
"Boleh, suapin tapi!" Jawab Axell sambil fokus mengemudi.
Dira tersenyum, ia mulai menusukkan satu cilok dan mengarahkannya pada Axell yang sudah siap menerima suapannya.
'Cilok mercon.'
OK. Saking senangnya Dira dengan jajanan tersebut, Dira sampai melupakan satu hal saat ini. Ia bahkan tidak menyadari apa yang sedang menyerang Axell sekarang.
"Gimana, kak. Enak, kan?" Tanya Dira sambil memperhatikan mimik wajah Axell.
Axell tampak mengangguk dengan ragu. Menit kemudian, ia mendesis pelan. Wajahnya tiba-tiba mulai memerah dan sedikit berkeringat.
"Kak Axell kenapa?" Tanya Dira yang baru menyadari ada perubahan pada wajah Axell.
Axell menggeleng masih dengan mulut yang mengunyah makanan itu perlahan, sambil kembali mendesis. Matanya tiba-tiba melebar dan mengerjap beberapa kali.
"Kak Axell nggak pa-pa, kan?" Tanya Dira yang mulai khawatir.
Axell kembali menggeleng. Lalu, "Yang ... air." Axell semakin terpejam. Mulutnya masih berdesis. Lalu terbuka untuk untuk menghembuskan hawa terbakar di dalamnya.
"Yang, pedes ..." Desah laki-laki itu.
"Hha!" Dira mengerjapkan matanya beberapa kali setelah menyadari apa yang terjadi dengan sang suami. Satu hal yang ia lupakan tadi suaminya ini tidak bisa makan makanan yang pedas.
"Yang, ada air nggak?" Tanya Axell yang kini mulai menepikan mobil lalu menghentikan laju kendaraannya.
Tunggu!
1 detik.
2 detik.
3 detik.
'Astaga ... kenapa gue bisa lupa? ini kan cilok mercon!'
"Yang, air ..." Pinta Axell lagi. Laki-laki itu kini bahkan mulai mengipas-ngipas mulutnya. Axell terlihat gelisah.
"Nggak ada air, kak ..." Jawab Dira yang baru sadar dengan apa yang terjadi. "... Bentar ya, kak. Aku beliin susu di mini market depan." Gadis itu lalu membuka tas untuk mengambil dompet. Ia akan turun untuk membelikan Axell susu kotak guna meredakan rasa pedas yang Axell rasakan.
"Kelamaan, yang!" Tolak Axell.
"Nggak lama kok, kak. Tunggu bentar, ya!" Dira lalu melepas lock safety belt-nya dan membuka pintu mobil.
__ADS_1
Tapi, baru saja Dira akan turun dari mobil, dengan cepat Axell mencekal pergelangan tangannya, membuat Dira kembali menoleh ke arah Axell.
"Yang, gue udah nggak tahan pedesnya." Axell sudah mulai tak sabaran. Laki-laki itu kini mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Bahkan jelas terlihat, Axell semakin gelisah sekarang. Axell sudah benar-benar tidak tahan dengan rasa pedas yang kini tengah membakar mulutnya itu.
"Bentar, ya, kak. Aku beneran nggak lama." Lagi-lagi Dira mencoba untuk keluar dari dalam mobil Axell. Tapi tiba-tiba, dengan gerakan cepat tak terduga, Axell kembali mencekal tangan Dira. Dan saat Dira kembali menoleh, Axell langsung menangkup wajah gadis itu dan meraup bibirnya dengan cepat. Axell mengulum dan menyesap bibir gadisnya itu dalam-dalam. Berusaha menstabilkan suhu panas dari dalam rongga mulutnya. Hingga tanpa sadar,ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu yang seakan meminta lebih.
"Emmbh... " Dira mencoba melepaskan diri dari ciuman mendadak dari Axell. Gadis itu mendorong dan menepuk-nepuk dada bidang milik suaminya.
"Pelan-pelan, kak. Sakit bibir aku!" Keluh Dira dengan nafas yang masih memburu setelah ciumannya berhasil terlepas.
"Nggak tahan, yang ... pedes!" Jawab Axell cepat. Lalu kembali melahap bibir gadis itu lagi dan Dira kembali melepaskannya.
"Tapi bisa pelan-pelan kan, kak? Lihat nih, bibir aku, sampai kebas nih rasanya." Protes Dira.
Bukannya merasa bersalah, Axell malah terkekeh gemas mendengar keluhan dari gadisnya, "Yang ... gue mau yang lebih."
...***...
Nggiiingg....
Suara dari alat pengering rambut yang Dira gunakan saat ini. Gadis itu baru saja selesai mandi beberapa menit yang lalu. Setelah rambutnya setengah kering, Dira menghentikan aktifitasnya lalu mencarikan baju ganti untuk Axell yang pasti sebentar lagi keluar dari dalam kamar mandi.
