
Sore ini di rumah keluarga Papa Pras, terlihat banyak kru dari W.O yang disewa oleh Mama Diva. Mereka tengah sibuk mendekorasi setiap sudut rumah untuk persiapan acara pernikahan antara Dira dan juga Axell besok.
Keluarga Papa Pras dan juga Ayah Marvellyo sepakat untuk melangsungkan pernikahan tersebut di rumah Papa Dira. Mengingat tidak banyak tamu yang mereka undang. Hanya keluarga inti dari kedua belah pihak, kepala sekolah, wali kelas dari Dira dan juga wali kelas Axell.
Saat sore tiba, Dira yang seharian mengurung diri di kamar itu pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya karena merasa jenuh.
Dira berjalan pelan menuruni anak tangga sambil sesekali melihat para pekerja yang ikut membantu mendekorasi rumahnya.
"Sini, sayang!" Panggil mama Diva yang melihat kedatangan Dira. Melihat Mama Diva yang melambaikan tangannya membuat Gadis itu berjalan mendekat ke arah ibu sambungnya tersebut.
"Sayang, nanti malam kamu tidur di kamar tamu, ya!" Pinta Mama Diva. Mendengar perintah Mama Diva membuat Dira mengernyitkan dahinya bingung.
"Kenapa Dira harus tidur di kamar tamu, ma?Emangnya kamar Dila kenapa?" Tanya Dira bingung.
"Kamar kamu juga akan di hias, sayang. Takutnya nanti sampai larut malam belum selesai dan nanti kamu jadi kurang istirahat." Jawab Mama Diva menjelaskan dan mendapat anggukan kepala dari Dira.
"Harus banget ya, ma. Dira nikah secepat ini?" Tanya Dira lirih yang masih dapat didengar oleh Mama Diva. Mendengar apa yang dikatakan oleh Dira, Mama Diva langsung mengusap pucuk kepala Dira pelan.
"Percayalah, sayang. Semua ini papa dan mama lakukan hanya untuk kebaikan kamu!" Ucap Mama Diva lembut sambil memeluk Dira.
...***...
Sementara itu di kediaman keluarga ayah Marvellyo, Axell si calon mempelai pria tengah merebahkan diri sambil menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Hingga pandangan Axell tertuju pada setelan jas yang menggantung di sudut ruangan kamarnya.
Laki-laki itu tak pernah menyangka bahwa setelah hari ini maka statusnya akan berubah menjadi suami dari seseorang yang bahkan sama sekali tidak ia kenal.
...***...
Pagi harinya, pintu kamar Axell diketuk oleh Bunda Resty.
Tok...
Tok...
Tok...
"Boy, bangun! Sudah siang. Ayo buka pintunya!" Ucap Bunda Resty setengah berteriak untuk membangunkan Axell. Merasa belum ada jawaban, Bunda Resti kembali memanggil putra semata wayangnya itu.
"Axell, buka pintunya! Ini sudah siang, nak. Kamu harus segera siap-siap!" Teriak bunda Resty lagi. Dan...
Ceklek...
"Ada apa, Bun?" Tanya Axell dengan suara serak khas bangun tidur. Melihat putranya yang baru bangun membuat Bunda Resti menggelengkan kepalanya.
"Cepat mandi, Boy! Kita sudah hampir terlambat." Titah bunda Resty yang menyuruh Axell segera bersiap-siap.
'Astaga...'
"Axell lupa, Bun." Ucap Axell.
"Udah, nggak apa-apa. Sekarang kamu mandi dan siap-siap! Bunda sama ayah tunggu dibawah." Jawab bunda Resty sambil menepuk pelan kepala anak laki-lakinya itu. Axell langsung kembali masuk kedalam kamar untuk mandi dan siap-siap.
__ADS_1
Kini Axell tengah bersiap-siap memakai setelan jas putihnya. Ia berdiri di depan cermin dan memandang ke arah wajahnya. Laki-laki itu terlihat sedang menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Huuhhh..."
Setelah selesai bersiap, Axell lalu keluar dari kamarnya. Melihat kedatangan Axell yang sudah siap, semua keluarga bersiap untuk masuk ke mobil masing-masing dan berangkat ke rumah Dira, dimana pernikahan itu akan di langsungkan.
