
"Yakin?" Tanya Verrel memastikan. Bukan itu sebenarnya maksud Verrel. Ia hanya ingin melihat ekspresi wajah dari Axell setelahnya.
"Pagi tadi gue liat si Zaki pegang dahi Lo. Gue kira Lo demam, makanya gue tanya, Lo sakit?" Ucap Verrel dan sukses membuat Axell melayangkan tatapan tajam ke arah Dira. Dan hal itu otomatis membuat Verrel kembali tersenyum miring.
'Gotcha!'
Melihat reaksi Axell yang seperti ini membuat Verrel kian gencar melanjutkan aksinya. Tangan kekarnya tergerak untuk meraih ponsel dari dalam saku celananya.
"Ini Lo bukan, sih?" Tanya Verrel sambil menunjukkan sebuah gambar yang berhasil ia ambil tadi. Ya, Verrel lah yang dengan sengaja mengambil gambar antara Dira dan juga Zaki pagi tadi.
Tak cukup sampai disitu, Verrel bahkan dengan sengaja memperlihatkan gambar dua muda-mudi dengan seragam sekolah yang sama dengan mereka tadi pagi ke arah Axell sesaat dan bergantian ke arah Dira.
Disitu terlihat dengan jelas posisi tangan Zaki yang menempel pada dahi seorang gadis yang tak lain adalah Dira sendiri. Axell yang melihat foto Zaki tengah memegang dahi Dira pun seperti merasakan sesuatu yang entah antara marah, kesal dan rasa tak terima. Tangan Axell terkepal dengan sempurna bahkan rahangnya pun tampak mengeras.
"Gue duluan." Ujar Axell sambil bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan kantin.
"Lah, Xell. Mau kemana Lo?" Tanya Verrel pada Sahabatnya itu. Asli. Pertanyaaan Verrel tadi hanya basa-basi. Jelas-jelas ia tahu, kalau sahabatnya itu tengah menahan sesuatu. Emosi yang seakan siap meledak. Itu yang Verrel tangkap dari wajah Axell tadi.
"Si Axell kenapa?" Tanya Nayla yang tak mengerti dengan sikap tiba-tiba dari Axell.
Verrel yang mendengar apa yang dikatakan Nayla hanya mengendikan bahunya acuh. Ia sengaja pura-pura tak tahu.
'Fiks, gue tau. Pasti emang ada sesuatu antara Lo sama Dira.' Batin Verrel menduga.
Sementara Dira, gadis itu sedang meremat ujung rok seragam sekolahnya. Ia teringat akan kata-kata Axell pagi tadi yang memperingatkannya tentang Arfen.
'Gue deketan sama sahabat gue aja dia marah. Gimana kalo dia mikir yang macem-macem antara gue sama Zaki tadi?'
...***...
Saat pulang sekolah, Axell yang sedang berada di ruang OSIS terlihat tengah mengutak-atik ponselnya. Laki-laki itu tengah mengetikan pesan yang sudah pasti akan ia kirimkan pada Dira.
^^^📤 Axarkan.^^^
^^^Lo tunggu di mobil bentar!^^^
^^^Gw masih ada urusan.^^^
Send✔️
"Xell!" Panggil Verrel tiba-tiba pada sahabatnya itu. Axell diam tak menyahut. Ia masih enggan mengalihkan pandangannya dari layar terang yang sedang di genggamnya itu.
Verrel yang merasa tak di respon oleh Axell pun berdecak kesal, "Ck. Woy... Xell! Gue mau ngomong sesuatu sama Lo!" Kesal Verrel yang merasa di abaikan oleh Axell.
Sementara Axell yang merasa terganggu itu pun kini beralih menatap Verrel sesaat sambil mengangkat satu alisnya lalu kembali menatap ke arah ponselnya lagi.
Verrel yang sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya itu pun kini bertanya. "Lo jujur sama gue, Xell! Sebenarnya ada hubungan apa antara Lo sama Dira?"
__ADS_1
Mendengar apa yang ditanyakan oleh Verrel padanya langsung membuat Axell beralih menatap wajah sahabatnya itu. Axell ingat, beberapa waktu yang lalu, Verrel juga pernah bertanya pada Axell tentang perasaannya pada Dira. Tapi Axell langsung menepisnya. Karena pada waktu itu Axell memang tidak menaruh perasaan apapun pada Dira. Ralat. Bukan tidak menaruh, tapi mungkin belum. Dulu hanya rasa penasaran yang Axell rasakan pada gadis itu. Karena menurutnya, Dira adalah gadis yang cenderung tertutup. Tapi kalau sekarang, beda lagi ceritanya.
