
Area 18+. Harap bijak dalam membaca! Dosa di tanggung sendiri.
"Kenapa belum tidur, malah berdiam diri disini?" Tanya Axell pelan.
Dira tersenyum samar, senyum yang Axell bahkan tidak bisa melihatnya. "Aku masih belum ngantuk, kak. Mungkin karena tadi siang kelamaan tidur."
Axell mengangguk. Ia ingat siang tadi Dira yang memang tidur lama saat di d'Axe Cafe. "Tapi jangan di luar juga, Yang. Bentar lagi hujan. Udaranya juga semakin dingin ... nggak enak. Ayo masuk!" Ajak Axell.
"Bentar ya, kak. Aku masih mau disini." Tolak Dira halus. Bahkan gadis itu masih betah berdiri sambil memegangi pembatas balkon.
Axell menggeleng pelan menyadari gadisnya yang begitu keras kepala. "Dingin, Yang. Udaranya nggak baik buat Lo." Ucap Axell yang tak menerima bantahan dari gadisnya. Axell lalu menggendong Dira untuk masuk kedalam kamar.
"Kyyaa...! Kak Axell, turunin aku!" Pekik Dira terkejut dengan Axell yang tiba-tiba menggendongnya.
"OK, gue turunin. Tapi Lo kurangin bandelnya, bisa?" Ucap Axell memberikan penawaran.
Dira tersenyum, "Iya-iya, kak. Aku nggak bandel lagi. Kan tadi udah janji, sekarang turunin." Jawab Dira.
Axell lalu menurunkan gadisnya itu di tempat tidur. Tangannya terangkat untuk mengacak pelan rambut Dira dengan gemas, "Good girl!" Ujarnya lalu merebahkan Dira di samping Dira.
Ting!
Tiba-tiba salah satu ponsel di nakas berbunyi. Ada sebuah pesan masuk pada ponsel yang layarnya masih menyala itu. Axell tak merespon, laki-laki itu sudah memejamkan matanya, entah tidur atau hanya pura-pura tertidur.
Dira turun dari tempat tidur. Ia berjalan memutar ke nakas untuk mengambil ponsel yang memang terletak di samping sang suami.
Saat Dira sudah meraih ponsel tersebut, Dira baru menyadari kalau pesan masuk tersebut bukan di ponselnya, melainkan di ponsel Axell. Gadis itu lalu duduk di samping Axell untuk membangunkan laki-laki itu.
"Kak Axell, ada chat masuk." Ujar Dira pelan.
Axell membuka mata, lalu kembali terpejam, "Dari siapa, yang? Tolong bacain!"
"Nggak tau, kak. Nggak ada namanya." Jawab Dira yang memang tidak melihat nama dari si pengirim pesan.
"Buka aja, Yang!" Ujar Axell. Dira mengangguk, dan langsung membuka pesan yang masuk tersebut.
Deg!
Entah mengapa perasaan aneh seketika datang menyelimuti Dira. Rasa sesak, sakit, kesal dan pastinya nggak enak yang yang datang secara bersamaan setelah Dira melihat sebuah foto dari nomor tanpa nama.
📥 +62852279797xx
Xello, gue kangen sama momen kebersamaan kita yg kayak gini.
Sampai detik ini gue bahkan masih sayang sama Lo,
Dan kita masih bisa memulainya lgi.
__ADS_1
Bahkan Dira sampai mematung setelah membaca isi pesan tersebut.
'Ini nomor yang sama. Berarti dia ... Renata.'
"Dari siapa, Yang? Kenapa Lo jadi diem gitu?" Tanya Axell yang kini mengubah posisinya jadi duduk. Satu alisnya terangkat sambil memperhatikan Dira yang hanya diam tak menjawab setelah membuka isi pesan yang masuk ke ponselnya.
Laki-laki itu lalu beringsut menggeser tubuhnya untuk bisa melihat pesan yang sekarang menjadi perhatian dari gadisnya.
Trranngg...!
Dira terkejut dengan mata yang mengerjap beberapa kali, setelah sadar Ponsel yang sedari tadi menyita perhatiannya, kini tiba-tiba berada di lantai. Setelah Axell yang dengan sengaja merebut dan melemparkannya begitu saja.
"Nggak usah di liat!" Ujar Axell setelah mengetahui apa isi pesan yang Axell yakin Renata sebagai pengirimnya. "... Tidur, Yang! Jangan racunin pikiran Lo dengan hal-hal yang nggak penting!" Sambung Axell yang kini malah menarik Dira agar berbaring di sampingnya.
