Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
27. Lo mau ikut? (Axello)


__ADS_3

"Pagi, non Dira." Sapa bi Sumi, salah satu ART yang yang telah lama bekerja di rumah papa Dira.


"Pagi juga, bi. Em... bi, papa sama Mama dimana ya, kok ngga kelihatan?" Tanya Dira yang tidak melihat adanya papa Pras dan juga mama Diva.


"Anu, non. Tuan sama nyonya lagi pergi ke Bandung, non. Tadi pagi-pagi sekali, katanya ada urusan mendadak. Nyonya juga pesen suruh nyampein ke non Dira." Jawab bi Sumi menjelaskan. Dira mengangguk.


"Ya udah ya, bi. Dira mau balik ke kamar dulu." Ucap Dira sambil berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya.


Ceklek...


Dira membuka pintunya perlahan dan tak lupa kembali menutupnya dengan pelan, takut membangunkan seseorang yang mungkin masih tidur di ranjangnya.


Dira berjalan mendekat ke arah nakas dimana ia meletakkan ponselnya semalam. Gadis itu berniat untuk menelpon mama Diva atau papa Pras untuk menanyakan keberadaan keduanya sekarang.


📞 Calling mama Diva...


"Halo, ma."


"(....)."


"Belum, ma. Dira baru aja bangun."


"(....)."


"Iya, ma. Nanti, Dira belum mau makan."


"(....)."


"Iya, ma. Mama kapan pulang."


"(....)."


"O ya udah kalo gitu. Dira tutup dulu ya teleponnya."


Tuutt...


Panggilan telepon antara mama Diva dan Dira pun berakhir. Dira menghela nafas pelan dan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Tanpa sadar sepasang mata memperhatikannya dari sejak ia masuk kamar tadi.


"Ada apa?" Tanya seorang cowo yang Dira kenali itu.


Dira menoleh ke arah seseorang yang bertanya padanya tadi dan menggelengkan kepalanya, "Nggak ada apa-apa, kak." Jawab Dira.


Axell menghela napas pelan. Ia tahu, gadis di depannya sangat tertutup padanya.


"Lo udah makan?" Tanya Axell lagi.


Dira menggeleng pelan, "Belum, kak." Jawabnya.


Axell melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 08.50. Nampak kedua alisnya terangkat. Merasa ini sudah semakin siang, tapi kenapa gadis di depannya ini belum makan?


"Udah jam segini, kenapa Lo nggak makan?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Tadi aku udah turun mau sarapan, kak. Tapi mau telepon mama dulu, jadi belum sarapan." Jawab Dira.


"Telepon mama? Mama kemana?" Tanya Axell ingin tahu.


"Ke Bandung sama papa." Jawab Dira.


Axell mengangguk. "Mau sarapan bareng?" Ajak Axell pada Dira.


Dira menganggukkan kepalanya, "Boleh." Jawab gadis itu.


Keduanya pun keluar kamar untuk sarapan. Sampai di meja makan, Dira dan Axell pun duduk berhadapan.


"Kak Axell mau sarapan apa?" Tanya Dira.


"Apa aja." Jawab Axell singkat sambil mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Axell tengah berbalas pesan dengan salah satu orang kepercayaannya di d'Axe Cafe.


"Mau nasi atau roti?" Tanya Dira lagi lebih spesifik.


Axell menatap ke arah Dira sesaat, sampai akhirnya menjawab, "Roti aja." Jawab Axell. Axell memilih roti karena lebih ringan menurutnya. Karena 2 jam lagi sudah memasuki jam makan siang.


Dira lalu mengambil dua lembar roti dan selai coklat. Ia mengoleskan selai pada lembaran roti tersebut lalu memberikannya pada Axell. Tak lupa juga ia menuangkan segelas susu hangat dan memberikannya pada suaminya itu.


