Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
197. Masih di apartemen Axell.


__ADS_3

Axell menatap intens pemandangan tak mengenakan yang ada tepat di depannya, dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Bahkan kedua matanya pun tak ia biarkan berkedip sekali pun, demi untuk tidak melewatkan adegan yang mungkin akan ia kembali menyulutkan api nantinya.


Mungkin akan biasa saja bagi orang lain yang melihat, tapi tidak untuk Axell. Karena sekarang ini, ia tengah menahan kesal dan bahkan hampir kembali meledak jika ia tak mati-matian menahan emosi yang sepertinya kembali terpancing karena menyaksikan Dira yang tengah mengobati Arfen.


Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya, Dira berani membantah ucapannya saat Axell melarangnya untuk mengobati luka lebam di wajah Arfen akibat pukulannya tadi. Dan kini tanpa Dira sadari, kedua lelaki berstatus suami dan sahabatnya itu tengah menatap satu sama lain. Seakan keduanya tengah berperang sengit. Jangan lupakan satu alis Arfen yang terangkat seolah menantang Axell.


"Hhhh... " Dira menghela nafas. Lalu merapikan kotak obat dipangkuannya. "... Udah selesai. Aku mau ke kamar bentar."


Arfen menoleh ke arah Dira dengan sedikit senyum. Bibirnya robek di kedua sisi karena pukulan tak main-main dari Axell beberapa saat lalu. "Thank's ya, Dir."


Dira hanya mengangguk tanpa menatap Arfen. Dira juga tidak mau melihat wajah Axell karena yakin, Axell akan kembali protes nantinya.


Dira lalu beranjak dari duduknya dan menoleh ke arah Verrel dan Bastian yang terlihat asyik berdua sedari tadi. Entah hal apa yang membuat keduanya tiba-tiba kompak seperti sekarang ini?


"Kak, tolong awasi mereka berdua, ya! Kalo sampai mereka berantem lagi panggil gue!" Ucap Dira pada Verrel dan Bastian.


Verrel tak menjawab, ia hanya mengangkat satu jempolnya.


"Sesuai perintah anda, yang mulia. Hihihi ..." Jawab Bastian lalu terkekeh geli dengan ucapannya sendiri. Sementara Axell melengos membuang muka karena melihat senyum mengejek yang Arfen tujukan padanya. Ingin sekali Axell mengusir rival baku hantam nya tadi itu dari apartemennya ini. Tapi ia urungkan karena Dira pasti akan mengeluarkan taringnya nanti.


Setelah perginya Dira, Verrel menaruh ponselnya di salah satu pahanya, lalu bertepuk tangan secara dramatis tanpa suara atas apa yang di lakukan Dira tadi. "Sahabatnya pacar gue!" Verrel menggeleng kepalanya saat memuji aksi Dira yang berhasil melerai Axell dan Arfen tadi. Dan juga aksi beraninya yang membantah Axell suaminya.


Bastian reflek melakukan hal yang sama. "Bidadari gue. Aaaarg!" Ucapnya yang ikut memuji Dira dan langsung mendapat hadiah lemparan kunci motor dari Axell tepat di dahinya.


"Bangsad! Sakit, Xe -"


"Istri gue, Bas!" Tekan Axell tak terima. "... Orang yang Lo panggil bidadari Lo itu... tak lain adalah ISTRI GUE!"


"... Gue harap Lo nggak lupa karena kalo Lo lupa, gue bisa dengan mudah bikin ingatan Lo balik." Tambahnya dengan kalimat yang langsung membuat nyali Bastian menciut. Tapi, bukan Bastian namanya kalau ia langsung diam.


"Ckk. Bercanda kali, Xell." Jawab Bastian santai. "... Kenapa sih, Lo emosian mulu'?! Santai dikit lah."


'Bidadari gue?'

__ADS_1


Arfen menggeleng pelan mendengar panggilan Babas untuk Dira. Satu sudut bibirnya tertarik samar melihat Axell yang semakin kesal. Axell masih seperti dulu, posesif dan sepertinya sifat posesifnya itu semakin menjadi setelah memiliki hak paten atas Dira.


Axell tak menjawab, ia hanya menatap dingin Bastian. Lalu menoleh karena mendengar suara sang istri yang sepertinya tengah berbicara dengan seseorang.


"Nggak, Bun. Aku sama kak Axell lagi di apartemen soalnya." Dira berjalan mendekat dan duduk di samping Axell dengan kepala yang bersandar di sofa.


"O, ya sudah. Ini ayah juga baru pulang dari kantor. Bunda tutup dulu telponnya. Kalo Axell bandel, bilang sama bunda ya, sayang... Biar nanti bunda yang jewer telinganya."


Dira menoleh pada Axell dengan senyum menyeringai yang tampak diwajah cantiknya, seolah mengatakan kalau ia memegang kartu As yang akan ia buka sewaktu-waktu jika Axell masih terus bertengkar dengan Arfen nantinya. "Iya, Bun."


