
"Kalo Lo udah bisa relain Dira sama Axell, terus yang Lo maksud dendam ke Axell tadi apaan, Babas?" Verrel gemas sendiri. Disaat serius seperti sekarang ini, Bastian malah asyik muter-muter sendiri.
Bastian menatap Verrel jahil. "Gue lagi gabut. Sekali-sekali cari hiburan dengan ngerjain mereka berdua nggak masalah lah." Jawab Bastian enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bahkan Bastian sama sekali tidak memikirkan dampak apa yang akan ia dapatkan, jika Axell mengetahui perbuatannya nanti.
Verrel memincingkan matanya mendengar jawaban santai Babas. Benar-benar enteng, seenteng mengangkat segenggam kapas. Detik kemudian ia kembali melayangkan pukulan ke kepala sahabat kurang kerjaannya itu.
Bugh!
"Asshuuuww!" Bastian reflek memegangi belakang kepalanya yang kena pukul Verrel. Penuh dramatis dan pastinya lebay ala Babas. "...Sakit, Sat! Sekali lagi Lo pukul gue, gue laporin Lo ke Komnas HAM." Ancam Bastian menggebu. Bukannya merasa bersalah, Verrel hanya memutar matanya jengah.
"... Ini namanya tindak penganiayaan." Ucap Babas lagi.
BUGH!
"Bajing*n!" Bastian kembali mengumpat setelah Verrel kembali melayangkan tinjunya. Dan kali ini mengarah pada lengan kirinya. Terasa ngilu di lengan Bastian karena Verrel yang memang sengaja meninjunya kuat.
"Laporin!" Verrel mendengus kesal, "... Lo pikir gue takut sama ancaman Lo, Bas?" Verrel membuang nafas kasar, "... Gue lebih takut mikirin apa yang bakal Axell lakuin setelah ini." Verrel menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak takut. Emang Axell mau ngapain?" Tanya Bastian.
"... Lo nggak ingat sama perusahaan bokapnya Rere sekarang? Axell mainnya perusahaan, woy!" Jawab Verrel.
"Lo pikun, ya? Gue bukan terlahir dari CEO pemilik perusahaan besar kek Lo sama Axell. Ya ... meskipun perusahaan bokap Lo kalah besar sama om Marvell, tapi harusnya Lo inget!" Bastian melirik Verrel sekilas, "... bokap gue pemilik Arseino's hotel and resort se-Jakarta Bali!"
Verrel kembali memutar matanya. Ini sifat yang paling tidak ia sukai dari Bastian. Menyombongkan apa yang keluarganya punya. Walaupun sebenarnya sah-sah saja. "Semerdeka Lo, Bas! Holang kaya mah bebas mau sombong!"
Bastian terkekeh sejenak. Lalu menatap serius jalan di depan sana dan juga dua mobil yang sangat ia kenal. Mobil Arfen dan pastinya ... mobil Axell yang berada tidak jauh dari posisinya sekarang.
Bukan. Bukan karena Bastian takut dengan apa yang Verrel katakan tadi. Hanya saja ia akan mengatakan maksudnya yang sebenarnya.
"Tujuan gue baik, Rel ..." Bastian menggantungkan kalimatnya. Verrel kembali menatap Bastian dengan satu alis terangkat. "... Axell udah bahagia sama Dira."
"Terus, maksud Lo ngelakuin ini apa?" Tanya Verrel terdengar serius.
"Gue kangen formasi lengkap kita."
...***...
"Anterin Dira pulang ke rumah gue!" Ucap Axell pada seseorang di seberang sana.
"(....)."
__ADS_1
"Thank's."
Setelah menutup telponnya, Axell langsung berbelok mengambil jalan yang lainnya. Ia sengaja tidak mengikuti mobil Zaki yang membawa Dira pulang ke apartemen karena tahu siapa yang tengah mengikutinya saat ini.
Dan disinilah Axell menghentikan mobilnya sekarang, di depan d'Axe Cafe.
Satu sudut bibir Axell tertarik ke samping, menyadari mobil putih yang tak lain adalah milik Arfen tadi yang masih mengikutinya. Itu berarti Arfen tidak menyadari kalau Dira pulang dengan mobil Zaki tadi.
Axell keluar dari dalam mobil tanpa menoleh pada Arfen yang berada tak jauh darinya. Satu tangannya memegang ponsel yang kini menempel pada salah satu telinganya.
"Lo boleh langsung kembali ke kantor, Ndu!"
"(....)."
"Dia bukan ancaman. Seperti yang Lo bilang, gue kenal dia."
Axell kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melanjutkan langkahnya memasuki d'Axe Cafe. Membiarkan Arfen yang masih berdiam diri di mobil dengan satu tangan mengepal tanpa Axell ketahui.
Tak ingin dibelenggu oleh tanda tanya besar di kepalanya, Arfen akhirnya turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Axell. Arfen tidak ingin apa yang ia lakukan sia-sia. Ya, ia harus mendapatkan jawabannya sekarang.
"Axello!" Panggil Arfen.
Axell menghentikan langkah. Tak perlu menoleh karena ia tahu persis siapa yang memanggilnya.
Axell menoleh dengan tatapan datar. Arfen tertegun menyadari wajah datar Axell. Tidak seperti biasanya yang selalu terlihat dingin jika sedang menatap padanya.
Tak langsung menjawab karena sadar ada beberapa orang yang sedang memperhatikan dirinya dan Arfen, Axell langsung berjalan ke ruang kerjanya di kafe tersebut dan membiarkan Arfen mengikutinya. Axell tidak ingin ada orang lain mengetahui privasinya.
"Katakan!" Interupsi Axell yang terdengar dingin saat setelah laki-laki itu menutup pintunya.