Ting!
📥 +62852279797**
Send a picture
Bukan Lo doang yang bisa ngerasain manisnya bibir, Xello! Sebelum Lo, gue udah pernah ngerasain. Dan nggak lama lagi, gue pasti bisa dapetin Xello balik.
Deg!
Melihat 4 foto sepasang kekasih yang sedang berciuman tersebut, entah mengapa jantung Dira berdegup kencang. Bahkan kini nafasnya kian memburu.
Bagaimana tidak? Dari foto yang Dira lihat, laki-laki di dalam foto itu memang benar-benar - suaminya. Walaupun wajah Axell tidak terlihat dengan jelas, tapi Dira bisa mengenalinya dengan sangat baik. Dari postur tubuh, bentuk kepala dan rambut dari laki-laki itu Dira yakin adalah suaminya. Tidak salah lagi.
__ADS_1
Melihat foto laki-laki berstatuskan suami yang sedang berciuman dengan gadis lain, seketika muncul rasa aneh dari dalam hati gadis itu. Entah mengapa Dira seakan tidak rela jika suatu saat nanti Axell benar-benar kembali pada gadis yang sudah Dira tebak adalah Renata, kakak kelasnya - mantan dari suaminya itu sendiri.
Masih dengan padangan yang tak lepas dari foto-foto tersebut, Dira bahkan sampai tidak menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya sedari tadi.
Laki-laki yang beberapa menit lalu keluar dari dalam kamar mandi itu kini perlahan berjalan mendekat ke arah Dira. Mencari tahu apa yang gadisnya itu lihat sampai tidak menyadari keberadaanya.
Trranngg!
Tiba-tiba ponsel yang sedari tadi Dira pegang mendarat dengan keras di meja rias. Membentur botol parfum yang terletak di pinggir meja. Menjadikannya jatuh dan pecah berantakan seketika. Mengeluarkan cairan yang langsung menyebarkan wangi khas kebanggaan yang selalu Axell gunakan pada tubuhnya.
"Jangan di lihat!" Ucap Axell setelah mengetahui apa yang sedari tadi menyita perhatian dari sang istri.
Dira yang terkejut dengan kedatangan Axell langsung menatap wajah laki-laki itu.
"... itu semua masa lalu ..." Sambungnya. Laki-laki itu lalu meraih tubuh Dira dan mendekapnya erat. Ia usap pelan rambut gadisnya sambil sesekali mendaratkan kecupan di puncak kepala gadis itu. "... Lo akan tetap jadi yang terakhir buat gue." Axell mengucapkannya dengan penuh keyakinan.
Tak menolak. Dira menerima pelukan dari Axell. Lalu setetes air bening begitu saja mengalir dari mata Dira. Seakan-akan benar-benar takut kehilangan Axell yang sekarang baru ia sadari kehadirannya di dalam hidup gadis itu.
'Kamu bener, kak. Kamu udah berhasil menyelinap masuk kedalam hati aku. Dan sekarang aku baru menyadarinya.'
Tangan Dira lalu bergerak untuk membalas pelukan yang Axell berikan. "Kak ... boleh aku minta sesuatu?" Tanya Dira pelan.
"Anything for you, Dira." Jawab Axell lalu kembali mendaratkan satu kecupan di puncak kepala Dira.
"Stay with me, okay?" Pinta Dira dengan suara bergetar menahan tangis. "Forever!"
Axell tertegun mendengar apa yang baru saja Dira katakan. Menit kemudian sudut bibirnya terangkat, "As you requested."
***
"Lo baik-baik aja?" Tanya seorang cowok yang kini tengah duduk di balik kemudi, bersama seorang gadis yang duduk disebelahnya.
"It's okay, dia jelas bukan saingan gue. Gue yakin, Xello nggak akan bisa semudah itu move on dari gue, kak. Dan bakal gue pastiin, tuh cewek bakalan putus sama Xello dalam waktu dekat." Ucapnya penuh percaya diri.
Gadis yang tak lain bernama Renata itu kini meremat kuat ponsel yang kini sedang dalam genggamannya. Berusaha menyalurkan emosi yang tengah menguasai dirinya.
Sebelumnya, Renata dan juga Derry tidak sengaja melihat sepasang kekasih yang sedang asyik berciuman di dalam mobil. Sepasang kekasih yang mereka kenal tak lain adalah Axello dan gadis bernama Dira.
"Lo yakin, Re, bisa misahin mereka berdua?" Tanya Derry ragu. Ia tak yakin dengan apa yang baru saja Renata katakan.
"Kita lihat saja nanti." Jawab Renata penuh percaya diri.
"OK. Selamat berjuang!"
__ADS_1