Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
162. Dira pulang, Axell senang.


__ADS_3

Guru yang mengajar di kelas berjalan keluar setelah bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini berbunyi. Semua penghuni kelas pun mengemasi buku beserta jajarannya. Mereka memasukkan alat tulis tersebut ke dalam tas masing-masing, dan beranjak meninggalkan kelas.


Tak jauh berbeda. Melody pun melakukan hal yang sama, di susul Zaki yang kini berjalan beberapa langkah di belakang gadis itu.


Ting


Bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel Melody, membuat gadis itu memperlambat langkahnya saat melihat isi pesan balasan dari seseorang yang tadi pagi ia kirimi pesan.


"Dira udah pulang." Gumam Melody lirih.


Zaki yang kini berjalan di samping gadis itu menoleh, "Hah.. Kenapa, Mel?" Tanyanya yang tidak sengaja mendengar gumaman Melody barusan. "... Lo ngomong sesuatu?" Tanya Zaki yang kini tengah membukakan pintu mobil untuk Melody.


Melody masuk ke dalam mobil Zaki dan memasang lock safety belt-nya. Lalu menoleh pada Zaki yang kini sudah duduk dengan nyaman di bangku pengemudi. "Ini ... Dira barusan bales chat gue. Katanya dia udah pulang dari rumah sakit." Jawab Melody sambil mengetikkan pesan balasan untuk Dira.


"O ... Ya bagus dong kalo dia udah pulang. Itu berarti keadaan dia udah jauh lebih baik." Jawab Zaki ikut senang. Laki-laki itu menoleh saat akan mengeluarkan mobilnya dari parkiran.


"Gimana kalo kita jengukin Dira? Sekalian gue mau ngasih buku catetan buat dia." Ajak Melody.


Zaki menoleh ke arah Melody sekilas. Lalu kepalanya mengangguk setuju, "Oke. Tapi kita mampir ke mini market dulu." Jawab Zaki yang kini sudah menjalankan mobilnya keluar dari gerbang sekolah.


"Okelah. Tapi ada satu masalah, kita nggak tau di mana rumah Dira?" Tanya Melody.


Memang benar. Melody baru ingat, selama ia kenal dengan Dira, ia belum pernah sama sekali menanyakan dimana teman sekelasnya itu tinggal.


Zaki tersenyum. Ia tahu harus kemana? Mengingat ia tadi sempat melihat Axell di sekolah. Bukankah tadi Melody bilang kalau Dira baru pulang dari rumah sakit? Jadi tidak mungkin kan Dira sendirian di apartemen sekarang ini?


"Gue tau Dira di mana." Jawab Zaki yang kini membelokkan mobilnya ke mini market di tepi jalan.


Melody memincingkan matanya ke arah Zaki, "Lo tau rumah Dira?" Tanya Melody tak percaya sekaligus penasaran. "... dimana?" Tanyanya lagi.


"Entar Lo juga tau sendiri. Ayo masuk dulu, nggak mungkin kan Lo jengukin Dira pake tangan kosong?!" Jawab Zaki yang kini membuka pintu mobil dan keluar untuk masuk ke minimarket. Di susul Melody yang juga berjalan saru langkah di belakangnya.


...***...


Axell fokus mengemudi dengan senyum yang menghias di wajah tampannya. Bagaimana tidak? Tadi pagi Om David mengabarinya kalau Dira sudah di perbolehkan pulang hari ini. Karena terlalu senang, Axell langsung menelpon sang asisten untuk stand by di rumah sakit dan bersiap di sana jika bunda Resty dan Dira pulang pulang sewaktu-waktu.


Dan ... Baru saja Axell mendapat telepon dari bunda Resty, yang mengatakan kalau beliau sudah sampai di rumah bersama dengan Dira. Axell jadi semakin tidak sabar untuk segera sampai di rumah dan menemui istrinya itu.


Di saat fokus mengemudi, Axell terkekeh sendiri. Ia teringat dengan kejadian semalam.

__ADS_1


Dimana Dira yang dengan sengaja usil memanggilnya 'Xello'. Lalu Axell menghukumnya dengan menggelitik pinggang istrinya itu dengan gemas. Dan Axell baru berhenti menggelitik saat Dira merengek meminta ampun karena mengeluh sakit di perutnya, karena ia terlalu banyak tertawa.


Tiba-tiba Axell menggeleng pelan. Mengenyahkan seseorang yang sempat terbesit di pikirannya.


Dulu saat Axell masih menjalin kasih dengan Renata, ia akui kalau ia terbilang cowok yang posesif. Mungkin karena dulu ia memang sangat mencintai Renata waktu itu. Dan bahkan rela melakukan apa saja demi membuat gadis itu selalu bersamanya.


Namanya juga Cinta pertama. Wajar kan?


Dan saat ini, saat statusnya telah menjadi suami sah dari Dira. Axell pun merasakan kalau ia masih orang yang sama.


Tak jauh berbeda saat dengan Renata dulu, Kini Axell pun masih sama posesifnya. Hanya saja, sifat posesif Axell terasa lebih menggebu sekarang.


Mungkin karena pernah merasakan sakitnya kehilangan, di tambah dengan statusnya dan Dira yang lebih sakral karena berada dalam ikatan suci pernikahan. Rasa ketakutan Axell akan kehilangan Dira jadi semakin besar.


Axell akan melakukan apa saja demi kebahagian Dira dan itu janjinya. Meski tidak ia ucapkan pada Dira secara langsung. Tapi Axell tetap pada tekatnya. Dan Axell harap, tuhan selalu membersamainya.