Hening untuk beberapa saat dengan pikiran yang membawa Dira melayang entah kemana. Gadis itu menatap lurus ke langit-langit kamar laki-laki yang berstatuskan suaminya.
Menit kemudian Dira kembali bersuara. "Kak." Panggilnya lirih.
"Hmm."
"Kak Axell yakin ... udah nggak ada perasaan sama Rena -
Cup...
Axell bangkit dari posisi telentangnya dan langsung mengecup singkat bibir Dira. Seakan tak membiarkan gadisnya itu untuk menyelesaikan kalimat yang sudah pasti Axell bisa menebaknya.
"Jangan pernah sebut nama dia antara kita, Yang! Gue males dengernya." Ujar Axell dengan posisi di samping Dira dan satu tangan yang ia gunakan sebagai tumpuannya. "... Ya, dulu gue emang sama dia. Tapi nggak sekarang, cuma gue dan Lo, tanpa ada embel-embel dia."
Dira mengangguk setelah beberapa menit. Hening kembali membersamai keduanya yang saling diam dengan pandangan yang terkunci satu sama lain.
Cup...
Axell kembali mengecup bibir gadisnya singkat. Lalu ia pandangi lagi wajah gadis itu dalam-dalam. Setelahnya, lagi ...
Cup...
Kembali Axell mendaratkan satu kecupan singkatnya pada bibir Dira.
"Yang ..." Panggil Axell pelan dengan pandangan yang sama sekali tak beranjak dari Dira sedikit pun. "Gue sayang Lo ... Gue cinta sama Lo." Lagi,
Cup...
Axell mengulangi kecupannya di tempat yang sama. "Dan sekarang, Gue mau Lo." Ujar Axell dengan suara yang berbeda.
Deg...
Satu kalimat yang berhasil membuat Dira gugup seketika. Jantungnya bahkan kini berdegup kencang dengan kurang ajarnya.
Setelah kejadian pagi tadi, kini Dira tak lagi ada alasan untuk menolak apa yang seharusnya ia berikan sedari lama pada Axell - suaminya.
Merasa Dira mengabaikannya, kembali Axell mencium Dira. Ciuman yang sedikit berbeda karena Axell dengan sengaja memainkan bibir gadisnya itu.
Tak lama, hanya beberapa detik saja. Tapi berhasil menyadarkan Dira dari pikiran yang menguasainya saat ini.
__ADS_1
"Yang..." Panggil Axell lagi. Dira bahkan bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki di atasnya ini. Ada hasrat yang terpendam disana.
Lama Dira menatap wajah Axell yang sedang mendamba dirinya. Tak ingin lagi menolak karena memang ini sudah kewajibannya. Sampai akhirnya kalimat persetujuan itu keluar dari mulut Dira.
"Kak... " Panggil Dira lirih yang tak mendapat jawaban dari Axell, laki-laki itu menunggu apa yang akan Dira katakan setelahnya. "... Do it now!" Lanjut Dira pelan.
Untuk sesaat Axell tertegun mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dira. Sampai akhirnya ia tersenyum karena akhirnya Dira memberikannya izin untuk menyentuhnya.
"Are you sure?" Tanya Axell memastikan.
Dira menatap Axell lama. Matanya mengerjap pelan lalu mengangguk. Axell kembali tersenyum. Lalu mencium kening Dira lama. Beralih ke kedua mata Dira secara bergantian. Lalu beralih ke kedua pipi dan kini bagian bibir Dira yang kembali Axell cium. Axell mengecup bibir gadisnya beberapa kali sampai akhirnya melu**tnya pelan. Axell bisa merasakan Dira yang kini ikut mengimbangi permainan bibirnya.
Tangan Axell bergerak naik untuk memberikan sentuhan sensual pada leher gadisnya. Lalu turun ke bagian perut. Ia usap dengan lembut perut datar Dira.
Axell beringsut mengubah posisinya tepat di atas gadis itu. Dengan satu tangan yang masih ia gunakan sebagai tumpuan tubuhnya agar tak terlalu menimpa gadisnya dengan tanpa melepas ciumannya.
