
"Lo tidur sekarang? Atau sekarang... Gue yang tidurin Lo?" Bisik Axell tepat di telinga Dira dengan suara beratnya. Dan berhasil membuat Dira seketika meremang.
Dira belum siap untuk ini.
Gadis itu langsung menutup buku yang ia baca tadi. Lalu, "OK, kak. Gue tidur sekarang." Jawab Dira dan langsung bergegas menuju ke ranjang. Tak lupa ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Melihat reaksi yang dilakukan oleh Dira membuat Axell terkekeh geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Rencananya berhasil.
Padahal Axell tidak sungguh-sungguh dengan apa yang di katakannya tadi. Axell sengaja mengatakan akan meniduri gadis itu kalau ia tidak segera tidur malam ini. Padahal jam sudah menunjukkan pukul hampir tengah malam. Di mana biasanya orang-orang sudah tertidur pulas, gadis itu masih saja membaca buku.
Tiba-tiba Axell tampak menguap. Rasa kantuk telah menyerangnya. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Axell memutuskan untuk menyusul Dira di ranjang dan memejamkan matanya untuk tidur.
...***...
Keesokkan harinya, Dira yang sudah bangun terlebih dulu memutuskan untuk membuat sarapan.
Saat sudah berada di dapur, Dira langsung membuka kulkas. Mengambil beberapa butir telur dan memecahkannya ke dalam wadah. Memotong wortel, daun bawang dan juga mencincang bawang putih. Ia campur keempat bahan tadi menjadi satu. Tak lupa ia menambahkan sedikit garam dan merica bubuk. Dikocoknya telur tersebut sampai tercampur rata dan menuangkannya ke dalam pan yang sudah ia panaskan sebelumnya.
Setelah matang Dira lalu meletakkan omelette tersebut ke atas piring dan menambahkan sedikit saus sambal.
Setelah selesai membuat sarapan, Dira langsung bergegas masuk ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap ke sekolah
Saat Dira masuk ke kamar mandi, Dira kembali di suguhkan dengan pemandangan yang tak biasa. Ia kembali melihat tubuh bagian atas milik Axell.
Axell yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi itu hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dengan air yang masih nampak menetes dari ujung rambut laki-laki itu kembali membuat Dira terdiam sesaat karena pemandangan yang tepat berada di depannya.
'Wow...!'
Untuk sesaat Dira begitu terpesona dengan apa yang sedang ia lihat saat ini. Selama ini, Dira tidak begitu memperhatikan Axell sebelumnya. Di sini, Dira baru menyadari, ternyata selain memiliki wajah yang tampan, ternyata suaminya itu memiliki tubuh yang bagus. Kulit tubuhnya putih kemerahan alami yang sempurna, bahkan tanpa cacat sama sekali. Serta badan kekar dan otot yang terpahat sempurna yang pasti akan membuat semua gadis menjerit saat melihatnya.
'Cuci mata pagi-pagi. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan, Dira?'
Tapi tunggu...
'Eh... gue nggak dosa kan kalo liat kak Axell lagi kayak gini? Oh... God... gue baru nyadar, ternyata Lo, sesempurna itu, kak.' Batin Dira bermonolog.
Eits... Setelah sadar dengan apa yang baru saja di katakannya dalam hati tadi, Dira refleks menutup wajahnya sekaligus membalikan badannya membelakangi Axell. "Kok nggak cepet-cepet ganti baju sih, kak!" Protes Dira pada Axell.
"Kenapa memangnya?" Tanya Axell sambil sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Karena mata lo yang suci jadi ternodai setelah puas liat badan gue, iya?"
Deg...
"Buruan pakai baju!" Tak menjawab tebakan Axell, Dira dengan cepat meminta Axell segera mengenakan bajunya lalu segera masuk ke kamar mandi.
"Iya." Jawab Axell yang entah Dira masih mendengarnya atau tidak.
...***...
Kini keduanya tengah duduk berhadapan di meja makan untuk sarapan.
"Lo yang bikin omelette ini?" Tanya Axell di sela mengunyah makanannya.
