Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
178. Sebuah foto 2.


__ADS_3

"Gue datang meminta maaf atas kesadaran diri gue sendiri ..." Renata menghela nafas. "... Dira ... Gue minta maaf." Ada jeda saat Renata melanjutkan kata-katanya. Bahkan suara Renata terdengar bergetar.


Dira malah membuang muka mendengar itu. Memaafkan Renata? Setelah mengingat semua perlakuan Renata padanya?


Bukan. Bukan Dira tidak mau memberi maaf untuk seseorang yang telah berbuat salah padanya. Hanya saja untuk memaafkan Renata, ia tidak yakin akan mudah melakukannya.


"Gue nggak pernah ngerebut siapapun! Paham!" Tegas Dira.


Renata mengangguk. "Iya. Gue tau. Gue udah salah selama ini sama Lo. Gue udah sadar, hubungan gue sama Xello memang udah lama berakhir. Dan ... dan nggak seharusnya gue ganggu hubungan dia sama Lo ... Maaf!"


Dira tersenyum mengejek. "Apa yang Lo dapet setelah gue maafin Lo? Mau deketin kak Axell lagi? Iya? Mau minta kak Axell buat balik lagi sama Lo?" Tanya Dira menuduh lalu menggeleng pelan.


Renata menggeleng cepat untuk menyangkal apa yang Dira tuduhkan. "Nggak! Itu nggak bener! Gue tulus minta maaf sama Lo tanpa maksud apa pun ..." Renata berjalan mendekat. "... Gue tau, mungkin Lo nggak mudah buat bisa maafin gue. Tapi, please! Gue beneran tulus minta maaf sama Lo." Ucap Renata bersungguh-sungguh.


Dira diam tak menyela apa yang Renata katakan. Wajah Renata bahkan saat ini sudah banjir dengan air mata yang mengalir sedari tadi. Ekspresi wajah gadis itu bahkan sangat jelas berbeda dengan ekspresi yang terakhir kali Dira lihat. Dan hal itu malah membuat Dira merasa bingung seketika.


'Nih cewek kenapa, sih?'


Semakin dekat dengan Dira, Renata menghentikan langkah saat melihat Dira yang kembali mengambil langkah mundur menjauhinya. Sepertinya, kejadian hari itu membuat Dira trauma akan dirinya. Renata tersenyum getir melihat itu.


Sejahat itu kah dirinya?


"Gue tau, mungkin kata maaf dari gue nggak akan pernah cukup untuk menebus semua kesalahan gue selama ini sama Lo. Kata maaf dari gue juga nggak akan bisa mengembalikan semua keadaan yang telah terjadi ... Gue menyesal karena udah jahat sama Lo ... Gue bahkan udah bikin ca -"


Ucapan Renata seketika terhenti saat melihat kedatangan Axell. Bak gaya slow motion, Axell berjalan perlahan menuruni anak tangga dengan kedua tangan yang sengaja ia masukkan ke dalam saku celana. Langkah kaki Axell berhenti beberapa langkah di belakang sang istri.


'Cukup!'


Gerakan bibir yang dengan mudah Renata baca dari Axell. Laki-laki itu bahkan melayangkan tatapan penuh intimidasi untuk Renata seakan mengatakan pada gadis itu untuk berhenti bicara saat itu juga.


"Sayang ..." Panggil Axell pada Dira.


Tak langsung menjawab, Dira hanya menoleh ke belakang. Detik kemudian ia kembali menatap pada Renata.


"Sayang ... Tolong ambilkan file warna biru di laci meja ... KAMAR KITA!" Ucap Axell pada Dira dengan menekankan kata 'kamar kita'.

__ADS_1


Dira kembali menoleh pada Axell, "Tapi, kak. Aku ma -"


"Yang, ayah udah nungguin! Kamu tau kan ..." Axell kembali menatap Renata. "... Aku ini paling nggak suka di bantah."


Dira menghela nafas pelan, menatap Renata dan Axell bergantian lalu kembali menaiki tangga untuk menuruti permintaan suaminya. Dira tahu, ada sesuatu hal yang ingin suaminya itu bicarakan pada Renata tanpa dirinya ketahui.


Axell melirik ke arah dimana menghilangnya Dira. "Ternyata ancaman gue malam itu nggak berhasil bikin Lo jera." Ucap Axell dingin setelah yakin Dira tak lagi bisa mendengar suaranya. "... Nyatanya Lo malah berani sampai sini."


"Xell -"


"Re, Gue nggak main-main dengan ancaman Gue malam itu ..." Axell berkata lirih namun ia yakin, Renata bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Kepala Axell sedikit menunduk. Satu tangannya keluar dari dalam saku lalu menggaruk sebelah pelipisnya dengan jari kelingking. "... Sekarang, gue bisa jamin. Bokap Lo sudah mulai merasakannya perlahan."


"Xell, Gue cuma -"


"Lo tau keadaan istri gue. Entah apa yang mau Lo katakan pada Dira, setidaknya jangan katakan apapun tentang akibat perbuatan Lo itu ke istri gue, dia nggak tau apa-apa." Tegas Axell.


