
Flashback on
'"Kenapa Lo jadi tanya ke gue?'' Tanya Bastian dengan nada yang terdengar ketus di pendengaran Arfen.
''Karena gue pikir Lo tau semuanya.'' Jawab Arfen cepat.
''Dan Lo pikir gue akan kasih tau Lo?'' Tanya Bastian tak kalah cepat.
"Ya. Karena kita sahabat."
Bastian terkekeh di seberang sana mendengar kata sahabat yang keluar dari mulut Arfen. "... Arfen... Arfen... kalo mau ngigau, seenggaknya Lo harus tidur dulu!" Ejek Bastian.
"Bas! Gue serius!" Tegur Arfen dan berhasil menghentikan kekehan Bastian yang masih terdengar jelas. "... Selama ini gue masih anggep kalian sahabat gue. Jadi tolong, jawab pertanyaan gue!"
Tak langsung mendapat jawaban, Arfen malah mendengar Bastian menghela nafas. Keduanya saling diam hingga beberapa menit berlalu.
"Justru seorang sahabat akan menjaga privasi sahabatnya, Ar! Gue emang tau banyak hal tentang mereka. Tapi sorry! Bukan berarti gue bisa lancang kasih tau hal itu ke Lo."
"Cckk." Arfen berdecak mendengar ucapan Bastian. Bastian memang benar. Kalau ia berada di posisi Bastian seperti sekarang ini, ia pasti akan melakukan hal yang sama.
"Gue nggak bisa kasih tau Lo ... tapi gue bisa kasih Lo saran!" Arfen tak menyahut. Ia memilih diam dan mendengarkan, apa yang akan Bastian katakan setelahnya.
"Buntutin kemana Axell pergi, maka Lo akan dapat semua jawaban yang Lo cari."
"Buntutin Axell??" Arfen terdengar tak yakin, "... Lo gila!"
Bastian kembali terkekeh di sana. "Lo baru tau? Bukannya diantara kita berempat, Lo yang paling waras?"
Keduanya kembali diam, hingga Bastian kembali bersuara. "...Gue serius, Ar! Lo akan dapat apa yang Lo cari kalo Lo ikutin saran dari gue!"
Flashback off.
Arfen menghela nafas setelah teringat dengan percakapannya dengan Bastian beberapa waktu lalu melalui sambungan telepon. Dan siapa sangka? Ia benar-benar mengikuti saran dari sahabat tengilnya itu. Terhitung, ini kali kedua ia mengikuti saran gila dari Bastian.
Mengikuti kemana pun Axell pergi.
Dan disinilah Arfen sekarang, di sebrang jalan dekat rumah besar milik keluarga Marvellyo. Rumah yang sering ia kunjungi beberapa tahun lalu.
Iya, kemarin Arfen memang sudah mencoba mengikuti Axell mulai dari berangkat sekolah dan berakhir di d'Axe kafe. Dari yang menggunakan jasa orang lain, hingga dirinya sendiri. Namun sayang, ia belum menemukan apapun.
Dan sekarang ini, Arfen akan mencobanya lagi.
Terhitung lewat dari 30 menit Arfen menunggu, kepala Arfen tertoleh ke samping saat menyadari pintu gerbang tinggi itu yang mulai terbuka, lalu muncullah tiga orang berseragam serba hitam yang dua diantaranya asing menurut Arfen.
__ADS_1
Arfen menarik satu alisnya. Pintu itu sudah terbuka sempurna, namun tidak ada mobil yang keluar ataupun masuk melewati gerbang tersebut.
Tunggu! Bukan tidak ada, tapi belum. Karena lewat dari 10 menit kemudian, keluarlah satu mobil sedan mewah warna silver. Mobil dengan plat nomor yang masih sangat Arfen ingat siapa pemiliknya.
"Om Marvell." Gumam Arfen dengan mata yang menyipit, ketika melihat ayah dari Axell yang duduk di belakang si pengemudi.
Mobil itu melaju pelan untuk menyebrang jalan, lalu semakin cepat saat sudah di jalan yang semestinya.
Arfen menghela nafas, ini sudah semakin siang. Bahkan jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 06.25. Arfen tahu betul, Axell selalu berangkat pagi ke sekolah, dan di jam seperti sekarang ini, harusnya tuan muda itu sudah keluar dari rumahnya bukan?
Atau jangan-jangan ... Axell sedang tidak di rumah?
Memilih untuk pergi dari tempatnya berdiam diri sekarang ini, tangan Arfen terangkat untuk meraih kaca mata hitam yang terletak di atas dasboard mobilnya. Baru akan memakainya, tiba-tiba suara deru mesin motor sport terperangkap di pendengaran Arfen. Ia menoleh dan mendapati seorang Axell yang mengendarai motor sport warna hitam, keluar dari pintu gerbang rumahnya. Bersama dengan seorang gadis diboncengannya.
Mata Arfen menyipit, tak yakin dengan apa yang ia lihat. Hingga akhirnya sepasang mata itu melebar.
"Dira!" Lirihnya.
Arfen seperti tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat sekarang ini. Mereka berangkat sekolah bersama dari rumah Axell.
Apa Dira sengaja mendatangi rumah Axell pagi-pagi sekali hanya untuk berangkat sekolah berdua? Atau mungkin ...
'Gue sering mergokin si Dira-Dira itu, keluar masuk Greenland Residence bersama dengan seorang Axello...'
'Mereka tinggal bareng...'
