Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
190. Sengaja.


__ADS_3

"Aku kenal? Tapi siapa?" Tanya Dira seolah tidak tahu. "... Eiitss... Kak! Iihhh... tunggu dulu!" Protes Dira dengan satu tangan terangkat dan langsung menutup bibir Axell yang akan kembali menciumnya.


"Apalagi, sih, Yang? Itu nggak penting. Kenapa kamu jadi bahas dia?" Protes Axell terdengar kalau ia tidak terima dengan Dira yang terus-menerus membicarakan orang yang tak lain adalah Arfen diantara mereka berdua seperti sekarang ini.


Kenapa lagi-lagi harus Arfen? Itu yang ada di pikiran Axell sekarang.


"Karena aku penasaran, kak. Aku kan pengen tau. Jadi apa susahnya kak Axell jawab pertanyaan aku!" Desak Dira halus.


Axell menghela nafas, ia menumpukkan dahinya pada salah satu pundak Dira. "Kenapa kamu tiba-tiba jadi punya rasa ingin tau yang tinggi, sih, Yang? Hmm?"


"Padahal kemaren-kemaren nggak kan?" Tambah Axell lagi.


Dira melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Axell, memeluk suaminya yang jelas terlihat kalau dia menghindari pertanyaannya.


"Karena aku ingin tau banyak hal tentang suami aku." Jawab Dira enteng dan berhasil membuat Axell kembali mengangkat kepalanya.


"Sekarang aku tanya lagi, Kak Axell itu masih ada rasa nggak sama mantan kakak itu?" Satu alis Axell kembali terangkat setelah mendengar pertanyaan yang seharusnya tidak perlu Dira tanyakan karena Axell yakin Dira sendiri tahu jawabannya.


"Yang, semua rasaku udah habis di kamu! Nggak akan ada lagi sedikit pun untuk Renata atau entah siapapun itu!" Axell menatap Dira serius. Menelisik wajah cantik sang istri yang terlihat berbeda. Jelas terlihat, ada maksud lain dari rasa ingin tahu istrinya saat ini.


"... Sebenarnya apa yang ada di kepala kamu sekarang, Dira?" Tanya Axell terdengar serius. "... kenapa kamu tanya hal yang sebenarnya kamu tau sendiri apa jawabannya?!" Pertanyaan Axell pun kini terdengar semakin serius.


Bukannya takut dengan tatapan serius sang suami. Dira malah tersenyum, ia berjinjit untuk mengecup singkat bibir sang suami. "Karena itu, kak. Karena aku tau semua rasa kakak hanya untuk aku. Itu artinya kak Axell berhasil melupakan mantan kakak sepenuhnya. Lalu, kenapa kak Axell dan sahabat kakak itu masih bermusuhan sampai sekarang? Maksudku ... kenapa nggak baikkan aja?!" Ada nada keraguan di akhir kalimat yang Dira ucapkan.


'Maaf, kak! Aku memang tidak bisa menjamin Arfen. Tapi aku kenal dia seperti apa dan bagaimana orangnya? Dan sejauh ini aku yakin, Arfen bukan orang yang tertarik untuk menghancurkan hubungan orang lain. Pasti ada kekeliruan disini!"


"Aku tidak bermusuhan dengannya, Yang." Jawab Axell pada akhirnya.


"Terus -"


"Aku hanya malas bertegur sapa dengannya." Potong Axell lagi.


"Karena kak Axell masih teringat dengan kedekatan dia dan Renata waktu dulu dan mungkin sampai sekarang? Iya, kan? Bunda bilang ini menyangkut tentang Renata. Jadi kak Axell -"


"Ini bukan tentang Renata, Yang!" Pungkas Axell kembali memotong ucapan Dira dan kali ini berhasil membuat istrinya itu terdiam sesaat.


Axell menghela nafas pelan dengan tatapan yang tak pernah beranjak barang sedetik pun dari wajah cantik milik sang istri. "Yang ... aku udah bilang beberapa kali. Aku nggak suka milikku di usik oleh siapapun. Dan satu hal lagi yang harus kamu tau! Alasan aku malas kembali dekat dengan dia, ini bukan karena Renata..."