...***...
Sementara di tempat lain, Dira yang telah selesai di *make up* pun hanya bisa memandang wajahnya di cermin. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini, antara rasa sedih, kecewa, bingung dan juga takut. Semua rasa itu melebur menjadi satu.
Tapi, ada seulas senyuman manis dari bibir gadis itu saat menyadari bahwa dirinya terlihat begitu berbeda. Memang pada dasarnya Dira sangatlah cantik. Tapi hari ini, wajah cantik Dira yang mendapat polesan make up menjadi berkali lipat cantiknya.
"Ini beneran Dira?" Tanya mama Diva yang baru saja masuk ke dalam kamar tamu, tempat di mana Dira di make up.
"Kenapa, ma? Aneh, ya?" Tanya Dira bingung.
"Kamu cantik sekali, sayang. Cantik sekali." Ucap mama Diva kagum. Mendengar apa yang di katakan oleh Mama Diva membuat Dira jadi semakin gugup tentang orang lain nantinya.
"Ya sudah, karena kamu sudah selesai make up-nya, Kamu tunggu sebentar lagi, ya sayang! Nanti kalau sudah waktunya, mama akan jemput kamu." Ucap mama Diva yang mendapat anggukan kepala dari Dira.
"Iya, ma."
...***...
Mobil yang membawa Axell telah sampai di pelataran rumah besar milik keluarga papa Pras. Keluarga Axell turun dan masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut oleh keluarga Dira. Meninggalkan Axell sendiri di dalam mobil.
"Marvell." Panggil papa Pras sambil berjalan mendekat ke arah calon besannya itu. Tak lupa dengan merentangkan kedua tangannya. Tak jauh berbeda, ayah Marvellyo langsung menerima pelukan dari papa Pras.
"Iya, Jeung... benar sekali. Saya tidak sabar melihat mereka segera di persatukan." Jawab mama Diva.
"Tapi... dimana calon mempelai prianya?" Tanya papa Pras yang tak melihat adanya Axell di antara mereka.
"Ah kamu, Pras. Kayak nggak ngerti aja. Biasalah, Pras. Lagi nervous. Masih di mobil dia." Jawab ayah Marvellyo yang di akhiri dengan tawanya.
Sampai akhirnya terdengar suara derap langkah kaki menghentikan tawa papa Pras dan juga ayah Marvellyo.
"Ini calon mantuku, Vell?" Tanya papa Pras yang melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Axell saat ini.
"Pastilah, Pras. Ini putraku satu-satunya, Axello." Ucap ayah Marvellyo dengan bangga.
"Tampan sekali, bahkan kamu yang versi muda saja kalah tampannya, Vell!" Ucap Papa Pras yang memuji ketampanan dari calon menantunya itu.
"Hahaha... kamu lupa, Pras. Wajah tampan yang di dapatkan putraku adalah hasil join aku dengan Resty." Ucap ayah Marvellyo.
"Hahaha... Ya, itu benar. Baik, semua orang sudah menunggu. Mari kita ke sana." Ajak papa Pras.
...***...
Kini Axell tengah duduk tegap di hadapan penghulu dan juga papa Pras. Jangan tanyakan perasaannya. Axell memang cowok yang terkesan cool, cuek dan irit bicara dengan wajah datar khas miliknya. Tapi bukan berarti di saat seperti ini ia tidak merasa tegang. Bahkan sejak masih dalam perjalanan, rasa gugup itu sudah mulai mendatanginya. Tapi bukan Axell namanya jika ia tidak bisa mengalahkan rasa gugupnya sendiri. Laki-laki itu tetap terlihat tenang.
"Sudah siap, boy?" Tanya ayah Marvellyo.
__ADS_1
Axell menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan, "Siap, yah."
"Baik, kalau begitu sudah bisa kita mulai, nak Axell?" Tanya papa Pras pada calon menantunya itu.
Axell mengangguk mantab dan yakin, "Iya, pa."
Tangan papa Pras terangkat mengarah pada Axell dan langsung di sambut baik oleh laki-laki itu. "Baiklah. Bismillahirrahmanirrahim... Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Axello Arkana Marvellyo bin Marvellyo Jodi dengan putri kandung saya Andira Gracelia Prastika Putri dengan maskawin emas seberat lima ratus gram dibayar, Tunai."
