Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
156. Masih di rumah sakit.


__ADS_3

Derry menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Benar kata Nicholas. "Iya juga. Terus siapa yang sakit?


"Entah. Gue nggak tau. Yang pasti, dia penting buat Xello ..." Nicholas menghela nafas. "... Xello nggak mungkin mau datang ke rumah sakit sepagi ini untuk jenguk orang yang bukan siapa-siapa. Dia terlalu cuek dengan orang lain. Lo nggak ingat sikapnya ke gue sama Lo belakangan ini?" Jawab Nicholas yang kini kembali menyesap kopinya yang memang tinggal sedikit itu.


"Atau jangan-jangan gadis itu yang sakit? Akh ... Siapa namanya, kok gue bisa lupa nama tuh gadis sih?!" Celetuk Derry lagi.


Nicholas mendengus sambil kembali meletakkan gelas kopi di meja lalu menatap Derry sesaat. "Jangan kebanyakan minum! Selain bikin jantung Lo rusak perlahan, otak Lo juga mulai hilang kinerjanya!" Lalu beralih menatap Renata.


Adiknya itu kemaren sekolah dan dia sendiri yang mengantarkan gadis itu sebelum ke kantor. Tiba-tiba Nicholas teringat dengan sesuatu. Cerita dari Bik Surti kemarin, yang mengatakan Axell sempat datang ke rumah.


Yang menjadi pertanyaan, kenapa setelah kedatangan Axell, adiknya itu malah memutuskan untuk bunuh diri? Bukankah seharusnya ia merasa senang dengan Axell yang datang menemuinya?


"Apa yang Xello lakuin kemarin?" Gumam Nicholas yang masih bisa Derry dengar dengan sangat jelas.


"Lakuin apa?" Tanya Derry penasaran.


Nicholas beralih menatap Derry, "Sebelum Renata di bawa ke rumah sakit, Xello datang ke rumah." Jawabnya. Tangan Nicholas lalu merogoh ponsel dari dalam saku celananya.


"Xello ke rumah Lo?" Tanya Derry setengah tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


'Xello menemui Renata?'


"Hm." Jawab Nicholas dengan deheman. Ia kini tengah sibuk mengutak-atik benda pintar di tangannya. Ia akan mencari tahu lewat benda itu.


Derry menarik satu alisnya bingung. Kenapa sahabatnya ini malah melihat rekaman cctv di lantai atas rumahnya?


"Lo ngapain?" Tanya Derry bingung dengan apa yang Nicholas lakukan.


Tak mendapat jawaban, pada akhirnya ia mendengus sebal dengan Nicholas yang memilih diam. Mau tidak mau Derry kini pun ikut melihat rekaman video yang menjadi atensi dari Kakak Renata tersebut.


"Itu Xello, kan?" Tunjuk Derry pada ponsel Nicholas. Di sana memang terlihat dua orang yang sedang berdiri berhadapan di depan pintu kamar Renata.


Masih betah dalam diamnya. Nicholas sama sekali tak bersuara. Ia tengah fokus memperhatikan interaksi antara Axell dan sang adik dengan sangat teliti.


Nicholas tak ingin melewatkan satu adegan pun.


"Menurut Lo, apa yang mereka omongin?" Tanya Derry lagi.


Rekaman cctv itu tanpa suara. Jadi mereka tidak bisa mendengar apa yang sedang Axell dan Renata bicarakan saat itu.


"Mereka berantem." Nicholas menjawab setelah beberapa saat diam. Matanya masih tetap fokus melihat rekaman tersebut.

__ADS_1


"Eh... eh... mereka masuk." Heboh Derry saat melihat gambar yang menunjukkan Axell berjalan perlahan memasuki kamar Renata. "... Tunggu, Nich!" Mata Derry memincing, "... Dia siapa?"


...***...


"Mau langsung ke rumah sakit?" Tanya Verrel saat melihat Axell yang berdiri dari duduknya.


Axell mengangguk tanpa menjawab. Tangannya sedang mengetikkan sesuatu pada benda pintar ditangannya.


"Gue ikut ..." Sahut Nayla yang kini ikutan berdiri dengan Tote bag yang sudah bertengger di pundaknya.


Setelah mengetahui kebenaran tentang hubungan Axell dan Dira - sahabatnya, kini sikap Nayla pada Axell tidak seperti dulu yang terkesan menolak hubungan mereka.


Nayla pernah berkata sebelumnya, entah itu Axell atau pun Arfen, dia akan mendukung pilihan Dira selama cowok itu pantas dan bisa membahagiakan Dira.


Dan kejadian kemaren telah membuka mata Nayla, bahwa apa yang Axell lakukan pada Dira selama ini memang perlakuan yang pantas Dira dapatkan dari seorang Axell yang tak lain adalah suami Dira sendiri.


Nayla sempat mengrutuki dirinya sendiri semalaman. Betapa bodohnya ia yang sempat berpikir kalau Axell membawa pengaruh buruk pada Dira selama ini. "... Xell, boleh kan?" Tanyanya memastikan.


"Gue juga mau tau kondisi ibu negara." Bastian ikut bersuara. Di sini ia juga khawatir. Karena saat mereka pulang dari rumah sakit, Dira masih belum sadarkan diri.


