Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
62. Bocor.


__ADS_3

"Arfen bisa jelasin,om." Ujar Arfen yang kini mulai menceritakan saat dengan tidak sengaja bertemu dengan Dira dan Nayla di mall dan sampai saat Dira yang mulai merasakan sesak di bagian dadanya.


"Jadi begitu, om. Arfen lalu bawa Dira kesini." Jelas Arfen agar papa Dira tidak salah paham.


Papa Pras menganggukkan kepalanya setelah mendengar penuturan dari Arfen. Ia percaya dengan apa yang sahabat dari putranya itu katakan. Lalu tersenyum sambil menepuk salah satu pundak Arfen. "Terima kasih sudah membawa Dira ke rumah sakit, Arfen."


"Sudah seharusnya, om." Jawab Arfen sambil melirik ke arah Axell yang berjalan memasuki ruangan dimana Dira terbaring dengan selang infus yang menancap di salah satu intra vennanya.


Tangan Axell terulur untuk mengusap pelan puncak kepala Dira. "Kenapa Lo bandel banget, sih? Susah banget di bilangin! Harusnya Lo bilang ke gue kalo ada dia sama Lo tadi ..." Axell menjeda ucapan bernada protesnya pada gadis berstatuskan istrinya itu. "... Kalo aja Lo nggak dalam keadaan kayak gini, udah gue -..."


Ceklek...


Pintu kembali terbuka menampilkan dokter yang tadi menangani Dira. Dokter Titon kembali masuk dan menampilkan senyum ramah pada ketiganya. "Permisi. Saya akan kembali memeriksa pasien."


"Silahkan, dok." Jawab Axell dan papa Pras bersamaan.


Sementara Arfen ia nampak tersenyum kecut melihat interaksi keduanya. Masih jelas terdengar apa yang papa Dira katakan padanya tadi saat Axell masuk ke ruangan Dira. Bahwa benar, fakta dimana papa Dira yang telah mempercayakan Axell untuk menjaga Dira.


Arfen sempat menanyakan tentang alasan kenapa harus Axell yang menjaga Dira, sementara kalau hanya sekedar menjaga ia juga mampu, apa lagi mereka bersahabat. Tapi, papa Dira berdalih faktor sekolah yang sama menjadi alasan papa Dira menitipkan gadis itu pada Axell.


Untuk ke sekian kalinya Arfen kembali menghela nafas. Laki-laki itu memandang ke arah Dira dan Axell secara bergantian.


'Selama mereka belum ada hubungan serius, gue masih ada kesempatan, kan?'


"Pasien boleh pulang setelah tabung infusnya habis, pasien tidak perlu menginap ..." Ucap dokter Titon setelah kembali memeriksa Dira. Axell menghembuskan nafas lega setelah mendengar ucapan dokter tersebut.


"... Kala begitu, saya permisi." Pamit dokter Titon setelah sempat memperhatikan Axell dan Arfen bergantian. Dokter muda itu nampak menggelengkan kepalanya samar sambil tersenyum.


Sangat jelas sekali dari sudut pandang dokter Titon, ia bisa melihat dengan sangat jelas adanya perselisihan dari keduanya.


"Kalau begitu, Axell, papa harus kembali lagi ke kantor. Ada meeting penting yang tidak bisa papa tinggal setengah jam lagi ..." Ucap papa Pras sambil melirik ke arah Arfen sekilas. " ... papa titip Dira sebentar, ya. Nanti kabari kalau Dira sudah mau pulang!" Lanjut papa Pras sambil menepuk pundak Axell.


Papa Pras berkata demikian hanya untuk menutupi status Dira dan Axell yang sebenarnya. Bukan apa-apa, papa Pras yakin kalau Axell dan Dira belum mengatakan kebenaran yang sesungguhnya pada Arfen. Jadi papa Pras lebih memilih untuk mendukung anak dan menantunya itu untuk menutupi status keduanya sampai Dira benar-benar siap untuk mengungkapkannya sendiri pada sahabatnya itu.


Saat tepat berada di depan Arfen, papa Pras berhenti sejenak. "Kamu masih mau disini Arfen?" Tanya papa Pras pada sahabat putrinya itu.


"Arfen masih mau nemenin Dira disini, om ..." Arfen melirik Axell sekilas. "... Sampai Dira sadar." Lanjutnya.


Papa Pras menganggukkan kepalanya. Ia dapat melihat raut kekhawatiran dari wajah Arfen. Tanpa papa Pras tahu, kalau Arfen memiliki perasaan pada putrinya melebihi seorang sahabat.


Hening. Axell dan Arfenasih sama-sama diam setelah papa Pras pergi. Tak lama kemudian Dira tersadar dan cairan dalam tabung infus Dira juga akan habis.


"Dir..." Panggil Axell setelah melihat Dira yang mulai membuka matanya.

__ADS_1


"Kak Axell." Jawab Dira sambil mencoba untuk duduk.


"Syukurlah, Lo udah sadar, Dir." Icao Arfen yang kini berjalan mendekat ke arah Dira.


"Arfen." Lirih Dira setelah menoleh ke arah laki-laki itu.


