Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
29. Tanggung jawab gue. (Axello)


__ADS_3

Setelah selesai mengambil beberapa barang yang akan Dira bawa ke apartemen Axell, kini Dira berjalan dengan Axell yang berada satu langkah di depannya.


Axell berjalan dengan santai sambil membawa barang-barang yang Dira ambil dari apartemen milik gadis itu untuk keperluan sekolahnya besok. Setelah sampai di apartemen miliknya, Axell langsung menuju ke kamar dengan masih membawa barang-barang Dira tadi.



"Lo bisa taruh barang-barang Lo di lemari sebelah kiri, masih kosong." Ucap Axell pada Dira. Dira menganggukkan kepalanya dan langsung bergegas menata beberapa baju dan barang-barang lainnya. Ia harus cepat. Karena tadi saat baru sampai di basseman, Melody menelponnya dan mengatakan ada tugas yang harus di kumpulkan besok.


'Duh... Melody, ngasih tau nggak dari tadi siang. Gue kan jadi keteteran jadinya!' Batin Dira.


Selesai menata barang-barangnya, Dira langsung bergegas keluar kamar. Ia memutuskan untuk mengambil laptopnya yang masih tertinggal di apartemennya.


"Mau kemana?" Tanya Axell saat melihat Dira yang sepertinya akan keluar dari apartemennya. Laki-laki itu menatap Dira sekilas lalu beralih menatap jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya, "Udah malem."


"Mau ngambil laptop bentar, kak. Tadi nggak kebawa. Ada tugas yang mesti gue kumpulin besok." Jawab Dira.


Axell menganggukkan kepalanya, "Nggak usah. Lo bisa pake laptop gue. Satu di atas meja kamar dan satunya lagi ada dalam laci. Lo bebas mau pake yang mana." Ucap Axell sambil menunjuk meja dan laci yang ia maksudkan secara bergantian.


Dira berpikir sejenak sampai akhirnya, mengangguk pada Axell, "Makasih, kak." Dira langsung bergegas kembali ke kamar dan menuju ke meja yang di maksudkan oleh Axell tadi.


Dira langsung menyalakan laptop milik Axell dan setelah laptop itu menyala dengan sempurna, Dira langsung mengerjakan tugas sekolahnya. Ini sudah malam, dan ia harus cepat.


Sekitar dua jam Dira mengerjakan tugasnya. Saat sudah selesai mengerjakan tugas, Dira menutup laptop tersebut dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku sambil menguap. "Hoaamm... Ngantuk gue." Keluh Dira yang memang sudah merasakan kantuk sedari tadi.


"Kalo ngantuk tidur, udah malem!" Ucap Axell yang baru saja masuk ke kamar.


"Iya, kak." Jawab Dira yang langsung berjalan ke kamar mandi.


Saat Dira berada di kamar mandi, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel Dira.


Ting...


Axell yang kebetulan sedang berdiri di samping meja tempat Dira mengerjakan tugas tadi mendengar bunyi notifikasi dari ponsel gadis itu. Diliriknya nama si pengirim pesan.


๐Ÿ“ฅ Arfen๐Ÿ™‚


By...


Gimana kabar Lo hari ini?


Sorry, ya... Baru bisa chat Lo sekarang.


Abisnya gue sibuk banget akhir2 ini,


Lagi apa sekarang?


Udah mau tidur, ya?


Jangan suka begadang, gak baik.


Jaga kesehatan, jangan kecapekan, nanti asma Lo kambuh!


OK, good night princess ๐Ÿ˜‰


Axell menarik salah satu sudut bibirnya. Ternyata kedekatan Dira dan Arfen bukan cuma sebagai seorang sahabat saja, melainkan sahabat tapi suka, itu yang Axell pikirkan. Melihat panggilan Arfen pada Dira.

__ADS_1


'By?' Batin Axell mengulang.


'Baby.' Mungkin maksudnya. Axell diam. Ia tak ingin mencampuri urusan Dira dan Arfen.


Untuk sementara ini.


Axell lalu merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Tak lama kemudian Dira keluar dari kamar mandi. Gadis itu pun mematung di depan pintu. Ia ragu untuk tidur seranjang dengan Axell malam ini.


"Kenapa?" Tanya Axell yang melihat Dira hanya berdiri dan tidak segera tidur.


"Kak, aku tidur dimana?" Tanya Dira pelan.


Axell menarik satu alisnya setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Dira. Bukankah mereka sudah tidur seranjang kemarin waktu masih di rumah papa Pras, tepatnya malam saat mereka menikah, walaupun tidak terjadi apa-apa saat malam itu. Lalu sekarang, kenapa gadis itu masih bertanya?


