Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
58. Dia?


__ADS_3

Tangan putih Dira reflek merogoh ponsel dari saku bajunya. Detik kemudian ia begitu terkejut saat melihat lehernya yang penuh dengan kissmark dari Axell yang bahkan hampir mengelilingi lehernya.


"Pakai, setelah itu kita pulang!"


...***...


Setelah melakukan perjalanan selama hampir satu jam. Kini mobil Axell telah terparkir rapi di garasi rumah papa Pras. Seperti janjinya kemarin, ia akan menemani Dira untuk menginap beberapa hari di rumah papa Pras.


Axell yang sudah akan keluar dari mobil itu menoleh kesamping dan mendapati Dira yang sudah tertidur. Axell lalu memutuskan untuk mengendong Dira untuk ia bawa masuk kedalam rumah. Setelah membuat gadis itu menangis di d'Axe kafe tadi, ia jadi tak tega untuk membangunkan tidur gadis itu.


Tepat sampai di depan pintu saat Axell akan mengetuk pintu yang masih tertutup tersebut, ada seseorang yang lebih dulu membukanya dan menampilkan mama Diva dibalik pintu.


"Assalamu'alaikum, ma." Sapa Axell sopan pada mama mertuanya itu.


"Wa'alaikumsalam.. lho, Axell... Dira kenapa, nak?" Tanya mama Diva khawatir melihat Dira yang berada di gendongan Axell.


"Ini ketiduran di mobil tadi, ma." Jawab Axell santai.


"O... ya udah, kamu langsung bawa Dira ke kamar, ya. Kamu juga istirahat!" Titah Mama Diva.


Axell menganggukkan kepalanya patuh. "Kalau begitu, Axell ke atas dulu ya, ma?" Pamit Axell sambil melangkah kakinya menaiki anak tangga menuju ke lantai dua dimana kamar yang kini menjadi miliknya dan Dira berada.


"Iya, nak." Jawab mama Diva sambil tersenyum.


Sampai di kamar, Axell langsung meletakkan Dira di atas ranjang dengan sangat pelan dan hati-hati agar tak sampai membangunkan Dira. Melepaskan sepatu yang masih membungkus kedua kaki gadis itu agar nyaman saat tidur.


Setelah selesai melepaskan kedua sepatu Dira. Axell bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah lima belas menit, Axell yang telah selesai dengan urusan mandinya, keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terasa segar. Ia lalu berjalan ke lemari untuk mengambil baju gantinya karena saat keluar dari kamar mandi tadi, ia hanya menggunakan handuk putih yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


Setelah selesai menggunakan bajunya, Axell langsung merebahkan tubuhnya di samping gadis yang sudah lebih dulu tertidur di sana. Axell menoleh ke samping. Dipandanginya wajah damai gadis yang tengah terlelap itu. Entah mengapa melihat wajah tenang Dira saat tidur seperti ini malah berhasil membuat rasa bersalahnya kembali muncul.


"Sorry, Dir. Sorry untuk sikap tiba-tiba gue tadi yang malah sampe bikin Lo nangis... " Ucap Axell penuh sesal.


"... Seharusnya Lo tau, gue nggak bisa liat apa yang gue punya, bisa dengan mudahnya di sentuh oleh orang lain. Gue nggak mau... apa yang gue punya di rebut orang lain. Gue pernah ngalamin sebelumnya, dan gue nggak mau hal itu terulang lagi..."


Tangan Axell bergerak untuk merapikan anakkan rambut yang menutupi wajah damai Dira. "... Lihat Lo deketan sama Nicholas, gue cemburu, Dir. Satu sifat buruk yang gue punya, gue nggak bisa ngendaliin emosi gue ..."


Axell tersenyum kecut mengingat dirinya adalah orang yang mudah sekali cemburu dan bahkan sangat mudah tersulut emosi saat melihat Dira dekat dengan cowok lain.

__ADS_1


Axell cemburu? Nggak salah kan? Memang apanya yang salah disini? Dira istrinya. Dan Axell berhak untuk marah. Melihat istrinya dekat dengan cowok lain, siapa yang bisa terima? Jadi wajar kalau Axell bersikap demikian. Apalagi ia memiliki pengalaman buruk soal percintaan.


Axell menghela nafas pelan, setelahnya satu kecupan singkat ia daratkan di kening Dira. "... Gue punya pengendalian emosi yang buruk. Gue harap, Lo bisa nerima kekurangan gue yang ini, Dir. Dan jangan pernah sekalipun berpikir untuk tinggalin gue! Hubungan kita memang di dasari dengan perjodohan, tapi status kita disini nggak main-main. Gue akan terus berusaha buat pertahanin Lo. Karena apa yang udah gue genggam, (Axell menggelengkan kepalanya pelan) nggak akan pernah gue lepas. Cukup dia yang gue lepas... Lo nggak akan!" Ucapnya lagi lalu kembali mencium kening Dira dan akhirnya tertidur sambil memeluk gadisnya itu.


