Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
184. Axell menyerah.


__ADS_3

"I-ini?" Dira mendadak terbata. "J-jadi... co-cowok itu ... Arfen?" Lirih Dira dengan keterkejutan yang terasa hebat menyelimutinya.


"... Jadi ... Arfen yang udah bikin Renata ninggalin kak Axell?" Kepala Dira menggeleng, ia mencoba untuk menolak apa yang ada di dalam kepalanya.


"... Nggak mungkin! Bagaimana bisa?" Dira masih mencoba menolak fakta yang baru ia telan mentah-mentah. Ingin tidak percaya, tapi semuanya saling berhubungan. "Tapi...


'Tapi ... Kalo menurut cerita yang bunda dapat dari mereka, gadis itu memilih meninggalkan Axell karena dia lebih menyukai salah satu dari sahabat Axell sendiri.'


'Sahabat kak Axell, Bun. Tapi siapa? Bukankah sahabat kak Axell cuma kak Bastian dan kak Verrel?'


'Tidak, sayang. Ada satu lagi. Dulu mereka sangat dekat bahkan sejak duduk di bangku SMP. Bahkan tak jarang mereka sering datang ke sini. Tapi semenjak hal itu, dia ... ah, siapa ya, namanya? Bunda lupa, sayang. Dia sudah tidak pernah main lagi kesini. Bahkan karena hal itu, kabarnya dia sampai memutuskan untuk pindah sekolah ke SMA lain.'


Tiba-tiba Dira ingat akan cerita bunda Resty hari itu, dimana bunda Resty yang mengatakan salah satu sahabat Axell menjadi penyebab kandasnya hubungan antara sang putra dengan gadis bernama Renata. Lalu berujung dengan pindahnya sahabat sang suami tersebut. Ya, Arfen. Memangnya siapa lagi kalau bukan dia? Karena tidak mungkin kalau Verrel atau Bastian, karena mereka masih satu sekolah yang sama dan persahabatan mereka bahkan masih baik-baik saja.


"Tapi, Arfen nggak mungkin kayak gitu, kan? Masa' iya, dia sengaja gangguin hubungan Renata sama kak Axell? Atau mungkin ... cewek itu aja yang kegatelan?"


Selesai dari proses loading nya yang lama, Dira berusaha kembali menggali isi buku yang lainnya. Ia berharap bisa kembali menemukan foto yang mungkin akan membuat semuanya semakin jelas. Dira masih yakin, Arfen tidak bersalah.


Dan iya, Dira kembali mendapatkannya. Dira berhasil menemukan foto yang lain. Foto Arfen dan Renata yang tengah berada di tempat yang Dira yakini sebuah club' malam.



'Ini ... mereka di d'Dream club' kan?' Monolog Dira dalam hati. Sebagai sahabat Arfen, Dira memang mengetahui salah satu kebiasaan buruk dari laki-laki itu. Dimana dia yang begitu menyukai minuman beralkohol tersebut.


Bukan, pada dasarnya Arfen bukan cowok yang hobi minum dan mabuk. Arfen hanya menyukai rasa dari minuman tersebut. Dan bahkan kedua orang tua Arfen pun tahu akan hal yang menjadi kegemaran putranya tersebut. Mereka pun tidak melarangnya karena mereka yakin, Arfen bisa membatasi dirinya.


Tak cukup sampai di situ, masih di buku yang sama, hanya lewat beberapa halaman. Dira kembali menemukan foto yang lainnya. Bukan foto sang suami, Arfen atau pun Renata. Melainkan ...





"Kak Nicho dan kak Rheyhan? Jadi, mereka juga saling kenal?"

__ADS_1


...***...


Ceklek.


Pintu kamar Axell terbuka dan membuat Dira perlahan menoleh. Detik kemudian ia berhambur memeluk Axell dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik sang suami.


"Baru mandi, Yang?" Tanya Axell dengan kedua tangan yang memeluk pinggang Dira. Laki-laki itu baru menyadari sang istri yang ternyata hanya mengenakan bathrobe lengkap dengan rambut basahnya.


Dira tidak menjawab, tapi Axell bisa merasakan kepala Dira yang mengangguk di dadanya. Dira mengangkat kedua kakinya dan menumpukannya di atas kaki Axell, Axell terkekeh melihatnya. Ia membiarkan saja kaki sang istri menginjak kakinya dan melangkah membawa Dira memasuki kamar.


"Abis ngapain aja, Yang? Kok baru mandi?" Tanya Axell setelah duduk di atas ranjang dengan Dira yang berada di pangkuannya.