"Gue denger Lo hamilin Dira. Apa itu benar?" Tanya Arfen to the points.
Axell menarik satu alisnya melihat wajah Arfen yang seperti terlihat antara kesal atau mungkin marah. Bahkan Axell bisa dengan mudah melihat urat-urat di sekitar leher Arfen.
Tak menampilkan ekspresi terkejut atau apapun, Axell masih menatap wajah Arfen dengan tatapan yang sama. Ternyata kabar Dira hamil sampai juga ke telinga Arfen.
"Ya." Jawab Axell tanpa berniat menutupinya sama sekali. "... Gue emang sengaja bikin Dira hamil. Why?"
"Brengs*k!" Umpat Arfen marah.
Buughh!
__ADS_1
Satu pukulan melayang tepat mengenai salah satu sudut bibir Axell. Membuat Axell hampir limbung jika ia tidak segera berpegangan dengan sofa, karena tak siap dengan pukulan tiba-tiba Arfen.
Axell mengusap sudut bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah segar karena kuatnya pukulan Arfen. Ia menatap Arfen dingin. Bukan karena rasa sakit akibat pukulan yang baru ia terima. Melainkan apa yang akan ia katakan pada Dira nanti, jika dia melihat luka memar di wajahnya?
"Lo berani pukul Gue?" Axell mendekat dan langsung menarik kerah baju Arfen.
"Kenapa? Kenapa Lo lakuin itu, Xell? Masalah Lo itu sama gue, bukan Dira. Jangan jadikan Dira sarana balas dendam Lo ke gue! Dia itu masih polos, jangan Lo rusak dia!"
"Apa Lo bilang? Rusak?" Axell menyeringai. Mendengar kata 'Rusak' dari mulut Arfen yang tidak tahu apa-apa, membuat Axell tertarik untuk membuat laki-laki itu semakin terprovokasi dengan ucapannya. "... Dira itu milik gue. Dan gue bebas ngelakuin apa aja selama dia mau."
"Fu*k!" Arfen mendorong tubuh Axell kuat, membuat cengkraman tangan Axell terlepas dari kerah bajunya. "... Atas dasar apa Lo berhak ngelakuin itu, Xell? Dengan dalih amanat dari om Pras?" Arfen menghentak nafas kasar dengan senyum mengejek, "... Amanat yang seperti apa yang bikin Lo sampai nekat hamilin anak gadis orang, Xell?!"
"Satu hal yang harus Lo tahu, Arfen! Gue ngelakuin itu tanpa paksaan sedikit pun ..." Axell terkekeh pelan, "... Kenapa? Lo nggak terima?" Axell kembali menyeringai agar Arfen semakin marah. "... Dira juga mau. Dia bahkan pernah beberapa kali ngajakin gue duluan. Kenapa Lo kebakar?!"
'Kebakar?'
Marah? Iya. Kabar Dira hamil memang berhasil membuat Arfen marah pada dirinya sendiri. Ia merasa gagal menjaga Dira.
Cemburu? Rasa itu memang nyata adanya kerena ia mencintai Dira. Dan ia sangat menyayangkan perbuatan Axell yang dengan tega merusak Dira dengan cara membuatnya hamil. Sungguh, Arfen tidak pernah membayangkan kalau Axell seberani itu melakukannya pada Dira.
"Kenapa diam?" Axell kembali ke setelan pabrik. Ia menatap Arfen dengan wajah datar dan tatapan dingin siap menusuk.
Arfen menatap Axell nanar, dia melunak. "Xell, Please! Dira itu sahabat gue. Lo nggak seharusnya -"
"Sahabat?" Potong Axell cepat dengan satu alis terangkat. "... sahabat tapi suka, gitu kan maksud Lo?"
"Lo -"
"Cukup, Arfen! Lo udah terlalu banyak ngomong! Dari dulu Lo selalu bilang kalo gue harus dengerin Lo ..." Axell terdiam sejenak. "... Sekarang, giliran Lo yang dengerin gue!"
Arfen diam dengan pandangan yang tak lepas dari Axell. Sebagai salah satu sahabat Axell, ia tahu banyak tentang laki-laki di depannya ini. Dan saat ia menanyakan tentang apa yang Axell lakukan pada Dira, Axell mengakuinya dengan begitu mudah tanpa beban dan rasa bersalah sedikit pun.
Lama tidak berbaur dengan Axell, apa Axell banyak berubah?
"Di antara Verrel dan Bastian, gue akui Lo yang paling tahu bagaimana gue. Lo juga tau gimana gue sama Rere dulu. Dan gue udah jauh-jauh hari tutup buku antara gue sama Rere, terlepas dari apa pun status Lo berdua, gue sama sekali nggak perduli ..." Axell memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
"... Seperti yang Lo tau, sekarang ini gue udah bareng sama Dira. Atas semua yang terjadi antara gue dan Dira, Lo tenang! Gue nggak akan kurang ajar dengan cara lepasin Dira gitu aja, apa lagi setelah apa yang gue ambil dari dia sampai kapan pun." Axell meraba sudut bibirnya dimana ia mendapatkan pukulan dari Arfen tadi. Axell bisa merasakan ada darah yang mengering disana.
"... Dan karena Lo sahabat Dira, Gue anggap hari ini tidak terjadi. Jadi, kalo Lo masih mau bebas ketemu Dira, bersikaplah hanya sebagai seorang sahabat, tanpa rasa yang lebih. Atau gue akan benar-benar tutup akses Lo ketemu sama Dira!"
"Xell, tolong -"
__ADS_1
Axell mengangkat satu tangannya, "SEKALI LAGI GUE TEGESIN. DIRA MILIK GUE, DAN GUE NGGAK SUKA MILIK GUE DI USIK. NGERTI LO?!"