Axell diam. Laki-laki itu belum berniat untuk menjawab pertanyaan dari Verrel.
"OK, gue mau cerita sedikit disini sama Lo, Xell. Sebenarnya beberapa hari belakangan ini, gue mergokin dua anak manusia beda jenis yang setahu gue mereka nggak saling dekat, berangkat sekolah bareng. Terus, gue juga liat, tuh cowo bahkan ngasih duit yang menurut gue nggak sedikit ke tuh cewe. Gue jadi curiga sama tuh dua anak cucu Adam. Mereka kayak ada hubungan terselubung. Aneh nggak, sih, mereka itu sebelumnya nggak saling kenal. Nggak saling sapa juga kalo ketemu. Tapi tiba-tiba bisa berangkat sekolah bareng sekarang dan bahkan sejak hari dimana gue nge-gep mereka, mereka itu berangkat sekolah barengan terus. Pertanyaan gue, kira-kira mereka habis ngapain ya, Xell? Dan kenapa tuh cowok harus ngasih duit segala ke tuh cewek? Lo tau jawabannya nggak, Xell?" Jelas Verrel.
Axell hanya menatap Verrel tanpa minat, lalu kembali menatap ke arah ponselnya. "Jangan suka ngurusin urusan orang." Jawab Axell malas. OK, disini Axell belum menyadari kalau yang dimaksud oleh Verrel adalah dirinya dan Dira.
"Tapi gue kepo disini, Xell... ilahh... BTW, Lo tau nggak siapa yang gue maksud disini?" Tanya Verrel lagi. Axell menghela napas kasar. Lalu menggelengkan kepalanya malas. Kenapa Verrel berisik sekali hari ini? Begitu pikir Axell.
"... Si cewek anak baru yang belum genap dua bulan masuk sini. Kalo si cowok... dia ketua OSIS dari Bhakti Bangsa, Xell." Jawab Verrel menggebu-gebu.
'Shitt!! itu gue.'
Axell lalu menatap kearah Verrel yang ternyata sedang tersenyum jahil kearah Axell sejak tadi.
'Sialan!' Batin Axell.
"Jujur nih, Xell, gue sebenarnya udah sering mergokin Lo berdua berangkat bareng. Lo juga ngasih duit ke Dira, bahkan nggak sekali dua kali. Yang bikin gue kepo, ada hubungan apa kalian? Kalo pacaran nggak mungkin. Kalian nggak saling dekat. Nggak salah lagi, waktu itu... di kafe Lo lagi bareng Dira kan? Disini gue jadi mikir, apa duit yang Lo kasih ke Dira itu, imbalan atas apa yang kalian berdua lakuin di ruang kerja Lo hari itu?" Tanya Verrel tak sabaran.
'Go damn!!' Batin Axell kembali mengumpat. Sebisa mungkin Axell menguasai dirinya agar tak terpancing mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Axell merasa ia masih ingin menjaga rahasia pernikahannya dengan Dira.
"Perlu banget, ya, Lo tau?" Ucap Axell malas.
"Perlu, Xell. Gue udah terlanjur kepo. Pikiran gue bahkan nggak sampe kalo harus nebak, apa yang Lo berdua udah lakuin?" Ucap Verrel.
"Harus banget, ya, gue jawab?" Tanya Axell balik.
"Ck. Jangan panggil gue Xello! Bisa?!" Balas Axell yang kini menatap tajam ke arah Verrel.
"Kenapa? Jadi keinget, ya? Ayolah, Xell. Itu nggak penting. Sekarang Lo jawab pertanyaan gue, Lo pasti lagi ada something kan yang lagi berusaha Lo tutupin sama Dira?" Tebak Verrel yang masih belum menyerah dengan rasa penasarannya.
"Udah? Gue cabut." Ucap Axell lalu berjalan pergi meninggalkan ruang OSIS.
"Ck. Kebiasaan Lo, Xell..." Protes Verrel pada sahabatnya itu. "...OK, Xell. Kita liat, sampai kapan Lo bisa nutupin ini semua?"
...***...
