Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
87. Tamu tak diundang 2.


__ADS_3

"Apa sayang?" Jawab Axell yang kini melanjutkan aksinya memakai celana pendek rumahan yang baru saja ia ambil dari lemari setelah tadi Dira sempat melihatnya tengah mengenakan celana boxer.


"Iiihh... kak Axell, kenapa belum pake baju?" Kalimat protes yang kembali di layangkan Dira. Tadi gadis itu mulai membuka mata perlahan dan kembali menutupnya karena melihat Axell yang belum memakai baju. Hanya celana yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Mager, Yang ..." Jawab Axell yang kini malah ikut berbaring di sebelah Dira. "... Lo aja juga belum pake baju, kan? Biar samaan." Ucap Axell santai yang kini mulai memejamkan matanya. Sepertinya ia akan tidur sebentar.


"Hah...?" Cengo Dira.


'Belum pake baju?'


Dira lalu refleks melihat tubuhnya dan benar apa yang di katakan Axell. Dira baru menyadari kalau dirinya hanya mengenakan bathrobe.


"Siapa yang gantiin baju aku, kak? Kenapa aku bisa nggak pake baju? Kenapa aku nggak pake semuanya?" Pertanyaan beruntun yang keluar dari mulut Dira.


Axell menghela nafas pelan. "Dira ... Lo lupa? Tadi baju Lo basah. Jadi harus di ganti." Jawab Axell yang kini kembali membuka matanya.


"Siapa yang gantiin?" Tanya Dira cepat.


Axell diam, ia memilih untuk tidak menjawab dan malah kembali menutup matanya.


"Kak, siapa yang gantiin?" Tanya Dira yang menuntut jawaban dari Axell. Sementara Axell, laki-laki itu kembali menghela nafas pelan.


"Kak Axell, ya, yang gantiin baju aku tadi?" Tanya Dira terkesan menuduh.


Axell masih diam, dan hal itu malah membuat Dira kesal. Kenapa laki-laki yang tengah berbaring di sampingnya ini susah sekali menjawab pertanyaannya.


"Kak Axell, Jaw -


"Kalau iya emang kenapa?"


...***...


"Pada mau kemana Lo semua? Kok berjamaah nggak ngajak-ngajak gue?" Tanya Bastian Melody, Nayla, Verrel dan juga Zaki. Kini semuanya sedang berkumpul dengan membawa tas sekolah masing-masing di taman dekat area parkir sekolah.


Nayla menunjuk ke arah tas yang sekarang ini dibawa oleh Melody. "Nih, nganterin tasnya Dira."


Mata Bastian melebar setelah mendengar jawaban dari Nayla. Ia tahu, Dira pasti tengah bersama dengan Axell sekarang. Entah itu di rumah keluarga Axell atau di apartemen Axell sendiri. Tanpa Bastian tahu, Axell membawa Dira ke apartemen milik gadis itu sendiri.


Awalnya Bastian memang masih memiliki perasaan pada Dira. Tapi sekarang setelah Axell menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Dira, perlahan namun pasti Bastian sudah mulai bisa menerima kenyataan, bahwa ia harus merelakan gadis yang sudah berstatuskan istri dari sahabatnya itu. Dan kini Bastian akan membantu sahabatnya itu untuk merahasiakan pernikahannya, sampai tiba waktu dimana Axell yang akan mengumumkan kabar pernikahan mereka sendiri nantinya.


"Emang Lo tau, rumahnya Dira dimana?" Tanya Bastian basa-basi.

__ADS_1


Nayla dengan cepat mengangguk, "Tau, dong... Tapi Dira nggak tinggal di rumah. Dia tinggal di apartemen."


"Lo tau tempatnya, Beib?" Tanya Verrel yang langsung mendapat anggukan kepala dari Nayla.


"Dimana?" Tanya Melody dan Zaki secara bersamaan.


"Diihh ... Kompakan!" Cibir Bastian.