"Iya, kak. Kenapa, rasanya aneh ya?" Tanya Dira yang ingin tahu pendapat Axell tentang omelette buatannya.
"Nggak. Ini enak. Tapi sausnya kebanyakan. Gue nggak bisa makan pedes." Jawab Axell yang kini meraih susu untuk menetralkan rasa terbakar di lidahnya.
"Sorry, kak. Aku nggak tau kalo kak Axell nggak suka pedes." Jawab Dira yang memang tak mengetahui kalau Axell yang memang tak menyukai makanan pedas. Berbeda dengan dirinya yang malah sangat menyukai makanan pedas tersebut.
"Está bem, (Nggak apa2). Kalo udah selesai ayo berangkat, udah jam segini." Balas Axell sambil melihat jam tangannya sekaligus menghabiskan susunya tadi.
"Kak Axell duluan aja, aku pake mobil aku sendiri. Kemarin udah di anterin sama asisten papa." Jawab Dira santai.
__ADS_1
"No penolakan, Dira. Lo tetap berangkat bareng gue, hari ini dan seterusnya." Ucap Axell tegas tak mau di bantah.
"Tapi, kak, nanti kalo ada yang ngeliat aku keluar dari mobil kak Axell, gimana?" Tanya gadis itu.
"Memangnya kenapa kalo mereka ngeliat?" Tanya balik Axell.
"Mereka bisa mikir yang aneh-aneh." Jawab Dira sambil meminum Lemon tea hangat buatannya tadi.
"Nggak usah Lo pikirin!"
...***...
Sampai di sekolah, ternyata keadaan sudah lumayan ramai. Bahkan Dira sampai harus mengendap-endap hanya untuk keluar dari mobil Axell.
"Ada yang liat nggak, ya?" Lirih Dira sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Tadi Axell sudah keluar dari mobil beberapa menit yang lalu.
"Lo ngapain, Dir?" Tanya seseorang yang tepat berada di belakang Dira. Dira yang mendengar suara tiba-tiba itu pun terlonjak kaget. Gadis itu pun menoleh ke belakang.
"Zaki. Lo ngagetin gue tau nggak?" Protes Dira pada Zaki.
"Ya habisnya Lo, jalan pake ngendap-ngendap segala. Udah kek mau maling spion, kan mencurigakan." Jawab Zaki asal.
"Sembarangan." Ucap Dira kesal.
"Sorry... sorry... Ya udah. Kelas, yuk! Lo nggak lagi nungguin siapa-siapa, kan?" Ucap Zaki.
"Nggak ada, nungguin siapa emang?" Tanya Dira yang kini mulai melangkahkan kakinya menuju ke kelas.
"Gue mungkin?" Jawab Zaki asal.
"Hoax." Jawab Dira singkat dan langsung terdengar tawa dari keduanya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memperhatikan keduanya dari kejauhan.
...***...
Tadi mereka sedang membahas tentang baksos yang akan dilaksanakan beberapa Minggu lagi bersama dengan anggota OSIS lainnya.
Tapi karena bel istirahat telah berbunyi, dan rapat OSIS juga sudah selesai, Anggota OSIS yang lainnya memilih keluar menyisakan Axell dan Verrel.
"Eh... tau nggak, bro -..."
"Nggak tau." Belum sempat Verrel mengatakan maksudnya, Axell sudah lebih dulu menyela dengan tanpa rasa bersalahnya.
"Ck. Gue belum selesai ngomong, anjir!" Ucap Verrel kesal.
"Ya udah ngomong." Jawab Axell enteng tanpa menoleh ke arah Verrel sama sekali.
Verrel memutar bola matanya malas, lalu kembali berkata, "Kemaren gue ketemu lagi sama Rere." Ujar Verrel sambil menatap serius ke arah Axell.
Axell menatap sahabatnya itu sesaat. Nampak jelas terlihat dari sudut pandang Verrel kalau Axell kini menatapnya tak suka setelah menyebut nama Rere tadi.
"So, apa hubungannya sama gue?" Jawab Axell cuek sambil mengetikkan sesuatu pada komputernya didepannya.
