
Tanpa membuang waktu lagi, Nayla yang mendengar jawaban dari Rheyhan tadi langsung bergegas menuju ke ruang kerja Axell. Meninggalkan Verrel, Bastian dan juga Rheyhan.
Ceklek!
Tanpa mengetuk pintu lebih dahulu, Nayla yang tanpa mengucap kata permisi itu langsung masuk ke ruang kerja Axell dan langsung mendapati Axell yang tengah mengoleskan salep anti memar pada pipi Dira.
Sementara Axell yang melihat datangnya Nayla hanya menatap dingin gadis itu. Ia berdecak, "Cckk. Kalo masuk ruangan orang itu, setidaknya biasain ketuk pintu dulu! Bisa?" Protes Axell dengan nada ketusnya.
"Sorry! Gue reflek, pengen liat Dira." Jawab natal yang kini langsung duduk di samping Dira. "Lo nggak pa-pa kan, Dir? Kenapa tuh cewe bisa nampar Lo? Kurang ajar banget!" Ucap Nayla yang merasa kesal dan juga khawatir secara bersamaan. Axell dapat melihat, kekhawatiran yang Nayla tujukan pada istrinya.
"Gue nggak pa-pa kok, Nay. Cuma gini doang!" Jawab Dira sembari tersenyum.
"Nggak pa-pa gimana? Lihat pipi Lo, sampe bengkak kek gini!" Balas Nayla sambil mendekatkan tangannya untuk menyentuh pipi Dira yang masih tampak kemerahan, tapi ia urungkan sebelum tangan itu menyentuh pipi Dira. Pasti sakit sekali.
"Pasti nanti juga ilang bekasnya, Nay. Lo tenang aja!" Jawab Dira mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Nayla menghela nafas, mengingat sahabatnya itu yang selalu bersikap tenang, padahal sudah ditampar bahkan sampai pipinya bengkak seperti itu. Padahal kalau hal seperti itu terjadi padanya, Nayla pasti tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan membalasnya dengan membabi buta.
"Kalo gue jadi Lo ya, Dir, gue bakal bales tuh cewe sampe ngemis minta ampun!" Ujar Nayla sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. "... Mau pulang sekarang? Ayo, gue yang anter!" Ajak Nayla.
Dira menggeleng pelan sambil kembali tersenyum. Mengingat Nayla yang selalu peduli dengan dirinya. Bahkan sudah seperti saudara sendiri. Tapi, kali ini ia harus menolak tawaran sahabatnya itu karena merasa tak enak dengan sang suami kalau ia menerima tawaran Nayla yang ingin mengajaknya pulang sementara ia sendiri datang kesini dengan Axell tadi.
"Lo nggak bisa liat? Masih ada gue disini. Dira pulang bareng gue." Jawab Axell datar.
"Cckk." Nayla berdecak mendengar apa yang Axell katakan. Sebelum akhirnya pintu kembali terbuka dan menampilkan Bastian dan juga Verrel di baliknya.
Ceklek!
Sama seperti yang Nayla lakukan tadi. Keduanya masuk tanpa permisi dan langsung duduk di sofa depan Axell, Dira, dan juga Nayla. Hanya terhalang meja di depannya.
Nayla menatap malas ke arah Verrel dan juga Bastian lalu beralih menatap Axell dan Dira bergantian. Ia kembali menghela nafas. "Terus terang, ya ... sebenarnya gue nggak pernah ada masalah dengan Dira yang pengen deket atau bahkan pacaran sama siapa aja. Menurut gue, selama tuh cowok pantes dan nggak nyakitin Dira, gue akan selalu dukung. Tapi sekarang, liat gaya pacaran Lo berdua, bukannya ngedukung hubungan kalian, gue malah jadi semakin khawatir. Gaya pacaran kalian itu terlalu over! Ingat, kita itu masih sekolah. Jangan sampai Lo berdua melakukan hal-hal yang di luar batas! Dan juga Lo, Xell ... Lo lupa, Lo itu ketua OSIS? Seharusnya Lo itu bisa ngasih contoh yang bener! Bukannya malah kayak gini!" Ujar Nayla mengatakan apa yang mengganjal di hatinya selama ini.