"Bernafas, Yang!" Ucap Axell saat melepas ciumannya sesaat. Lalu kembali melu**t bibir ranum itu lagi. Tangannya pun kini terampil melepas satu persatu kancing baju piyama yang Dira pakai. Axell dapat melihat dengan jelas rona malu disana, namun tanpa perlawanan. Dira saat ini benar-benar menerima apa yang Axell lakukan padanya.
Namun tak sampai disitu. Axell menggerakkannya tangannya untuk menangkup gundukan kenyal milik Dira. Memijatnya pelan. Axell bahkan dengan sengaja memainkannya. Memberikan rangsangan-rangsangan yang belum pernah Dira rasakan sebelumnya.
Dira dapat merasakan tangan Axell yang terasa panas di permukaan kulitnya. Semakin panas saat laki-laki itu berhasil melepas pengait dari sisa kain terakhir yang menutupi tubuh bagian atasnya.
Malu, benar-benar malu. Dira bahkan sampai menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya. Tapi bukan Axell namanya kalau ia tak berhasil membujuk Dira untuk menjauhkan tangannya hingga bagian itu kembali terpampang nyata.
Tubuh gadis itu tiba-tiba menekuk keatas saat Axell mengecup salah satu gundukan itu. Mencumbu dengan mesra di bagian sana. Lenguhan dan desa**n pun akhirnya keluar dari mulut Dira. Membuat Axell semakin berhasrat di atasnya.
Tak lama kemudian Axell bangun untuk melepas baju yang masih ia kenakan dan membuangnya asal. Dira kini dapat melihat dengan sangat jelas dan dekat tubuh indah suaminya. Mendadak Dira kembali gugup. Hingga kini Dira merasakan kulitnya yang bersentuhan langsung dengan tubuh Axell. Membuat desiran menjalar menjalar pada dirinya. Sengatan-sengatan yang belum pernah Dira rasakan sebelumnya.
Tubuh mereka semakin panas dengan deru nafas yang kian memburu satu sama lain. Dan setelah beberapa menit, entah bagaimana caranya kini keduanya sudah dalam keadaan na**d.
"Yang ... gue mau lakuin sekarang!" Bisik Axell tepat di telinga Dira dan membuat tubuh gadis itu semakin menegang.
Gadis itu kembali mengangguk. "I'm ready."
"Gue nggak janji bilang ini nggak sakit, tapi gue akan berusaha lakuinnya selembut mungkin." Lalu Axell kembali mencium Dira.
Hingga beberapa saat setelah Axell berhasil membujuk, pekikan itu akhirnya keluar dari mulut Dira saat penyatuan antara Jasson dan Jessie itu tiba.
"Kak Axell, S-sak -
Axell reflek menghentikan aksinya. Ia bungkam mulut Dira menggunakan bibirnya. Axell berusaha mengalihkan rasa sakit yang Dira sedang rasakan.
Axell menarik Jason pelan lalu memasukkannya lagi. Dengan sabar ia berusaha menahan hasratnya agar ia tidak menyakiti Dira dan menunggu Jessie agar terbiasa dengan Jason.
Axell kembali menarik Jason pelan. Lalu ia hentakan lagi hingga benar-benar memasuki Jessie sepenuhnya. Bahkan kini keluar darah segar dari pangkal paha Dira.
Setelah beberapa menit merasakan Dira yang mulai sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Jason di bawah sana, Axell lalu menaikkan tempo gerakannya. Di pompanya Jason dengan cepat. Ditariknya pelan,kemudian di dorongnya dengan kuat lagi dan lagi, Begitu seterusnya dan semakin cepat.
Dan pada akhirnya malam ini setelah melewati sekian purnama, seorang Axello berhasil membuat Dira merintih dan mendesah di bawah kungkungannya. Axell benar-benar pintar merayu untuk sampai ke tahap ini. Tahap yang membuat mereka berhasil menjadi suami istri yang sepenuhnya.
Tubuh Dira lemas seketika saat hentakan yang Axell berikan tadi benar-benar memasukinya semakin dalam. Saat setelah berkali-kali berusaha, akhirnya Axell pun berhasil membobol dirinya.
Sisa-sisa air mata itu masih ada sampai saat pergulatan itu berakhir. Ya, tadi Dira sempat menangis karena merasakan sakit yang luar biasa pada Jessie saat Jason memasukinya.
__ADS_1
Cup...
Sebuah kecupan singkat yang Dira terima, sebelum akhirnya ia mendengar Axell yang mengucapkan, "I love you ... Andira."