'Tapi kamu!" Lanjut Axell dalam hati.


"... Aku akui, mungkin awalnya memang iya. Tapi itu dulu sekali. Dua tahun lalu, Yang. Aku udah tutup buku dan lupain semuanya." Ucap Axell menambahkan.

__ADS_1


"Lalu? Kalo bukan tentang Renata terus -"


"Aku, dia dan Renata itu udah habis lama, Yang. Aku bahkan udah lupa bagaimana kisahnya ..." Axell menghela nafas, "... Dan ini semua bukan lagi tentang masa laluku."


Dira menghela nafas. Sepertinya akan sulit untuk membuat Axell berbaikan dengan Arfen. Tapi Dira tidak akan menyerah pastinya.


"Boleh aku tau siapa dia?" Tanya Dira lagi untuk kesekian kalinya. Ia berharap, Axell mau menjawab siapa orang yang ia maksud.


"Aku sudah bilang, Yang. Kamu kenal dia dan aku nggak mau bahas." Jawab Axell yang masih bersikeras untuk tidak mengatakannya. Laki-laki itu lalu melepas dasi yang masih melilit di lehernya. Detik kemudian ia berbalik untuk melangkahkan kakinya kembali masuk ke kamar sebelum akhirnya langkah kaki Axell kembali terhenti karena ucapan Dira.


"Apa dia ... Arfen?" Tanya Dira pelan, namun masih jelas terdengar di telinga Axell. "... sebelumnya hanya dia temen cowok yang aku kenal."


Deg!


Axell reflek berbalik dan menatap Dira seolah meminta penjelasan. "Yang!"


'Dari mana Dira tau?'


...***...


"Boy. Ada temanmu di depan. Sepertinya dia sedang menunggumu?" Ujar ayah Marvellyo saat setelah tidak sengaja berpapasan dengan sang putra yang juga baru saja keluar dari kamar.


Axell yang kebetulan tengah mengenakan smartwatch miliknya jadi menoleh pada sang ayah dengan satu alis terangkat, "Siapa, Yah?" Tanya Axell jadi penasaran.


Axell merogoh ponsel dari dalam saku celananya. Satu alisnya kembali terangkat saat tak menemukan adanya notifikasi pesan masuk. Axell pikir, salah satu antara Bastian dan Verrel lah yang kini sedang menunggunya di depan rumah dan ternyata tidak.


Axell lalu mengakses gambar rekaman cctv yang terpasang di depan pintu gerbang rumahnya melalui ponselnya. Ia akan mencari tahu lewat gambar rekaman tersebut. Detik kemudian seulas senyum menyeringai tiba-tiba muncul melihat adanya seseorang yang sangat ia kenal di sana.


"Segitu sukanya Lo sama Dira, sampai omongan gue masih kurang jelas buat Lo ngerti? OK, Gue akan kasih Lo paham." Monolog Axell pelan sebelum akhirnya menempelkan benda pintar tersebut ke telinganya.


"Halo, Pak Udin, tolong siapin motor saya!"


...***...


Dira mengerutkan dahi melihat motor sport dengan warna yang sama seperti mobil milik sang suami yang lainnya, terparkir rapi di samping mobil yang biasa Axell pakai jika mereka berangkat ke sekolah.


Sejauh ini Dira memang mengetahui kalau Axell memiliki 2 mobil. Satu yang biasa mereka gunakan sehari-hari dan satunya lagi Axell gunakan jika ada meeting penting di kantor seperti apa yang pernah Dira dengar dari pak Udin beberapa bulan lalu.


Dan sekarang Dira tengah berdiri di samping motor sport tersebut. Jari tangan Dira terangkat untuk menyentuh tangki motor besar yang sepertinya selesai di cuci tersebut.


"Mau berangkat sekolah ya, non?" Sapa pak Udin ramah.

