Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
140. Axello Vs Nicholas.


__ADS_3

Pintu ruang meeting tiba-tiba di buka dari luar dan langsung menampilkan tiga orang yang baru saja datang. Sontak saja hal itu langsung mengalihkan atensi dari para peserta meeting yang sudah lebih dulu datang pagi ini di ruangan tersebut.


Axell berjalan memimpin memasuki ruangan dengan begitu gagah dan berwibawa. Ia berjalan dengan kepala sekali mengangguk samar sebagai sapaan pada siapa saja yang hadir pada meeting tersebut, sekaligus untuk mempersilahkan mereka semua agar kembali duduk di tempatnya masing-masing. Putra tunggal dari pemilik MJ Corps itu terlihat sudah begitu terbiasa dengan pertemuan penting seperti sekarang ini


Saat sampai pada kursi kebesarannya, nampak Axell langsung membuka kancing jasnya dan langsung duduk di singgasananya. Tepat duduk disebelah kanan diisi oleh Pandu sang asisten. Sementara Raline sebagai sekertaris duduk di sebelah kiri. Tangan kiri Axell terangkat untuk mempermudahnya melihat jam berapa sekarang ini.


"Selamat pagi semuanya. Sepertinya saya tidak terlambat untuk menghadiri meeting pada pagi hari ini?" Ujar Axell tegas dan terdengar begitu percaya diri. Lalu pandangan Axell terangkat untuk mengabsen siapa saja yang ikut menghadiri pertemuan penting yang akan di pimpinnya sekarang ini. Dan...


'Gotcha.'


Seperti yang sudah Axell duga sebelumnya. Tatapan mata Axell langsung bertemu dengan pihak si pemohon dari perusahaan yang meminta bekerja sama dengan perusahaan milik sang ayah.


Adalah seorang Nicholas Mahaputra. Pihak perwakilan dari Maha Group. Ia duduk tepat di depan Axell. Keduanya berhadapan hanya terhalang meja berbentuk persegi panjang dengan ekspresi wajah yang berbeda.


Jika Axell menatap Nicholas dengan tatapan biasa saja, datar dan tidak ada raut keterkejutan sama sekali, maka lain halnya dengan ekspresi yang Nicholas tampilkan. Ia begitu tak menyangka, bahkan terkejut luar biasa setelah mengetahui siapa pewaris dari kerajaan bisnis MJ Corps.


Sungguh di luar dugaan. Bahkan Nicholas sama sekali tidak pernah berpikir bahwa ia akan di pertemukan dengan mantan kekasih dari adiknya.


"Seperti biasa pak Axell, Anda selalu tepat waktu." Jawab pak Angga, kepala divisi dari bagian perencanaan.


"Baik. Sama seperti sebelumnya. Saya tidak suka membuang-buang waktu. Karena semua yang berkepentingan sudah hadir, untuk mempersingkat waktu, mari kita mulai meeting hari ini." Tegas Axell menginterupsi.


...***...


"Eh, Mel ... Lo nanti pulang bareng Zaki, nggak?" Tanya Dira di sela-sela menyuap nasi berkuah soto ke mulutnya.


"Iya. Kenapa, Dir?" Jawab Melody balik bertanya. Kini keduanya sedang menikmati makanannya masing-masing di kantin.


Tak menjawab, Dira langsung menggeser ponselnya ke arah Melody agar temannya itu bisa membaca pesan yang baru ia baca dari sang suami.


Nampak dahi Melody terlipat setelah membaca pesan dari kakak kelasnya itu.

__ADS_1


"Lah, bukannya Lo tadi berangkat bareng kak Axell, ya?" Tanya Melody membenarkan apa yang tadi ia lihat.


Dira mengangguk dengan mulut yang masih sibuk mengunyah. "Iya, tapi Lo baca sendiri, kan? Kak Axell ada meeting. Padahal pagi tadi dia nggak ada bilang apa-apa."


"Melody pulang bareng gue ..." Sahut Zaki yang baru saja datang dan langsung duduk di samping sang kekasih. "... Tapi gue bisa kalo harus nganterin Lo pulang juga sekalian." Sambungnya menawarkan sambil menuangkan saus sambal pada mangkok baksonya.


Dira menggigit bibir bawahnya. Menimbang apakah ia harus menerima tawaran Zaki atau tidak?


"... Gimana? Mau nggak? Mumpung jalan pulang Lo sama gue itu -


"Mau aja, Dir! Mumpung ada tumpangan gratisan. Dari pada Lo naik gocar." Ucap Melody menyela.


'Gimana, ya? Atau gue terima aja?'


"Jadi gimana?" Tanya Zaki dan Melody hampir bersamaan.


"Boleh, deh ..." Jawab Dira mengiyakan. "... nanti anterin gue ke apartemen aja!"


Ketiganya lalu kembali melanjutkan makan yang sempat terhenti tadi. Tanpa mereka sadari, ada satu orang yang ternyata ikut mendengarkan pembicaraan mereka.


'Oh... Jadi tuh cewe murahan pulang bareng mereka. Bagus, deh. Gue jadi ada kesempatan.' Ucapnya dalam hati dengan senyum sinis yang muncul dari wajahnya.


