
Bastian melajukan mobilnya jauh di belakang Axell karena perbedaan laju mobilnya yang tak selincah motor Axell yang bisa nyelip diantara kendaraan lainnya. Tidak perlu terburu-buru karena takut kehilangan jejak, Bastian dan Verrel sendiri memang sudah mengetahui dimana apartemen yang di tinggali Axell dan Dira selama ini.
Bastian menambah laju kecepatan mobilnya saat melihat Axell yang menepi dan mampir ke sebuah pom bensin. Ia harus sampai ke Greenland Residence lebih dulu.
Bastian memarkirkan mobilnya saat memasuki basemen gedung tersebut. Pandangannya menelisik mencari keberadaan Arfen yang sudah lebih dulu sampai hampir dua jam yang lalu.
"Asli! Lo gila, Bas!" Seru Verrel setelah melihat mobil Arfen yang sudah terparkir rapi tak jauh dari posisinya sekarang.
Dengan sunggingan senyum yang terlihat di wajahnya, santai Bastian melepas lock safety belt-nya, "Lah, kan emang udah dari dulu gue gilanya, Rel."
Verrel menggeleng tak habis pikir, "Kali ini Lo bener-bener gila."
"Tau gue ... nyali Lo emang kek lidi. Mudah patah!"
Verrel kembali menggeleng, gerakan tangan yang hampir membuka pintu itu terhenti saat melihat Axell yang baru muncul. Lalu pandangannya beralih pada Bastian yang malah senyum-senyum tidak jelas.
Beneran nggak waras si Babas!
Bastian mengingsut duduknya karena ia kesusahan mengambil ponsel dari saku celananya yang sedikit ketat. "Kalo jalan kaki, kira-kira berapa menit waktu yang di butuhin Dira buat turun ke sini?" Tanya Bastian tiba-tiba dengan tangan yang sibuk mengusap layar ponselnya.
"Kenapa Dira?" Satu alis Verrel terangkat mendengar pertanyaan Bastian.
"Ya kali Nayla yang kesini! Tujuan gue bawa tuh bocah kan emang mau lanjutin misi balas dendam gue ke Axell, behahahah ..." Tiba-tiba tawa Bastian meledak "... Tiba-tiba Sparring... Kan seru?!" Tambahnya.
Verrel jadi geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkah diatas normal versi Bastian. Verrel menghela nafas kasar, berharap setelah ini formasi mereka bisa benar-benar kembali lengkap.
"Baiknya jangan kasih tau Dira!" Tegur Verrel pada akhirnya. Jari yang asyik mengusap layar milik Bastian itu seketika terhenti, kepalanya menoleh pada Verrel dengan tatapan tak setuju.
"Justru Dira harus kesini." Tolaknya cepat.
"Buat apa? Buat misahin Axell dan Arfen yang lagi berantem?" Tanya Verrel cepat.
"Bukan ..." Jawab Bastian cepat. "... Buat jadi wasit. Hahahah... " Bastian kembali tertawa lalu keluar dari mobil setelah mengirim pesan pada Dira. Verrel menepuk jidatnya lalu keluar mengikuti langkah Bastian.
Sementara di tempat yang sama namun di jarak beberapa meter dari mobil Babas tadi, Axell yang sudah menyetandarkan motornya itu lekas melepas helm, saat melihat Arfen yang tengah menyenderkan pantat diatas kap mobilnya. Dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celana dan pandangan yang mengarah tepat pada Axell. Keduanya saling tatap dengan arti yang tentunya beda.
"Ngapain Lo ke sini?" Satu pertanyaan tanpa basa-basi yang langsung keluar dari mulut Axell.
Tak langsung menjawab, Arfen malah menampilkan senyum yang entah mengapa malah membuat Axell kesal melihatnya. "Suka-suka gue lah. Ini kan tempat umum. Siapapun bisa datang ke sini." Jawab Arfen asal.
"Terserah!" Axell melanjutkan langkah. Menanyakan tujuan kedatangan Arfen hanya akan membuang waktunya.
Melihat Axell yang berjalan melewatinya begitu saja membuat Arfen tersenyum miring. Masih dengan posisi yang sama Arfen kembali bersuara. "Udah, gitu aja? Yakin Lo nggak mau tau kenapa gue bisa ada disini? Gue habis nganterin istri seseorang. Sayangnya seseorang yang gue maksud ... nggak becus jagain istrinya sendiri."
Axell seketika menghentikan langkah. Ia berbalik menatap Arfen tajam seolah meminta penjelasan. Bukan kepedean, tapi entah mengapa Axell seperti merasa tersindir dengan ucapan Arfen tadi. "Maksud Lo apa?"
