Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
104. Ancaman Renata.


__ADS_3

Menjelang sore, Dira yang satu jam lalu memutuskan untuk tidur sejenak, kini tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia terusik karena merasakan hembusan nafas teratur yang menerpa dahinya.


Saat Dira mulai membuka mata, ia langsung di hadapkan dengan leher putih milik Axell. Entah sadar atau tidak, seulas senyum tiba-tiba muncul di bibir gadis itu. Mengetahui ternyata suaminya yang sudah pulang dari sekolah dan sekarang tengah tidur sambil memeluknya.


Dira sedikit bergerak untuk mengubah posisinya. Gadis itu merasa sedikit pegal karena posisi tidur yang tidak berubah sedari tadi.


"Jangan dulu bangun, Yang ..." Ucap Axell dengan suara berat. "... Temenin gue tidur bentar! Setidaknya sampai gue benar-benar tidur." Pinta Axell masih dengan mata terpejam. Ternyata Axell masih belum sepenuhnya tertidur.


"Kak Axell kenapa? Kak Axell sakit?" Tanya Dira khawatir.


Axell tersenyum dalam hati mengetahui ada nada kekhawatiran dari sang istri. Axell lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tangannya bahkan semakin erat memeluk istrinya itu.


"Gue cuma capek banget hari ini. Jadi gue mau tidur sambil meluk Lo." Ujar Axell.


Tak melawan, Dira membiarkan saja Axell memeluknya. Bahkan tangan Dira kini bergerak untuk membalas pelukan Axell.


Bukannya kembali tidur, Axell yang merasakan pelukan pelukan Dira malah reflek membuka matanya. Ia pandangi wajah istrinya itu.


"Yang ... tetep stay bareng gue, ya?" Pinta Axell penuh harap.


Tak langsung menjawab, Dira malah mengrenyit heran tentang mengapa Axell yang tiba-tiba berkata seperti itu.


"Kak -


"Apapun yang terjadi kedepannya, gue minta Lo tetap berjalan di samping gue. Bisa, Yang?" Pinta Axell lagi.


"Iya, kak " Jawab Dira tanpa bertanya kenapa.


'Love you more, Dira.'


...***...


Sore hari saat Dira memastikan Axell yang sudah benar-benar tertidur. Gadis itu memutuskan untuk bangun dan sekarang ia sedang berada di dapur. Ia berencana untuk membantu bi Inah masak untuk makan malam sore ini.


"Sore, bi" Sapa Dira ramah.


"Eh, non Dira. Sore juga, non." Balas bi Inah.


"Bunda di mana ya, bi, kok nggak kelihatan?" Tanya Dira yang memang belum melihat mertuanya itu sejak setelah bunda Resty yang datang ke kamar menemuinya pagi tadi.


"Ada, non. Bibi tadi sempat liat Ibu dari taman belakang sama bapak. Mungkin sekarang lagi mandi di kamar." Jawab bi Inah menjelaskan. Sementara Dira hanya mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah enakan?" Tanya bunda Resty yabg baru saja datang memasuki dapur.


Dira menoleh dan mendapati bunda Resty yang berjalan ke arahnya. Ia tersenyum, "Sudah bunda. Ini Dira mau bantuin bi Inah masak." Jawab Dira. Entah apa yang Axell katakan pada mertuanya itu pagi tadi hingga bunda Resty beranggapan bahwa dirinya sedang sakit.


Sudah satu jam lebih, dan kini Dira sudah hampir selesai dengan aktivitas memasaknya. Saking asyiknya memasak, Dira sampai tidak menyadari kedatangan seseorang yang ternyata sedang memperhatikannya sedari tadi.



Berbeda dengan Dira, bunda Resty yang mengetahui kedatangan dari putranya itu kini malah berjalan mendekat ke arah Axell, yang sekarang sedang bersandar didepan kulkas sampul fokus memperhatikan sang istri.


Pelan namun pasti, bunda Resty semakin mendekat dan geleng-geleng kepala saat mengetahui pandangan mata Axell yang sama sekali tidak lepas dari menantunya itu. Tiba-tiba...


"Auw... sakit, bunda." Teriak Axell saat merasakan telinganya yang di tarik oleh sang bunda.


Dira yang mendengar suara Axell yang sedang kesakitan seketika menoleh dan mendapati Axell yang tengah kesakitan karena bunda Resty yang menarik telinganya.


"Boy, apa yang sedang kamu lakukan di depan kulkas seperti itu?" Tanya bunda Resty setelah melepaskan tangannya dari telinga sang putra.


"Axell cuma mau ngambil buah apel bunda, apa lagi?" Jawab Axell sambil mengambil apel kesukaannya dari lemari pendingin.


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut putranya, bunda Resty kembali menggeleng. "Anak nakal, bukanya bantuin menantu cantik bunda masak, malah ngeliatin diam-diam!" Ujar bunda Resty mencibir putranya.


"Bantuin apa kamu dengan bersandar di depan kulkas yang terbuka seperti tadi?" Tanya bunda Resty yang tadi memang melihat posisi Axell saat datang tadi.


"Apa lagi, Bun? Ya bantuin kasih semangat istri Axell, dong! ya nggak, Yang?" Jawab Axell sekenanya.


"Dasar anak nakal!" Ucap bunda Resty sambil terkekeh melihat sikap Axell seperti sekarang ini. Menurut bunda Resty, Axell sudah kembali seperti dulu lagi dan semua itu karena kehadiran Dira dalam hidup Axell.


Sementara Dira, ia hanya menatap Axell tak percaya. Menyadari sikap Axell yang sekarang jauh berbeda dengan sikap Axell yang dulu.