"Malas." Jawab Dira dengan nada yang terdengar malas.


"Kalo malas kenapa mandi?" Tanya Axell lagi.


Dira terkekeh mendengar pertanyaan aneh Axell, "Karena tau kak Axell mau pulang. Masa' iya aku nggak mandi?"


Kini giliran Axell yang terkekeh. Satu tangannya mencubit gemas hidung mancung Dira, "Emang kalo aku pulang mau ngapain, Yang? Bukannya kamu lagi dapet? Hmm?" Tanya Axell dengan kedua alis terangkat. Ia menanti jawaban dari sang istri.


Axell mengangguk dengan seringai yang muncul di bibirnya. Lalu mengecup singkat bibir sang istri. "Ok. Tapi aku nggak bawa ciloknya, Yang."


"Lho ... kok kak Axell nggak bawa ciloknya? Kan tadi -" Ucapan Dira terhenti saat mendengar pintu kamarnya yang di ketuk seseorang.


Tok...


Tok...


Tok...


"Itu ciloknya datang." Ucap Axell yang kini mendudukan tubuh Dira di atas ranjang. Axell lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah pintu untuk membukanya.


"Ini, den. Susu sama ciloknya." Ucap bi Inah yang masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi dua gelas susu, sepiring cilok dan sepiring sambal.


Sepertinya Axell memang sengaja membeli cilok tersebut dengan sambal yang terpisah.

__ADS_1


"Eh... non Dira, baru selesai mandi, non?" Tanya bi Inah pada Dira.


Dira tersenyum dengan kepala yang mengangguk. "Iya, bi. Bi nah mau makan cilok juga?" Balas Dira.


Bi Inah menggeleng dengan senyum, "Nggak usah, non. Makasih. Den Axell juga beli buat yang lain. Ada banyak di dapur." Jawab bi Inah menjelaskan.


"Aku mandi dulu ya, Yang." Ucap Axell pada Dira lalu beralih menatap pada bi Inah. "... makasih, bi."


"Iya, den. Kalo gitu bibi ke dapur dulu." Pamit bi Inah.


Dira beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju walk in closet untuk ganti baju dan juga untuk mengambilkan baju untuk suaminya.


...****...


Axell menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan wajah yang memerah dan keringat yang keluar di sekitar wajah dan dahinya. Tangannya terulur untuk meraih remote AC dan menyalakan mesin pendingin ruangan tersebut. Tubuh Axell terasa kepanasan.


"Haahh... Sshhh... Haah! Pedes!" Desahnya dengan satu tangan yang menggaruk kepalanya sendiri. Axell bahkan terlihat begitu gelisah karena kepedasan.


Dira yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menyesap sedikit susu yang bi Inah bawa tadi untuk mendorong cilok yang selesai ia kunyah agar meluncur mulus dari tenggorokannya. Lalu kembali memakan cilok tersebut dengan santai dan begitu menikmati rasa pedas yang menurutnya tidak sehebat yang Axell rasakan.


Axell bangun, ia melepaskan baju yang baru setengah jam ia pakai, lalu meraih gelas susu miliknya dan meneguknya hingga tandas.


"Udah tau nggak kuat pedes, makannya jangan banyak-banyak!" Tegur Dira pelan. Dira lalu meraih gelas susunya lalu memberikannya pada Axell.


Axell menerima gelas susu milik Dira tapi tidak langsung meminumnya, ia malah kembali lesehan di karpet dan meletakkan kembali gelas susu tersebut.


"Kak Axell mau ngapain? Udah kepedesan kayak gitu lho!" Tegur Dira lagi saat melihat Axell yang kembali menusuk cilok tersebut dengan garpu dan kembali memakannya.


"Habisnya enak, Yang. Pedesnya bikin nagih ..." Jawab Axell yang kini kembali mengunyah cilok mercon tersebut. "... Pantesan kamu suka banget ciloknya." Lanjut Axell lalu kembali menyesap gelas susu milik Dira. Detik kemudian Axell kembali gelisah sambil menggaruk kepalanya lagi.


Dira kembali menggelengkan kepalanya lalu menepuk sendiri jidatnya melihat tingkah kekanakan yang tetiba muncul dari sang suami. Random banget ternyata suaminya ini.


"Ini masih sisa dua biji, kak Axell yakin nggak mau abisin sekalian?" Tanya Dira.


Axell menggeleng, satu tangannya melambai-lambai sebagai tanda ia benar-benar menyerah. Axell lalu kembali meneguk gelas Dira dan kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang.

__ADS_1


"I lost, Dear. And you win!"


__ADS_2