Arfen terkekeh melihat Axell yang sepertinya mulai terprovokasi, "Nggak ada maksud, sih. Tapi gue ngomong berdasarkan fakta. Lo ... emang nggak becus jaga Dira!"
Ssreeett!!!
"Apa Lo bilang?" Axell mendekat dan langsung menarik kerah baju Arfen dengan kuat.
Arfen tersenyum menyeringai. Lalu menepis tangan Axell hingga terlepas dari kerah bajunya, "Kenapa? Salah, apa yang gue bilang?! Nyatanya itu fakta kan?"
__ADS_1
"Tau apa Lo?"
"Gue tau, Xell. Lo nggak becus jadi suami. Lo dengan enteng udah bikin Dira hamil, tapi Lo malah biarin Dira keguguran gitu aja!" Jawab Arfen yang semakin gencar memprovokasi Axell. "... Rasa tanggung jawab Lo sebagai suami dimana?"
"You, fuckk!" Axell mulai terpancing dengan kalimat Arfen. Bagaimana mungkin ia membiarkan istrinya itu keguguran? Sementara ia sendiri sangat menginginkan calon anak itu. Kalau saja hari itu Axell tahu Dira sedang hamil, pasti ia akan lebih waspada dalam hal menjaga Dira. Dan mungkin Dira tidak akan keguguran.
Tapi, siapa yang bisa menghalau takdir?
Oke, Jika hari itu Axell bisa menahan diri untuk tidak memukul Arfen yang memukulnya lebih dulu saat di d'Axe Cafe, maka hari ini lain lagi ceritanya. Axell tidak akan berpikir dua kali hanya untuk memukul Arfen.
Bugh!
Satu pukulan mengarah tepat di pipi sebelah kiri Arfen. Membuat pemuda itu tertoleh ke samping dan bahkan hampir terjengkang karena kuatnya pukulan yang Axell berikan.
"Uuwh... sakit pasti itu, Rel." Desah Bastian yang tak jauh dari posisi Axell dan Arfen sekarang ini. Bukannya melerai, Bastian malah terlihat sangat menikmati tontonan yang sudah ia nantikan sedari tadi. Sementara Verrel, ia hanya menyunggar rambutnya kasar. Bingung mau berbuat apa? Karena sadar, melerai keduanya sendirian ia pasti takkan bisa.
"Coba ulangi!" Tantang Axell dingin. Satu tangannya kembali menarik baju Arfen lagi. "... Ulangi omongan Lo tadi! SHITT!"
"Kenapa?" Arfen menyeringai, "... Lo nggak terima dengan apa yang gue omongin tadi?" Arfen semakin tersenyum mengejek, ia akan semakin memprovokasi Axell agar kembali memukulnya dan ia akan mempunyai alasan untuk memukul suami dari Dira itu setelahnya. "... Benerkan apa yang gue bilang!"
"SHITT! Berhenti ngomong sampah! Lo nggak tau apa-apa!"
"Apa?" Tantang Arfen lagi, "... Lo nggak becus!"
"Fuckk! Jangan mancing gue, Arfen!" Nafas Axell naik turun. Memburu. Ia benar-benar marah sekarang. "... Gue bisa bikin Lo tidur lama."
"Lo pikir gue takut?!" Tantang Arfen lagi. Arfen bahkan sempat terkekeh pelan, "... Gue bahkan nggak pa-pa kalo harus mati karena Dira."
Cukup! Axell tidak bisa mendengar ini. Apa yang Arfen katakan tidak bisa membuat Axell berhenti setelah ini.
Bugh!
"Ini untuk mulut sampah Lo."
Bugh!
"Ini untuk Lo yang udah berani bawa Dira pergi hari ini."
Bugh!
"Dan ini untuk Lo yang udah bawa Dira dari sekolah hari itu."
Bugh!
"Dan ini untuk Lo yang udah bikin asma Dira kambuh."
Bugh!
"Dan ini ... Untuk Lo yang terus-terusan gangguin hubungan gue bareng Dira!"
"Kak Axell!" Pekik Dira dari kejauhan. Gadis itu mendekat dengan wajah panik. Bastian yang mendengar suara Dira seketika menoleh, ia mendekat pada Dira dan menahan agar tak terlalu dekat dan berujung menghentikan keduanya.
"Tetap disini, Dir! Bahaya! Lo bisa kena pukulan mereka." Ucap Bastian yang kini mencekal satu tangan Dira.
__ADS_1
"Kak, lepasin! Lo nggak liat kak Axell -"
"Babas bener, Dir. Lo tetap disini! Lo nggak akan bisa! Axell lagi emosi sekarang." Verrel ikut bersuara.
