masih betah untuk menatap gadis di depannya.
Deg...
'Ini kak Axell sebenarnya kenapa, sih?'
Setelah hanya diam beberapa saat, Dira yang sedari tadi bingung dengan apa yang terjadi dengan Axell, kini memberanikan diri mendekat ke arah laki-laki itu. Mengikis jarak diantara keduanya yang sempat Dira ciptakan sendiri tadi. Lalu seperti apa yang diminta oleh Axell, Dira kini memeluk Axell atas dasar kemauannya sendiri.
"Kalo sakit bilang, kak! Atau... kak Axell lagi ada masalah?" Ucap Dira pelan dengan sangat hati-hati.
Urung menjawab, seulas senyum nampak muncul di wajah Axell. Kedua tangannya pun kini terangkat untuk membalas pelukan hangat yang Dira berikan. Begitu hangat, nyaman, dan menenangkan. Itu yang Axell rasakan saat ini dan Axell butuh itu.
"Kalo aku bisa, pasti akan aku kasih." Jawab Dira.
Mendengar jawaban Dira membuat Axell semakin mengeratkan pelukannya. Seakan ia takut kehilangan gadis dalam peluknya.
"Apapun yang terjadi kedepannya, Jangan pernah berpikir sedikitpun untuk tinggalin gue, bisa?" Pinta Axell.
Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Dira, gadis itu hanya kembali menganggukkan kepalanya.
"... Tetep stay bareng gue disini, Dir. Gue butuh Lo."
...***...
Dua puluh menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi, Axell kembali datang ke kelas Dira untuk mengajak pulang gadisnya. Jika kemarin Axell harus meminta izin terlebih dahulu pada guru yang mengajar tapi lain halnya pada hari ini. Jelas Dira dalam keadaan jam kosong karena pak Dhana, guru yang kebetulan mengajar tidak hadir.
Ceklek...
Saat pintu kelas terbuka dari luar dan menampilkan Axell dari balik pintu, sontak saja semua pasang mata langsung tertuju pada Axell. Kecuali Dira, Zaki dan juga Melody yang memang tengah asyik sendiri.
Tak menghiraukan setiap pasang mata yang terang-terangan menatap kearahnya, Axell terus melangkah mendekat ke arah meja Dira.
"Yang..." Panggilnya.
__ADS_1
Dira yang memang tak mengetahui kedatangan Axell karena sedang asyik bercerita dengan Zaki dan Melody pun seketika terkejut. Ia menoleh dan mendapati Axell didepannya.
"Kak Axell..." Lirih Dira.
"Asyik banget, yang, sampe nggak liat gue dateng!" Ujar Axell dengan tangan yang mengusap kepalanya Dira. Dira tak menjawab, gadis itu malah tersenyum canggung.
"Ayo pulang!" Ajaknya dengan tangan yang langsung meraih tas sekolah milik Dira.
"Tapi, kak -..."
"Kelas Lo free, Yang. Pak Dhana udah kontak gue tadi. Beliau nggak bisa datang. Kalai kelas gue juga free, gue udah pasti ajak Lo pulang dari tadi." Jawab Axell yang mengerti kalau Dira pasti akan kembali menolak pulang sebelum jam pelajaran benar-benar berakhir.
"Dih... yang punya sekolah enak, ye, punya jam pulang sendiri!" Cibir Zaki yang memang sedari tadi mendengarkan interaksi antara Axell dan Dira.
Sementara Axell, laki-laki itu hanya menatap datar Zaki tanpa berniat membalas cibiran yang keluar dari mulut adik kelasnya itu.
Sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian dari seisi kelas, mau tak mau Dira menuruti kemauan Axell yang ingin mengajaknya pulang. Gadis itu mengangguk dan berdiri dari duduknya.
Tanpa ragu sedikitpun, Axell meraih tangan Dira dan menggandeng tangan gadis itu, dan berjalan dengan santai keluar kelas.
Saat Axell dan Dira masuk kedalam mobil, Ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya dari lantai tiga. Lantai yang di peruntukkan untuk kelas XII. Seorang gadis yang kini tengah berdiri dengan kedua tangan yang mengepal.
"Jadi karena dia?"
...***...
*Hai,, zheyeng²ku..😘😘😘
*Double up untuk hari ini.
*Gimana? Gimana? Dan gimana?
*Kasih tanggapan kalian, dong!
*Menurut kalian cerita Raxell ini gimana?"
*Tulis komentar terbaik kalian!
*Bagi yang udah baca episode ini, absen, dong!
*Di jam berapa kalian bacanya?
*Dan juga sebutin kalian dari mana aja!
*Like, Coment n' Vote selalu!
*Jadikan cerita Raxell favorit kalian dengan cara tekan tanda ❤️ biar dapet notif pas aku up!
*Bagi yang udah tinggalin jejak, kalian semua, TERBAIK!👍🏻
__ADS_1
*OK, zheyenk²ku...🥰🥰🥰
**See you, bye***²😘😘😘**