Renata mengernyit bingung. Ia tak mengerti dengan arti kata 'Dia tidak tau apa-apa' yang baru saja Axell katakan.


"Dira tidak tau dirinya sempat hamil. Jadi Lo bisa pilih, mau tutup mulut sendiri atau gue sendiri yang akan tutup mulut Lo?!" Axell menggeram dengan rahang terkatup saat mengatakan itu.


Renata menghela nafas. "Xell, tapi gue benar-benar mau minta ma -"


"Apa dengan kata maaf dari Lo, calon anak gue bisa kembali?" Tanya Axell sarkas. "... Dengan Lo minta maaf nggak akan bikin calon anak gue kembali, Renata!" Axell mulai marah. "... Hanya dengan kata maaf, it will never be enough!"


Renata kembali menangis. Ia menunduk dengan kedua tangan mengepal. "Sorry! Sorry, Xello! Gue benar-benar minta maaf!"


Axell menghentak nafas kasar mengingat semua yang sudah terjadi. Kemarahannya tidak akan mengembalikan apapun.


"Kata maaf dari gue hanya bisa Lo dapat ... setelah Lo dapat maaf dari istri gue."


...***...


Dira memasuki kamar dengan perasaan yang entah, Dira sendiri tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaanya saat ini.


Tidak menampik, Dira merasa penasaran dengan apa yang sedang Renata dan suaminya bicarakan di bawah sana setelah Axell memintanya pergi secara tidak langsung.

__ADS_1


Sebenarnya Dira tidak ingin meninggalkan keduanya tadi, tapi setelah melihat tatapan Axell saat marah, Dira tidak berani membantah. Bagaimanapun juga, Dira tidak pernah lupa dengan ekspresi mengerikan dari suaminya ketika amarah menyelimuti laki-laki itu.


'Tapi, apa yang tidak boleh aku dengar? Munafik banget kalo aku nggak penasaran!'


Dira mendengus sebal, "Tau, ah!" Bibir Dira mengerucut dengan tangan yang sedang mencari apa yang Axell minta.


"... Warna biru, kan?" Monolognya ketika ia membuka laci.


Dan saat Dira sudah mengambil file biru yang Axell minta, tanpa sengaja Dira melihat sebuah kertas yang terselip di dalam sebuah buku tebal. Ah... bukan sekedar kertas biasa. Tapi lebih tepatnya sebuah potongan gambar ...


"Foto...?" Gumam Dira dengan dahi berkerut saat melihat gambar yang masih terlihat dengan sangat jelas dari kertas polaroid tersebut.


Gambar yang menunjukkan keempat cowok berdiri membelakangi kamera dengan lengan saling merangkul satu sama lain. Kedua dari cowok tersebut menggunakan seragam lengkap dengan almamater Bhakti Bangsa dan dua lagi menggunakan kaos tim basket bertuliskan B2Enforcers - nama tim basket Bhakti Bangsa.


Sayangnya Dira tidak yakin dengan siapa keempat cowok itu. Tapi tunggu! Setelah melihat dengan seksama, Dira seperti merasa tidak asing.


"Kak Bastian, kak Verrel, kak Axell, terus ... yang satu ini siapa?" Tanya Dira pada dirinya sendiri. Untuk ketiganya, Dira yakin tebakannya benar, tapi untuk yang satunya ... Dira tidak tahu.


Tiba-tiba Dira mengembalikan foto itu cepat setelah mendengar derap langkah kaki seseorang yang mendekat ke arah kamar. Dan benar saja. Axell muncul tak lama setelahnya.


"Yang... kok lama?! Kamu ngapain?" Tanya Axell saat pintu kamar ia buka. "... kamu nggak pa-pa kan, Yang?" Tanyanya tiba-tiba khawatir.


Dira mengangguk ragu. Entah mengapa tiba-tiba Dira merasa gugup. Rasanya ia seperti seorang maling yang tertangkap basah.


"Aku bingung. Ada dua warna biru." Keluh dira. dengan dua buah file di tangannya.


Axell tersenyum. Ia meraih dua benda dari tangan istrinya. "Dua-duanya, Yang." Jawab Axell. "Tadi ... dia ngomong apa aja sama kamu?" Tanya Axell terdengar serius.


Dira menghela nafas. "Dia ... mau minta maaf katanya ..." Jawab Dira yang kini duduk di sofa. "... Kak..." Panggil Dira.


"Hmm... Kenapa, Yang?" Tanya Axell cepat.


Ragu bukan berarti tidak berani untuk bertanya. "Tadi kak Axell ngomong apa aja sama dia?" Tanya Dira penasaran.


Bukannya langsung menjawab, Axell malah tersenyum mendengar pertanyaan Dira. "Kenapa, Yang?" Tanya Axell balik. "... Kepo, ya?!" Canda Axell.

__ADS_1


"Iiihhh... Kak Axell! Aku kan pengen tau!" Ucap Dira merajuk. "... aku kan penasaran."


__ADS_2