Axell menoleh keadaan sekitar yang memang tinggal mereka yang masih berada di dalam kelas. Guru dan semua temannya sudah keluar kelas dari beberapa menit yang lalu.


"Kalian ikut." Jawab Axell yang kini mulai berjalan mendahului teman-temannya.


"Cepet juga nih anak." Celetuk Bastian saat melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal.


"Siapa?" Tanya Verrel tak mengerti, siapa yang di maksud Bastian di sini? Mereka kan datang barengan?


"Tuh." Tunjuk Bastian pada mobil yang terparkir tak jauh dari mobil mereka.


"Ya wajar lah mereka sampai duluan. Kita kan ada pelajaran tambahan tadi." Ucap Nayla yang mengerti siapa pemilik mobil tersebut.


Ke empat orang tersebut berjalan memasuki rumah sakit dengan baju yang sudah mereka ganti sebelumnya. Mengunjungi tempat umum apa lagi rumah sakit dan masih mengenakan seragam sekolah lengkap, mereka merasa kurang tepat.


Jika Nayla dan Verrel menyempatkan diri untuk mampir membeli pakaian terlebih dahulu, maka lain halnya dengan Bastian yang hanya mengganti almamaternya dengan Hoodie yang selalu ia bawa di dalam tas ranselnya. Sementara Axell, ia tidak pernah pusing. Axell selalu menyediakan baju ganti di dalam mobilnya.


Sampai di depan ruang rawat Dira, tangan Axell terangkat untuk membuka pintu tepat di depannya. Namun, belum sempat Axell membuka pintu tersebut, gerakan Axell tiba-tiba terhenti.


Axell menoleh pada sahabat-sahabatnya dan menatapnya satu persatu. Verrel yang tahu kalo Axell ingin mengatakan sesuatu pun bertanya, "Ada apa?"


"Dira belum tahu apa-apa tentang kondisinya yang sempat ... " Axell berdehem. "... Jadi jangan singgung soal dia hamil atau pun keguguran!" Ucap Axell berpesan. Bukan tak jujur, ia hanya mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi.

__ADS_1


"Oke."


"Oke." Jawab Verrel dan Bastian hampir bersamaan.


Melihat sang kekasih yang hanya diam, Verrel menoleh ke samping. "Beib..."


"Apa?" Ketus Nayla. "... Suaminya Dira bilang jangan. Gue yang cuma sahabatnya bisa apa?" Verrel hanya tersenyum mendengar ucapan Nayla.


Ceklek!


Pintu terbuka dan langsung menampakkan Dira yang tengah makan di temani dengan sang bunda.


"Assalamualaikum..." Sapa Axell sambil berjalan mendekat. Ia meraih tangan bunda Resty untuk ia cium. Lalu mengecup sisi kepala Dira. "... Kok baru makan, Yang? Udah jam segini!" Tanyanya pada sang istri. Jam sudah menunjukkan pukul 16.10. Lalu kenapa istrinya itu baru makan?


Dira tersenyum. "Aku tadi tidur, kak. Kebangun karena laper." Cicit Dira lalu kembali membuka mulut karena bunda Resty yang kembali mengarahkan sendok padanya.


"Kalian... kenapa masih di situ?" Tanya bunda Resty yang melihat Verrel, Bastian dan juga Nayla yang masih berdiri di ambang pintu. "... Ayo masuk!" Titahnya.


Ketiganya pun masuk bergantian setelah sempat menyaksikan interaksi antara Dira dan Axell. Utamanya Nayla. Gadis itu benar-benar merasa kalau dirinya benar-benar bodoh karena sempat berpikir kalau Axell membawa pengaruh buruk untuk Dira. Nyatanya perlakuan yang Axell lakukan pada Dira bukan atas sebagai pacar, melainkan istri.


Sementara bunda Resty dengan sigap menyimpan tempat makan Dira setelah selesai menyuapi menantunya itu agar terkesan bersih dan rapi. Bunda Resty lalu duduk di sofa setelahnya dan memberikan ruang untuk teman-teman anak dan menantunya saling mengobrol.


"Gimana keadaan Lo, Dir?" Tanya Nayla sambil meraih tangan Dira yang terbebas dari selang infus. Nayla memeluk Dira yang memang tengah duduk. Gadis itu sedikit menitipkan air mata saat mengingat apa yang menimpa sahabatnya itu kemaren.


Dira sedikit terkesiap saat melihat kedatangan mereka tadi. Dari mana Nayla tahu?


Ah, pasti Melody dan Zaki yang memberi tahu mereka.


Sebelum Dira kehilangan kesadarannya, ia sempat mendengar samar suara Melody dan Zaki yang tengah mencarinya.


Dira tersenyum, "Lebih baik, Nay." Jawab Dira. Ia melihat tampilan ketiga kakak kelasnya itu, "... kalian baru pulang?" Tanyanya.



*Axello Arkana Marvellyo..



*H'ppy b'day for Rencana/Plan (Visual Axello).


*Guys,, zheyeng-zheyengku yang terhormat dan yang ku cintai di mana pun kalian berada??

__ADS_1


*Ada yang tau gak,, Plan lagi ultah,, nih??


*Ada yang tau dia (Visual Axello) siapa??


__ADS_2