Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
122. Sebuah foto.


__ADS_3

"Istri dari mana coba? Kita semua tau, pak Axell itu masih sekolah. Jadi mana mungkin dia -


"Permisi..." Ucap Axell yang tiba-tiba muncul dan berjalan tergesa-gesa ke arah meja resepsionis, dengan ponsel di genggamannya. Mengejutkan. Laki-laki itu bahkan terlihat panik.


Michelle dan Raquel yang melihat kedatangan Axell kompak berdiri.


"Iya, pak. Ada yang bisa di bantu?" Tanya Raquel ramah.


*Iddiihh... giliran sama Axell aja, si Raquel ngomongnya manis gitu.😒


"Tadi ada gadis yang datang kesini mencari saya. Sekarang dimana dia?" Tanya Axell langsung. Axell memang selalu memakai bahasa formal jika sedang berada di kantor.


Tidak langsung menjawab, kedua resepsionis itu malah saling pandang satu sama lain.


"Gadis cantik, pakai seragam SMA, rambut lurus panjang kecoklatan. Tingginya ... sedikit lebih tinggi dari bahu saya ..." Ucap Axell menerangkan. "... Tadi pak Rheyhan bilang sudah mengantarnya kesini." Tambah Axell.


Sebelumnya tadi Rheyhan memang sudah lebih dulu menelpon Axell dan mengatakan kalau ia sudah mengantarkan Dira sampai kantor Dan meninggalkan gadis itu di lobi karena ada kepentingan.


Michelle dan Raquel tampak kesulitan menelan salivanya sendiri. Meskipun Michelle tidak sepenuhnya bersalah. Ciri-ciri gadis yang Axell sebutkan sama persis dengan gadis yang baru saja keluar tadi. Gadis yang meng-klaim dirinya sebagai istri Axell.


Mencoba tetap tenang, Michelle menjawab. "Oh ... iya, pak. Tadi memang ada seorang gadis yang datang kemari dan mencari pak Axell -


Belum sampai Michelle menyelesaikan ucapannya, Raquel sudah lebih dulu memotongnya. "Dia mengaku sebagi istri pak -


"Lalu dimana dia sekarang?" Sahut Axell tak sabaran. Bahkan tanpa menunggu Raquel menyelesaikan kalimatnya.


"Baru saja keluar, pak. Dia bilang, nanti akan kembali lagi kesini." Jawab Michele mengatakan apa yang Dira katakan sebelum pergi tadi.


Axell menghentak nafas kasar. Tangannya terangkat untuk melonggarkan dasi yang terasa seakan mencekik lehernya. Ia begitu khawatir dengan istrinya sekarang ini.


'Kamu pergi kemana sih, Yang?'


Axell menggeleng pelan, merasa kenapa ia begitu bodoh jika sedang panik begini? Sungguh Dira benar-benar mengubah dirinya. Axell lalu mencoba menghubungi Dira. Kenapa tidak terpikirkan sedari tadi?


📞 Calling my dear A...


Tuutt...


Panggilan langsung tersambung saat dering kedua.


"Halo, Yang. Kamu dimana?"


"(....)."

__ADS_1


"OK, jangan kemana-mana! Tetap disitu. Aku datang." Ucap Axell yang langsung berjalan pergi keluar dari kantor, untuk segera menyusul sang istri itu berada sekarang. Seakan tak membiarkan sesuatu yang mungkin akan menimpa istrinya disana.


Melihat Axell yang cukup panik, Michelle langsung melayangkan tatapan dingin pada Raquel. "Tuh ... kan, liat! Pak Axell langsung pergi mencari gadis itu. Berarti memang benar, dia istrinya pak Axell." Ucap Michelle.


"Ya mana aku tau, mbak. Aku kan baru satu bulan kerja di sini. Lagian mereka kan masih sama-sama berstatuskan pelajar SMA? Jadi wajar dong, kalo aku nggak percaya kalo mereka sudah menikah!" Jawab Raquel yang tidak mau disalahkan.