"Di samping gue." Jawab Axell santai.


"Tapi, kak. Kita kan di sini cuma berdu -..."


"Gue nggak akan apa-apain Lo." Mengerti apa yang sedang Dira pikirkan, Axell langsung menyela apa yang akan Dira katakan.


"Cepet tidur!" Ucap Axell yang kini sudah mulai memejamkan matanya. Akhirnya mau tidak mau, dengan perasaan ragu bercampur takut, Dira memberanikan diri untuk kembali tidur seranjang dengan Axell.


...***...


Keesokkan paginya Axell bangun lebih pagi dari biasanya. Laki-laki itu menatap kosong langit-langit kamarnya. Cukup lama, sampai akhirnya pandangannya kini beralih menatap wajah damai gadis yang masih tertidur lelap di sampingnya.


Axell masih bertanya-tanya, tentang mengapa orang tuanya itu terkesan terburu-buru menikahkannya dengan Dira. Kenapa mereka tidak bisa menunggu sampai dia dan Dira lulus kuliah nanti, atau setidaknya menunggu Dira lulus SMA. Bukankah ia dan Dira sudah dewasa dan bisa menentukan pasangan masing-masing?


Bagi Axell, pernikahan adalah sekali seumur hidup. Ia ingin seperti kedua orang tuanya. Tapi, bagaimana dengan pernikahannya nanti? Apakah pernikahan ini akan terus berlanjut meskipun tanpa di dasari rasa cinta? Bagaimana jika gadis yang masih terlelap di sampingnya itu kini sedang mencintai seseorang.


Tiba-tiba Axell teringat beberapa waktu yang lalu, dimana Dira yang tengah menangis saat Nayla menanyakan hubungan antara Dira dan Arfen.


Tiba-tiba ponsel Dira berbunyi. Dira yang setengah sadar itu pun meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas dan mematikan alarmnya.


Dira mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Sampai pada akhirnya ia bangun dan masuk ke kamar mandi. Jangan tanyakan Axell, kini ia punya kebiasaan baru di pagi hari. Yaitu pura-pura tidur disaat Dira bangun.


Setelah selesai dengan mandinya, Dira berjalan menuju dapur. Pagi ini ia ingin membuat sarapan. Sampai di dapur, Dira langsung membuka kulkas dan menemukan beberapa lembar roti, dua macam selai dan susu. Oh... iya, Dira baru ingat. Ia sekarang sedang berada di apartemen Axell. Jadi wajar kalau kulkas itu kosong. Dira berpikir itu karena Axell memang sering makan di luar atau delivery order, mungkin.


'OK, berarti gue harus belanja nanti.' Batin Dira.


Karena jam yang terus berjalan, Dira memutuskan untuk pergi ke apartemennya mencari bahan makanan yang mungkin bisa ia jadikan bahan makanan pagi ini.


Sampai di dapur apartemennya, Dira langsung mengambil beberapa lembar roti, mengolesinya dengan mentega dan memanggangnya sebentar. Setelah itu, Dira membuat telur dadar, memotong selada dan juga tomat. Setelah telur dadar itu matang, Dira mengambil dua lembar roti yang sudah ia panggang tadi. Lalu menaruh telur dadar di atasnya. Tak lupa menambahkan irisan selada dan tomat. Dira juga menambahkan sedikit mayonaise dan juga saus sambal dan ditutupnya lagi dengan selembar roti. Dipotongnya sandwich itu menjadi dua lalu meletakkan potongan sandwich itu kedalam kotak bekal. Selesai dengan urusan membuat sarapan, Dira bergegas kembali ke apartemen Axell.


Sampai di apartemen Axell, Dira baru ingat. Ternyata ia tak tahu password apartemen Axell. Akhirnya Dira terpaksa mengetuk pintu apartemen Axell.


Tok...


Tok...


Tok...


Ceklek...


Pintu itu langsung terbuka menampilkan Axell yang tengah memakai dasi sekolahnya.

__ADS_1


"Masih pagi, dari mana?" Tanya Axell setelah selesai memakai dasinya.


"Bikin sarapan, kak." Jawab Dira lalu berjalan ke arah meja makan.



"Kak Axell mau sarapan disini atau di sekolah?" Tanya Dira saat meletakkan sandwich yang ia bawa tadi ke atas meja.


Axell berjalan mengekor di belakang Dira. Tangan kekarnya menarik kursi dan duduk bersiap untuk sarapan. "Disini aja." Jawab Axell.


