
"Nggak apa-apa. Gue mau nemenin istri gue."
...***...
Semua murid berhamburan keluar dari kelas setelah mendengar bel istirahat berbunyi. Sebagian dari mereka ada yang main basket, ke taman, ke perpustakaan dan tak sedikit pula yang langsung menuju ke kantin. Sama seperti yang di lakukan Nayla, Verrel dan juga Bastian.
"Si Dira kok nggak kelihatannya, ya!" Celetuk Nayla tiba-tiba.
"Nanti juga kesini, Beib!" Jawab Verrel santai.
"Bu Ida, baksonya dua, ya! Es tehnya sekalian." Pekik Zaki yang baru saja datang bersama dengan Melody dan langsung duduk bergabung dengan Nayla dkk.
"Lah... Mel... bidadari gue mana?" Tanya Bastian yang tak melihat adanya Dira.
Melody menggelengkan kepalanya. "Nggak masuk dia. Tadi gue nggak sengaja denger Bu Ratih terima telpon yang mengatakan kalo Dira lagi sakit." Jelas Melody.
"Sakit, Mel?" Tanya Bastian dan Nayla kompak.
"Dih... kompakan!" Cibir Verrel.
"Hm..." Jawab Melody berdehem karena gadis itu yang memang tengah memakan bakso yang sudah di pesankan oleh Zaki tadi.
"Eh... btw, junjungan Lo pada mana?" Tanya Zaki yang tak melihat adanya Axell. "... Kok kalian cuma berdua?"
"Zaki, kalo ngitung itu yang bener! Ini kita bertiga lho. Kok Lo ngomongnya cuma berdua?"
"Hadew, Nay... Lo itu nggak ngerti. Maksud gue, Axell, Bastian dan juga cowo Lo... biasanya kan mereka kemana-mana bertiga, udah kek tiga serangkai. Nah ini... kurang satu personil.
"Nggak masuk dia, gue nggak tau kenapa. Biasanya Axell mesti ngabarin gue kalo nggak masuk." Sahut Verrel.
Tiba-tiba Zaki tersenyum menyeringai. "O ... gue tau. Pasti si Axell lagi ..." Ucap Zaki menggantungkan kalimatnya. Zaki bisa menebak, jika Axell sedang bersama dengan Dira saat ini. Karena ini memang bukan pertama kalinya Axell dan Dira tidak masuk sekolah secara bersamaan. Seperti halnya dua bulan lalu di saat Dira dan Axell menikah. Dimana keduanya sama-sama tidak bersekolah dan kembali masuk secara bersamaan. Zaki juga masih ingat saat ia melihat Axell yang mengantarkan Dira berangkat ke sekolah hari itu.
"Lagi apa?" Tanya Bastian cepat.
"Ge pe pe." Jawab Bastian asal.
"Kok bisa kebetulan gini, ya?" Celetuk Melody tiba-tiba dan membuat semua beralih menatap ke arahnya.
"Kebetulan gimana, Mel?" Tanya Bastian penasaran.
"Kalian nyadar nggak sih? Ini nggak tau bener apa enggak, ya... Ini cuma pendapat gue, sih. Setiap Dira nggak masuk, kak Axell pasti juga nggak masuk ..." Ujar Melody mengutarakan yang ada di pikirannya. "... Dan juga -..."
"Juga apa, Mel?" Potong Bastian cepat. Sungguh, Bastian semakin penasaran dengan apa yang Melody katakan.
"Kak Axell itu kalo liatin Dira... gimana gitu." Sambung Melody.
"Hah ... Masa'?" Tanya Bastian yang semakin penasaran.
"Lo ember banget, sih!" Bisik Zaki pada melody. "... Gue aja yang tau hubungan mereka diem-diem Bae." Sambung Zaki masih dengan suara yang lirih agar tidak ada yang mendengar ucapannya selain Melody.
1 detik...
2 detik...
__ADS_1
3 detik...
"Apa, Zak?" Tanya Melody setelah berhasil mencerna apa yang baru saja Zaki katakan padanya. Ini secara tidak langsung Zaki membenarkan kalau Axell dan dira memang benar ada hubungan.
"I love you." Jawab Zaki asal.