"Makasih." Ucap Axell pada Dira. Dira menganggukkan kepalanya pelan, dan ikut memakan roti yang telah ia olesi selai tadi.


Selesai makan Dira berniat untuk membereskan bekas makan mereka tadi. Dira berinisiatif untuk mencuci piring dan gelas itu sendiri. Sampai pada akhirnya datanglah bi Sumi. "Biar bibi saja, non, yang beresin." Ucap bi Sumi yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.


"Dira bisa kok, Bi. Ini kan cuma dua piring dan dua gelas." Ucap Dira yang menolak bi Sumi yang ingin menggantikannya untuk mencuci piring. Dira merasa bisa melakukannya karena memang ia yang sudah terbiasa bersih-bersih sendiri di apartemennya.


"Bibi aja ya, non!" Bujuk bi Sumi lagi yang masih mendapat penolakan dari Dira.


Sementara Axell yang masih fokus dengan ponselnya kini beralih menatap Dira dan bi Sumi yang memperebutkan perihal cuci piring. Sampai akhirnya Bu Sumi kembali berkata, "Jangan, non Nanti non Dira kecapekan, sakitnya kambuh gimana? Tuan sama nyonya kan lagi nggak ada di rumah, non!" Bujuk bi Sumi lagi.


"Huuhh... Bibi!" Keluh Dira lirih. Bi Sumi yang sadar dengan ucapannya pun refleks menutup mulutnya.


Sementara Axell yang tak sengaja mendengar apa yang di katakan oleh bi Sumi pun menghela nafas pelan. Ia tahu Dira sedang menutupi sesuatu darinya.


"Ya udah deh, bi." Ucap Dira pasrah. Gadis itu tak lagi membatah. Dira lalu pergi berjalan meninggalkan meja makan di ikuti Axell yang juga berjalan di belakangnya. Laki-laki itu akan bersiap-siap untuk pergi ke kafe hari ini.


"Em... bi. Nanti tolong bikinin Lemon tea anget sama bawain cemilan ke kamar, ya!" Ucap Dira pada bi Sumi.


"Siap atuh, non." Jawab bi Sumi sambil mengacungkan jempolnya.


...***...


Saat Dira memasuki kamar, dilihatnya Axell sedang memakai kemeja dengan kaos dalaman yang ia pakai saat sarapan tadi. Untuk sepersekian detik, tatapan mata keduanya pun bertemu. Sampai akhirnya Dira memutus kontak mata dan menundukkan kepalanya.


"Jadi, Mama sama papa ke Bandung ? Kapan berangkatnya?" Tanya Axell sambil memakai jam tangannya.


"Iya, pagi tadi." Jawab Dira pelan.


"Pulangnya?" Tanya Axell lagi.

__ADS_1


"Kata mama Diva, nanti sore pulang." Jawab Dira sambil membuang tisu basah ke tempat sampah yang terletak di sudut ruangan.


'Mama Diva?'


Kenapa Dira memanggil mamanya sendiri dengan embel-embel nama? Lewat sepersekian detik Axell menganggukkan kepalanya mengerti. Setahu Axell mama Dira sudah meninggal dari cerita Nayla yang ia dengar. Lalu sekarang orang yang ia panggil mama Diva itu Axell sudah bisa menebaknya, pasti buka mama kandung Dira. OK, Axell mengerti sekarang.


"OK, gue mau pergi bentar, ada sesuatu yang harus gue urus. Lo mau ikut?" Ucap Axell sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Dira menoleh sesaat ke arah Axell lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak, kak. Gue mau seharian di rumah. Besok udah mulai sekolah, kan?" Jawab Dira


"OK, Kalo gitu gue pergi. Lo di rumah nggak pa-pa?" Tanya Axell. Dira menganggukkan kepalanya pelan. Axell menatap Dira sesaat lalu keluar kamar dan hilang di balik pintu.


...***...