Buugh!! Arfen memukul stir mobilnya dengan kuat. Ucapan Derry beberapa waktu lalu entah mengapa selalu muncul ketika ia memikirkan Dira.
Arfen seperti dipaksa untuk percaya dengan fakta yang ada. Termasuk dengan fakta yang Derry berikan. Tapi, apa dia bisa percaya dengan apa yang ia lihat? Masihkan ia memegang teguh penilaiannya tentang Dira yang masih sama seperti dulu, gadis yang ia kenal lugu dan polos itu?
Ia menolak kenyataan, tapi ... semuanya seperti mendorongnya untuk percaya.
Cukup! Arfen tidak bisa untuk terus berdiam diri di mobil seperti sekarang ini. Ia harus mencari jawabannya.
Arfen kembali menghela nafas, sebelum akhirnya ia mulai menyalakan mesin mobilnya dan menyebrang jalan.
...***...
"Arfen?" Sapa Bunda Resty tak percaya, namun masih terdengar ramah. "... Waah... Ini kejutan, sayang!" Lanjutnya berbinar. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat dan menyambut tangan Arfen yang terulur padanya. Membiarkan anak laki-laki yang seumuran dengan putranya itu mencium tangannya.
"Pagi, Bunda." Ucap Arfen setelah mencium tangan Bunda Resty. "... Bunda sehat?" Tanyanya.
"Sehat dong, sayang! Kamu nggak liat, bunda sehat begini?" Jawab bunda Resty enteng. Arfen terkekeh membenarkan jawaban bunda Resty.
__ADS_1
"Sudah lama Arfen nggak main ke sini? Tumben main ke rumah bunda?!" Bunda Resty tiba-tiba menelisik penampilan Arfen karena sadar dengan satu hal. "... Kamu bolos!" Tuduh Bunda Resty dengan begitu yakin. Pasalnya, saat ini Arfen mengenakan celana seragam sekolah, hanya saja bajunya tertutup dengan Hoodie yang sengaja Arfen pakai.
Arfen kembali terkekeh, "Tadi kejebak macet di jalan, Bun. Dari pada lanjut ke sekolah kena hukuman, mending Arfen kesini aja, ketemu sama bunda sekaligus numpang sarapan." Jawab Arfen asal. "... Arfen lapar, Bun ... belum sarapan." Keluhnya.
Bunda Resty menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan pemikiran pemuda di depannya ini. "Kamu ini, ya. Pinter kalo cari alasan buat ngejawab ucapan bunda. Udah kelas 3 juga. Bentar lagi ujian lho, Fen! Jangan sampai kamu nggak lulus ujian sekolah karena kebanyakan bolos!" Tegur bunda Resty.
Arfen tertawa pelan, "Bunda tenang! Arfen pasti lulus kok." Ujar Arfen dengan begitu yakin. Detik kemudian ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, lalu menghela nafas dengan pandangan menunduk setelahnya.
Bunda Resty memperhatikan Arfen diam-diam. Anak laki-laki di depannya ini seperti sedang menahan sesuatu, itu yang sedang bunda Resty rasakan saat ini.
"Ada apa Arfen?" Tanya bunda Resty terdengar lembut. "... apa yang membawamu kesini?" Tanya bunda Resty lagi.
Arfen diam. Ia kembali menghela nafas dan menggeleng pelan.
"Jangan bohong sama bunda! Bunda tau, pasti ada sesuatu yang membawamu kesini?" Tebak bunda Resty.
"... Dan itu hal yang besar." Tambah bunda Resty.
Arfen mengangkat pandanganya. Kenapa feeling seorang ibu selalu kuat?
"Arfen beneran mau kesini, bun. Sudah lama Arfen nggak kesini, kan?" Jawab Arfen yang sebenarnya tidak bisa dikatakan bohong. Arfen memang sudah lama tidak datang berkunjung, walau sebenarnya bukan itu alasan Arfen datang pagi ini.
Kali ini bunda Resty yang menghela nafas. Ia tahu, ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Arfen saat ini. Tak lama kemudian bunda Resty mengangguk paham. Ia tahu sekarang.
"Apa ini ada hubungannya dengan ... Dira?" Satu pertanyaan yang berhasil membuat Arfen terpaku.
Ya. Entah mengapa hanya dengan mendengar nama Dira keluar dari mulut bunda Resty, Arfen seperti merasakan dirinya yang sekarang ini sedang di kelilingi ribuan bom yang siap meledakkan dirinya. Kaku dan nggak bisa gerak.
"Bunda kenal Dira?" Tanya Arfen setelah berhasil menguasai diri.
Bunda Resty diam sesaat lalu mengangguk pelan. Alasan Arfen datang pagi ini adalah memang benar karena menantu cantiknya.
Bunda Resty menatap Arfen iba. Jelas terlihat, ada rasa yang terpendam dalam diri Arfen seperti apa yang putranya katakan. Arfen bahkan diam, seakan menunggu kalimat yang akan bunda Resty katakan setelahnya. Merasa tak tega, tapi bunda Resty pikir Arfen memang harus tahu yang sebenarnya.
"Dia adalah menantu bunda."
DUUAARRR!!!!
...***...
*Hai Zheyeng-zheyengku semua 👋🏻...
*Hari ini hari spesial othor, makanya hari ini othor berbaik hati dan sempetin buat up date cerita Raxell yang 'agak' lama Hiatus.
__ADS_1
*Adakah yang mau kasih ucapan selamat atau doa?
*Makasih, sama² 😘🤭🤗👋🏻...