
"Tapi kenapa?" Arfen membuang muka melihat Dira yang begitu terkejut. "... Apa alasan Lo mukul kak Axell? Kasih tau gue!"
Arfen kembali menatap Dira lama. Sesuatu didalam dada sana tiba-tiba terasa memanas. Rasa sakit yang pagi tadi ia rasakan kini semakin berlipat sakitnya.
Ini untuk pertama kalinya Arfen melihat Dira marah padanya. Dan ini karena seorang Axello. sungguh begitu besar pengaruh seorang Axello pada Dira. Dira bahkan terlihat begitu tak terima mendengar pengakuannya yang telah memukul Axell kemarin.
'Karena dia udah ngrebut Lo dari gue, Dir. Dan setelah dia berhasil bikin Lo hamil, ternyata dia nggak cukup becus untuk jagain Lo. Bahkan Lo sampai keguguran. Dan gue rasa ... dia pantas dapetin itu. Pukulan gue, bahkan belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang udah Axell ambil dari Lo.'
"Arfen! Jawab gue? Kenapa Lo pukul kak Axell?" Desak Dira karena Arfen yang mendadak berubah diam.
"Lo nggak perlu tau, Dir. Karena ini urusan gue sama Axell." Jawab Arfen pada akhirnya. Dira mendengus sebal setelah mendengar jawaban Arfen. Bisa-bisanya sahabatnya ini bicara seperti itu.
Dira membuang muka. Mendadak perasaan kesal pada Arfen datang menghampirinya begitu saja. Semua hal yang menyangkut Axell, ia juga harus tahu kan? Tapi Dira kenal bagaimana Arfen selama ini. Dan Dira merasa ada yang aneh dengan Arfen saat ini.
Apa sebelumnya terjadi sesuatu pada Arfen sebelum mereka bertemu tadi?
Dira kembali menoleh pada Arfen yang tengah fokus mengemudi. Dapat ia lihat dengan jelas, wajah Arfen sekarang ini menggambarkan kalau laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja. Entah apa yang membuat sahabatnya itu bisa sekarang ini?
Dira menghela nafas, ia tidak akan memaksa Arfen untuk berkata jujur tentang alasan mengapa Arfen memukul suaminya. Tapi Dira akan mencoba untuk menanyakan hal lain.
"Oke, semua memang orang punya alasan. Dan gue nggak akan maksa Lo untuk jujur sama gue ..." Ucap Dira setelah keduanya diam beberapa saat. "... Tapi, gue ada satu pertanyaan."
Arfen tak menanggapi ucapan Dira. Ia hanya menoleh sesaat dengan satu alis terangkat.
"Apa benar ... Lo penyebab putusnya kak Axell dengan mantannya dulu?"
Cyiiiittttt!!!!
Satu pertanyaan yang berhasil membuat Arfen menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba. Beruntung Arfen tidak sedang ngebut karena sadar dirinya tengah emosi. Ia tidak ingin membahayakan keselamatan Dira. Dan juga keadaan jalan yang tidak begitu ramai. Kalau tidak ... entahlah.
Arfen kembali menoleh pada Dira dengan kedua tangan yang masih memegang stir mobilnya.
Terkejut. Itu yang sedang Arfen rasakan. Bagaimana bisa Dira menanyakan hal yang menyangkut Renata?
__ADS_1
Tiiinnnn!! Tinnnnn!!
Bunyi klakson dari mobil di belakang Arfen menginterupsi agar Arfen kembali menjalankan mobilnya dan tidak menghalangi jalan.
"Nggak." Jawab Arfen singkat lalu kembali melajukan mobilnya.
"... Gue bukan tipikal orang yang suka gangguin hubungan orang lain." Tegas Axell.
"Kalo gitu, kenapa kak Axell bisa benci banget sama Lo?" Tanya Dira lagi. Sengaja, Dira memang sedang memancing disini. Memancing Arfen untuk bercerita.
Arfen diam tak menjawab. Laki-laki itu bahkan terlihat cuek sekarang. Dira yang melihat respon Arfen seperti ini tidak berhenti begitu saja. Ia akan terus bertanya sampai Arfen mau berkata jujur.
"Gue baru tau, ternyata dulunya Lo sama kak Axell, kak Verrel dan kak Bastian sahabatan. Dan gara-gara hal ini, persahabatan kalian jadi seperti sekarang. Rusak."
Arfen menghela nafas, "Putusnya hubungan Axell dan Rere nggak ada hubungannya sama gue." Tegas Arfen.
Dira membuang muka dengan kedua tangan yang terlipat dibawah dada. Ia tak puas dengan jawaban yang Arfen berikan.
"Dir, semua yang Lo pikirin itu nggak bener. Sebelumnya, gue emang udah tau lama kalo ternyata Rere suka sama gue. Tapi gue pura-pura nggak tau karena gue sama sekali nggak ada perasaan apapun sama dia. Apalagi sampai gangguin hubungan mereka ..."