Tak ingin berdebat, Michelle hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia sendiri juga tidak tau, apa alasan dari atasannya menikahkan putra semata wayangnya itu disaat statusnya yang bahkan masih sebagai seorang pelajar SMA secara diam-diam.


...***...


Di sebuah mini market tak jauh dari lokasi gedung kantor MJ Corp, seorang gadis tengah berdiri di samping troli belanjaan yang sudah terisi beberapa bungkus camilan. Tengah memilih beberapa buah yang sepertinya akan ia beli.


Nampak gadis itu tengah memilih buah apel. Buah yang ia ketahui sebagai buah kesukaannya dari Axell sang suami.


"Camilan, buah apel, susu kotak ... um ... terus apa lagi, ya?" Gumam gadis itu sambil menepuk-nepuk dagunya menggunakan jari telunjuk.


Gadis yang tak lain adalah Dira itu tengah sibuk mengingat-ingat apa saja yang akan ia beli sekarang. Sampai pada akhirnya ia di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba memeluknya.


"Sayang!" Panggil Axell yang tiba-tiba muncul dan langsung memeluk Dira sambil beberapa kali mengecup kepala istrinya itu. Bahkan pandangan mata orang-orang yang memperhatikan ia yang sedang memeluk sang istri sama sekali tidak ia pedulikan.


"Kak Axell... Kenapa?" Tanya Dira kebingungan.


"Aku khawatir sama kamu, Yang. Sampai di kantor, kenapa kamu nggak telepon aku aja tadi? Malah pergi kesini. Nanti kalo terjadi sesuatu sama kamu, gimana? Hmm? Udah mulai bandel lagi?" Ujar Axell pada Dira. Bahkan Axell sampai menarik pelan hidung mancung milik istrinya itu.


Dira tersenyum mendengar apa yang Axell katakan. "Aku nggak mau ganggu kerja kak Axell." Jawab Dira.


Dira menghela nafas pelan mengingat kejadian sebelum ia sampai di mini market tadi.


"Tadi aku sudah tanya bagian resepsionis, dimana ruangan Kakak. Tapi mereka nggak mau kasih tau." Jawab Dira yang memang benar adanya.


"Kamu Nggak bilang kalo kamu istri aku, Yang?" Tanya Axell dengan pandangan yang tak pernah lepas dari sang istri.


"Udah, tapi mereka nggak percaya ..." Jawab Dira yang menggantungkan kalimatnya. Axell kembali menatap wajah Dira setelah melihat apa saja yang istrinya itu beli. Menunggu apa yang akan Dira katakan setelahnya.


"... ya wajar, sih. Dan aku juga nggak bisa nyalahin mereka. Bagaimanapun mereka di gaji memang untuk itu. Lagi pula, mana ada orang yang bisa mudah sekali percaya dengan perkataan seorang gadis berseragam SMA, yang meng-klaim dirinya sebagai istri dari seorang Axello." Jawab Dira yang kini mulai berjalan menuju kasir dengan Axell yang mengekor di belakangnya sambil mendorong troli berisi belanjaan Dira.


Axell menghela nafas pelan. Ia mengerti dengan apa yang Dira katakan. Ia jadi mengrutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjemput istrinya.


"Apa lagi yang masih mau di beli, Yang? Mumpung masih disini?" Tanya Axell saat keduanya sampai di bagian kasir.


Dira menggeleng, "Udah cukup, kak."


***

__ADS_1


"Kak Axell masih ada meeting lagi habis ini?" Tanya Dira sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Kini keduanya sedang berjalan kembali ke kantor. Jarak dari mini market ke kantor hanya memakan waktu sekitar lima menit.


Axell tersenyum, santai banget dia menjawab, "Udah enggak, Yang."


"Terus kita pulang jam berapa, kak? Ini rasanya badan aku udah lengket semua." Keluh Dira.


