
"Tepat di samping Lo!" Jawab Axell dan berhasil membuat mata Dira terbuka dengan sempurna.
"Hah..." Ucap Dira setengah berteriak setelah mendengar jawaban Axell. Gadis itu lalu menoleh ke samping dan mendapati Verrel yang duduk dan menertawai dirinya.
"Dira... Dira..." Verrel menggeleng-gelengkan kepalanya. "... Ngantuk banget, ya, Dir, sampe nggak bisa bedain mana cowok Lo dan mana cowok sahabat Lo sendiri?" Ujar Verrel masih dengan tawanya. "... wajar, sih, pundak gue kan sandarable banget!"
"Kak Verrel sejak kapan disini?" Dira yang kini sudah menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Verrel. Cari aman maksudnya. Takut kalau nanti bakal diamuk sama Axell yang ternyata sudah menatap horor padanya sedari tadi.
"Udah beneran sadar, kan? Siapa suruh duduk di situ? Sini!" Ujar Axell tak mau di bantah. Tangannya lalu menepuk sofa disampingnya.
Dira yang mengerti maksud Axell pun menurut. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat pada Axell.
Tepat saat Dira sudah di depan Axell, dengan cepat Axell langsung menarik Dira dan memutar gadis itu. Dan tanpa Verrel tahu, sesaat sebelum Dira duduk di samping Axell, sesuatu yang sama sekali tidak pernah Dira duga sebelumnya terjadi. Axell dengan sangat sengaja meremas bok*ng Dira sekilas dan langsung membuat gadis itu tersentak dengan apa yang dilakukan Axell padanya tadi. Sungguh, ini baru pertama kalinya Dira diperlakukan seperti ini.
Axell yang melihat ekspresi keterkejutan dari Dira itu lalu meraih kepala gadisnya agar semakin mendekat padanya dan membisikkan sesuatu, "Itu hukuman buat Lo karena udah berani nempel-nempel sama Verrel."
"Cckk... Lo nyosor Dira kira-kira, dong, Xell! Masih ada gue disini!"Protes Verrel yang mengira kalau Axell mencium Dira tadi. Padahal yang terjadi tidak seperti itu.
"Balik Lo, Rel! Ganggu." Usir Axell sambil kembali menyandarkan kepalanya di sofa.
"Eitss... tidak semudah itu kalo mau ngusir gue, Xell. Gue belum mau balik." Tolak Verrel cepat.
"Gue nggak terima Lo nginep di sini." Putus Axell.
"Siapa yang mau nginep? Gue mau balik kalau Dira juga balik dari sini. Bisa bahaya kalau kalian cuma berdua. Ngelihat Lo yang ternyata suka cium-cium Dira kayak tadi, gue jadi waspada kalau Lo sampai apa-apain dia di sini." Jawab Verrel yang memang mengkhawatirkan keduanya. Takut kalau ada setan lewat, dan tahulah... apapun bisa terjadi.
"Bentar lagi gue bakal nganterin Dira pulang. Dan Lo nggak usah khawatirin cewek gue." Ucap Axell bohong. Sengaja agar Verrel cepat pergi dari apartemennya.
"Oke-oke, gue percaya sama Lo, Xell. Kalo gitu gue balik. Dan lo Dira, jaga diri Lo baik-baik. Dan juga agak jauhan Lo sama Axell! Gue nggak jamin dia tetep jinak. Takut kek tadi." Ucap Verrel lalu bangkit dan berjalan menuju pintu keluar.
'Lo bener, Rel. Bahkan gue bisa lebih liar dari apa yang Lo bayangin.'
...***...
"Gimana hari pertama sekolahmu di Bhakti Bangsa, Re?" Tanya Nicholas pada Adik satu-satunya itu.
Tak Ada jawaban yang keluar dari mulutnya, Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pandangan yang menatap lurus ke langit-langit kamar. Kedua kakak beradik itu kini sedang berada di kamar Nicholas. Sesaat setelah pulang sekolah gadis yang akrab disapa Rere itu langsung menuju ke kamar sang kakak.
"Kamu nggak ketemu Xello disana?" Tanyanya lagi.
"Ketemu, sih. Tapi Xello beda banget, Kak." Jawab Renata sambil memejamkan matanya.
"Beda gimana maksudnya?" Tanya Nicholas sambil mengetikkan sesuatu pada laptopnya.
"Sekarang Xello tuh cuek banget sama aku, kak. Setiap aku mau deketin, dia selalu ngehindar terus. Ditambah dia deketan sama satu cewek di sekolah." Adu Rere yang menceritakan perlakuan Axell padanya di sekolah tadi.
__ADS_1
*Idiiihh... si Rere jadi cewek Cepu banget ya, guys.
Mendengar pengaduan Rere reflek jari-jari Nicholas berhenti menari di keyboard laptopnya.
'Deket sama satu cewek?'
"Kamu kenal sama ceweknya?" Tanya Nicholas penasaran.
Renata diam sejenak seakan berusaha mengingat nama gadis yang ia lihat bersama dengan Axell di sekolah tadi. "Kalau nggak salah namanya Dira ..." Jawabnya. "... Kamu kenal, kak?"
Nicholas tak menjawab. Ia lalu meraih ponsel yang terletak di samping laptop, mencari kontak seseorang, menekan tombol hijau pada benda pipih tersebut dan menempelkan di telinganya.
"Halo, Lo dimana?"
...***...
"Ada apa, bang? Tumben banget, Lo ngajak gue ketemu jam segini?" Tanya seorang cowok sesaat setelah menyesap kopi yang beberapa menit lalu diantarkan pelayan di sebuah kafe.
"Nggak ada apa-apa. Gue cuma butuh temen ngopi." Jawab Nicholas santai. Sementara cowok yang bertanya tadi nampak menarik satu alisnya.
