
Dengan sisa-sisa tenaganya, Dira mencoba berdiri untuk bisa keluar dari apartemen Axell. Gadis itu memutuskan untuk mencari bantuan. Tapi belum sampai Dira memegang gagang pintu, tubuh Dira sudah semakin terasa berat dan semakin lemas. Pandangan Dira bahkan semakin gelap. Dan...
Brrukk...
...***...
"Gimana, Axell bisa kesini?" Tanya Bastian pada Verrel.
"Biasa... Katanya kita sudut duluan tadi." Jawab Verrel sambil kembali menyesap es jeruknya. Keduanya kini sedang berada di d'Axe Cafe. Kafe yang Axell dirikan dan sedang menunggu kedatangan dari si pemilik kafe itu sendiri.
Tak butuh waktu lama, Axell yang baru saja datang langsung ikut bergabung dengan keduanya.
"Lo abis dari mana, Xell?" Tanya Bastian to the points.
Axell menatap ke arah Bastian sesaat, "Ada urusan." Jawabnya.
"Ck... sok misterius, Lo." Cibir Bastian pada sahabatnya itu.
"Lo kenapa, sih, man? Lo lagi ada masalah? Gue perhatiin Lo kek cewe lagi dapet, sensian!" Ucap Verrel menimpali.
Axell beralih menatap Verrel lalu menggelengkan kepalanya, "Gue nggak pa-pa." Jawab singkat. Lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan kafenya.
Satu pelayan mendekat ke arah Axell m Baru saja Axell ingin memesan sesuatu, tetapi ponselnya lebih dulu berbunyi. Dengan malas Axell meraih ponsel dari dalam saku celananya.
📲 Bunda is Calling...
Axell menarik sebelah alisnya, 'Ada bunda telepon di jam segini?'
"Siapa, Xell?" Satu pertanyaan yang terlontar dari si kepo Bastian. Melihat ekspresi dari Axell membuat laki-laki itu tidak tahan untuk tidak bertanya.
Bukannya menjawab apa yang sahabatnya itu tanyakan padanya, Axell malah lebih memilih menatap untuk menerima telepon dari bunda Resty tersebut.
"Halo, Bun."
"(....)." Tiba-tiba dahi Axell terlipat.
"Emang ada apa, Bun?"
"(....)."
"Tadi kebawa sama Axell."
"(....)."
"Lagi di kafe. Ada apa sih, bun, Kok bunda kayak lagi khawatir gitu?"
"(....)."
"Tadi sudah Axell antar ke apar, Bun?"
"(....)."
"Enggak dong, Bun."
__ADS_1
"(....)."
"Apa, Bun?"
"(....)."
"OK, bunda tunggu. Axell pulang sekarang."
Tuutt...
Axell memutus telepon dari bunda Resty sepihak dan langsung berdiri dari duduknya.
"Wait, bro. Ada apa?" Tanya Verrel ingin tahu. Verrel penasaran dengan reaksi tiba-tiba yang sahabatnya itu perlihatkan. Kenapa setelah menerima telepon dari bunda Resty, laki-laki itu terlihat bingung dan panik.
"Hey, ada apa? Kenapa muka Lo jadi serius gitu?" Tanya Bastian. Sama seperti Verrel tadi, pertanyaan yang keluar dari mulut keduanya tadi hanya sia² dan tak mendapat jawaban apapun dari Axell.
"Gue cabut dulu." Ucap Axell yang kini berjalan meninggalkan d'Axe Cafe dengan begitu tergesa-gesa.
"Axell kenapa?" Tanya Bastian bingung.
"Lo tanya sama gue? Terus gue mesti tanya ke siapa? Gue juga nggak tau monyet." Ucap Verrel mencibir.
"Ck. Lo kan bisa nanya sama rumput yang bergoyang." Jawab Bastian asal.
"Kenapa nggak Lo tanya aja sendiri?"
...***...
Kini Axell tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen. Sebelumnya, tadi bunda Resty menelepon Dira. Tapi berhubung ponsel Dira ada di tangan Axell, jadilah Axell yang menerima panggilan telepon dari bunda Resty tersebut.
Tapi, saat Bunda Resty masuk ke apartemen Axell, bunda Resty tidak menemukan adanya Dira maupun Axell di dalamnya. Padahal jam pulang sekolah sudah lewat satu jam yang lalu. Harusnya keduanya sudah berada di apartemen bukan. Begitu pikir bunda Resty.
Saat bunda Resty sampai di depan kamar Axell, Bunda Resty melihat pintu kamar Axell yang setengah terbuka. Bunda Resty memanggil keduanya dan tak ada jawaban sama sekali. Bahkan tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya.
Akhirnya bunda Resty memutuskan untuk masuk ke kamar tersebut. Dan setelah memasuki kamar tersebut, Bunda Resty di kejutkan dengan tas sekolah Dira yang tergelak di lantai dengan isi yang tercecer.
"Astaga... ini ada apa?" Tanya Bunda Resty.
Karena tidak menemukan putra dan juga menantunya, bunda Resty memutuskan untuk menelepon salah satu diantaranya. Dan Dira lah yang bunda Resty telpon.
Saat panggilan tersambung, bukan suara dari Dira yang Bunda Resty dengar. Melainkan suara dari sang putra. Bunda Resty berpikir, mungkin keduanya tengah bersama sekarang. Tapi ternyata Axell mengatakan kalau ia sudah mengantarkan Dira pulang ke apartemen sebelum ke kafe tadi dan masalah ponsel, laki-laki itu mengatakan memang sengaja ia bawa.
