Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
120. Kiss me, please!


__ADS_3

Mobil Axell sampai di depan pintu gerbang sekolah tepat pukul 06.55 menit. Laki-laki itu tadi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena tak ingin istrinya terlambat sampai ke sekolah. Dan kini Dira bisa bernafas lega setelah melihat pintu gerbang yang ternyata masih terbuka seakan menunggu kedatangannya.


"Aku keluar dulu ya, kak?" Pamit Dira sambil meraih tangan Axell untuk ia cium. Lalu, "Ada apa?" Tanya Dira saat merasakan Axell yang tak kunjung melepaskan tangannya setelah ia mencium tangan sang suami.


"Ada yang mau aku tanyain sama kamu, Yang." Ucap Axell dengan nada yang terdengar serius di pendengaran Dira. Laki-laki itu lalu menoleh ke arah Dira.


Dira mengerutkan dahinya bingung. "Ada apa, kak? Kok kelihatannya serius begitu?" Tanya Dira penasaran. Urung menjawab, Axell masih betah menatap Dira dengan tatapan yang sulit untuk Dira artikan.


"Kak Axell mau tanya apa? Nanti keburu pintu gerbangnya di tutup." Tanya Dira yang mengingatkan kalau ia bisa saja telat masuk ke kelas.


Axell sedikit menarik satu sudut bibirnya. "Aku bisa jamin pintu gerbang itu nggak akan di tutup sebelum kamu masuk ke sana." Ucap Axell sambil menunjuk ke arah pintu gerbang yang masih terbuka tersebut.


Dira kembali mengrenyit, "Kok bisa gitu?" Tanyanya yang kembali tak mengerti.


"Karena pak Dirman sama pak Heru tau, ada kamu disini." Jawab Axell yang memang melihat kedua satpam penjaga gerbang yang melihat kedatangannya tadi.


"Apa hubungannya, kak?" Tanya Dira lagi, ia benar-benar nggak ngerti maksud dari suaminya.


"Karena kamu kan istri aku. Aku putra dari pemilik Bhakti Bangsa, dan kamu menantu mereka. Udah sampai sini, masih nggak ngerti?" Jawab Axell dengan tangan kiri yang mengusap pelan pipi Dira.


Dira mengangguk mengerti, "Terus tadi kak Axell mau nanya apa?" Tanya Dira yang teringat dengan pembicaraan keduanya tadi.


Wajah Axell yang tadi berubah santai, kini kembali terlihat serius. Ada hal yang ingin laki-laki itu pastikan dari istrinya.


"Jawab pertanyaanku dengan jujur, Yang!" Ujar Axell serius. Sementara Dira masih menunggu dengan apa yang akan Axell tanyakan padanya saat ini.


"... Perasaan kamu sama Arfen ... sekarang seperti apa?" Satu pertanyaan yang akhirnya terlontar dari mulut Axell setelah diam beberapa menit tadi.


"Perasaan aku?" Ulang Dira memastikan dan langsung di jawab Axell dengan satu kali anggukan kepala.


Dira menghela nafas pelan menyadari suaminya yang ternyata masih berpikir kalau ia masih memiliki perasaan terhadap Arfen, sahabatnya.


"Setelah apa yang udah kita lakukan, kak Axell masih bisa mikir kalo aku masih ada perasaan sama Arfen? Kak! Aku bahkan udah ngasih hak kak Axell sebagai suami aku sepenuhnya. Dan sekarang kak Axell masih tanya tentang perasaan aku?" Jawab Dira yang secara tidak langsung mengatakan kalau ia memang sudah tidak memiliki perasaan terhadap Arfen, itu jawaban yang Axell tangkap dari Dira.


Tapi bukan Axell namanya kalau ia langsung berhenti tanpa mendapatkan hasil dari tujuan yang sebenarnya menanyakan perihal perasaan Dira tadi.


"Bisa aja, kan, Yang ... kamu ngelakuinnya karena terpaksa ..." Jawab Axell asal. "... Hati orang kan nggak ada yang tau, Yang." Tambahnya.


"Hah?" Dira terkejut mendengar apa yang baru Axell katakan. Dira sama sekali tak habis pikir, bisa-bisanya Axell meragukan perasaannya, setelah apa yang sudah mereka lakukan. "... Jadi kak Axell masih mikir kalo aku mas -


"Buktikan!" Ucap Axell yang memang sengaja memotong ucapan Dira.

__ADS_1


"Kak, dengan cara apa lagi aku harus buktiin ke kakak kalo aku emang udah nggak ada perasaan apa-apa lagi selain sekedar sahabat sama Arfen." Jawab Dira yang mulai frustasi.


Axell tersenyum miring, "Itu mudah, Yang ..." Jawab Axell santai. "... Kiss me, please!"


"Kak! Tapi kita di area se -


"Do it now or don't do it! Tindakan yang akan kamu pilih akan menunjukkan perasaan kamu yang sebenarnya, Yang." Ujar Axell yang kini mulai membuka kunci pintu mobil samping Dira. Memudahkan Dira jika istrinya jika memilih untuk keluar dari dalam mobil Axell. Axell bahkan juga melepas lock safety belt-nya dan memutar tubuh ke arah Dira. "... kamu bahkan bisa pilih keluar kalo kamu mau, Yang. Aku nggak akan maksa. Sesuaikan dengan apa yang ada di hati kamu aja."


Dira menghela nafas pelan. Ia harus menunjukkan kebenarannya pada Axell. Ia tak ingin Axell berpikir kalau ia masih menaruh hati pada sahabatnya.


Sama seperti yang Axell lakukan, kini Dira juga melepas lock safety belt-nya. Memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Axell dan mendekat perlahan. Dengan sedikit kaku, Dira menggerakkan tangannya untuk meraih wajah Axell. Dan...