Dira diam mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Ia sendiri juga baru tahu bulan lalu kalau ternyata Renata adalah adik dari Nicholas. Siapa yang mengira kalau Nicholas dan Renata kakak beradik, mengingat sifat dan perilaku mereka yang bertolak belakang?
"Apa yang terjadi antara gue sama Axell, itu cuma salah paham, Dir. Gue udah pernah coba jelasin semuanya ke Axell dan sialnya ... Axell lebih percaya dengan apa yang ia tau daripada percaya sama gue." Tambah Arfen lagi.
Dira diam mendengarkan. Entah ia bisa mempercayai ucapan Arfen atau tidak? Tapi sejauh ini Dira sangat mengenal bagaimana Arfen. Nggak mungkin kan Arfen berbohong padanya? Ya, setidaknya itu yang ada di pikiran Dira saat ini.
Arfen kembali melanjutkan ceritanya tentang apa yang terjadi dua tahun lalu dan Dira ikut mengingat apa yang Arfen lakukan saat Dira tidak di Jakarta saat itu. Dan ... ya, semuanya masuk di akal.
Sampai akhirnya mobil yang membawa mereka memasuki basemen gedung apartemen Greenland Residence.
"Lo boleh nggak percaya sama gue, Dir. Tapi gue menyangkal tuduhan Lo ke gue tadi ...." Ucap Arfen setelah mematikan mesin mobilnya. Arfen melepas lock safety belt-nya dan memutar tubuh menghadap Dira.
"... Kalo gue di kasih kesempatan untuk hancurin hubungan orang, gue lebih milih ngancurin pernikahan Lo sama Axell dari pada hubungan Axell sama Rere dulu." Ucap Arfen enteng tapi berhasil membuat Dira terkejut.
__ADS_1
Arfen tertawa pelan melihat ekspresi wajah Dira yang terkejut dengan ucapannya, "... Tapi gue nggak segila itu, Dir. Menghancurkan hubungan orang lain demi kepuasan hati gue sendiri. Bagi gue, selama Axell bisa bikin Lo bahagia, itu udah lebih dari cukup. Dan gue rela ngelepas Lo ke dia."
"Arfen..."
Arfen mengangguk pelan, satu tangannya terangkat dan mengusap pelan puncak kepala Dira dengan sayang. "Dir, kenapa Lo nggak cerita kalo nggak bisa nerima cinta gue karena perjodohan Lo sama Axell?"
Bukannya menjawab, Dira malah menundukkan kepalanya.
"It's okay. Siapa pun dia, kebahagiaan Lo ... itu penting buat gue." Ucap Arfen yang terdengar begitu lembut di pendengaran Dira. Ya Arfen kan memang selalu seperti ini jika sedang bersama dengan Dira.
Dira mengangkat wajahnya untuk kembali menatap Arfen. Membuat Arfen bisa melihat setetes air bening yang keluar dari mata Dira. Arfen menggerakkan tangannya untuk menghapus bulir bening itu.
"Ar, maaf karena sampai saat ini gue nggak pernah cerita tentang hal ini ke Lo." Lirih Dira.
Arfen kembali mengangguk, ia tersenyum meskipun rasa di dalam hati sana tidak sesuai dengan apa yang ia perlihatkan saat ini.
"Jadi ini ... sesuatu yang mau Lo ceritain ke gue waktu itu?" Tanya Arfen yang teringat bahwa Dira memang sempat ingin menceritakan sesuatu hal padanya.
Dira mengangguk pelan. Lalu tiba-tiba pandangannya serius menatap Arfen saat ia menyadari satu hal. "Tapi, Ar ... pernikahan gue sama kak Axell ... dari mana Lo tau?"
Tak menjawab, Arfen malah melihat jam di pergelangan tangannya. "Udah satu jam lebih gue bawa Lo. Masuk sana! Telpon suami Lo dan bilang Lo balik ke apartemen!"
"Ar -"
Tak ingin menjawab Arfen memilih memotong ucapan Dira, "Axell bisa ngamuk kalo dia tau gue bawa Lo tadi!"
...***...
Arfen menghela nafas pelan melihat Dira yang menghilang di dalam lift yang tertutup.
Rasa sakit dan hancur mengetahui status Dira dan Axell sebenarnya itu memang nyata Arfen rasakan. Bahkan rasanya sesakit itu. Tapi Arfen memilih untuk merelakan Dira bersama dengan Axell. Ia tidak ingin merusak hubungan Axell dan Dira dan berakhir dengan cap perusak hubungan orang lain yang melekat padanya.
Setidaknya, jika orang itu Axell, Arfen bisa bernafas lega. Arfen yakin, Axell bisa menjaga Dira nantinya.
__ADS_1
Jika suatu saat nanti Arfen mendapati Dira menangis kerena Axell, Arfen bersumpah, dia sendiri yang akan memberikan Axell pelajaran nantinya. Dan jangan salahkan Arfen jika ia akan merebut Dira setelahnya.
Arfen melihat telapak tangan kanannya, "Aku rasa tiga pukulan cukup."