
"Lo nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari gue, kan, Dir?" Tanya Nayla penuh selidik.
Dira diam. Gadis itu tak langsung menjawab apa yang sahabatnya itu tanyakan padanya. Detik kemudian Dira menghela nafasnya pelan. "Nay..." Panggilnya lirih.
"Ya, Dir. Ada sesuatu yang mau Lo omongin sama gue?" Tebak Nayla.
"Gue emang ada sesuatu sama kak Axell yang gue sendiri belum siap kalo di ketahui banyak orang." Jawab Dira.
"Sesuatu apa maksud Lo?" Tanya Nayla penasaran. OK, disini Nayla mulai Nething, nih sama Dira dan Axell. Pandangan Nayla bahkan kini turun ke bagian perut sahabatnya itu.
"Lo sama Axell nggak abis ngelakuin yang aneh-aneh kan, Dir?" Tanya Nayla pelan.
"Ngelakuin yang aneh-aneh gimana maksud Lo, sih, Nay?" Tanya Dira bingung. Pandangan Dira kini turun mengikuti arah pandang Nayla yang kini tengah menatap ke arah perutnya.
"Lo nggak lagi ham -..."
"Apa yang ada di otak Lo nggak terjadi." Ucap seseorang yang baru saja datang. Membuat Nayla dan juga Dira kompak menolah ke arahnya.
"Axell."
"Kak Axell." Ucap Nayla dan Dira kompak saat mendapati Axell datang entah dari mana.
"Gue nggak sebajing*n apa yang ada dalam pikiran Lo." Ucap Axell lagi pada Nayla. Kini pandangannya beralih menatap Dira.
"Masuk kelas sana! Lo nggak denger, bel masuk udah bunyi dari tadi?" Ucap Axell pada Dira dengan tangan yang sudah mengusap pelan rambut gadis itu. "... Jangan bandel kalo di bilangin!"
Sadar dirinya yang akan telat mengikuti pelajaran, Dira mengangguk patuh pada Axell lalu pergi meninggalkan Axell dan Nayla.
"Gue duluan ya, Nay." Ucap Dira lalu berjalan menuju kelasnya.
"Apa yang ingin Lo ketahui antara gue dan Dira?" Tanya Axell datar.
Nayla tersenyum miring, "Nggak munafik, Xell. Gue cuma pengen tau, apa yang sebenarnya terjadi antara Lo dan Dira?" Jawab Nayla yang memang mengatakan apa yang ada di pikirannya selama ini. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Nayla saat ini.
Axell diam tak menjawab, lebih tepatnya belum ada niat untuk menjawab. Karena ia tahu, masih ada yang ingin Nayla katakan.
"Banyak kejanggalan disini. Menurut gue, kalian nggak saling kenal sebelumnya. Nggak pernah jalan bareng. Kalaupun ketemu di kantin, kalian juga nggak saling ngobrol, kan. Pertanyaan gue gini, kenapa Lo berdua bisa tiba-tiba jadian? Padahal gue amat sangat mengenal Dira. Dan setau gue, Dira sukanya sama Arfen... Aneh nggak, sih?" Jelas Nayla.
"Nggak." Jawab Axell singkat, lalu berjalan pergi meninggalkan Nayla menuju ke kelasnya sekaligus kelas Nayla. Menurut Axell tak penting menanggapi rasa keingintahuan dari kekasih sahabatnya itu. Buang-buang ludah, waktu dan energi.
Tapi, baru saja Axell melangkahkan kakinya beberapa meter dari Nayla, gadis itu kembali menghentikan langkah kaki dari Axell.
"Apa yang Lo lakuin ke Dira? Kenapa Dira bisa sebegitu nurutnya sama Lo? Jangan bilang, Lo udah apa-apain dia!" Tanya Nayla dengan nada penuh intimidasi.
__ADS_1
Axell langsung menghentikan langkah saat mendengar kalimat dari Nayla yang terkesan menyudutkannya. Ia berbalik dan menghadap ke arah gadis itu. "Kalo Dira nurut sama gue, itu kewajiban dia. Dan kalo pun gue apa-apain dia... (Axell tersenyum miring) Itu udah selayaknya."
...***...
"Eh, Dir, Gue baru nyadar lho. Ternyata cincin yang Lo pakai selama ini... samaan sama punyanya kak Axell." Celetuk Melody tiba-tiba.
"Ha..." Cengo Dira. "... Samaan gimana, sih, Mel?" Tanya Dira yang memang tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Melody. Kini Dira, Melody dan juga Zaki sedang menunggu pesanan di kantin setelah bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu.
"Cincin yang Lo pake, Dira... sama kek cincin yang di posting kak Axell semalem." Ucap Melody menjelaskan. Sementara Dira mengernyitkan dahinya bingung.
'Di Posting kak Axell semalem?'
"Jangan bilang Lo nggak tau? Mending Lo langsung cek, deh, Instagramnya si Axell! Biar Lo ngerti." Sahut Zaki ikut bersuara.
