Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
59. Kebetulan.


__ADS_3

"Atas semua yang terjadi, papa harap kamu bisa memaklumi istrimu, nak! Buat dia kembali tersenyum seperti sedia kala." Pinta Papa Pras penuh harap.


Axell menatap wajah papa mertuanya itu. Dapat Axell lihat, ada harapan besar yang di tujukan padanya. Dengan sekali anggukan Axell menjawab permintaan Papa Pras. "Setelah ini, akan Axell pastikan hanya akan ada senyum yang menghiasi wajah Dira, pa. Axell janji. Tapi... beri Axell waktu."


...***...


"Kantin, Brother! Yok!" Ajak Bastian pada kedua sahabatnya.


"Lo berdua duluan!" Jawab Axell sambil melangkahkan kakinya keluar kelas.


"Lah... Lo mau kemana, Xell?" Tanya Bastian yang tak mendapat dari laki-laki itu.


"Lo duluan, deh, Bas! Gue mau susulin si Axell ke ruang OSIS dulu, bentar." Ucap Verrel sambil melangkahkan kakinya mengikuti langkah Axell yang sudah lebih dulu keluar.


Bastian berdecak kesal melihat Verrel yang pergi mengikuti Axell. "Ck. Ditinggal lagi kan gue, B*BI LO PADA!" Maki Bastian pada kedua sahabatnya itu. Mengundang tatapan para siswa yang masih berdiam diri di kelas karena melihat tingkah Bastian tadi.


Bastian yang merasa jadi pusat perhatian pun refleks menoleh pada siswi yang kedapatan masih memperhatikannya sedari tadi. "Kenapa, Beib? Kok pada liatin guenya gitu banget?" Tanya Bastian. Tapi belum sempat ada yang menjawab, dengan kepedean tingkat tinggi, Bastian menjawab pertanyaan itu sendiri dengan seenaknya, "... Gue emang ganteng, sih. Makasih, sama-sama!" Ucap Bastian lalu berjalan santai meninggalkan kelas menuju kantin.


...***...


"Jadi udah sedeket itu, hubungan kalian?" Tanya Verrel pada Axell sesaat setelah keduanya memasuki ruang OSIS. Bukannya menjawab pertanyaan dari Verrel, Axell malah melayangkan tatapan dingin pada sahabatnya itu.


"... Jawab gue, Xell!" Interupsi Verrel yang mulai kesal karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Axell.


"Lo nggak ada kesibukan lain, sampai harus ngurusin urusan orang? Ck, Gabut banget, sih!" Jawab Axell datar dengan pandangan enggan beralih dari layar komputer di depannya.


"Kepo gue, Xell... ilah..." Cesar Verrel tak sabaran. "... gue jadi penasaran, Ternyata Lo udah sedeket itu sama keluarganya Dira. Berita wow sih, ini." Ujar Verrel lagi.


Enggan menjawab, Axell hanya menghela nafas kasar.


"Jadi...? Tanya Verrel menggantungkan kalimatnya sambil menaik-turunkan alisnya.


"Sejak kapan Lo jadi banyak ngomong?" Tanya Axell masih betah untuk tak menatap wajah Verrel.


"Xell! Ayolah, kasih tau gue!" Desak Verrel lagi.


Bukannya meuruti kemauan Verrel untuk menjelaskan hubungannya dengan Dira, Axell yang sudah mulai jengah dengan sikap Verrel yang tiba-tiba kepo dengan kehidupannya itu memutuskan untuk segera pergi dari ruang OSIS.


"Bangs*d! Kebiasaan Lo, Xell! " Umpat Verrel saat Axell pergi meninggalkannya di ruang OSIS tanpa berniat untuk menjawab pertanyaannya.


'OK, Xell. Gue bakalan cari tau sendiri sampai ke akar-akarnya.'


...***...


Sementara di kantin, Dira, Nayla dan juga Bastian sedang menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba...


Drrtt... drrtt...


Ponsel Nayla bergetar karena adanya sebuah panggilan telepon yang masuk.


"Benar-benar, gue angkat telepon dulu." Ucap Nayla, sementara Dira hanya menganggukkan kepalanya.


Tanpa melihat nama si penelpon, Nayla memutuskan untuk langsung menerima telepon tersebut.


"Halo."


"(....)."


"Iya, nih. Mau ngomong!"


"(....)." Tangan Nayla mengulurkan ponselnya pada Dira. "Ada yang mau ngomong sama Lo, Dir!"

__ADS_1


Dira yang langsung mengerti dengan siapa yang di maksud Nayla itu langsung menerima ponsel yang Nayla berikan. Dira lalu mengamati sekitar untuk mencari seseorang. Iya, Dira tengah waspada. Tak ingin kejadian kemarin terulang lagi.


"Huuhh.." Helaan nafas keluar dari mulut Dira merasa lega karena tak mendapati Axell di kantin.


"Eh... bidadari cantikku, kenapa?" Tanya Bastian yang bingung melihat sikap aneh Dira.


"Iya, nih. Lagi nyari siapa, sih, Dir? Ini tuh ada yang mau ngomong sama Lo!" Sahut Nayla sambil terus mengamati sikap aneh sahabatnya itu.


"Eh, iya." Jawabnya sambil menempelkan ponsel tadi ke telinganya.


"Hai, Ar..."


"(....)."


"Um... gue baik kok, Ar. Lo gimana?"


"(....)."


"Hah... serius? Masa' sih?"


"(....)."


"Ponsel gue yang dulu ilang, Ar."


"(.....)."


