
"Anu, den... itu, den Axell sedang di tunggu sama bapak di ruang kerjanya." Teriak bi Inah dari luar kamar.
"Ya, bi. Bilang sama ayah tunggu sebentar!" Jawab Axell lalu kembali menekan tombol tadi. Ia bergegas ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama karena tahu sang ayah sedang menunggu, Axell keluar dari walk in closet sudah dengan baju santainya.
Sebelum keluar kamar, Axell menoleh ke arah Dira yang kini tengah duduk di ranjang dengan tangan yang tengah menyunggar rambutnya yang berantakan karena ulahnya tadi. Ia tersenyum melihat itu. "Yang, aku ketemu sama ayah bentar, ya?" Ucapnya.
Dira mengangguk, "Aku juga mau mandi."
*Dah lah, nggak tau lagi aku mereka abis ngapain??? 🙈🙈
...***...
Ngiiinngg...
Suara dari hair dryer yang Dira gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Ia harus cepat karena sebentar lagi jam makan malam. Dira tidak ingin membuat keluarganya menunda makan malam mereka hanya untuk menunggu dirinya.
Tok...
Tok...
Tok...
"Non... Non Dira!" Panggil bi Inah.
Dira menghentikan gerakannya. Ia meletakkan hair dryer tersebut ke atas meja bukan karena mendengar suara bi Inah yang memanggilnya. Melainkan karena rambutnya sudah setengah kering. Hal biasa yang memang sering ia lakukan setelah keramas.
"Iya, sebentar." Teriak Dira seolah bi inah bisa mendengarnya. Padahal tidak sama sekali. Itu akan sia-sia karena kamar Axell kedap suara.
Ceklek...
"Ada apa, bi?"
Tidak langsung menjawab, bi Inah malah terlihat kebingungan. Ia bingung untuk menyampaikan bahwa ada seseorang yang datang dan ingin menemui nona mudanya.
Bukan apa-apa. Hanya saja, bi Inah sedikit tahu tentang orang itu. Orang yang dulu pernah ia lihat fotonya di atas meja belajar tuan mudanya.
Melihat dari foto tersebut seseorang akan mudah menebak kalau ia kekasih Axell saat itu. Karena foto tersebut memperlihatkan kedekatan keduanya dimana Axell yang terlihat sedang memeluk seseorang itu dari belakang.
"Itu, non... Ada -
"Ada apa ini?" Tanya Axell yang tiba-tiba muncul dan menyela.
Bi Inah nampak menelan ludah saat melihat wajah tuan mudanya.
__ADS_1
"Bi..." Panggil Dira.
Axell menatap bi Inah serius dengan satu alis terangkat seolah bertanya ada apa?
"Itu, den. Ada tamu nyariin ... non Dira." Jawab bi Inah sedikit terjeda.
"Nyariin aku, bi?" Tanya Dira lalu menatap Axell. "... Mungkin Melody?" Tebak Dira yakin. Karena setahu Dira hanya Melody dan Bastian yang tahu ia tinggal di rumah Axell.
Axell menghela nafas lega. Tanpa menaruh curiga atau apapun karena mungkin saja itu benar. Ia bertetangga dengan Zaki. Bisa saja gadis itu kebetulan mampir setelah bertandang ke rumah kekasihnya itu.
'Mungkin?'
"Suruh tunggu di ruang tengah, bi!" Ujar Axell sebelum masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu.
Meskipun sedikit ragu, bi Inah mengangguk. "Baik, den."
Urung mengikuti bi Inah turun ke bawah, Dira malah memperhatikan Axell yang nampak membuka laci.
"Kak Axell udah selesai?" Tanya Dira.
Axell menggeleng. Ia kembali menutup laci dengan 2 buah file di tangannya. "Belum, Yang. Ini mau kasih file yang ayah minta. Kamu temuin temen kamu dulu!"
Dira mengangguk lalu keluar kamar tanpa menutupnya.
...***...
Meski ragu, nyatanya Renata tetap menuruti saran yang Arfen berikan padanya.
Karakter seperti Renata adalah tipikal orang yang tidak bisa dengan mudah mendengar saran dari orang lain. Ia selalu merasa dirinya benar dan tidak butuh orang lain untuk menasehatinya. Ditambah sifat dari kedua orang tua yang selalu memanjakannya sedari kecil membuat Renata menjadi pribadi seperti sekarang ini. Dan, ya. Selama ini hanya Arfen yang ia dengar kata-katanya.
Entah bagaimana caranya, nyatanya Arfen selalu berhasil menasehati Renata dengan cara khas dia. Ia selalu bisa menyampaikan sesuatu yang bisa dengan mudah Renata terima. Bukan seperti orang yang memerintah atau pun menggurui, seperti yang biasa Nicholas lakukan padanya.
Dan sekarang, entah sudah berapa kali Renata menghela nafas untuk menetralisir rasa tak nyaman dalam hatinya semenjak ia memasuki rumah tersebut.