Axell kembali tersenyum, bahkan Axell tak segan mencium pelipis Dira. Axell bahkan sama sekali tidak merasa risih atau pun malu dengan mata para karyawan yang bersiap untuk pulang dan tengah memperhatikan interaksinya dengan Dira.


"Kita pamit sama ayah dulu, ya? Aku juga mau ambil beberapa berkas yang aku tinggalin tadi." Jawab Axell saat keduanya mulai memasuki lobi utama.


"Lho, kalian masih disini? Ayah pikir kalian sudah pulang?" Tanya ayah Marvellyo pada anak dan menantunya itu.


Dira mendekat untuk meraih tangan ayah mertuanya untuk mencium tangannya dengan takzim.


"Ini juga mau pulang, yah. Tapi kak Axell mau ambil berkas dulu katanya." Jawab Dira yang dibalas anggukan kepala oleh ayah Marvellyo.


"O ... iya, yah. Axell mau bilang, hari ini Axell sama Dira mau pulang ke apart." Ujar Axell.


"Boleh. Nanti biar ayah yang bilang sama bunda kamu, biar nggak nungguin kalian ..." Jawab ayah Marvellyo. "... Kalo gitu, ayah pulang dulu. Udah jam segini, bunda pasti nungguin. Kalian juga harus pulang dan istirahat! Dan juga, boy ... ayah minta sesuatu sama kamu ..."


"Apa, yah?" Tanya Axell cepat.


"Jaga menantu ayah baik-baik! Jangan sampai ada hal yang mengganggunya atau bahkan membuatnya tidak nyaman." Pesan ayah Marvellyo pada putra satu-satunya itu.


"Pasti, yah. Axell pasti akan terus jagain istri Axell." Jawab Axell mantab.


"Axell percaya sama kamu, boy." Jawab ayah Marvellyo sembari menepuk pundak sang putra. Pria paruh baya itu berbalik dan berjalan mendekat ke arah meja resepsionis yang berjarak tak jauh dari mereka berdiri tadi.


"Saya tidak menginginkan kejadian tadi terulang kembali. Jangan kalian pikir saya tidak tahu dengan apa yang kalian lakukan pada dia. Kalian ingat-ingat wajahnya baik-baik. Lain kali kalau dia datang lagi, langsung antarkan ke ruangan Axell! Dia menantu saya. Mengerti?" Ucap ayah Marvellyo memperingatkan pada Michelle dan juga Raquel.


"Baik, pak. Maaf atas kelancangan kami!" Jawab Michele. Sementara Raquel, ia hanya menunduk tanpa berani mengucap satu kata pun.


***


Dira yang baru selesai mandi itu kini menyiapkan baju ganti untuk Axell. Saat meletakkan baju Axell diatas ranjang, terdengar bunyi ponsel Axell bergetar dari atas meja. Karena merasa penasaran, Dira mencoba untuk mengambil ponsel tersebut.


📥 Renata.


Send a picture.


Satu pesan masuk dengan nama Renata sebagai pengirimnya. Alis Dira nampak terangkat sebelah seakan bertanya, foto apa kiranya yang gadis itu kirimkan pada suaminya?


Karena rasa penasaran yang semakin menyerang, Dira memberanikan diri untuk membuka pesan tersebut. Dan saat Dira melihat foto yang Renata kirimkan, mata gadis itu langsung membulat dengan sempurna. Dan seketika rasa takut menghampirinya begitu saja. Ia takut kalau Axell akan salah paham padanya setelah melihat foto tersebut.

__ADS_1


Bingung? Tentu. Dira tengah berpikir, harus ia apakan foto yang masuk di ponsel Axell tersebut? Apakah ia harus menghapusnya atau malah membiarkan Axell melihatnya? Tapi, semisal di hapus pun percuma. Karena Dira yakin kalau Renata pasti masih ada foto yang lainnya.


"Ada apa, Yang?"


__ADS_2