"Ini cewek kenapa? Apa dia beneran sakit?" Pertanyaan yang muncul dalam benak Axell, saat laki-laki itu masuk kedalam mobilnya yang terparkir di area parkir sekolah.
Saat Axell masuk ke dalam mobil, ia mendapati Dira di kursi belakang dengan posisi berbaring dan earphone yang terpasang di kedua telinganya. Gadis itu tidur. Tangan Axell lalu terulur untuk mengecek suhu dari gadis itu.
"Nggak panas." Ucapnya.
Sebenarnya tadi Axell sempat merasa kesal saat Verrel menunjukkan foto dimana Zaki yang menyentuh kening Dira pagi tadi. Entah mengapa hanya sekedar melihat foto tersebut, Axell merasa ingin meledak kalau dia tak segera pergi dari kantin tadi. Tapi setelah melihat wajah damai Dira yang sedang tertidur seperti ini, tiba-tiba rasa kesal yang tadi hilang begitu saja.
Drrtt... drrtt...
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Dira bergetar. Lebih tepatnya ponsel Dira yang terjatuh dan di temukan oleh Axell kemarin. Dahi Axell berkerut setelah membaca nama si penelepon.
📲 Nayla is Calling...
Axell diam. Ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab panggilan telepon tersebut. Tapi, Axell juga tak ingin menolak panggilan tersebut. Axell membiarkan panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Dan benar saja, tak butuh waktu lama, ponsel itu akhirnya berhenti bergetar. Dan...
Ting...
Pesan masuk pada ponsel Dira dari nama yang sama.
📥 Nayla.
Dir, jalan yuk!
Gue udah d jalan mw k apart Lo, nih!
Lo lg d mana?
Axell membaca pesan yang Nayla kirimkan. Laki-laki itu tampak menghela napas pelan. Sepertinya ia harus membawa Dira pulang ke rumah hari ini. Kalau Axell membawa Dira pulang ke apartemen dalam keadaan Dira yang tertidur seperti ini bukan tidak mungkin ia akan bertemu dengan Nayla nanti.
Sebenarnya Axell sama sekali tidak keberatan kalaupun ia bertemu dengan Nayla nanti. Atau bahkan Nayla sampai tahu kalau dirinya dan Dira sudah menikah. Tapi masalahnya Bagaimana dengan Dira? Bagaimana dengan gadis itu? Apakah Dira bersedia kalau hubungan pernikahannya diketahui oleh Nayla?
Axell lalu menjalankan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya. Jarak dari sekolah ke rumah memakan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dan tak butuh waktu lama, kini mobil Axell sudah memasuki kawasan perumahan elite The Royal palace.
Tiinn... tiinn...
Bunyi klakson mobil yang Axell bunyikan agar pak Udin membukakan pintu gerbang untuknya. Pak Udin yang mengetahui datangnya mobil putra dari pemilik rumah itu pun langsung sigap membukakan pintu gerbang tersebut.
Axell membuka pintu mobil dan keluar. Ia memutari mobil untuk membuka pintu dari samping dan menggendong Dira masuk kerumah.
Saat memasuki rumah, Axell langsung berpapasan dengan sang Bunda yang terlihat bingung.
"Lho, boy. Dira kenapa?" Tanyanya khawatir.
"Nggak pa-pa, Bun. Dira cuma tidur. Axell nggak tega mau bangunin." Jawab Axell santai.
"Ya udah.. Kamu bawa Dira ke kamar, ya. Kamu juga istirahat!" Titah bunda Resty pada putra semata wayangnya itu.
"Iya, Bun. Axell ke atas dulu ya, Bun." Pamit Axell pada bundanya. Axell lalu berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Eh... den Axell pulang." Sapa bi Inah ramah.
"Iya, bi... tolong bukain pintu, bi!" Ucap Axell sopan.
"Iya, den... Silahkan." Ucap bi Inah setelah membukakan pintu kamar Axell.
"Makasih, bi." Ucap Axell singkat lalu menutup pintu menggunakan kakinya.
__ADS_1
Axell lalu meletakkan Dira di atas ranjang dengan sangat pelan dan hati-hati. Dipandanginya wajah damai Dira yang sedang tertidur nyenyak itu.
"Kalo gue perhatiin, sekarang Lo kurusan dari semenjak kita pertama kali ketemu. Apa Lo tertekan dengan pernikahan kita ini? Sorry kalo gue...