"Lo yakin, perasaan Lo ke Rere udah bener-bener nggak ada? Maksud gue, sama sekali nggak ada tempat buat dia dihati Lo?" Tanya Verrel coba meyakinkan sahabatnya itu. Verrel ingat betul, betapa Axell dulu yang begitu mencintai gadis yang ia sebutkan tadi.
Enggan menjawab. Kini pandangan Axell kembali menatap Verrel seolah mengisyaratkan agar tak membahas gadis itu lagi.
"OK, gue ngerti. Gue seneng kalo Lo udah benar-benar bisa lupain dia. Kali ini gue setuju dengan apa yang pernah Babas katakan, Kalo dia emang nggak baik dan nggak pantas buat Lo..." Ucap Verrel sambil menepuk pundak sahabatnya itu. "...Dah lah. Cabut yuk, bahas tuh cewe gue jadi laper." Ajak Verrel. Axell lalu menutup komputernya dan berjalan menyusul Verrel yang sudah lebih dulu meninggalkan ruang OSIS.
Karena Verrel sudah sampai di kantin terlebih dulu, Jadilah Axell berjalan ke kantin sendirian. Axell berjalan dengan begitu santainya, satu tangan ia masukan ke dalam saku dan terus menatap ke depan tanpa menghiraukan setiap pasang mata yang menatap kagum ke arahnya.
Inilah salah satu hal yang paling tidak Axell sukai. Menjadi pusat perhatian. Itulah mengapa Axell meminta pada ayahnya untuk memasukkan salah satu syarat bagi siswi yang ingin masuk ke SMA Bhakti Bangsa, sebuah syarat yang tak biasa, Dilarang mengusik ketenangan siswa bernama Axello.
Karena adanya peraturan yang tak biasa seperti itu, sontak saja membuat semua siswi yang mengidolakan Axell mati-matian menahan keinginan mereka untuk mendekati idolanya tersebut.
__ADS_1
Bahkan mereka sampai bertanya-tanya, ada hubungan apa antara Axell dengan pemilik sekolah? Mengingat tidak ada yang tahu kalau Axell adalah putra tunggal dari pendiri SMA Bhakti Bangsa tersebut. Apalagi tidak adanya nama MARVELLYO di name tag seragam Axell, hanya tertulis AXELLO A di sana.
"Definisi susah didapatkan." Celetuk gadis yang bernama Amel.
"Ssst... Jan keras-keras, ntar do'i denger!" Balas Nina teman Amel.
"Kita cukup mengagumi dalam diam Kalau masih mau sekolah di sini!" Sahut Celine.
"Gue jadi penasaran, jangan-jangan Axell anak pemilik sekolah ini?" Ucap Amel menduga.
"Mana mungkin, kata bokap gue anak dari pemilik sekolah ini udah lulus sekolah." Ujar Celine.
"Lo tau dari mana?" Tanya Nina.
"Bokap gue pernah meeting bareng." Jawab Celine.
...***...
Di parkiran sekolah, kini Axell tengah menunggu kedatangan Dira. Sebelumnya Axell sudah mengirimi gadis itu pesan untuk segera masuk ke dalam mobil, karena Axell akan mengajak Dira untuk pergi ke suatu tempat.
"Sorry, kak. Lama."
...***...
*Visual cast*
*Axello Arkana Marvellyo.
*Andira Gracelia Prastika Putri.
*Arfen Arsetya Restu.
*Verrel Zufar Mahendra.
*Nayla Putri Raidestya.
*Sebastian Arseino.
*Melody Dewantari.
*Zaki Arya Pradipta.
*Nicholas Mahaputra.
*Untuk visual Babas & Zaki sengaja aku ganti ya, guys. Di akun sebelumnya Shawn Adrian as Babas & Verrel Bramasta as Zaki.
*Bagi yang udah baca jangan lupa komen, like, vote, and jadiin cerita Raxell favorit kalian. Biar aku makin semangat untuk up part-part selanjutnya. Ok, see you, zheyeng-zheyengku😘
__ADS_1