"Apa yang sekarang ini Lo rasain? Nafas Lo... masih sesak?" Tanya Axell khawatir sambil menggenggam tangan Dira yang terbebas dari selang infus.


"Aku nggak apa-apa kok, kak." Jawab Dira.


Jangan tanyakan Arfen, melihat Axell yang menggenggam tangan Dira membuat Arfen ingin menepis tangan itu. Tapi Arfen tak ingin terlihat emosi, sebisa mungkin ia menahannya.


Dira memperhatikan tangannya yang di genggam oleh Axell dan memandang wajah Arfen secara bergantian. Sungguh, Dira bisa melihat ada Kirana emosi yang tercetak di wajah sahabatnya itu.


OK, Dira bisa menebak, pasti terjadi sesuatu saat sebelum ia sadar dari pingsannya tadi.


"Kak, aku mau pulang." Ucap Dira lirih yang masih bisa di dengar oleh Arfen.


"Bentar, biar gue kasih tau papa dulu." Jawab Axell sambil meraih ponsel dari saku celananya dan menelpon papa Pras seperti apa yang papa mertuanya katakan tadi.


Dira mengernyitkan dahinya bingung tak mengerti dengan Axell, kenapa dia harus menelpon papanya.


'Aku?'


"Gue udah nggak pa-pa, Ar. Thanks Lo udah bawa gue kesini dan juga udah telepon kak Axell." Jawab Dira.


Arfen terdiam sesaat. Dira mengira kalau dirinyalah yang menelpon Axell tadi. Detik kemudian Arfen mengangguk. "OK. Kalau gitu, gue balik dulu." Ucap Arfen yang mendapat anggukan kepala dari Dira.


Setelah menghilangnya Arfen di balik pintu, Dira memberanikan diri untuk meminta maaf pada Axell. "Kak..." Panggil Dira lirih. Sementara Axell hanya berdehem untuk menjawabnya.


"Hm..."


"... Aku nggak sengaja ketemu Arfen tadi. Beneran. Aku cuma jalan sama Nayla -..."


"Udah lupain. Yang penting jangan ketemu lagi sama dia. Dengan atau tanpa sepengetahuan gue. Ngerti!" Jawab Axell yang langsung mendapat anggukan kepala dari Dira.


"Good girl ..." Ucap Axell sambil mengusap lembut puncak kepala Dira. "Sekarang mau pulang kemana?"


...***...


"Kak... kak Axell?" Panggil Dira dari dalam kamar mandi. Kini keduanya sedang berada di apartemen milik Axell.


Axell yang baru saja selesai mandi dan sedang duduk bersandar sambil memejamkan matanya di sofa seketika bangkit dan berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


"Hm... kenapa?" Tanya Axell dari luar.


"Bisa minta tolong nggak?" Tanya Dira.


"Ada apa?" Tanya Axell balik.


Dira tengah menahan malu setengah mati dan mencoba untuk menghilangkan rasa gengsinya sebelum berpikir untuk meminta tolong pada Axell. Ragu untuk mengatakannya, tapi kalau tidak minta tolong ke Axell lalu ke siapa lagi. "Um... Bisa tolong ambilin pembalut di apartemenku nggak?"


"Pembalut?" Ulang Axell ragu.


"Iya... tolong ambilin, ya!" Pinta Dira.


"Dimana?"


"Di apartemen aku."


"Maksud gue Lo nyimpennya dimana?"


"Di lemari, di laci paling bawah."


Tanpa menjawab lagi, Axell lalu pergi menuju ke apartemen Dira. Tak butuh waktu lama, sampai di apartemen Dira, Axell langsung menuju ke lemari untuk mengambil barang yang Dira maksud.


Saat laci itu di buka, satu alis Axell terangkat setelah melihat begitu banyak pembalut dengan satu merek yang sama namun dengan jenis dan warna kemasan yang berbeda.


"Ini yang mesti gue bawa yang mana?" Tanya Axell pada dirinya sendiri. Karena ia memang tidak tahu, mana yang biasa Dira pakai.


Tanpa membuang waktu, Axell lalu mengambil satu kemasan di setiap jenisnya, lalu memasukkannya kedalam paper bag yang kebetulan terletak di dalam laci.


Setelah memasukkan beberapa jenis roti ala jepang tadi ke dalam paper bag, Axell langsung bergegas kembali ke apartemennya.


"Dir, Lo masih di situ?" Tanya Axell memastikan.


"Iya, kak." Jawab Dira cepat.


"Buka pintunya!" Ucap Axell.


"Nggak, kak. Kak Axell mau ngapain? Jangan aneh-aneh, ya? Aku malu." Tolak Dira.


Axell menghembuskan nafas panjang mendengar jawaban dari Dira. Memangnya ia mau ngapain dengan gadis yang tengah mengalami Red days? "Kalo pintunya nggak Lo buka, gimana Lo bisa ngambil nih barang, Dira? Tangan Lo bisa nembus pintu?" Tanya Axell tak habis pikir.


Pug...


Seketika Dira menepuk jidatnya sendiri. Axell benar, kan? "O... iya. Bege gue!" Ucap Dira yang masih samar terdengar oleh Axell. Detik kemudian laki-laki itu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh geli membayangkan tingkah konyol Dira di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Ceklek...


__ADS_2