"Ck. Mojok sini Lo berdua! Kalo mau katakan cinta, Jan di sini!" Protes Bastian kesal. Tiba-tiba saja moodnya jadi tidak baik. Sempat terlintas di benak Bastian kalo Axell dan Dira memiliki hubungan. Tapi dengan segera Bastian menepisnya.
Verrel hanya diam. Ia tak ingin ikut bersuara, karena ia memang sudah sedikit banyak mengetahui hubungan keduanya.
Sementara Nayla sedang memikirkan sesuatu. Mengingat saat Dira tidak masuk sekolah dengan alasan ada acara keluarga beberapa waktu yang lalu, tepat di hari itu Axell juga tidak masuk. Dan setelah hari itu, setiap Dira tidak masuk, dapat di pastikan Axell juga tidak masuk. Kompak sekali. Padahal sebelumnya Axell tidak pernah tidak masuk sekolah.
Tiba-tiba saja Nayla teringat saat ia menelepon Dira untuk mengajaknya pergi dan Dira menolaknya dengan alasan baru bangun tidur. Tapi yang membuat Nayla terkejut waktu itu adalah saat ia mendengar suara cowok yang memang Nayla yakini adalah suara Axello. Mereka tengah bersama di sebuah kamar.
'Apa mungkin?'
...***...
Dira keluar dari kamar dengan keadaan rambut yang setengah basah karena baru saja selesai mandi. Pagi tadi setelah sarapan, gadis itu memutuskan untuk kembali beristirahat. Dan disaat gadis itu bangun, ternyata hari sudah menjelang siang.
"Udah bangun?" Tanya Axell yang kini sedang mengerjakan sesuatu pada buku tugasnya.
"Udah, kak." Jawab Dira singkat lalu melanjutkan langkahnya menuju ke dapur. Gadis itu akan memasak untuk makan siangnya bersama dengan Axell.
Sampai di dapur, Dira langsung membuka kulkas. Satu jarinya terangkat dan menepuk-nepuk dagunya. Dira tengah berpikir, apa yang akan ia masak saat ini.
Dira lalu mengambil ayam dan bergegas mencucinya. Setelah di cuci, ia potong ayam tersebut menjadi beberapa bagian dan menggorengnya dengan api sedang. Sambil menunggu ayamnya setengah matang, Dira bergegas untuk menyiapkan bumbu. Dira menghaluskan beberapa bumbu dan cabai yang sudah ia buang bijinya untuk mengurangi rasa pedas dari cabe tersebut, mengingat Axell yang tidak bisa makan pedas. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang amat menyukai rasa pedas.
Setelah bumbu siap, Dira lalu mengambil pan. Menyalakan api dan menuangkan sedikit minyak di atasnya. Dan setelah minyak panas, Dira lalu memasukkan bumbu tersebut sambil sesekali mengaduknya. Setelah tercium aroma harum dari bumbu yang ia sangrai, Dira lalu menambahkan sedikit air dan beralih pada ayam yang masih ia goreng tadi. Mengangkat ayam dan meniriskannya. Setelah merasa kandungan minyaknya berkurang Dira lalu memasukkan ayam tadi ke dalam bumbu. Menambahkan sedikit gula, garam dan beberapa bumbu lainnya.
Suara kompor yang Dira matikan pertanda masakannya sudah matang dan siap di sajikan. Gadis itu lalu menaruh masakannya tadi di atas sebuah piring dan membawanya ke meja makan, tak lupa ia menyiapkan dua piring beserta sendok dan garpu, juga gelas yang sudah ia isi dengan air minum.
Siap untuk makan siang, gadis itu berinisiatif untuk memanggil Axell dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Tapi, saat ia berbalik ke belakang, gadis itu terkjeut mendapati seseorang yang tengah menatap ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Axello sang suami.
Laki-laki itu sedang berdiri bersandar di samping pintu. Dengan dua tangan terlipat di dada dan satu yang ia silangkan.
"Kak Axell, udah lama si situ?" Tanya Dira ingin tahu.
Axell mengangguk, "Lebih tepatnya sejak Lo keluar dari kamar... gue ngikutin Lo." Jawab Axell santai.
Deg...
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Axell, entah mengapa jantung Dira berdegup kencang.