"Jangan terkejut, sayang! Suamimu memang seperti itu aslinya." Ucap bunda Resty yang menyadari kebingungan yang sangat ketara dari wajah menantunya itu. "... Bunda terima kasih sekali sama kamu, sayang. Karena kehadiran kamu, putra bunda kini telah telah kembali seperti dulu. Semoga kalian bisa saling menerima satu sama lain." Ucap bunda Resty pelan sambil mengusap lembut kepala Dira.


...***...


Di lain tempat, seorang gadis baru saja berhenti menghancurkan seisi kamarnya sendiri. Bahkan ia seperti orang kesetanan demi menyalurkan yang sekarang sedang menguasai dirinya.


"Arrgghh...!"


Trranngg...!


Suara vas bunga yang sengaja ia lempar kembali memenuhi kamar tersebut.

__ADS_1


"Brengs*k! Dasar bi**h! Liat aja Lo! Gue akan bertindak lebih. Ternyata apa yang udah gue lakukan selama ini belum bisa bikin Lo jera!" Teriak Renata dengan nafas yang kian memburu. Gadis itu tengah menyalahkan Dira hanya karena tidak bisa kembali merengkuh Mantang kekasihnya, Axello.


Adik dari Nicholas Mahaputra itu masih bisa mengingat dengan jelas, apa yang Axell katakan padanya tadi saat di sekolah.


Flashback on.


"Lo bilang apa barusan?" Tanya Axell tak terima. Ia mulai geram dengan sikap Renata sekarang.


"Cewe Lo, Jal**ng ..." Maki Renata tanpa rasa berdosa sedikitpun. "... Dia itu nggak pantas buat Lo, Xell!" Lanjutnya lagi.


Axell mendengus kesal, "Oh ... iya? Terus, cewe yang seperti apa yang pantes buat gue, Re? Yang kayak Lo?" Tanya Axell dengan nada yang terdengar menahan emosi.


"Iya. Gue. Karena emang cuma gue yang pantas buat Lo, Xell!" Jawab Renata begitu yakin dan rasa percaya diri.


Axell mendengus geli, "Impossible. Gue nggak akan pernah mau balik sama Lo, Re." Jawab Axell tegas.


"Xell, kenapa Lo nggak bisa ngerti? Gue kayak gini karena gue masih sayang banget sama Lo!" Ucap Renata dengan nada yang mulai meninggi, berharap Axell mengerti dengan apa yang ia katakan.


Sementara Axell menarik satu sudut bibirnya, mendengar apa yang Renata katakan.


"Sayang?" Ulang Axell. "Sayang dengan cara ninggalin gue ... gitu maksud Lo?" Tanya Axell dengan nada menyindir. Laki-laki itu bahkan berjalan mendekat ke arah gadis itu.


"Xell -"


"Dimana Lo, Re? Dimana Lo dulu saat gue minta Lo tetep sama gue? Dimana Lo saat gue minta Lo tetep tinggal bareng gue? Disaat gue Lo yang bahkan udah nggak UTUH sebagai seorang gadis, gue masih mau Nerima Lo. Gue bahkan masih berharap Lo untuk tetap di samping gue! Tapi apa balasan yang udah Lo beri ke gue? Lo tetep milih jalan sendiri dan pergi ninggalin gue dengan cara berkhianat dengan Arfen, sahabat gue sendiri ... Dan sekarang, disaat gue udah sama Dira, Lo dengan seenaknya minta gue balik lagi sama Lo?" Axell menggeleng singkat, "... Never!"


"Xell ... gue bisa jelasin. Semuanya nggak seperti yang Lo pikir." Ucap Renata yang kini tanpa sadar berjalan mundur.


Axell semakin tersenyum miring melihat wajah Renata yang sedikit terlihat takut. "Gue udah tau semua, Re. Bahkan tanpa gue mendengar penjelasan dari Lo sekali pun, gue udah tau semuanya. Jadi mulai sekarang ... berhenti gangguin gue sama dia. Ngerti Lo!" Ucap Axell tegas. Lalu berbalik pergi meninggalkan gadis itu.


"Apa, Xell? Apa yang udah cewe itu kasih buat Lo, sampai Lo susah buat Nerima gue balik?" Tanya Renata yang masih berusaha untuk meluluhkan hati Axell.


Axell mengehentikan langkahnya, "Sesuatu yang nggak mungkin bisa Lo kasih ke gue. Dan ... iya, sesuatu itu udah gue dapetin dari Dira. Gue harap jawaban gue ini bisa bikin Lo ngerti dan berhenti bertindak. Karena sekeras apapun usaha Lo, semuanya hanya akan sia-sia. Gue nggak akan pernah ninggalin Dira cuma buat balik sama Lo."


Flashback off.


"Arrgghh sialan!" Teriak gadis itu lagi. "... Liat aja, Gue akan tunggu waktu yang tepat. Lo tunggu aja pembalasan dari gue. Sekarang Lo masih bisa bernafas dengan tenang untuk sementara waktu, sebelum akhirnya gue bikin Lo sekarat, Dira!"


Gadis itu berdiri menghadap kaca pada meja rias. Matanya menatap tajam ke depan sana dengan nafas yang kian memburu. Seolah-olah ia sedang berbicara dengan Dira. Bahkan sangat jelas terlihat dari kedua bahu gadis itu yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafasnya.


Ruangan yang sempat hening sesaat itu, perlahan terdengar suara kekehan yang lambat laun menjadi tawa keras yang kuat dari mulut Renata. Gadis itu tertawa lepas sendirian di dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2