Cup.


Dira mengecup singkat bibir Axell. Merasa tak ada reaksi apapun yang Axell tunjukkan, Dira kembali mengulangi aksinya untuk mencium Axell lagi. Kali ini sedikit berbeda. Dira bahkan sedikit menyesap bibir Axell. Melu**t bibir bagian bawah milik suaminya itu dengan lembut.


Axell tak tinggal diam. Kini ia pun membalas ciuman yang Dira berikan. Di dalam hati Axell tersenyum puas. Selain mendapat mood booster sebelum meeting di kantor nanti, ia juga merasa menang. Karena secara tidak langsung, tindakan yang di lakukan Dira saat ini sebagai penegasan, kalau ialah pemilih dari Andira sebenarnya.


Sebenarnya Axell tidak bersungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan pada Dira tadi. Hanya saja entah mengapa, ide itu tiba-tiba muncul di benaknya saat melihat seseorang di seberang sana.


Seseorang yang sedang duduk menyender pada kap mobil mewah warna putih dan mengenakan seragam sekolah yang berbeda dengan yang Dira kenakan saat ini.


Dapat Axell tebak, laki-laki yang seumuran dengannya itu, tengah menunggu kedatangan seseorang. Dan sudah pasti Diralah yang sedang dia tunggu sekarang.


"Thank's, Yang." Ucap Axell senang. Dira mengangguk pelan. Laki-laki itu lalu turun untuk membukakan pintu untuk istrinya.


"Aku akan usahain jemput kamu nanti." Ucap Axell saat Dira sudah keluar dari mobilnya.


"Aku bisa pulang sendiri kok, kak." Jawab Dira tenang.


Axell menggeleng, dengan tegas ia menolak jawaban Dira. "No. Tetap akan ada yang jemput kamu nanti, Yang. Sekarang kamu masuk sana, udah di tungguin sama pak Dhana!" Jawab Axell.


Dira lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. 07.25 itu tandanya jam pelajaran sudah di mulai dua puluh menit yang lalu. Pada akhirnya Dira tetap telat.


"Aku masuk dulu, kak." Ucap Dira dan langsung bergegas meninggalkan Axell dan berjalan cepat menuju ke kelasnya.


"Pelan-pelan, Yang. Nggak usah terburu-buru." Ujar Axell yang tentu tak mendapat jawaban dari Dira, tapi langsung di turuti oleh istrinya itu. Dira memelankan langkah yang tadi setengah berlari.


Setelah Dira menghilang dari pandangannya, Axell berjalan mengitari mobil dan masuk ke dalamnya. Laki-laki itu lalu mengambil ponsel dadi saku celananya.


"Halo, bang."

__ADS_1


...***...


Jam pelajaran telah berakhir lima belas menit yang lalu. Dan sekarang nampak banyak sekali siswa-siswi yang berhamburan meninggalkan kelas menuju ke parkiran untuk pulang sekolah. Namun tak sedikit juga ada beberapa yang masih tinggal di sekolah untuk mengikuti ekskul sekolah atau bahkan mata pelajaran tambahan.


Dan kini, Dira dan Melody sedang berjalan santai menuju ke taman dekat area parkir sekolah untuk menunggu jemputan.


"Ada apaan, sih, di depan? Heboh banget?" Celetuk Melody penasaran.


"Nggak tau ..." Jawab Dira malas. "... Lo nggak bareng Zaki, Mel?" Tanya Dira saat menyadari Melody yang masih berjalan di sampingnya dan bukan ke arah parkiran bersama dengan Zaki.


"Bareng, sih. Tapi gue masih mau nemenin Lo nunggu jemputan dulu. Kasian kalo Lo sendirian nanti." Jawab Melody sambil merangkul pundak milik sahabatnya itu.


Dira menggeleng mendengar apa yang baru saja Melody katakan padanya. Seketika Dira teringat akan sesuatu. Dira lalu mengambil ponsel yang sedari tadi ia masukkan ke dalam tas sekolahnya. Melihat apakah ada pesan yang Axell kirimkan untuknya.


"Kalo kak Axell nggak bisa jemput Lo, mending bareng gue aja, Dir!" Ajak Melody menawarkan. Gadis yang sedang dekat dengan Zaki itu tahu kalau suami dari Dira tidak masuk hari ini.


"Tapi kak Axell bilang bakalan ada yang jemput tadi." Jawab Dira sambil kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya karena tak mendapati pesan dari sang suami.


Melody mengangguk mengerti, ia juga tak ingin memaksa Dira untuk ikut dengannya. Sampai akhirnya terdengar suara bisik-bisik yang mengalihkan perhatian mereka saat mendekati pintu gerbang.


"Cogan asli, bestie..."


"Ganteng banget!"


"Gantengnya nggak ada obat!"


"Damagenya nggak ngotak, parah!"


"Oppa korea!"


"Cowo gue, anjiier..!"


"Idiihh... Ngaku-ngaku!"


"Lagi ngehalu mbak?"


"Kalo mau mimpi, tidur dulu!"


Begitulah suara-suara ghaib yang Dira dan Melody dengar. Keduanya saling tatap lalu kompak menggelengkan kepalanya karena sama-sama tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi di depan sana.


Detik kemudian saat keduanya sudah sampai di depan pintu gerbang, Dira mendapati seorang cowok yang sedang duduk santai dan sedang berbincang dengan salah satu satpam penjaga pintu gerbang.

__ADS_1


Dira menggeleng pelan setelah mengetahui apa yang menjadi objek pusat perhatian di depannya saat ini. Menantu kesayangan dari Bunda Resty itu lalu memutuskan untuk menghampiri cowok tersebut.


"Kak Rhey...!


__ADS_2