Axell melihat jam tangannya. Kalau Derry serius dengan ucapannya kemarin, harusnya Axell sudah mendapat surat panggilan dari kepolisian.


Tapi entah, hari sudah semakin sore. Dan pandu - Asistennya itu tidak mengatakan apapun.


Itu tandanya Derry memang belum membuat laporan atas dirinya. Atau mungkin ... memang tidak jadi melaporkannya.


Axell menginjak rem saat lampu merah. Ia menoleh kesamping. Lalu satu sudut bibirnya tertarik beberapa detik setelahnya.


Axell melihat toko bunga bertuliskan the florist. Toko bunga yang sangat ia tahu siapa pemiliknya.


"Toko bunga bukan cuma the florist, kan?" Monolog Axell. Lalu ia kembali menjalankan mobil setelah lampu berubah menjadi hijau. Axell memutuskan untuk singgah ke toko bunga sebelum ia sampai ke rumah.


Ya, Axell akan membeli 2 buket bunga yang akan ia berikan pada dua wanita yang begitu di cintainya.


...***...


Melody berdecak kagum saat melihat bangunan-bangunan rumah yang terbangun dengan begitu mewah dan megah yang sedang ia lewati bersama Zaki.


Jarak rumah satu dengan yang lainnya pun terbilang agak jauh karena memang rumah-rumah tersebut memiliki halaman yang sangat luas. Bahkan jarak pintu gerbang hingga sampai ke rumah terbilang jauh.


Yap, mereka sedang berada di komplek perumahan elit The Royal Palace.


Komplek perumahan orang-orang dari kelas atas. Dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mendirikan bangunan di sana. Mengingat harga jual tanahnya saja bikin orang geleng-geleng kepala saking mahalnya.

__ADS_1


Mata Melody tiba-tiba membulat, saat ia menyadari satu hal. Ia ingat, Zaki juga tinggal di salah satu rumah mewah tersebut. Ia melirik cowok yang sedang mengemudi di sampingnya.


"Lo nggak lagi mau bawa gue ke rumah Lo, kan?" Tebak Melody. "... jangan bilang kalo Lo mau apa-apain gue?!" Tuduh Melody setelahnya.


Tugh!


"Aduh!" Pekik Melody yang tiba-tiba kesakitan. Ia tidak terima dengan Zaki yang dengan santainya menjitak dahinya. "... Sakit tau!"


"Kalo laper bilang, bukannya malah nuduh orang macem-macem!" Jawab Zaki asal. "... Bawa Lo ke rumah? Emang Lo udah siap gue apa-apain?" Zaki mendengus. Bisa-bisanya Melody menuduhnya. "... Sekarang gue tanya sama Lo, Tujuan awal kita mau kemana? Bukanya kita mau jengukin Dira tadi?" Tanya Zaki.


"... Emang ya, nggak Lo nggak Nayla, pikiran ciwi emang suka kadang-kadang." Tambah Zaki dengan cibiran.


Melody memanyunkan bibirnya dengan tangan yang masih sibuk mengusap dahi. "Ya kali aja bener? Habisnya Lo dari tadi gue tanya di mana rumah Dira nggak mau jawab."


Tak menjawab, Zaki kembali mendengus. Lalu tangannya memutar setir mobil sedikit tajam untuk berbelok.


"Tunggu gerbang itu terbuka sempurna. Semua jawaban atas pertanyaan Lo, ada di dalam rumah itu." Ucap Zaki yang kini kembali melajukan mobilnya, memasuki halaman luas rumah yang tampilannya paling mencolok di antara rumah-rumah yang Melody lewati sebelumnya.


...***...


Turun dari mobil, Zaki santai melangkah menaiki undakan tangga meninggalkan Melody yang beberapa langkah di belakangnya.


Melody menghentakkan kaki, melihat Zaki yang sepertinya memang sudah terbiasa mendatangi rumah tersebut.


Tangan Zaki terangkat untuk memencet bel rumah. Tak lama kemudian pintu di buka oleh wanita paruh baya. Melody bisa menebak, wanita itu ART di rumah yang mereka datangi saat ini


"Lho ... den Zaki. Masuk, den!" Sapa wanita itu ramah. ART itu lalu beralih menatap Melody dan mengangguk sopan. "... den Zaki lama nggak main, sekali main bawa gadis cantik. Pacarnya ya, den?"


Zaki melangkah masuk sambil terkikik sendiri. Kepalanya mengangguk mengiyakan ucapan ART itu.


"Ya gimana ya, bi? Habisnya saya nggak mau bikin anggota baru rumah ini tau, kalo kita ini tetanggaan ... bisa shock dia." Jawab Zaki yang kini langsung duduk di sofa ruang tamu. Sementara Melody masih berdiri di samping Zaki dengan tatapan bingung tentang rumah siapa yang mereka datangi ini.


ART itu ikut tertawa pelan, ia tau siapa yang di maksud oleh Zaki. "Jadi den Zaki sama non -"


"Iya, bi." Jawab Zaki sengaja memotong ucapan Wanita paruh baya itu.


"Kalo begitu, silahkan duduk dulu, non! Bibi mau buatkan minum dulu sekalian panggil non -"


"Oke, bi." Zaki mengedipkan satu matanya. "... Kita tunggu di sini." Jawab Zaki yang kembali memotong ucapan wanita itu.

__ADS_1


"Zak... sebenarnya ini ...


__ADS_2