Axell menghirup nafasnya dalam sebelum menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Andira Gracelia Prastika Putri binti Prastiko Lucky dengan maskawin tersebut, Tunai."
"Bagaimana para saksi?" Tanya pak penghulu kepada kedua saksi.
"SAH...!!" Ucap kedua saksi secara serentak .
"Alhamdulilah..." Ucap mereka semua bersamaan.
"Huuhhh..." Kini Axell bisa merasa sedikit lega setelah prosesi ijab Kabul. Catat, ya, hanya sedikit. Axell baru akan tenang setelah ia mengetahui, gadis seperti apa yang telah ia nikahi.
Sementara itu, bunda Resty dan juga mama Diva terlihat menitikkan air matanya saking bahagianya. "Semoga Axell bisa menjaga Dira dengan baik ya, Jeung. Meskipun Dira bukan anak kandungku, tapi aku begitu menyayanginya." Ucap mama Diva.
"Pasti, Jeung. Axell pasti bisa menjaga dan membahagiakan Dira. Bukan hanya Axell, saya dan ayahnya Axell juga akan ikut andil dalam menjaga Dira, Jeung. Dira adalah gadis yang baik, dan saya sangat bahagia sekali Axell bisa menikah dengannya." Jawab bunda Resty.
...***...
Dira menautkan kedua tangannya. Sejak tadi perasaan tak karuan mendera gadis itu. Bagaimana pernikahannya? Sebenarnya siapa laki-laki yang menikah dengannya. Hal itu lah yang sebenarnya tengah menguasai pikiran dari Dira. Dan tiba-tiba, pintu kamar tamu terbuka dan menampilkan mama Diva dari balik pintu.
Ceklek...
"Sayang, ini sudah saatnya. Ayo keluar! Semua sudah menunggumu." Ucap Mama Diva.
Deg...
Perasaan Dira semakin tak karuan. Gadis itu lalu menatap wajah mama Diva sesaat dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan.
Kini Dira menuruni anak tangga dengan wajah menunduk. Salah satu tangannya di gandeng oleh Mama Diva. Dan saat Dira mengangkat wajahnya, mata Dira membulat dengan sempurna.
Dira terkejut melihat kepala sekolah dan dua orang guru lainnya. Dira bingung, papa Pras bilang pernikahan nya akan di rahasiakan, lalu untuk apa papanya itu mengundang kepala sekolah dan dua guru lainnya.
Kepala gadis itu pun menoleh ke arah mama Diva seakan meminta penjelasan. Mama Diva yang mengerti maksud dari Dira hanya bisa menganggukkan kepalanya, "Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja, sayang!" Ucap mama Diva yang berusaha menenangkan Dira.
Mama Diva kembali menuntun langkah kaki Dira ke arah laki-laki yang sekarang ini telah sah menjadi suaminya. Dan sekarang ini Dira telah duduk tepat di samping Axell. "Saudari Andira, kini anda telah sah menjadi istri dari saudara Axello. Patuhilah segala perintahnya dan berbaktilah pada suamimu!" Ucap pak penghulu menasehati.
Dira yang mendengar nasehat dari penghulu itu pun hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa mendengar dengan benar, siapa nama yang di sebutkan tadi.
"Sekarang, ciumlah tangan suamimu." Titah pak penghulu. Dan seperti apa yang pak penghulu katakan tadi, tangan Dira terangkat untuk meraih tangan suaminya untuk ia cium dengan posisi kepala yang masih menunduk. Berbeda dengan Dira yang sudah siap mencium tangan Axell, laki-laki itu malah diam, mencerna apa yang baru saja ia ketahui.
Tadi di saat Dira menuruni anak tangga, Axell sejenak terpaku melihat kecantikan gadis yang sekarang ini berstatuskan istrinya itu.
'Cantik.'
Tapi tunggu..
__ADS_1
'Siapa namanya tadi?' Tanya Axell pada dirinya sendiri. Seketika Axell kembali mengingat nama yang ia sebutkan saat prosesi ijab Kabul tadi. Ia menyadari satu hal, bahwa gadis yang ia nikahi sekarang ini tak lain dan tak bukan adalah...