Sesampainya di d'Axe Cafe, Axell langsung di sambut dengan kedua sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Verrel dan juga si tengil Babas.


"OK, Bas. Kita siap interogasi." Ujar Verrel saat melihat Axell yang berjalan memasuki kafe. Mendengar apa yang dikatakan Verrel barusan, membuat Bastian refleks menoleh ke belakang. Dan benar saja, Axell tengah berjalan mendekat ke arah mereka.


Interogasi? Emangnya Axell habis ngapain? Axell kan nggak ngapa-ngapain. Dia hanya tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Bukan apa-apa, sih kalau Axell tidak masuk sekolah, apalagi cuma dua hari. Itu tidak akan membuatnya ketinggalan pelajaran. Karena Axell adalah siswa yang cerdas dan pintar. Lagi pula itu sekolah kan milik orang tuanya. Tapi bukan itu poin pentingnya. Seorang Axell bolos sekolah? Ini bukan hal yang biasa dari laki-laki itu. Dan hal itu lah yang menjadi alasan untuk Verrel dan juga Bastian datang ke kafe milik Axell hari ini.


Mereka ingin mencari tahu.


"Wih... Si bos kafe, baru kelihatan. Dari mana aja, bos? Pake segala acara nggak masuk sekolah lagi." Cerocos Bastian saat Axell sudah duduk bergabung dengannya dan juga Verrel.


"Dari kemarin gue juga coba hubungin Lo, tapi nggak bisa, Man. Lo kemana? Kabur lagi keluar negri?" Tanya Verrel sembari menyidir sahabatnya itu.


Axell melirik ke arah Verrel sekilas. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke samping. Temannya itu masih saja mengungkit kejadian saat Axell kabur dulu. "Gue ada urusan." Jawab Axell singkat.


"Ck. Sok sibuk, Lo!" Cibir Bastian.


Enggan menanggapi, Axell hanya menghembuskan nafasnya kasar. "Ada apa?" Tanya Axell pada kedua sahabatnya itu tak sabaran.


"Tau nggak, gue ketemu sama siapa kemarin?" Tanya Verrel ingin tahu reaksi dari sahabatnya itu.


Tak ingin menjawab, Axell hanya menarik satu alisnya. Dan benar saja, sesuai dugaannya, Axell tidak akan bereaksi apapun Laki-laki itu hanya mengangkat satu alisnya. Axell tidak pernah berubah, dan selalu seperti itu.


"Jadi gini. Gue ketemu sama Rere kemarin... Dia nanyain Lo!" Ucap Verrel sambil memperhatikan wajah Axell. Verrel begitu penasaran. Kira-kira seperti apa reaksi Axell kali ini.


"So, apa hubungannya tuh cewe sama gue?" Tanya Axell malas. Sungguh Axell enggan berurusan lagi dengan gadis yang akrab di sapa Rere itu.


*Reader : Rere siapa?


Author : Nanti juga tahu jawabannya.


"Ya kali aja Lo seneng bisa denger lagi kabar dari dia. Apa lagi dia nanyain Lo." Jawab Verrel sembari terus memperhatikan Axell, ia ingin tahu reaksi Axell setelahnya.


"Basic". Hardik Axell.


"Tuh kan. Apa gue bilang, Rel. Ini sobat kita kek nya udah pindah haluan." Celetuk Bastian asal. Sementara Verrel, ia hanya terkikik pelan mendengar apa yang di katakan Bastian tadi.


Axell hanya melirik ke arah Bastian sekilas. Ia tak ingin ambil pusing dengan apa yang di katakan Bastian tentangnya. "Gue ke dalem dulu." Ucap Axell yang lebih memilih pergi ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Melihat respon Axell yang terkesan tak lagi peduli, Verrel jadi ingat akan sesuatu. Dimana ia mengira kalau sahabatnya itu kini tertarik dengan adik kelasnya, Dira.


'Gue dukung Lo, sobat.'


__ADS_2