Setelah menunggu Axell beberapa menit, akhirnya anak lelakinya itu datang.
"Assalamualaikum, Bun." Sapa Axell sambil mencium punggung tangan dari Bunda Resty.
"Wa'alaikumsalam... Ini ada apa, boy? Tadi bunda lihat tas sekolah Dira berserakan beserta isinya di lantai. Dan juga... di mana Dira sekarang? Bunda dari tadi tidak melihatnya." Tanya bunda Resty yang menuntut penjelasan pada putranya itu. Dari nada bicara Bunda Resty, Axell tahu. Bundanya itu begitu menghawatirkan Dira.
Axell yang mendengar apa yang di katakan oleh bunda Resty itu membuat satu alis Axell terangkat. Ia sendiri juga tidak tahu dimana gadis itu. Bukankah ia sendiri yang mengantarkannya pulang ke apartemen tadi? Lalu kemana perginya Dira sekarang?
"Memangnya Dira nggak ada, Bun?" Tanya Axell balik.
Bunda Resty menghela nafas pelan setelah mendengar pertanyaan dari Axell. "Boy, kamu bisa lihat sendiri, Dira ada atau tidak? Lagian kenapa ponsel Dira kamu yang bawa? Kalau ada kejadian seperti ini, kota tidak tahu di mana Dira. Bunda jadi khawatir." Ucap Bunda Resty.
__ADS_1
"Bunda tetap tenang, ya! Biar Axell yang cari Dira. Mending sekarang bunda pulang dulu." Ucap Axell sembari menenangkan Bunda Resty.
"Bagaimana bunda bisa tenang? Pokoknya bunda ikut cari Dira. Bunda khawatir, boy!" Tolak Bunda Resty yang ingin ikut mencari kemana perginya Dira.
"Bun... percaya sama Axell. Axell bisa cari Dira sendiri. Dira tanggung jawab Axell, Bun. Axell pasti bisa temuin Dira..." Ucap Axell yakin. Axell lalu menghembuskan nafasnya pelan. "...Bunda pulang, ya. Biar Axell yang cari Dira. Bunda bantu doa aja semoga Dira bisa cepet ketemu. Dan Axell minta sama bunda, jangan telepon papa atau mama. Axell nggak mau mereka ikut khawatir."
Akhirnya Axell berhasil membujuk bunda Resty untuk pulang. Wanita paruh baya itu pun menuruti permintaan Axell. Dan setelah Bunda Resty pergi dari apartemen Axell, Axell berpikir untuk menelpon Nayla dan menanyakan keberadaan Dira. Axell pikir, mungkin Nayla tahu dimana Dira sekarang atau malah sedang bersamanya mungkin.
Saat Axell sudah menemukan kontak nomor Nayla, baru saja Axell akan melakukan panggilan, tiba-tiba saja ia ingat akan sesuatu.
"Tunggu. Tadi Bunda bilang, tas Dira tercecer di lantai. Sebenarnya apa yang sedang dia cari, Dira?" Pandangan Axell pun kini beralih menatap tas sekolah Dira yang terletak di sofa kamar.
"...Atau jangan-jangan..." Axell tak melanjutkan kata-katanya. Ia tak yakin dengan apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Laki-laki itu pun bergegas menuju ke apartemen Dira, mencari tahu apa mungkin gadis itu sedang berada di sana. Karena mungkin saja, bunda Resty belum sampai mencari gadis itu di sana tadi.
Ting...
Pintu lift terbuka. Cepat-cepat Axell unit apartemen Dira.Dan saat Axell sampai di apartemen tersebut, Axell tengah mengingat nomor yang Dira gunakan sebagai smartlock pintu apartemennya.
"002508." Dan...
Your succes!
Klik...
Ceklek...
Tanpa membuang waktu lagi, Axell langsung bergegas masuk ke dalam untuk memastikan ada atau tidaknya Dira di apartemen milik gadis itu.
Deg...
Dan benar saja. Saat Axell sampai di kamar Dira, Tiba-tiba jantung Axell mencelos begitu saja setelah melihat seorang gadis yang berstatuskan istrinya itu tergeletak dilantai.
Ya, Dira pingsan.
Axell yang semakin merasa khawatir itu pun, langsung mendekat ke arah Dira dan meraih Dira ke dalam pelukannya.
"Dira... bangun, Dir!" Panggil Axell sembari menepuk pelan pipi Dira.
"...Hey, Dira. Bangun!" Panggil Axell lagi sambil kembali mencoba menyadarkan Dira. Tak ada jawaban, bahkan tidak ada tanda-tanda Dira akan sadar.
Axell lalu mengendong Dira untuk ia letakkan diatas ranjang. Tak lupa ia melepas sepatu yang masih gadis itu kenakan. Lalu merogoh ponselnya dari dalam saku guna menelepon seseorang.
📞 Calling Om David...
"Halo, om. Bisa datang ke apartemen Axell sekarang. Lantai 7 nomor 701?"
"(....)."
"Cepat, ya, om! Axell tunggu!"
Tuutt...
Axell lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Dan...
__ADS_1
"Aarghh...!" Teriak Axell frustasi sambil mengacak rambutnya kasar. Ia mengerutuki kesalahannya sendiri karena gagal menjaga gadis yang berstatuskan istrinya.
"Sorry, Dir! Gue nggak becus jagain Lo. Harusnya gue nggak pergi ninggalin Lo gitu aja tadi."