__ADS_1


Dira mengangkat pandanganya menatap pak Udin. "Iya, pak. Masih nunggu kak Axell." Lalu pandangan Dira menoleh ke arah gerbang sana dimana ada tiga orang lainnya yang berjaga beberapa hari ini. Padahal seingat Dira, awal-awal Dira tinggal disini hanya dua orang yang bertugas menjaga pintu gerbang tersebut - pak Udin dan satu orang lainnya yang Dira ketahui bernama pak Samir. Itu artinya, dua orang lainnya adalah orang baru.


Lalu, Kenapa mertuanya menambahkan penjaga gerbang? Dahi Dira mengrenyit memikirkan hal yang sebenarnya bukan menjadi urusannya.


Kenapa mertuanya terkesan menambahkan pengamanan rumah?


"Aku disini, Yang." Ucap Axell yang kini berada tak jauh dari posisi Dira dan berjalan mendekat.


"Pagi, den. Motornya udah siap!" Ucap pak Udin. Tangannya meletakkan dua helm di atas motor tersebut.


Axell mengangguk, "Makasih, Pak." Jawabnya Axell pelan.


"Sama-sama, den. Kalo begitu saya ke depan dulu, den." Jawab pak Udin sebelum akhirnya meninggalkan pasangan muda tersebut.


"Kak Axell mau pake motor ke sekolah hari ini?" Tanya Dira dengan wajah yang terlihat bingung.


Selama mereka menikah, hanya sekali ia melihat Axell berangkat sekolah menggunakan motor. Yaitu pagi saat ia terbangun dengan keadaan tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya dalam dekapan Axell untuk pertama kali hari itu.


Axell tersenyum melihat wajah bingung milik sang istri. "Mau coba hal baru nggak, Yang?" Tanya Axell balik.


"Hal baru?" Tanya Dira tidak paham. Pandangan Dira beralih menatap motor lalu kembali menatap sang suami. "... Naik motor ke sekolah?" Tanyanya yang langsung paham maksud Axell.


"Mau nggak?" Tanya Axell terdengar lembut.


"Selama itu sama kak Axell, aku mau." Jawab Dira tanpa ragu.


Axell kembali tersenyum mendengar jawaban Dira. Tangannya terangkat lalu mengikat Hoodie yang ia bawa ke pinggang Dira. Dira terkekeh melihat apa yang suaminya itu lakukan.


"Padahal rok yang aku pake udah yang paling panjang di sekolah." Ucap Dira.


Axell tersenyum mendengar apa yang Dira katakan. Memang benar karena Axell sendiri yang meminta Dira mengganti rok seragamnya menjadi lebih panjang beberapa senti dibandingkan siswi lain di sekolahnya.


"Ini salah satu aset berhargaku, Yang. Dan aku nggak bolehin orang lain bebas lihatnya." Jawab Axell sambil mengacak pelan rambut Dira sebelum akhirnya memasangkan helm pada Dira.


Dira menutup mulut dan membuang muka. Tersenyum pastinya dan Axell tahu itu.


Axell lalu menaiki motor besarnya setelah ia mengenakan helm. Menurunkan pijakan kaki untuk Dira dan mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri naik ke atas boncengan.


"Udah siap, Yang?" Tanya Axell saat melihat Dira sudah duduk dengan nyaman dibelakangnya. Mata Axell lalu turun melihat paha Dira yang tertutup dengan Hoddie miliknya tadi.


"Udah." Jawab Dira dengan kedua tangan yang melingkar di pinggang Axell.

__ADS_1


Axell kembali tersenyum, terlihat dari matanya yang menyipit. Ia lalu menjalankan motornya perlahan mendekati pintu gerbang. Sangat pelan dan sengaja membunyikan klakson saat melewati pintu gerbang tersebut.


Axell sengaja melakukannya untuk menunjukkan pada seseorang, yang kini duduk diam didalam mobil putih yang terparkir di sebrang jalan rumahnya. Kalau ia berangkat sekolah dengan Dira dari rumah yang sama.


__ADS_2