Dira diam, ia bingung harus berkata apa? Disisi lain ia ingin mengatakan pada Nayla kalau statusnya dengan Axell bukanlah sekedar pacaran. Tapi disisi lain, ia masih ingin merahasiakan status pernikahannya dengan Axell sampai saatnya nanti ia benar-benar siap mengungkap kebenarannya.
Berbeda dengan Dira yang tengah dilema saat ini. Axell malah dibuat kesal dengan gadis bernama Nayla itu. Axell paling tidak suka si gurui seperti ini. Sedangkan orang tersebut tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia sudah dewasa dan tahu benar apa yang harus dilakukannya.
"Jangan sok menggurui! Gue tau apa yang harus gue lakuin. Lo itu nggak tau apa-apa. Berhenti bertindak seolah-olah Lo orang yang paling ngerti, apa yang harus dan nggak harus gue lakuin! Jadi gue minta, Lo diem! Não é da tua conta!" Ujar Axell yang kini mulai meraih laptop untuk melanjutkan pekerjaan Rheyhan tadi.
__ADS_1
"Nayla bener kali, Xell. Terlepas dari status Nayla sebagai pacar gue, gue juga setuju dengan apa yang Nay ... " Ucapan Verrel tiba-tiba terhenti karena mendapat tatapan tak bersahabat yang Axell tujukan padanya. Laki-laki itu lalu mengangkat kedua tangannya seakan-akan ada seseorang yang tengah mengarahkan pistol ke arahnya. "... gue nggak jadi ikutan!" Lanjut Verrel.
Sementara Bastian yang memang sudah mengetahui status Axell dan Dira yang sebenarnya lebih memilih diam. Ia suka keceplosan kalau lagi ngomong. Sadar dengan kekurangan yang ada padanya, ia tak ingin ikut bersuara dan malah mengatakan hal yang seharusnya ia jaga.
"Lo kenapa jadi ngirit banget ngomong sih, bas? Kenapa Lo jadi pendiem sekarang? Salah makan Lo!" Kalimat yang terkesan mencibir dari Nayla yang ia tujukan pada Bastian. Bahkan nada bicara yang keluar dari mulut Nayla sama sekali tak enak di dengar. Gadis itu tengah menahan kesal sekarang.
Bukannya langsung menjawab, Bastian malah tersenyum sambil melirik ke arah Axell. Untuk sepersekian detik tatapan keduanya bertemu sampai pada akhirnya Axell sengaja memutus kontak matanya dan kembali fokus pada layar terang di depannya.
Tapi sialnya, Verrel menangkap hal itu. Laki-laki itu pun mengangguk samar. Ia semakin yakin kalau Axell dan Bastian memang tengah sengaja menyembunyikan sesuatu darinya. Dan mungkin saja semua ini berkaitan dengan gadis bernama ... Dira.
"Gue bukan salah makan, Nay ..."
'Tapi gue akut salah ngomong aja. Makanya gue diem! Batin Bastian.
"... Seingat gue, pagi tadi gue sarapan roti. Terus barusan gue makan kentang goreng. Jadi nggak ada yang salah dengan apa yang gue makan. Sejauh ini masih makanan yang wajar di makan sama manusia kan, Nay?" Jawab Bastian yang memang asal-asalan.
Nayla memutar bola matanya jengah. Berbicara dengan Bastian berhasil membuatnya semakin kesal. "Kumat gilanya!"
...***...
Axell yang tengah sibuk mengemudikan mobilnya itu sesaat ke arah Dira, "Hmm. Kenapa, Yang? Masih sakit ya, pipinya? Atau mau aku anter ke rumah sakit?" Jawab Axell yang kini mulai mengurangi kecepatan laju mobilnya. Kini keduanya sedang dalam perjalanan pulang dari d'Axe Cafe.
