Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
98. Urusan suami istri.


__ADS_3

"Jadi gimana, Nay. Lo bisa kan bantuin gue?" Tanya Arfen penuh harap.


Tak langsung menjawab, Nayla tampak berpikir sejenak. "Gue nggak bisa janji, Ar."


"Nay, please ... gue pengen banget bisa ketemu Dira." Ucap Arfen penuh harap. Nayla menghela nafas. Ia sendiri bingung, pengen banget bisa bantuin Arfen, tapi nggak tau bagaimana caranya.


Tadi pagi-pagi sekali Arfen datang ke rumah Nayla. Sengaja ingin mengajak sahabatnya itu berangkat sekolah barengan. Berhubung jarak rumah di antara keduanya yang terbilang dekat. Dan juga jalan menuju SMA Bhakti Bangsa dan SMA Bina Bangsa yang searah. Dan kini keduanya masih berada di dalam mobil Arfen dengan jarak beberapa meter dari pintu gerbang SMA Bhakti Bangsa.


"Gue usahain ya, tapi Lo juga jangan terlalu berharap! Si Axell nempel mulu soalnya sama Dira." Ucap Nayla setelah melepas lock safety belt-nya.


Arfen berdecak. "Cckk. Emang udah nggak ada celah mereka? Mau ketemu Dira aja susah banget. Kalo aja gue nggak nurutin Dira, waktu itu, pasti gue udah masuk ke dalem buat nemuin dia." Ujar Arfen sambil melihat ke arah gerbang sekolah Dira.


"Jangan nekat, Ar!" Nayla kembali menghela nafas. Sungguh ia tak tega melihat sahabatnya yang jelas terlihat tidak baik-baik saja ini. "... Ya udah, gue masuk dulu. Nanti kalo ada kesempatan, gue bakal bawa Dira buat temuin Lo." Jawab Nayla.


"Rasa-rasanya gue hampir gila, Nay."


...***...


Sementara itu di parkiran SMA Bhakti Bangsa, Dira yang sudah bersiap turun dari mobil suaminya itu pun terhenti karena Axell yang menghentikannya. "Yang..." Panggil Axell tiba-tiba.


Tangan yang sudah siap membuka pintu itu seketika terhenti. Lalu menoleh ke arah Axell. "Iya, kak. Ada apa?" Tanyanya.


Hening untuk beberapa saat, Axell masih diam dengan pandangan yang lurus menatap ke depan. Entah, apa yang sedang laki-laki itu perhatikan. "Gue boleh minta sesuatu?" Tanya Axell masih arah pandang yang sama.


Dira mengangkat satu alisnya, "Minta apa, kak?"


"Apa pun yang terjadi ... tetap percaya sama gue!" Ucapnya pelan.


Dira mengrenyit bingung, detik kemudian ia mengangguk. "Iya, kak." Jawabnya pelan. Lalu turun dari dalam mobil Axell. Di susul dengan Axell yang juga turun tak lama setelah Dira. Menyusul gadisnya yang sudah lebih dulu melangkah pergi meninggalkan mobil.


"Dira...!" Panggil Nayla dari depan pintu gerbang. Dira menoleh ke belakang, ia mendapati Nayla yang erjalan mendekat ke arahnya. Sementara Axell hanya mendengus kesal.


"Nayla ... Lo juga baru sampai?" Tanya Dira. Jangan tanyakan Axell, ia hanya menampilkan wajah cuek khas miliknya. Sama sekali nggak berniat menanggapi teman sekelasnya itu.


"Iya, nih. Eh ... Dir, ada yang mau gue omongin sama Lo ... Empat mata." Ucap Nayla lalu menatap Axell sekilas.

__ADS_1


"Ada apa, Nay? Kenapa harus empat mata segala?" Tanya Dira penasaran. Sementara Axell, ia hanya menarik satu alisnya. Rasa penasaran tentu juga menderanya.


Nayla mendekat, lalu membisikkan sesuatu pada Dira yang langsung membuat gadis itu refleks melirik ke arah Axell. Detik kemudian ia nampak kesulitan menelan salivanya sendiri. Ia bingung harus menjawab apa.


"Jangan kepo Lo, Xell! Ini urusan cewe." Ucap Nayla yang mengerti keadaan kalau Dira tidak bisa dengan mudah menemui Arfen kalau masih ada Axell di dekatnya.


"Gue ke kelas dulu ya, Yang ..." Ucap Axell sambil mengacak pelan rambut Dira tak lupa ia mendaratkan satu kecupan singkat di pipi gadis itu tanpa menghiraukan adanya natal di antara mereka. "... Dan ingat, jangan nakal!" Tambahnya.


Nayla yang melihat Axell, yang bisa begitu mudahnya mencium Dira membuat mata gadis itu membulat sempurna. "Gaya pacaran Lo berdua menghawatirkan. Di depan gue aja Lo bisa dengan mudahnya cium-cium Dira. Gimana kalo cuma berdua?" Cibir Nayla pada sahabat kekasihnya itu. Axell tak ambil pusing. Ia bahkan tak memberi Nayla tanggapan apapun. Malah dia santai banget melangkah pergi menuju kelas.


Kesal tak mendapat respon dari Axell, Nayla beralih pada sahabatnya. "Lo juga, Dir. Mau-maunya di cium-cium kayak gitu sama Axell!" Protes yang kini Nayla layangkan pada sahabatnya.


"Nay, udah ..." Lirih Dira. Gadis itu lalu memperhatikan punggung Axell yang semakin mengecil dari pandangannya. Setelah yakin Axell sudah semakin jauh, kini pandangannya beralih menatap serius Nayla, "... Sekarang dimana Arfen?"