...***...


Sementara itu di ruang meeting MJ Corps. Axell nampak terlihat masih memperhatikan layar terang di depannya. Menyimak presentasi dari divisi perencanaan dari pihak Maha Group dengan ekspresi datar.


Tapi sebenarnya yang terjadi tidaklah demikian. Axell sedang tidak begitu fokus dengan meeting pagi ini. Karena tiba-tiba ia teringat dengan Dira. Entah mengapa, perasaan aneh yang pagi tadi menghinggapinya kembali muncul. Hingga Axell tidak menyadari kalau presentasi yang di berikan dari pihak MG sudah selesai beberapa menit yang lalu.


"Jadi bagaimana tanggapan anda, pak Axell?" Tanya Pandu pada atasannya, setelah melihat Axell yang masih tak memberikan respon apa-apa.


Axell masih diam. Ia masih bingung dengan hal apa yang entah, kenapa membuat perasaanya menjadi khawatir tidak jelas?

__ADS_1


"Pak Axell...!" Panggil Pandu lagi sedikit keras. Berharap ia bisa membangunkan Axell dari lamunannya. "Pak Ax -


Nampak tangan Axell langsung sedikit terangkat, "Saya tidak puas. Bagi saya sepuluh persen itu tidak ada apa-apanya." Ucapnya datar.


"Berapa yang anda minta, pak?" Tanya asisten dari Nicholas itu to the points. Ia berusaha memberikan penawaran yang sesuai.


Tak langsung menjawab, Axell kini beralih menatap orang yang bertanya padanya tadi. Axell mendengus dengan satu sudut bibir yang sedikit terangkat. Sangat jelas kalau Axell terlihat meremehkan disini. Sebenarnya ia sama sekali tidak berniat dengan perjanjian yang diajukan oleh pihak MG.


"Dua puluh persen?" Tanya asisten Nicholas lagi. Axell tak menjawab. Ia malah mengalihkan pandangan. Bahkan kepalanya menggeleng dengan senyum mengejek.


"Atau - " Kembali ingin memberikan penawaran, tapi ucapan dari sang asisten dari Nicholas terhenti karena Axell kembali mengangkat tangannya.


"Bagaimana dengan tiga puluh persen ... pak Axell?" Tanya Nicholas langsung dan seketika, membuat Axell beralih menatap padanya.


"Kalian berani mengajak saya bekerja sama dengan perjanjian hanya tiga puluh persen keuntungan..." Bukan pertanyaan, tapi pernyataan yang Axell ucapkan. "... Padahal saya tahu benar, kalian akan mendapatkan keuntungan berlipat lebih besar dari modal yang akan saya gelontorkan untuk proyek ini nantinya. Apakah anda pikir saya akan puas dengan hanya tiga puluh persen itu?" Tanya Axell dengan tatapan angkuh yang ia tujukan pada rivalnya, dalam hal lain.


Nicholas diam tak menjawab. Rasa terkejut saat mengetahui bahwa Axell adalah pewaris dari MJ Corps masih mendominasinya saat ini. Dan sekarang, ia sama sekali tak pernah berpikir bahwa Axell akan mempersulitnya. Ternyata rumor yang selama ini dia dengar itu benar adanya. Menjalin kerjasama dengan MJ Corps tidak semudah yang ia bayangkan.


"Saya minta Lima puluh persen!" Ucap Axell tegas dan langsung membuat hampir semua yang hadir di ruangan itu terkejut, terkecuali Pandu. Ia tahu, pasti ada sesuatu di balik ini semua. Mengingat, Axell tidak pernah bertindak demikian pada perusahaan lain sebelumnya.


"Lima puluh persen ... atau tidak sama sekali? Pikirkan dengan baik, jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan! Keputusan yang akan anda ambil, akan menentukan nasib banyak karyawan anda ... pak Nicholas!" Ucap Axell lalu berdiri mengancingkan jasnya. "... Saya rasa meeting hari ini selesai. Selamat siang." Lanjut Axell lalu meninggalkan ruang meeting dengan menganggukkan kepalanya terlebih dahulu.


'Sial!' Batin Nicholas dengan satu tangan yang mengepal.


Sementara diluar ruang meeting, Axell berjalan dengan dua orang yang masih setia berjalan dibelakangnya.


"Anda yakin mereka akan menyanggupi permintaan anda, pak Axell?" Tanya Raline yang berjalan satu langkah dibelakang Axell yang berjalan sejajar dengan Pandu.


Tak menjawab, Axell hanya tersenyum samar. Ia sama sekali tak peduli dengan keputusan yang akan Nicholas ambil nantinya. Apapun itu, ia tidak akan di rugikan disini.


"Langkah anda begitu berani, pak Axell. Apa ada hal lain yang melatar belakangi sikap anda?" Tanya Pandu yang menangkap sesuatu pada sikap yang Axell perlihatkan.

__ADS_1


Axell refleks menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada Pandu dengan senyum miring yang terlihat di wajah tampannya. "Anggap aja gue lagi punya mainan baru."


__ADS_2