Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
38. Dosa, nolak nafkah dari suami! (Axello)


__ADS_3

"Halo, Dir. Lo di mana?"


"(....)."


"Di kamar mana, Rumah? Apart?"


"(....)."


"Iihhh... Lo nggak baca chat gue, ya, pagi tadi?"


"(....)."


"Ya iyalah. Sekarang buruan kesini?"


"(....)."


"Kok bisa, sih?"


"(....)." Mendengar suara di seberang sana seketika membuat mata Nayla membulat sempurna.


"Dir, Lo sama siap -...?"


Tuutt... tuutt...


Panggilan tiba-tiba terputus begitu saja dan Nayla begitu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar tadi.


"Suara siapa tadi?" Gumam Nayla. Ia terdiam sejenak mengingat suara siapa yang ia dengar tadi. 'Kayak nggak asing?'' Batin Nayla yang merasa begitu mengenal suara cowok di seberang sana, yang saat ini sedang bersama dengan sahabatnya itu.


"Ada apa, Nay? Dira kenapa?" Tanya Arfen ingin tahu. Melihat wajah Nayla yang sedang bingung membuat Arfen berpikir ada sesuatu yang terjadi pada Dira.


"Dira sama siapa tadi?" Gumam Nayla lirih.


Arfen mengerutkan dahinya bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? Dan apa yang Nayla dengar?


"Nay!" Panggil Arfen sambil melambaikan tangannya di depan Nayla.


"Eh... ada apa, Ar? Lo nanya apaan tadi?" Tanya Nayla setelah sadar dari lamunannya tadi.


"Dira kenapa?" Tanya Arfen lagi.


"Dira nggak bisa Dateng, Ar." Jawab Nayla.


"Tapi kenapa?" Tanya laki-laki itu.


"Dira lagi ada acara keluarga." Jawab Nayla bohong. Bohong karena setahu Nayla, Dira tengah bersama dengan seorang cowok yang entah siapa dia. Yang pasti Nayla tak ingin Arfen tahu untuk sementara ini.


'Sorry, Ar. Gue bohong sama Lo!' Batin Nayla bersalah.


"Dira nggak lagi ngehindar dari gue, kan, Nay?" Tanya Arfen dengan nada sendu.


"Nggak, kok."


...***...


Sementara itu di d'Axe Cafe, lebih tepatnya di ruang kerja sang pemilik. Dira tengah menerima telepon dari sahabatnya.


"Halo, Nay."


"(....)."


"Di kamar, Nay. Baru bangun tidur gue."

__ADS_1


"(....)."


"Kepo banget Lo. Btw, ada apa, Nay?"


"(....)."


"Lah... emangnya Lo ada chat gue?"


"(....)."


"Arfen? Ngajak jalan? Sekarang?"


"(....)."


"Sorry, Nay. Tapi gue nggak bisa."


"Dir, Lo laper nggak?" Tanya Axell yang tiba-tiba saja muncul dan tanpa sengaja berhasil membuat orang di seberang sana terkejut seketika. Sementara Dira yang tengah berbicara dengan Nayla melalui sambungan telepon pun menoleh ke arah Axell. Dan...


Tuutt... tuutt...


"Yah... kok lowbat, sih." Keluh Dira yang mendapati ponselnya tiba-tiba mati.


"Kenapa?" Tanya Axell yang kini berjalan mendekat ke arah Dira.


"Kak, ada charger nggak? Ponsel aku lowbat." Tanya Dira sambil menunjukan ponselnya.


Axell mengangguk singkat. "Ada. Dalem laci." Jawab Axell yang kini berjalan keluar kamar dengan Dira yang mengekor di belakangnya.


Tepat saat keduanya keluar dari kamar bertepatan dengan Linda yang kembali masuk membawakan makanan untuk yang adil minta satu jam sebelumnya.


'Mereka beneran dari kamar? Ngapain mereka berdua di kamar?' Batin Linda kesal.


"Thanks, Lo boleh pergi." Jawab Axell pada Linda tanpa menatap wajah gadis itu. Axell kini tengah menandatangi beberapa berkas. "Ayo makan, abis itu kita pulang." Ucap Axell pada Dira.


'Kita? Ada hubungan apa sebenarnya mereka?'


...***...


Keesokkan harinya di sekolah, seseorang telah menunggu kedatangan Dira Untuk menanyakan tentang siapa cowok yang sedang bersamanya kemarin.


"Ck. Udah jam segini, tapi si Dira belum datang juga." Ucap Nayla menggerutu sambil sesekali melihat ke arah jam tangan dan juga pintu gerbang secara bergantian. Sekarang ini Nayla memang tengah menunggu kedatangan dari sahabatnya, Dira di taman depan.


"Lagi nungguin siapa, sih, kak? Kak Verrel, ya?" Tanya Melody yang kebetulan baru saja datang dan menghampiri Nayla.


"Ck. Bukan Verrel. Gue disini lagi nungguin Dira." Jawab Nayla.


"Emangnya Dira belum Dateng, kak? Tumben, biasanya Dira pagian berangkat ke sekolah." Tanya Melody.


"Tau, deh. Gue nungguin Dira udah sampe kek jemuran kering!" Jawab Nayla lagi.


"Nungguin siapa, sih, Beib?" Tanya Verrel yang baru saja datang dan langsung merangkul pundak Nayla.


"Gue lagi nungguin Dira, Beib." Jawab Nayla.


"Nanti juga ketemu di kantin!" Balas Verrel santai.