"Bunda ngomong apa, Yang?" Tanya Axell lembut setelah Dira meletakkan ponselnya disampingnya.


Arfen menghela nafas mendengar pertanyaan yang tentunya Axell tujukan untuk Dira. Berat. Tapi ini memang sudah menjadi pilihannya.


"Bunda tanya, kita pulang jam berapa?" Jawab Dira yang kini menyandarkan kepalanya di pundak Axell.


"Kita pulang sekarang."


Dira langsung mengangkat kepalanya dan menoleh pada Axell. "Aku nggak mau pulang."


"Kalo kak Axell mau pulang, silahkan! Pulang sendiri aja! Aku mau turun dan tidur di apartemenku sendiri." Jawab Dira yang malah terdengar galak.


Mata Axell mendekik, "Apa karena dia ada di sini, Yang, jadi kamu nggak mau pulang ke rumah?" Tanya Axell dengan kepala yang menunjuk ke arah Arfen.


Dira menggeleng, "Kenapa kak Axell jadi nyalahin Arfen lagi?" Dira menghela nafas, "... Kak, dari tadi Arfen duduk anteng di situ dan aku perhatikan dia nggak ngapa-ngapain -"


"Oh... Jadi dari tadi kamu merhatiin dia?" Seloroh Axell.


Verrel dan Bastian kompak memutar mata masing-masing melihat tingkah Axell lengkap dengan wajah cemburu Axell yang tentunya tidak bisa membohongi.


"Kak!" Dira menggeleng, "... kemarin kakak pulang dengan satu memar di sudut bibir kakak. Sekarang?" Dira menghela nafas kasar, "... Aku nggak mau pulang karena aku nggak mau Ayah sama Bunda liat wajah buruk rupa kakak."


"Pppftt..." Verrel menutup mulut untuk tak tertawa lepas. Sementara Bastian, menahan tawa adalah hal yang tak bisa ia lakukan. Bastian langsung tertawa terbahak mendengar ucapan Dira. "Bhahahaha... Buruk rupa ngga tuh?!"

__ADS_1


Axell reflek melayangkan tatapan permusuhan pada kedua sahabatnya tersebut, Arfen pun tak luput dari tatapannya karena ia ikut tersenyum. Lalu pandangan Axell kembali menatap Dira dengan tatapan yang langsung berubah teduh. "Yang, kamu tadi nggak liat siapa yang bikin wajahku jadi gini?"


"Arfen nggak akan mukul kalo kakak nggak mulai duluan!" Dira kalimat pembelaan yang Dira tujukan untuk Arfen.


"Yang!" Tangan Axell menuding ke arah Arfen, "... aku pukul dia pun karena ada alasannya. Aku emang nggak pinter ngatur emosi. Tapi bukan berarti aku orang yang suka main mukul tanpa alasan yang jelas. Kamu ingat kenapa aku pukul Derry dulu?"


Dira diam sejenak. Bukan, bukan maksud Dira untuk terus-terusan membela Arfen dan membuat Axell semakin kesal dan marah. Tapi percayalah, Dira hanya ingin Axell mengerti kalau tindakannya memukul Arfen juga salah. Bagaimana pun juga, kekerasan tidak dibenarkan.


"Apapun alasannya, aku nggak suka kalo kak Axell main pukul kaya' tadi."


Axell membuang muka. Ia melirik Arfen yang diam tak bereaksi apa-apa. Detik kemudian Axell kembali menatap Dira, "Kamu liat ini?" Tunjuk Axell pada bekas memar yang masih samar terlihat di salah satu sudut bibir Axell. "... Siapa yang ninggalin memar disini?"


"Aku tau ..." Jawab Dira pelan. Dira melirik Arfen sekilas, "... Arfen udah ngaku kalo dia yang mukul kakak kemaren."


"HAA?"


"APA?"


Verrel dan Bastian terkejut denga apa yang Dira katakan. Arfen memukul Axell. Serius?


Kaya' nggak percaya.


Pagi tadi saat di sekolah, Verrel dan Babas memang menjejali Axell dengan berbagai pertanyaan tentang luka memar yang menghias di wajah Axell, tapi Axell memilih bungkam karena tak berniat menjawab.


Siapa sangka? Pelaku pemukulan itu tak lain adalah Arfen sendiri.


Memang benar kemarin itu Verrel dan Babas sempat mengikuti Arfen yang mengikuti Axell. Tapi keduanya memutuskan pulang saat melihat Arfen yang meninggalkan d'Axe Cafe, tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruang kerja sahabatnya itu di Kafe tersebut.


"Kaget?" Axell mendengus, "... Ckk, Arfen ngikutin gue... bukannya itu rencana kalian berdua?" Sarkas Axell dingin. Satu alisnya terangkat seakan menantang kedua sahabatnya itu untuk mengaku.


*


*

__ADS_1


*


*Kalian pada 'Ngeh' ga, sih... udah 8 Eps. (190-197), tapi background nya masih di hari yg sama?


__ADS_2