"Iri bilang, ngab!" Jawab Zaki enteng.


"Greenland Residence." Jawab Nayla singkat.


"Greenland Residence?" Beo Verrel dengan satu alis terangkat.


"Iya, Beib. Kenapa?" Tanya Nayla.


"Bukannya Axell juga tinggal di Greenland Residence, ya? Berarti mereka tinggal di gedung yang sama, dong!" Sahut Zaki ikut bersuara. Dan hal itu malah membuat Bastian diam-diam menepuk jidatnya sendiri.


'Gimana kalo mereka tau?'


Nayla mengangguk, "Hm. Cuma beda lantai. Udah, ah, yuk! Gue pengen cepet-cepet ketemu sama Dira." Jawab Nayla dan langsung masuk ke dalam mobil Verrel. Lalu Melody yang masuk ke dalam mobil Zaki. Sementara Bastian, derita si jomblo, ya udah pasti masuk ke dalam mobilnya sendiri. Emang nasib jomblo 🤭🤭.


...***...


Buugh!


Tiba-tiba sebuah bantal mendarat di wajah Axell dan sudah dapat di pastikan kalau Diralah pelakunya. Axell langsung bangun. Mengubah posisinya yang tadi tidur telentang, dan kini terduduk dengan pandangan yang menatap pada Dira.


"Kenapa sih, yang? Gue kan cuma gantiin baju Lo yang basah, apa yang salah?" Tanyanya tak mengerti dengan respon Dira yang malah melempar bantal kearahnya.


"Jelas salah. Kenapa kak Axell gantiin baju aku tadi? Pasti kak Axell udah liat semuanya." Ucap Dira dengan suara yang mulai meninggi.


"Terus gue harus ngebiarin Lo dengan baju basah kayak tadi? Iya? Biar apa? Biar Lo tambah sakit, gitu?" Tanya Axell dengan suara pelan. Axell sadar, gadisnya ini tengah marah perihal ia yang menggantikan dirinya baju tadi. Tak ingin membuat Dira semakin marah, sebisa mungkin Axell harus bisa menahan diri agar tak terpancing emosi.


Tak menjawab, Dira hanya memilih untuk menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut. Dan hal itu tak luput dari pandangan Axell.


Axell tersenyum kecut, "Miris, ya ... dengan status gue yang udah sah jadi suami, gue masih nggak bisa bebas buat jamah istri gue sendiri ..." Ujar Axell pelan tapi masih dapat Dira dengar dengan jelas, ada nada kekecewaan dari mulut laki-laki itu.


Deg!


Seketika hati Dira tersentil setelah mendengar apa yang Axell katakan. Ia tahu suaminya ini kecewa dengan sikap yang baru saja ia tunjukkan tadi. Perihal Axell yang menggantikannya baju, seharusnya ia tidak mempermasalahkan hal itu bukan? Axell suaminya, jadi apa yang salah? Suaminya ini sudah menolongnya, seharusnya ia mengucapkan terima kasih, dan bukannya marah seperti ini.

__ADS_1


"... Gue kasih tau sama Lo, Dir. Gue nggak sebrengsek apa yang Lo pikir. Gue nggak mungkin ngambil kesempatan dengan sengaja liatin tubuh nak*d Lo di saat Lo yang lagi nggak berdaya kayak tadi." Axell kini mulai bangkit dari ranjang. Laki-laki itu kini berjalan menuju lemari untuk mengambil kaos dan memakainya.


"Ingat Dira, kondisi fisik Lo itu beda! Lo ada asma yang ngebuat diri Lo nggak boleh dalam keadaan kedinginan terlalu lama ..." OK, mungkin Axell mulai terpancing emosi disini, mengingat Dira yang begitu keras kepala. Laki-laki itu bahkan kembali menghela nafas untuk menahan emosinya.


