Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
153. Kekhawatiran Axello.


__ADS_3

Ceklek!


Axell keluar dari dalam kamar mandi dengan tampilan yang lebih fresh. Ia terlihat jauh lebih segar dan tampan seperti biasanya.


Bunda Resty tersenyum melihat tampilan putranya yang sudah berubah dari saat laki-laki itu baru sampai tadi.


"Boy, kamu sudah makan?" Tanya bunda Resty pada sang putra.


Axell yang sekarang ini berjalan mendekat pada brankar Dira hanya menggeleng samar. Ia belum makan. Siang tadi pun ia hanya makan sedikit sebelum meeting.


"Axell nggak lapar, Bun." Bunda Resty menghela nafas mengingat siapa putranya itu. Ia hampir 90% copy-nan Ayah Marvellyo.


Jadi di saat seperti ini, putranya itu pasti akan sangat sulit untuk di bujuk. Apalagi hanya untuk sekedar makan.


Sekarang ini di ruangan Dira hanya tinggal Axell dan Bunda Resty. Semua sahabat Dira dan Axell pamit pulang saat Axell masih mandi tadi. Karena hari yang memang sudah mulai gelap.


Sementara ayah Marvellyo dan Pak Septa, keduanya juga baru saja meninggalkan ruangan tersebut beberapa menit yang lalu.


"Boy, bagaimana pun juga kamu tetap harus makan. Dira sudah tidak apa-apa. Percaya sama Bunda!" Ucap Bunda Resty yang kini sudah berdiri di belakang Axell. Tangan Bunda Resty menepuk pelan kepala sang putra seakan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tangan Axell bergerak untuk menggenggam tangan Dira yang terbebas dari selang infus.


"Bun..." Panggil Axell menggantung. Pandangannya masih betah menatap wajah sang istri yang masih sama seperti tadi - pucat.


"Katakan, boy! Jangan biarkan apapun mengganggu pikiranmu!" Ucap Bunda Resty saat melihat Axell yang kembali memilih diam dan tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa dulu ayah sama Bunda jodohin Axell dengan Dira, padahal masih banyak gadis di luar sana? Maksud Axell ... Kenapa Dira? Apa alasannya?" Tanya Axell pelan.


Bunda Resty tertegun mendengar pertanyaan Axell. Selama ini Axell hanya menerima perjodohan dan tidak pernah menanyakan alasan kenapa dia dijodohkan dengan Dira. Lalu sekarang, apa putranya itu menyesal tiba-tiba?


Bunda Resty menghela nafas lalu tersenyum, "Kenapa kamu ingin tahu, boy? Setahu Bunda, kamu bahagia-bahagia saja menikah dengan Dira ..." Bunda Resty menahan untuk tidak tersenyum saat ia kembali mengingat perlakuan Axell pada Dira selama lebih 3 bulan ini, Saat mereka sedang di rumah. "... jangan bilang kamu menyesal telah menikahi Dira selama ini?" Tanya bunda Resty pura-pura menuduh.


Axell beralih menatap Bunda Resty tak percaya. Bisa-bisanya bundanya itu menanyakan sesuatu hal yang tidak masuk akal? Setelah mengingat apa yang ia lakukan pada Dira dan apa yang telah terjadi sekarang ini. Kenapa bundanya ini bisa bertanya seperti itu? Tidakkah bundanya itu memperhatikan sikapnya pada Dira selama ini?


"Axell sayang sama Dira, Bun. Justru Axell mau berterima kasih karena telah memilihkan istri seperti Dira untuk Axell." Bunda Resty kembali tersenyum.


"Karena menurut Bunda, Dira adalah gadis yang baik untuk anak bunda. Selain itu, Dira juga anak dari almarhum sahabat bunda dan ayah." Axell diam, ia ingat Nayla pernah bercerita kalau mama kandung Dira telat meninggal.


Kini pandangan Axell kembali menatap wajah Dira. Ini sudah hampir 2 jam sejak ia kembali dari rumah Renata.


Lalu kenapa istrinya itu tidak kunjung bangun?


'Kuretase?'

__ADS_1


Tiba-tiba Axell teringat sesuatu. Mendadak pikirannya jadi semakin khawatir. "Tapi Dira masih bisa hamil lagi kan kan, Bun?" Tanya Axell yang tiba-tiba terdengar cemas.


Bunda Resty kembali tertegun mendengar pertanyaan yang kembali Axell ajukan. "Apa yang kamu pikirkan, boy? Dira hanya menjalani operasi pembersihan rahim, bukan pengangkatan rahim. Tentu saja bisa. Hanya saja, butuh waktu minimal 3 bulan agar dia bisa kembali hamil lagi."


'Tiga bulan?'


Axell terdiam. Ia teringat jarak lahir antara kedua sepupunya, Rheyhan dan Andes. Keduanya berjarak 18 tahun. Ia masih ingat, tantenya dulu juga pernah di kuretase pasca keguguran.


"Bun, tapi Tante Livia - " Axell kembali diam. Lalu menggeleng. Ia segera menepis pikiran buruk yang sempat terlintas di benaknya.


"Boy, Bunda tahu apa yang kamu pikirkan. Jodoh, maut dan rezeki itu Tuhan yang menentukan. Kalau Tante Livia butuh waktu 18 tahun untuk kembali hamil pasca keguguran calon adiknya Reyhan, belum tentu Dira akan mengalami nasib yang sama."