'Ini kenapa jadi begini?' Batin Dira berkata. Sebisa mungkin Dira mengontrol detak jantungnya yang mulai tak biasa. Nggak lucukan kalo nanti Axell sampai bisa mendengar irama detak jantungnya yang berdetak cepat itu.
"Hey... kenapa bengong?" Tanya Axell yang melihat Dira yang hanya diam.
"Nggak kok, kak. Um... ayo makan, aku udah siapin makan siang." Ajak Dira pada Axell.
Axell masih diam. Ia tak kunjung menjawab ajakan Dira. Tapi langkah kakinya berjalan mendekat ke arah meja makan di mana Dira sudah duduk lebih dulu di sana. Axell lalu menarik kursi dan duduk di tempat di depan Dira.
Pandangan Axell terarah ke meja makan. Ia melihat menu makanan yang berwarna merah menyala.
__ADS_1
*Ayam goreng balado.
Seketika satu alis Axell terangkat dengan dahi yang berkerut setelah melihat ayam yang berselimutkan bumbu berwarna merah menyala.
'Ini serius gue di suruh makan ini? Apa dia lupa gue nggak bisa makan pedes?'
Dira yang melihat ekspresi wajah Axell pun mengerti apa yang ada dalam pikiran Axell saat ini. "Ini nggak pedes kok, kak. Coba aja dulu! Mungkin nggak seenak ekspetasi kak Axell, tapi masih bisa di makan kok."
Dira lalu menaruh piring yang sudah ia isi dengan nasi dan juga ayam tadi di depan Axell. Dengan sedikit ragu, Axell mulai memakan ayam yang berwarna merah itu.
"Gimana, kak? Masih pedes banget, ya?" Tanya Dira saat melihat Axell yang sudah mulai mengunyah makanan yang masuk kedalam mulutnya.
"Nggak terlalu, Ini masih bisa gue tolerir... enak..." Jawab Axell sambil kembali memasukan potongan daging ayam ke dalam mulutnya. Axell bahkan terlihat sangat lahap memakan makanannya. "... Lo pinter masak. Selama gue makan masakan yang Lo bikin, gak ada yang gagal. Siapa yang ngajarin?" Tanya Axell di sela-sela mengunyah makanannya.
"Almarhumah mama yang ngajarin." Jawab Dira sambil memakan makanannya.
Axell mengehentikan aktivitas makannya setelah mendengar jawaban dari Dira. Ia pandangi wajah gadis yang tengah makan dengan tenang itu. Tak ada ekspresi apapun yang gadis di depannya itu tunjukkan. Ia tetap terlihat santai saat memakan makanannya walau Axell tahu, ucapannya tadi membuat Dira teringat dengan mamanya yang sudah meninggal.
'Oh-shitt, gue salah nanya tadi.'
"Sorry..." Ucap Axell tiba-tiba.
Dira menghentikan sendok yang akan masuk ke dalam mulutnya dan kembali menaruhnya kembali ke atas piring. "Kenapa kak Axell minta maaf?" Tanya Dira.
"Gue ngungkit tentang almarhumah mama." Jawab Axell penuh sesal.
Dira menghela nafas pelan. "Ya ampun, kak. Nggak pa-pa, santai aja. Kak Axell nggak perlu minta maaf kayak gitu..." Jawab gadis itu lalu kembali memasukkan sendok yang tadi sempat ia taruh kembali.
Axell melihat wajah Dira. Gadis itu terlihat biasa saja. Bahkan tak terlihat sama sekali raut kesedihan dari paras cantiknya. Detik kemudian ia mengangguk sebagai jawaban Dira.
"... O... iya, kak. Um... abis ini aku mau ijin keluar, boleh?"
*
*
*
*Gimana, nih, Udah sampai sini aja.
*Kira² apa yang mau kalian sampaikan ke Axell?
*Ke Dira?
*Ke Author mungkin?
*Dan juga nggak bosen² aku ingatin ke kalian untuk selalu tinggalin jejak, ya!
*Like, coment n' vote cerita Raxell.
*Kita kawal mereka bareng².
__ADS_1
*OK, zheyeng² ku...🥰🥰🥰
**See you, bye²...😘**😘😘*