Dira menggeleng, "Nggak usah, kak. Udah nggak terlalu sakit kok. Cuma sedikit nyeri." Balas Dira.
"Terus?" Tanya Axell dengan tangan yang meraih tangan sang istri dan menautkan jarinya.
"Boleh nggak, kalo kita pulang ke apartemen aja hari ini?" Pinta gadis itu.
Axell menarik satu alisnya, "Boleh. Tapi kenapa? Tumben kamu ngajakin pulang ke apartemen, Yang?" Tanya Axell ingin tahu, ini pertama kalinya Dira mengajaknya pulang ke apartemen. Padahal biasanya gadis itu akan selalu menurut kemana ia membawanya.
Bukannya menjawab, Dira hanya menggelengkan kepalanya pelan. Istrinya itu diam seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Gara-gara ini?" Tanya Axell dengan tangan yang mengelus pelan pipi Dira.
"Aku hanya nggak mau bunda tau. Nanti bunda jadi khawatir." Jawab Dira pelan.
Axell mengangguk mengerti. "Ya udah, seperti yang kamu mau, Yang ..." Ujar Axell yang kini kembali fokus pada kemudinya. "... Ada syaratnya tapi, Yang." Ucap laki-laki itu menambahkan.
__ADS_1
Dira menoleh ke arah Axell tak percaya. Ini pertama kalinya Axell meminta syarat untuk sesuatu hak yang ia minta. "Apa, kak?" Tanya Dira setelah diam beberapa saat.
Axell lalu menepikan mobilnya setelah mendengar pertanyaan dari Dira. "Jawab pertanyaan aku, Yang! Kenapa Linda nampar kamu tadi?"
Dira mengerjapkan beberapa kali, "Emangnya kak Axell nggak tau?" Bukannya menjawab, Dira malah balik tanya.
"Tau apa?" Kini giliran Axell yang balik tanya.
Dira menghela nafas kasar, "Dia cemburu liat aku sama kak Axell d'Axe Cafe."
...***...
Sesuai dengan permintaan Dira, Axell benar-vebar membawa istrinya itu pulang ke apartemen. Saat mobil Axell berhenti di basseman, Axell mendapati istrinya tengah menguap karena mengantuk.
"Ngantuk, Yang?" Tanya Axell yang langsung mendapat anggukan kepala dari Dira.
"Mau aku gendong?" Ujar Axell menawarkan.
"Nggak usah, kak. Aku ngantuk, bukan sakit. Aku jalan aja!" Jawab Dira sambil kembali menguap.
Axell menghela nafas, istrinya itu begitu keras kepala. Tanpa membuang waktu lagi, Axell langsung bergegas untuk keluar dari mobil dan membuka pintu pintu sebelah dimana Dira masih duduk didalamnya.
"Sini, Yang, aku gendong!" Ucap Axell sambil setengah membungkuk dengan satu tangan yang menepuk punggungnya. Bermaksud agar Dira naik ke punggungnya.
"Kak, aku -
"Naik aja, Yang!" Ucap Axell yang sengaja memotong ucapan Dira. Laki-laki itu sama sekali tidak mau menerima penolakan yang akan gadisnya itu ucapkan.
Mau bagaimana lagi, kalau sudah begini mau tidak mau Dira harus mau mengikuti kemauan sang suami kan? Dira lalu naik ke punggung Axell dan kembali menguap, ia benar-benar mengantuk.
Setelah Dira naik di gendongannya, Axell langsung berjalan santai memasuki lift yang akan membawanya ke unit milik Dira dan bukan miliknya. Laki-laki itu ingin segera menidurkan istrinya di atas tempat tidur agar semakin nyaman tidurnya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Axell langsung melangkahkan kakinya keluar menuju dimana unit milik sang istri. Tapi, tiba-tiba langkah kaki Axell terhenti saat melihat seseorang yang sangat ia kenal, tengah berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum yang Axell tahu apa artinya.
"Yo ... Xello! Mau Lo apain anak orang?"
__ADS_1