"OK. Gue ganti baju dulu." Ucap Dira sambil meletakkan segelas susu hangat untuk Axell. Tak butuh waktu lama, Dira muncul dan sudah siap dengan seragam sekolah dan langsung bergabung dengan Axell untuk sarapan.


"Ini enak..." Ujar Axell saat Dira duduk di depannya. "...Lo bisa masak?" Tanyanya.


"Dikit-dikit sih, kak." Jawab Dira sambil mengunyah sandwich nya.


"OK, Lo bisa pake dapur ini sesuka Lo. Tapi di kulkas lagi kosong." Ucap Axell.


"Iya, kak. Nanti gue mau belanja bahan makanan." Jawab Dira yang kini selesai dengan sarapannya.


"Gue anter. Kita belanja pulang sekolah!" Ucap Axell lalu menghabiskan susu yang di berikan Dira padanya tadi. Tanpa menjawab, Dira hanya menganggukkan kepalanya.


...***...


Karena mobil Dira masih berada di rumah papa Pras, jadilah hari ini mau tidak mau Dira harus berangkat sekolah dengan Axell.


Sebenarnya Axell tidak masalah lalu harus berangkat dengan Dira, bahkan laki-laki itu tadi yang mengajak. Tapi, lain halnya dengan Dira, ia merasa agak canggung disini. Dan lagi, bagaimana nanti kalau ada yang melihatnya keluar dari mobil Axell. Pasti nanti teman-temannya akan mencercanya dengan berbagai pertanyaan.


Beruntung saat mobil Axell memasuki area parkir sekolah, mobil Axel adalah yang pertama datang. Ternyata mereka datang terlalu pagi. Dan saat Dira akan membuka pintu,


"Tunggu!" Ucap Axell tiba-tiba. Dira mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dan menoleh ke arah Axell.


"Ada apa, kak?" Tanya Dira ingin tahu. Dira penasaran, Kenapa Axell menghentikannya. Bukankah saat ini adalah saat yang tepat untuk Dira keluar dari mobilnya? Mengingat keadaan yang masih sangat sepi. karena kalau sudah mulai ramai kan pasti akan ada yang banyak melihatnya bersama dengan Axell, dan pasti akan muncul gosip baru di sekolah.


Axel menyerahkan beberapa lembar uang ratusan kepada Dira, "Ini uang saku Lo satu minggu ini." Ucap Axel pada Dira. Dira mengernyitkan dahinya bingung.


"Tapi, kak -..." Ucapan Dira di potong kembali oleh Axell.


"Terima, Dira! Gue udah minta papa buat stop transfer uang bulanan buat Lo." Jawab Axel santai dengan tanpa rasa bersalahnya.


"Tapi kenapa, kak?" Tanya Dira setengah menuntut kepada cowok di depannya ini.


Axell menghela nafas pelan, sepertinya gadis di depannya ini lupa akan statusnya. "Dira, mulai sekarang semua kebutuhan Lo, itu udah menjadi tanggung jawab gue. Karena sekarang Lo udah jadi istri gue." Jelas Axell.


Deg...


Mendengar kata istri yang terlontar dari mulut Axell, Entah kenapa tiba-tiba tubuh Dira menegang. Gadis itu hampir saja lupa kalau statusnya kini telah berubah menjadi seorang istri, istri dari seorang Axello Arkana Marvellyo, kakak kelasnya, sang ketua OSIS di sekolahnya. Tanpa sadar Dira meremas ujung rok seragam sekolah dengan tangan kirinya.


Karena Dira yang tak kunjung menerima uang pemberiannya membuat Axell kembali bersuara, "Lo nggak mau terima uang dari gue?" Tanyanya dengan nada datar.


Akhirnya, mau tidak mau Dira menerima uang pemberian dari Axell tadi. "Makasih, Kak." ucap Dira setelah memasukkan uang pemberian Axell tadi ke dalam tasnya.


Karena sudah mulai banyak mobil dan motor yang berdatangan di tempat parkir, akhirnya Dira memutuskan untuk segera keluar dari mobil Axell. Tapi, baru saja Dira akan membuka pintu mobil Axell, laki-laki itu kembali menghentikan Dira yang akan turun dari mobil.


"Tunggu!" Cegah Axell lagi.

__ADS_1


'Duh... Ada apa lagi, sih?' Batin Dira kesal sambil memejamkan matanya. Sungguh Dira tak ingin terlalu lama berada di saat seperti ini.


"Kenapa, kak?"


__ADS_2