"See?! Apa gue akan diam aja liat kak Axell kaya' gitu?" Dira terdengar frustasi. Bagaimana bisa dia diam saja melihat suaminya memukuli sahabatnya sendiri tanpa henti?
Verrel menggeleng tanpa menjawab.
Dira menghela nafas, "Kalo gitu kalian bantuin dong! Bukannya malah diem liatin doang!" Dira semakin panik.
"Ckk. Lo nggak ngerti sih, Dir! Ini tuh emang rencana gue." Bastian menyaut.
"Bas!" Sela Verrel yang kini mulai kesal dengan Bastian.
"Ssstt... diem, Rel!" Bastian menggerakkan satu jari telunjuknya, "... Kita nikmatin aja tontonan yang ada! Mereka cuma akan saling pukul, bukan saling bunuh. Tenang!"
"Sinting!" Maki Verrel kian kesal.
Dira menganga tak percaya melihat respon Bastian yang terlihat santai begitu saja. Ternyata ada ya, orang modelan Bastian di dunia ini?
Bastian menghela nafas, ia menatap Verrel dan Dira dengan seulas senyum yang menghias di bibirnya seakan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. "Percaya sama gue! Mereka akan baik-baik aja setelah ini. Setidaknya, biarin mereka menyalurkan rasa pengen nonjok satu sama lain."
Dira membuang nafas kasar. Satu tangannya menekuk di pinggang. Satu tangan lainnya menekan dahinya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Dia tidak bisa diam saja seperti ini.
...***...
Axell menatap malas Arfen yang sekarang ini duduk tepat di depannya yang hanya terhalang meja. Keduanya kini sudah berada di ruang tamu apartemen Axell setelah aksi baku hantam itu berhasil dihentikan oleh Dira pada akhirnya. Keadaan keduanya pun terbilang hampir sama dengan luka lebam yang menghias di wajah masing-masing dan tidak bisa di katakan sedikit.
"Ssshh..." Axell tiba-tiba meringis saat kapas yang mengandung alkohol menyentuh sudut bibirnya yang berdarah, "... Aahh... Sshh... sakit, Yang!"
Bukannya iba, Dira malah menekan sedikit kuat luka memar Axell.
"Aaa... Yang!" Teriak Axell memelas.
"Udah tau sakit, siapa suruh berantem?!" Jawab Dira yang kini kembali membersihkan wajah Axell dengan lembut. Arfen membuang muka melihat itu. Sementara Verrel dan Bastian menahan tawa melihat Axell yang tak berkutik di depan Dira.
"Bukan aku yang mulai, Yang." Jawab Axell yang tak terima disalahkan.
Arfen mencibir mendengar jawaban Axell pada Dira tadi. Ini seperti bukan Axell saat masih menjalin kasih dengan Renata dulu. Sangat jelas berbeda.
"Bukan kak Axell yang mulai, tapi kak Axell ladenin juga, kan?! Ceritanya akan berbeda kalo kak Axell nggak nanggepin tadi. Heran! Itu berarti kak Axell juga salah." Pungkas Dira mendadak galak dan tak mau dibantah.
Axell menghela nafas. Bagaimana pun juga apa yang Dira katakan ada benarnya. Kalau saja ia tidak tersulut dengan apa yang Arfen katakan, aksi baku hantam tadi pasti tidak terjadi.
"Miyaoong..." Suara Babas yang tiba-tiba menirukan suara kucing. Bermaksud menyindir Axell yang tadinya galak bak singa dan sekarang berubah menjadi kucing saat di depan Dira.
"Diem Lo, Bas! Aaa..." Teriak Axell lagi karena Dira kembali menekan salah satu lukanya.
"Hahahaha..." Pada akhirnya Bastian dan Verrel tak lagi bisa menahan tawanya. Keduanya lalu kompak bertepuk tangan dan tos ala mereka karena berhasil dalam misinya.
Axell hanya menatap galak pada keduanya yang sayangnya tidak mendapat respon dari Verrel atau pun Bastian. Diantara mereka ada Dira, dan itu akan membuat mereka aman dari amukan Axell.
"Mau kemana?" Axell mencekal tangan Dira yang kini beranjak dari duduknya. Dira sudah selesai mengobati luka Axell.
__ADS_1
"Ngapain lagi, disini yang perlu diobati bukan cuma kakak. Arfen juga!" Jawab Dira yang kini mulai melangkah.
Axell menarik tangan Dira. Membuat istrinya itu kembali duduk disampingnya. "Nggak ada. Dia bisa obatin lukanya sendiri. Aku nggak ijinin!"