Axell yang sudah mengenakan kaos polos warna putih itu berbalik ke arah Dira, "... Lo nggak tau kan tadi, seberapa khawatirnya gue ngeliat Lo yang kebasahan dengan wajah pucat kayak tadi? Gue nggak tau apa yang sebenarnya terjadi sama Lo? Siapa yang udah bikin Lo jadi kayak gini? Tapi yang pasti ... gue malah nyalahin diri gue sendiri, karena gue nggak becus jagain Lo sebagai istri gue."


Deg!


Jantung Dira kembali berdetak kencang. Ia bahkan semakin merasa bersalah sekarang.


Axell berjalan keluar dari kamar Dira, ia akan pergi ke apartemennya untuk mengambil beberapa barang miliknya di sana. Tapi baru saja ia membuka pintu, ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya disusul dengan suara lemah dari Dira.


"Maaf!" Ucapnya lirih.


Axell memejamkan mata. Untuk kesekian kalinya laki-laki itu kembali menghela nafas. Hening untuk beberapa saat, sampai akhirnya Axell berbalik untuk membalas pelukan Dira. "Sorry... gue udah lancang gantiin baju Lo tadi." Ujar Axell yang malah mendapat gelengan kepala dari Dira.


"Berarti Lo nggak mau maafin gue?" Tanya Axell yang kembali mendapat gelengan dari Dira.


"Terus Lo maunya gimana?" Tanya Axell lagi.


"Maaf." Lagi-lagi kata maaf yang keluar dari mukut Dira.


Axell semakin mengeratkan pelukannya pada Dira. Detik berikutnya laki-laki itu mengangguk. "Dimaafkan." Ucap Axell pelan.


Dira merasa lega karena mendengar Axell yang telah memaafkannya. Kini Dira juga tak kalah erat memeluk tubuh hangat Axell. Sampai lewat beberapa menit, keduanya masih dengan posisi yang sama. Saling berpelukan. Sampai-sampai mereka melupakan satu hal, pintu yang sempat Axell buka tadi.


"What the hell?" Teriak Nayla yang tiba-tiba saja masuk dan melihat Axell dan Dira yang sedang berpelukan. Disusul dengan Melody, Bastian, Verrel dan juga Zaki di belakangnya yang ikutan masuk tanpa permisi. Membuat pelukan keduanya terlepas begitu saja.


"Apa ini Miskah? Apa?" Tanya Zaki yang pura-pura ikutan heboh sendiri.


"Wah ... siaga satu ini, bro! Berbahaya sekali ini, Xell ... ada Babas disini!" Sahut Verrel mengompori.


"Kalian ..." Ucap Melody menggantung.


Sementara Bastian sendiri hanya diam. Ia sudah menduga sebelumnya kalau hal ini pasti akan terjadi. Tapi sebisa mungkin ia berpura-pura tidak tahu status Axell dan Dira yang sebenarnya. "Cckk. Kenapa jadi bawa-bawa gue, sih, Rel!"


Axell mendengus pelan, teman-temannya ini datang di saat yang tidak tepat. "Lo masuk ke kamar, pakai baju Lo! Kalo masih pusing, nggak usah maksain diri buat keluar!" Ujar Axell pada Dira. Bukannya menanggapi ocehan dari para teman-temannya, Axell malah menyuruh Dira untuk kembali ke kamar.


"Dih ... kita di cuekin." Cibir Zaki yang malah mendapat tatapan intimidasi dari Axell.


Tanpa sepatah kata, Dira berjalan menuju ke kamar untuk segera ganti baju. Tindakan Dira yang seperti ini menimbulkan spekulasi tersendiri di benak mereka semua. Terkecuali Axell dan Bastian.

__ADS_1


Pasalnya mereka semua di buat gagal fokus berjamaah saat ini. Melihat Dira yang hanya mengenakan bathrobe, bukan tidak mungkin beberapa dari mereka ada yang berpikir negatif.


"Lo berdua abis ngapain?"


__ADS_2