Ingin rasanya Renata membatalkan niatnya untuk meminta maaf dan pergi dari sini tanpa sempat bertemu dengan Dira. Karena ia menyadari kedatangannya untuk meminta maaf hanya akan sia-sia. Renata sadar, kesalahan yang sudah ia lakukan tidak termaafkan.
Tapi, ia juga sudah membuat keputusan. Entah bagaimana respon yang akan Dira perlihatkan nantinya ketika melihatnya datang, Renata akan tetap pada apa yang menjadi alasannya mendatangi kediaman keluarga mantan kekasihnya ini.
"Hhaahhh..." Terhitung sudah lebih dari 15 menit Renata menunggu. "... Apa gue pergi aja, ya! Dia nggak mungkin mau maafin gue."
...***...
Dira berjalan santai menuruni anak tangga yang berbentuk setengah melingkar itu. Hampir di pertengahan tangga, Dira memperlambat langkah kakinya karena matanya tengah fokus mengamati seseorang. Seorang gadis yang tengah duduk dengan kedua tangan di pangkuannya.
Deg...
__ADS_1
Tiba-tiba langkah Dira terhenti. Ia mencengkram kuat railing tangga begitu ia melihat seseorang itu dengan jelas.
Bukan. Bukan Melody yang datang seperti dugaannya tadi. Melainkan seseorang yang sekarang ini Dira benci. Ya, Dira benci gadis itu. Gadis yang selalu mengaku sebagai kekasih dari suaminya sendiri. Renata - adik dari Nicholas.
Seketika sekelebat bayangan buruk hari itu muncul di kepala Dira. Hari dimana ia bertemu dengan gadis itu di toilet sekolah dan berakhir di rumah sakit dengan rasa tak nyaman pada perut bagian bawahnya.
Sampai saat ini, Dira masih belum mengetahui kalau ia sempat hamil dan keguguran. Saat itu, Dira pikir rasa sakit pada perutnya akibat Renata yang menginjak perutnya.
Dira menatap dingin gadis itu. Rasanya ia malas bertemu dengannya. Ingin rasanya Dira kembali ke kamarnya saja dan tidak usah menemui Renata. Tapi, ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya. Dan jawabannya akan ia dapatkan ketika ia menanyakan hal itu pada Renata.
"Mau apa Lo kesini?" Tanya Dira datar. Satu pertanyaan yang langsung membuat Renata bangun dari duduknya. Keduanya saling tatap dengan suasana hati yang jelas berbeda.
"... Kalo Lo kesini cuma mau bikin masalah sama gue, sebaiknya nggak usah!" Dira melirik ke lantai atas sejenak laluk kembali menatap renata. "... Kak Axell ada di rumah dan gue yakin, dia pasti tidak akan tinggal diam." Lanjut Dira lagi.
Renata mengepalkan tangannya. Tidak, dia bukan ingin menampar Dira seperti yang selalu ia lakukan ketika mereka bertemu. Renata hanya sedang menahan dirinya sendiri untuk tidak memilih pergi sebelum mengatakan tujuannya datang pada Dira.
Renata lalu melangkah. Ia berjalan mendekat pada Dira.
"Tetap disana! Jangan mendekat atau gue teriak?" Dira mundur. Ia kembali menginjak anak tangga. "... Gue nggak mau deketan sama Lo!"
Renata menghela nafas. Ia mengerti sikap Dira sekarang. Mengingat semua hal yang pernah ia lakukan pada gadis itu, ah tidak... wanita itu, wajar kalau Dira bersikap demikian.
"Kenapa diam? Jangan bilang setelah hari itu ... Lo jadi gagu?!" Dira menghentak nafas kasar. "... Kemana perginya sifat ambis Lo itu?" Tanya Dira menohok.
Bahu Renata melemah. "Gue ..." Lidah Renata tiba-tiba terasa kelu. Dengan susah payah ia berusaha menelan ludah. Rasanya untuk mengucap kata maaf pun ia kesulitan.
"Gue apa?" Tantang Dira dengan dagu terangkat. "... Gue nggak ada waktu untuk hal-hal nggak penting kayak gini. Lo bisa pergi!" Usir Dira lalu berbalik.
"Gue mau minta maaf." Satu kalimat yang akhirnya Renata ucapkan dan berhasil mengurungkan Dira yang bersiap kembali menaiki anak tangga.
Dira kembali berbalik seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
'Minta maaf?'
"Apa Lo bilang? Minta maaf?" Ulang Dira merasa geli. "... Apa kak Nicho yang maksa Lo buat minta maaf, setelah dia tau perbuatan Lo ke gue?" Tanya Dira dengan nada tak suka.
Memang benar, Nicholas memang tahu kalau Dira keguguran karena ulah adiknya. Hanya saja bagaimana hal itu bisa terjadi? Nicholas sampai saat ini masih belum tahu alur cerita sebenarnya. Dan niat Renata datang sekarang ini adalah murni atas kemauan dirinya sendiri.
"Gue datang meminta maaf atas kesadaran diri gue sendiri ...
...***...
*Renata Isabella Mahaputri
__ADS_1
*Kalian mau ngomong apa sama Rere?