Axel kembali menghela nafas. Apa yang bundanya katakan memang benar.


'Semoga saja!'


"Bunda nggak pulang? Bunda harusnya istirahat di rumah. Biar Axell yang jagain Dira!" Ujar Axell.


"Bunda pengen di sini temani kamu jaga Dira."


...***...


Tadi ia sempat meminta Pandu untuk membawakan ponselnya yang tertinggal di kantor. Sekaligus untuk mengantarkan Bunda Resty pulang. Hari sudah semakin malam dan Axell pikir, bundanya itu tidak akan nyaman tidur di rumah sakit. Padahal Axell tau, sang bunda juga butuh istirahat.


Axell tak ingin dua perempuan kesayangannya itu sakit di saat bersamaan.


Bunda Resty sempat menolak permintaan Axell yang memintanya pulang, karena ia ingin menemani sang putra menjaga Dira di rumah sakit. Tapi Axell bersih kuku bisa menjaga Dira sendirian.


Tepat saat Axell menutup pintu ruang rawat Dira, pintu ruang rawat yang berada di samping ruangan Dira terbuka dan menampilkan seseorang yang sedang berbicara melalui sambungan telepon.


"Lo udah sampai mana? Perjalanan dari apartemen Lo ke sini nggak sampai setengah jam!" Tanya orang itu.


"Santai, Man! Gue udah di depan!" Jawab seseorang dari seberang sana.


"Ya udah. Cepetan!" Panggilan itu terputus dan seseorang itu kembali masuk ke ruangan di mana ia keluar sebelumnya.


Ceklek.


Pintu ruang rawat tersebut terbuka dan muncul lah seseorang di baliknya. Seorang cowok dengan ponsel di tangan kanan, jaket denim yang tersampir di pundak kiri dan kantong belanjaan berisikan beberapa camilan dan minuman bersoda.


"Beneran sakit dia?! Gue pikir Lo bohong tadi?" Celetuknya tiba-tiba setelah melihat seseorang yang sangat ia kenal tergeletak tak berdaya di atas Brankar. Jangan lupakan dengan selang infus yang terpasang di salah satu tangannya.

__ADS_1


"Emang suara gue kedengeran kayak orang lagi bercanda?" Tanya seseorang yang duduk di samping brankar tersebut terdengar dengan nada tak biasa.


Ya. Nicholas - Kakak Renata.


Derry tiba-tiba menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. "Selama ini adik Lo jarang kelihatan sakit -"


"Memang." Potong Nicholas cepat. Renata memang gadis yang terbilang memiliki fisik yang kuat dan ia jarang sakit.


Derry mengrenyitkan bingung. "Terus kenapa dia bisa ada di sini?" Tanya Derry yang malah jadi bingung.


Nicholas menghela nafas. Lalu tangannya mulai menggenggam dengan kuat. "Percobaan bunuh diri."


Tadi Bik Surti memang berhasil merebut pisau cutter milik Renata. Tapi siapa sangka? Saat bik Surti lengah, Renata mendorongnya dan merebut kembali benda tajam tersebut dan langsung menyayat urat nadinya sendiri. Lalu mengucur lah darah segar dari pergelangan tangan gadis itu.


Mata Derry langsung melebar. "Bunuh diri?" Ulangnya tak percaya. Nicholas tak menyaut pandangannya lekat menatap sang adik yang matanya masih terpejam.


"... tapi kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Derry yang terdengar begitu penasaran.


Derry tahu, Renata adalah gadis yang terbilang nekat. Tapi untuk sampai ke tahap bunuh diri, Derry yakin Renata masih sangat mencintai kehidupannya.


Kecuali ... ada hal besar yang mendorongnya.


"Gue nggak tahu. Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan Xello." Jawab Nicholas mengatakan pendapatnya. Mengingat belakangan ini ia dan sang adik yang terlibat pertengkaran yang menyangkut tentang seorang bernama Axello.


"Ngomong-ngomong soal Xello, Gue ketemu nyokapnya di lobi tadi." Ungkap Derry yang kini memilih duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Tangan kanan laki-laki itu meraih minuman kaleng. Membuka dan meneguk sedikit isinya.


"Nyokapnya Xello?" Tanya Nicholas memastikan. Ia menoleh pada Derry yang mengangguk padanya. "... Sama Xello?" Tanyanya lagi.


Derry menggeleng, "Bukan. Tapi dia Cowok seumuran kita. Pakai setelan jas, item." Jawab Derry lalu meneguk kembali minumannya.


"Pandu?" Gumam Nicholas yang masih bisa terdengar di telinga Derry.


"Nggak tahu gue siapa namanya." Derry mengubah posisinya menjadi berbaring. "... Emang si pandu-pandu itu siapa, sih?" Nicholas menghela nafas.


Seketika ia kembali teringat dengan perjanjiannya dengan Axell tadi.


"Woy! Kenapa, sih? Kok lo malah ngelamun gitu? Ada apaan?" Tanya Derry yang merasakan keanehan pada Nicholas.


"Dia Asistennya Xello." Singkat Nicholas menjawab.


"Asisten?" Ulang Derry.

__ADS_1


__ADS_2