Dira yang saat itu memang tengah memegang ponsel pun langsung membuka akun sosial media milik Axell. Dan benar saja, ia mendapati sebuah postingan dari Axell semalam. Sebuah gambar yang menunjukkan dua tangan yang saling mengenakan cincin yang sama.
"Perasaan kak Axell nggak pernah pake cincin." Gumam Dira yang hanya bisa gadis itu dengar sendiri.
"Ini neng, pesanannya." Ucap Bu kantin yang tiba-tiba datang membawakan pesanan mereka tadi.
"Makasih, ya Bu Ida." Jawab Dira dan Melody kompak dan langsung di jawab anggukan kepala serta senyum ramah dari Bu kantin tersebut.
Saat Dira dan Melody tengah memakan bakso pesanannya, tiba-tiba terdengar desas-desus dari beberapa siswi yang terang-terangan membahas tentang Axell.
"Eh... iya, semalem kak Axell posting pake caption hati, lho. Pake inisial huruf A juga!" Timpa Icha.
"Si doi udah nggak jomblo lagi kek nya." Sambung Nina.
"Gue jadi kepo, deh. Kira-kira siapa cewe inisialnya A itu?" Sahut Kiki.
"Lo pengen tau, Ki?" Tanya Putri pada temannya yang bernama Kiki tadi. Kiki langsung menganggukkan kepalanya cepat.
"Lo tanya aja sama kak Axell nya langsung! Noh, doi lagi jalan kesini. Berani nggak Lo?" Ucap Putri lagi sambil menunjuk ke arah datangnya Axell menggunakan dagunya.
Dan benar saja, saat Dira melihat ke arah pintu masuk kantin, pandangan mata keduanya pun terkunci. Lalu Axell menampilkan senyum manisnya ke arahnya.
"Gila!"
"Kak Axell senyumin gue." Pekik Putri saat tadi sempat melihat Axell yang tengah tersenyum.
Entah mengapa, Dira yang mendengar apa yang diucapkan putri tadi jadi kesal sendiri. Bahkan sendok yang ia pegang tadi tiba-tiba ia taruh dengan sedikit kasar.
"Kenapa, Dir?" Tanya Melody sengaja. Jelas-jelas ia juga mendengar apa yang teman-temannya seangkatannya tadi katakan tentang Axell, lalu kenapa masih bertanya.
__ADS_1
"Jan cemburu gitu! Jelas-jelas mereka nggak ada apa-apa nya kalo di bandingkan sama Lo." Ucap Zaki yang memang tahu, apa yang membuat teman satu jelasnya ini kesal.
Sementara Dira hanya memilih diam tak menjawab. Ia tak tahu, kenapa suasana hatinya mendadak jadi tidak karuan seperti ini. Saking asyik dengan perasaan kesalnya. Bahkan Dira sampai tidak menyadari kedatangan seseorang yang kini sudah berada di depannya.
"Kok nggak dimakan, Yang?" Tanya Axell yang baru saja datang lalu mengacak pelan rambut Dira.
'Yang?'
Mendengar kata sapaan yang tak biasa dari suara yang sangat Dira kenal, membuat gadis itu reflek menoleh kebelakang. Dan mendapati Axell yang masih berdiri di belakangnya dan duduk disampingnya.
"Aaaa..."
"Nggak kuat liatnya..."
"Jadi mereka pacaran?"
"Terus, foto -..."
"Cewe yang di maksud kak Axell..."
"Inisial huruf A."
"ANDIRA!"
Lagi...
Desas-desus dari siswi yang tadi membicarakan Axell kini melihat interaksi antara Axell dan Dira, menebak kalau memang Dira yang Axell maksudkan pada postingannya.
"Nggak usah didengerin!" Ucap Axell yang masih tak mendapat respon apa-apa dari Dira.
"Mel, kita pergi aja, yuk!" Ajak Zaki yang sudah menghabiskan baksonya.
"Gue masih mau disini, Zak." Tolak Melody yang memang masih mau melanjutkan makannya yang memang belum habis.
"Ah... lama Lo!" Cibir Zaki yang langsung pergi dengan tangan yang menarik serta tangan Melody agar mengikutinya. Meninggalkan Axell dan Dira disana.
"Pilih makan atau gue cium?" Ucap Axell sambil terus menatap wajah Dira tanpa menghiraukan setiap pasang mata yang juga melihatnya yang sedang duduk berdua dengan Dira.
"... Nggak usah mikirin mereka, biarin mereka tau!" Ucap Axell pelan. Masih diam, Dira malah merasa bingung sekarang.
'Ini kak Axell abis kejedot pintu dimana?'
Dira masih diam sambil memperhatikan Axell yang juga menatap kearahnya. Sampai teriakan seseorang yang baru datang mengalihkan pandangan Dira ke arah pintu kantin yang menampilkan Verrel dan Nayla yang baru saja datang.
__ADS_1
"PACARAN TEROOOS!!!"