"Lo ikut gue!"


...***...


Jam sudah menunjukkan angka 07.30 dan bel tanda di mulainya pelajaran sekolah sudah berbunyi sedari tadi.


Axell lalu memutuskan untuk segera mencari Dira, atau jika perlu Nayla sekalian. Axell begitu penasaran, kemana perginya kedua gadis itu sampai tidak mengikuti pelajaran di sekolah.


Axell yang kelas berstatuskan kakak kelas memang tidak sekelas dengan Dira, tapi ia selalu memantau gadisnya itu lewat guru yang kebetulan mengajar di kelas Dira. Mengingat sebelumnya Dira yang tidak pernah bolos mengikuti jam pelajaran, lalu sekarang ... kenapa tiba-tiba gadisnya itu sengaja tidak mengikuti pelajaran? "Udah mulai nakal Lo, ya? Padahal udah gue bilangin tadi." Ucap Axell dengan senyum smirk-nya.


Axell berjalan menuju ruang CCTV. Mungkin di sana ia bisa mendapatkan jawaban tentang kemana perginya Dira tadi. Sengaja ia tidak menelpon Dira karena Axell yang akan langsung menghampiri gadis itu begitu ia tahu dimana letak istrinya tersebut.


Brrakk!


Axell dengan sengaja menggebrak meja dengan sangat keras setalah tahu kemana gadisnya itu berada sekarang.


Tanpa membuang banyak waktu lagi, Axell segera keluar dari ruang pantau CCTV tersebut dan bergegas menyusul gadisnya sekarang.


...***...


Axell sudah sampai di pos satpam dekat pintu gerbang. Laki-laki itu memang sengaja menunggu kedatangan gadisnya di sana dan membatalkan niatnya untuk menghampiri Dira. Lebih baik menunggu dari pada ia malah terpancing emosi karena melihat gadisnya yang terang-terangan menemui sahabat tapi sukannya itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Axell melihat Dira yang berjalan keluar dari Rolanda Cafe, bersama dengan seorang Nayla dan juga Arfen di sampingnya.


Axell mengepalkan tangannya kuat saat melihat dengan jelas dimana Arfen yang melambaikan tangannya pada Dira, lalu masuk kedalam mobil dan dan pergi meninggalkan kafe tersebut. Sementara Nayla sudah lebih dulu masuk SMA Bhakti Bangsa. Kenapa Nayla bisa masuk ke area sekolah padahal jelas-jelas pintu gerbang sudah di tutup? Itu karena Axell yang memang berpesan pada satpam yang kebetulan berjaga untuk membukakan pintu gerbang untuk Nayla dan Dira sebelumnya.


"Mau nambah dosa ternyata?" Suara bariton yang tiba-tiba muncul dan sukses mengejutkan Dira. Membuat gadis itu diam terpaku seketika.


Deg!


Seketika jantung Dira berdegup kencang. Ia sudah seperti seorang pencuri yang ketahuan. Pasalnya Dira hafal betul siapa pemilik suara itu. Gadis itu memberanikan diri untuk menoleh dan langsung di hadapkan dengan lelaki yang berstatuskan suaminya, yang kini sedang berjalan semakin mendekat ke arahnya dengan tatapan yang ... Dira di buat takut sendiri melihatnya.


"Udah nggak pernah ngasih jatah suami, bandel, nggak bisa di bilangin baik-baik, bahkan sengaja bolos pelajaran demi ketemuan sama cowok lain." Ucap Axell sambil menggerakkan jari kirinya seolah menghitung kesalahan dari gadisnya itu.


Dira tak menjawab, gadisnya itu hanya menggigit bibir bagian dalam dan meremat ujung Rok seragamnya. Gadis itu tengah mewanti-wanti apa yang akan Axell katakan setelah ini.


"Kira-kira hukuman apa yang pantas buat Lo, Yang? OK, karena Lo istri gue, Lo bisa pilih hukuman buat Lo sendiri ..." Ucap Axell semakin mendekat ke arah gadisnya dan mengikis jarak diantara keduanya. Lalu menunduk untuk membisikkan sesuatu pada gadis itu, "Puasin gue di ranjang, atau ... ngasih orang tua kita cucu dalam waktu dekat. Selain ayah sama bunda yang udah ngarep cucu dari kita, gue rasa papa sama mama juga bakalan seneng, denger Lo hamil anak gue!"


Deg!


Dira semakin menegang dengan mata yang membulat sempurna. Mendengar kalimat yang Axell ucapkan di akhir kalimatnya tadi, entah mengapa seakan membuat jantungnya ingin meledak.


Axell tersenyum miring, melihat reaksi yang Dira perlihatkan. Begitu jelas terlihat kalau Gadisnya itu tengah gugup dan juga ... takut.


"Karena jam pelajaran udah mulai dari tadi, sekalian aja bolos. Gue ajarin gimana nakal yang sesungguhnya. Sekarang ... Lo ikut gue!" Ujar Axell, lali menarik gadisnya menuju dimana mobilnya terparkir.


Tanpa keduanya ketahui. Sedari tadi ada seseorang yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan keduanya.


'What? Suami? Istri? Mereka ...'


...***...


Axell lalu membuka pintu mobilnya dan langsung memasukkan Dira kedalamnya. Tak lupa juga ia memasangkan lock safety belt pada gadisnya.


"K-kak Ax-xell ... k-kkita mau k-kemana?" Tanya Dira yang semakin gugup dan juga takut saat Axell mulai menjalankan mobilnya.


Axell menoleh, ia tersenyum menyeringai. "Menyelesaikan urusan suami istri yang tertunda."

__ADS_1


__ADS_2