"Iya, nih. Nanti di kantin pasti ketemu juga sama Dira." Ucap Melody ikut menimpali.


"Nggak bisa. Gue nggak bisa nunggu sampai nanti. Ada hal penting yang harus gue tanyain ke Dira." Tolak Nayla tegas.


"Dira? Bidadari gue, kan?" Celetuk seseorang yang baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan si tengil mengpede Babas.

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan Bastian barusan seketika membuat Nayla menepuk jidatnya. 'Bidadari gue.' Batin Nayla yang menirukan panggilan khusus dari Bastian untuk Dira. Sudah di tolak mentah-mentah, tapi tetao saja Bastian memanggil sahabatnya itu dengan sebutan 'Bidadari gue.'


Nayla jadi berpikir, bagaimana kalau apa yang ada di pikirannya itu benar? Apa benar, Dira diam-diam tengah dekat dengan teman sekelasnya sekaligus sahabat dari Bastian itu sendiri? Bagaimana kalau Bastian sampai tahu kalau gadis yang selama ini sering ia panggil bidadari itu tengah dekat dengan sahabatnya sendiri.


Apalagi kemarin saat Nayla menelpon Dira, gadis itu mengatakan baru saja bangun tidur dan tengah berada di sebuah kamar. Tapi, Dira tak sendiri, melainkan dengan seorang cowo yang suaranya tak asing bagi Nayla.


'Kalo apa yang gue pikirkan itu bener, gimana reaksi Babas? Tapi masa' iya, Dira lagi sama Axell kemarin?' Batin Nayla menerka kalau Dira mang sedang bersama dengan Axell kemarin.


"NGGAK MUNGKIN!" Pekik Nayla yang mengundang tanda tanya dari Verrel, Melody dan juga Bastian.


"Apanya yang nggak mungkin, mau?" Tanya ketiganya kompak.


"Nggak. Nggak ada apa-apa."


...***...


Sementara itu di parkiran sekolah, Dira tengah mengamati Area parkir tersebut. Gadis itu tengah menunggu keadaan yang benar-benar sepi sebelum keluar dari dalam mobil Axell. Ini adalah kebiasaan baru dari Dira kalau berangkat sekolah bersama dengan Axell.


Axell yang melihat apa yang tengah dilakukan oleh Dira pun hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Pagi tadi, tak seperti biasanya. Keduanya terlambat bangun. Saat Dira mutuskan untuk berangkat ke sekolah menggunakan mobilnya sendiri, Axell melarangnya dengan alasan keselamatan. Karena seperti yang Axell pikir, jika seseorang sedang terburu-buru, mereka pasti akan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan hak itu sangat berbahaya. Seperti yang ia lakukan tadi.


Tapi, karena keahlian Axell dalam hal mengemudikan mobil tak dapat diragukan lagi. Axell mampu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi namun, tetap mematuhi rambu lalulintas dan mengutamakan keselamatan dirinya, Dira dan juga pengendara yang lainnya.


"Syukurlah... Udah sepi. Em... kak. Aku keluar dulu, ya?" Pamit Dira pada Axell.


"Tunggu!" Ucap Axell yang mencegah Dira keluar dari mobilnya.


"Kenapa, kak?" Tanya Dira bingung.


"Lo lupa lagi?" Tanya Axell datar. Sementara Dira mengernyitkan dahinya bingung. Ia tidak mengerti dengan apa yang di maksudkan oleh Axell tadi.


"Lupa apa, ya, kak?" Tanya Dira yang memperjelas pertanyaan Axell untuknya.


"Lo lupa cium tangan gue, Dira! Lo lupa status Lo sama gue?" Jawab Axell mengingatkan statusnya Dira sekarang.


'Duh...'


"Maaf, kak." Ucap Dira pelan.


"Gue minta Lo buat Salim! Cium tangan gue, Dira. Bukannya malah minta maaf." Jawab Axell. Dira yang mendengarkan apa yang Axell katakan padanya pun seketika membuat gadis itu menghela nafasnya pelan. Tangan Dira lalu terulur untuk mencium punggung tangan laki-laki itu dengan takzim.


Canggung...


Entah mengapa Dira merasa canggung saat mencium punggung tangan suaminya itu. Dira belum terbiasa untuk hal ini.


"Ini uang saku buat Lo minggu ini."Ucap Axell lagi sambil menyerahkan beberapa lembar uang ratusan pada istrinya itu.


"Nggak usah, kak. Uang Minggu lalu yang Kakak kasih masih ada, kok." Tolak Dira halus. Bukan maksud Dira menolak. Hanya saja uang Minggu lalu yang Axell berikan padanya memang masih ada banyak. Pasalnya Dira, baru menghabiskan beberapa lembar saja.


"Terima, Dira! Dosa nolak nafkah dari suami." Ucap Axell mengingatkan.


Deg...


"Apa lagi ini?" Batin Dira lalu tangannya terulur untuk menerima uang yang Axell berikan padanya.


"Thanks, kak." Ucap Dira yang dibalas dengan anggukan kepala dari Axell. Tanpa menunggu lama lagi, dengan cepat Dira membuka pintu mobil Axell dan bergegas keluar untuk segera menuju ke kelasnya disusul Axell setelah gadis itu berjarak sekitar beberapa meter darinya.


Lagi, tanpa Axell mau pun Dira sadari. Ada sepasang mata yang tengah mengamati interaksi keduanya dari kejauhan. Ia bahkan tersenyum miring sambil menganggukkan kepalanya seakan baru saja menangkap basah seorang pencuri.


"Gotcha!"

__ADS_1


__ADS_2