Udah sih tapi gue lupa nyimpen nomor Lo. "Sorry."


"(....)."


"Gue nggak janji. Tapi kalau gue ada waktu, gue pasti akan kabarin Lo." Ujar Dira Sambil sesekali melihat-lihat sekitar.


"OK, Bye."


Dira menutup teleponnya dan mengembalikan ponsel pada Nayla.


"Arfen ngomong apaan, Dir." Tanya Nayla tak sabaran sambil menerima ponsel yang Dira berikan.


Dira melirik ke arah Bastian sesaat sambil kembali melanjutkan makannya. "Bukan hal yang penting kok, Nay."


...***...


Ting


Axell yang sedang berjalan menuju ke parkiran sekolah tiba tiba menghentikan langkahnya setelah mendengar ponselnya berbunyi. Tangan kekarnya merogoh ponsel dari saku celana sekolahnya.


📥 Dira.


Kak,


Aku mau jalan dulu sama Nayla.


Sorry, gak ijin dulu tadi.


Kak Axell pulang dulu aja!


Axell menghela nafas pelan setelah membaca pesan yang Dira kirimkan. Detik kemudian kepalannya mengangguk. Lalu jemarinya mengetikan pesan balasan untuk gadis yang berstatuskan istrinya itu.


^^^📤 Axarkan.^^^


^^^Iya.^^^

__ADS_1


^^^Kemana?^^^


^^^Selain sama Nayla sama siapa lagi?^^^


^^^Cepet pulang!^^^


Send ✔️


Axell tak ingin melarang Dira jika gadis itu ingin jalan-jalan dengan teman-temannya. Bagaimana pun juga, Dira butuh waktu untuk bersenang-senang dengan teman-temannya, Axello bisa mengerti itu dan dia tidak akan melarangnya. Asalkan Dira tahu batasan dan bisa menjaga diri serta mengingat statusnya yang sudah menjadi seorang istri.


Axell lalu melajukan mobilnya menuju d'Axe Cafe. Sepertinya ia akan membaca laporan keuangan kafenya bulan ini.


Mobil Axell melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang tidak bisa di bilang sepi di jam pulang sekolah itu. Dengan waktu perjalanan yang memakan waktu tempuh kurang dari dua puluh menit, kini mobil Axell sudah terparkir rapi di depan kafe miliknya.


Axell berjalan santai memasuki kafe yang ia dirikan sekitar dua tahunan itu. Saat baru memasuki kafe, Axell langsung di sambut dari tatapan para pelanggan yang kebanyakan gadis-gadis berseragam SMA. Ada yang sama dengan seragam yang kini Axell kenakan. Tak sedikit pula yang berbeda.


Mereka begitu mengagumi wajah tampan Axell. Sungguh Axell adalah definisi yang nyaris sempurna menurut mereka.


"Gila."


"Parah."


"Asli."


"Damage nya nggak ngotak!"


"Cogan asli."


"Calbo gue tuh."


Begitulah suara bisik-bisik yang masih bisa Axell dengar saat melewati mereka semua. Tapi ya begitulah Axell. Tetap melanjutkan langkah tanpa mau merespon sama sekali.


Axell masih memilih untuk tetap bungkam. Bukan Axell namannya kalau tertarik untuk menanggapi. Laki-laki itu masih tetap santai dan cuek. Melanjutkan langkahnya dengan satu tangan yang ia masukkan kedalam saku celana. Bak gaya slow motion, Axell bahkan berhasil memikat setiap gadis yang melihatnya.


Saat Axell berniat menghampiri salah satu pelayan kafenya, ada seorang laki-laki yang usianya tak jauh beda dengan Axell, tiba-tiba memanggilnya.


"Yo, Xello!" Panggil cowo itu terkesan akrab.


Axell seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara dimana ada dua laki-laki yang sedang duduk menghadap ke arahnya. Salah satu sudut bibir Axell tertarik ke samping setelah mengenali dua orang itu adalah seorang Derry Bramantyo dan juga Nicholas Mahaputra.


'Its such a coincidence.'


...***...


"Gimana, mi? Cantik kan?" Ucap Arfen yang menanyakan pendapat Fenny - maminya, tentang gadis yang kini menjadi objek pandangan keduanya.


"Cantik. Kamu pinter milihnya." Jawab Fenny yang membenarkan kata-kata putranya tadi.


Pasangan ibu dan anak itu sedang mengamati dua gadis yang sedang menikmati makanan di salah satu food court di sebuah pusat perbelanjaan.


"Ayo, mi. Kita samperin Dia!" Ajak Arfen pada maminya.


"Mami mau sekali ke sana, Ar, tapi mami nggak bisa... baru aja papimu telpon minta mami ke kantor. Gini aja, kapan-kapan, kamu ajak dia main ke rumah. Bagaimana?" Ucap mami Fenny.


"OK, mi. Kalo gitu, ayo Arfen anter mami ke kantor ayah." Ajak Arfen pada maminya.


"Nggak usah, Ar. Pak Seno udah nunggu mami di parkiran. Mending kamu samperin Dira dan Nayla. Sampaikan salam dari mami, bilang, mami pengen ketemu sama Dira!" Pinta Fenny.


"Mami yakin, nggak mau Arfen anter?" Tanya Arfen.


"Yakin dong, sayang." Jawab Fenny meyakinkan putranya itu.

__ADS_1


Setelah kepergian maminya, kini Arfen melangkahkan kakinya menuju dimana Dira dan Nayla berada.


"Surprise...!!!"


__ADS_2