"Temen Lo di mana, bang? Biasanya Lo kemana-mana berdua." Tanyanya lagi.
Nicholas berdecak, "Cckk... ada kelas dia. Biasa, lagi rajin..." Jawab Nicholas lalu meraih cangkir berisi kopi dan meneguk sedikit isinya. "Oh... Iya, Ar... ada yang mau gue tanyain sama Lo?"
"Tentang apa?" Tanya Arfen singkat. Pandangan laki-laki itu lalu beralih menatap Jalan raya di balik jendela kafe sesaat lalu kembali menatap ke arah Nicholas seakan menunggu jawaban dari kawan bicaranya itu.
Arfen kembali menarik satu alisnya. "Dira Kenapa?" Tanya Arfen cepat. Tampak terlihat kalau Arfen tengah penasaran saat ini.
"Dira Nggak apa-apa. Cuma gue perhatiin, akhir-akhir ini dia deket sama Xello." Jawab Nicholas yang kini kembali menyesap kopinya. Laki-laki berusia dua puluh satu tahun itu sedang mencoba menggali informasi dari cowok yang ia ketahui sahabat dari gadis yang ia sukai. Tanpa Nicholas tahu, Arfen sendiri juga menaruh perasaan yang sama terhadap Dira.
"Mereka pacaran." Jawab Arfan dengan satu tangan terkepal kuat, seakan tengah menahan emosi.
"Pacaran? Lo yakin?" Tanya Nicholas ragu. Ia masih belum bisa percaya dengan jawaban yang Arfen berikan padanya.
"Ada yang bilang. Bahkan tuh cowok udah deket banget sama Om Pras, bokapnya Dira." Jelas Arfen sambil tersenyum kecut. Ia masih dapat mengingat dengan jelas, saat bertemu dengan Om Pras beberapa waktu lalu di rumah sakit dan melihat kedekatan antara Axell dan papa Dira. Di tambah dengan pernyataan Om Pras yang mempercayakan Dira pada Axell.
'Jadi mereka beneran pacaran? Tapi Derry bilang...'
...***...
"Kita mau ke mana, Kak?" Tanya Dira yang sedang duduk di meja rias. Gadis itu sedang menyisir rambutnya. Beberapa menit yang lalu, Axel memintanya untuk bersiap karena akan mengajaknya pergi.
"Bunda mau ngajakin menantunya jalan-jalan." Jawab Axell sambil mengajak pelan rambut Dira untuk kesekian kalinya.
"Iihh... kak Axell! Rambutku jadi berantakan lagi, kan! Kapan selesainya kalau Kak Axell ngacakin rambut aku terus dari tadi?" Protes diri sambil kembali merapikan rambutnya. Entah sudah keberapa kali Dira merapikan rambutnya. Karena Axell yang terus mengacak-ngacak rambutnya sedari tadi setelah meminta Dira untuk bersiap. Setelah Dira selesai merapikan rambutnya, Axell akan mendekat dan kembali mengacak rambut gadis itu lagi dan lagi.
__ADS_1
"Abisnya Lo gemesin. Nggak apa-apa rambut Lo acak-acakan, Gue tetap suka. Rambut Lo wangi banget, bikin gue... " Axell tak melanjutkan kata-katanya. Tangan kekarnya kini meraih sisir yang sedari tadi ada di tangan Dira lalu menyisir pelan rambut gadis itu.
Deg!
'Bikin apa?' Batin Dira.
'Mupeng.' Batin Axell.
"Udah cantik. Ayo berangkat, nanti bunda kelamaan nunggunya!" Ajak Axell sambil menggandeng tangan Dira keluar dari apartemennya.
'Tolong! Jantung gue nggak aman!'
...***...
Kini keduanya sudah berada di dalam perjalanan untuk menemui Bunda Resty yang sudah lebih dulu berangkat dari rumahnya. Seperti apa yang Axel katakan pada Dira tadi, Bunda Resti meminta Axell untuk membawa Dira ke salah satu pusat perbelanjaan.
Sebagai anak yang menurut pada sang Bunda, Axell langsung menuruti kemauan bunda Resty tanpa bertanya alasan dari sang Bunda yang memintanya mengantarkan Dira ketempat yang bunda sebutkan tadi. Karena Axell sudah bisa menebak, apa yang akan bundanya itu lakukan.
"Sini, sayang!" Panggil Bunda Resti saat Dira saat Dira sudah sampai. Dira yang melihat Bunda Resti dari jarak beberapa meter tak jauh darinya itu langsung tersenyum dan berjalan mendekati Meraih tangan bunda Resty untuk ia cium.
"Bunda udah lama nunggunya?" Tanya Dira sopan.
"Belum lama, sayang. Ini bunda juga baru sampai." Jawab bunda Resty yang kini meraih tangan Dira dan membawa gadis itu untuk memasuki sebuah butik.
Dira nampak tersenyum dan mengangguk. "Bunda tadi kesini sama siapa? Ayah mana?" Tanya Dira yang memang tidak melihat adanya sang ayah Mertua.
Bunda Resty tersenyum, "Tadi bunda dianter sama pandu, Sayang."
"Pandu?" Ulang Dira dengan dari terlipat.
"'Iya. Dia itu putra pak Septa, asistennya ayah." Jelas bunda Resty.
Sementara Axell hanya mengekor dibelakang keduanya. Seulas senyum muncul dibibir laki-laki itu. Ia merasa bahagia melihat dua perempuan yang begitu ia cintai bisa sedekat ini.
'Selain bunda, gue juga punya Lo, Yang. Kalian berdua... berharga.'
...***...
Tambahkan visual cast.
*Renata Isabella Mahaputri.
__ADS_1
*Derry Bramantyo.