Karena tak lagi merasakan adanya pergerakan dari cowok disampingnya, membuat Dira memberanikan diri untuk membuka mata. Iya, sebenarnya Dira sudah mulai terbangun sedari tadi. Saat Axell keluar dari dalam kamar mandi dan dalam keadaan bertelanjang dada.


Melihat Axell yang belum mengenakan baju, membuat Dira mengurungkan niatnya untuk bangun. Ia takut kalau Axell akan melakukan hal-hal yang lebih daripada di kafenya tadi.


Akhirnya Dira pun memutuskan untuk pura-pura tidur untuk menghindari hal-hal yang tadi sempat muncul di pikirannya dan ia malah mendengar curahan hati dari Axell.


Sungguh bukan sengaja. Dira memang tidak pandai membaca situasi tadi. Seharusnya ia bisa menghindar dan menjaga jarak dengan Nicholas tadi.


Tapi mau bagaimana lagi. Ini semua di luar dugaannya. Bertemu dengan Nicholas di Rolanda Cafe sama sekali tidak ia rencanakan. Kalau Dira tahu akan bertemu dengan laki-laki itu, pasti dia akan menolak ajakan Melody tadi. Semuanya terjadi begitu saja. Bertemu dengan Nicholas dan menerima Hoddie yang di pinjamkan oleh laki-laki itu malah membuat keduanya terlihat dekat. Apalagi saat Zaki bilang ekspresi suka Nicholas yang sangat ketara menambah buruk suasana hati Axell saat itu.


Sampai Dira melupakan satu hal tentang Axell, laki-laki yang berstatuskan suaminya itu adalah seorang pencemburu dan juga mungkin posesif.


'Saran gue, Lo jaga jarak sama cowok lain! Karena setau gue... Axell orangnya pencemburu. Dia bisa tiba-tiba meledak kalau lihat ceweknya deketan sama cowok lain.'


Dira mengangguk pelan membenarkan apa yang Zaki katakan waktu itu. Bahkan reaksi Axell tadi tak pernah ia duga sebelumnya. Hanya karena melihat dirinya dekat dengan laki-laki lain, Axell bisa sebegitu marahnya. Dan beberapa jam tadi, Dira sudah merasakannya sendiri.


Dira lalu menatap wajah Axell yang sedang tertidur. Alis yang tebal, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, wajah yang tampan, dan bibir Axell yang merah alami yang di dapatkan karena Axell bukan seorang perokok.


Axell yang bersikap demikian karena status mereka yang sudah suami istri, atau karena memang sudah timbul rasa cinta dalam hati laki-laki itu untuknya? Entahlah, Dira juga tak mengerti. Tapi, Axell bilang dia cemburu, kan? Cemburu kan tanda cinta. Berarti Axell... Cinta dia, kan?


Disaat Dira tengah asyik mengamati salah satu makhluk ciptaan Tuhan di depannya ini, tiba-tiba ia teringat akan satu hal.


'Dia?'


...***...


"Ada apa?"


"(....)."


"Gue nggak bisa. Langsung ngomong aja! Ribet banget hidup Lo!"


"(....)." Axell menarik salah satu sudut bibirnya mendengar lawan bicaranya yang kini tengah mengumpati dirinya di seberang sana.


"Gue nggak bisa."

__ADS_1


Ceklek,


"Kak Axell, udah ditunggu papa sama mama untuk makan malam!" Ucap Dira yang tiba-tiba masuk ke kamar.


Axell menoleh ke arah Dira, "Iya, bentar lagi gue turun." Jawabnya. Lalu Axell menatap benda pipih yang masih berada dalam genggamannya.


"Sial!" Dan...


Tuutt...


Axell langsung memutus telepon itu sepihak. Menimbulkan tanda tanya besar di benak lawan bicaranya tadi. Axell yakin, besok pasti ia akan di jejali dengan begitu banyak pertanyaan dari orang itu.


...***...


Axell tengah berdiri di taman belakang rumah bersama dengan papa Pras yang juga berdiri di sampingnya. Setelah makan malam tadi, papa Pras meminta pada menantunya itu untuk menemuinya di taman belakang karena ada hal yang ingin papa Pras bicarakan padanya.


"Sebenarnya ada apa, pa? Apa ada hal yang mengganggu pikiran papa?" Tanya Axell setelah keduanya hanya saling diam tanpa bicara beberapa saat.


Papa Pras tersenyum mendengar pertanyaan yang muncul dari menantunya itu, "Papa hanya ingin ngobrol sebentar sama kamu, Axell... ini mengenai Dira." Jawab papa Pras tenang.


"Ada apa, pa? Ada yang bisa Axell bantu? Atau... Axell udah bikin kesalahan?" Tanya Axell yang mengira mungkin saja Dira mengadukan pada papa Pras tentang apa yang ia lakukan pada Dira sore tadi di d'Axe Cafe.


Papa menggeleng, pelan. "Sejauh ini, bagaimana sikap Dira sama kamu, nak?" Tanya papa Pras to the points.


Axell mengerutkan dahinya bingung, sikap yang bagaimana maksudnya?


"Dira... maksud papa, apa dia sudah bisa menerima keberadaanmu dalam hidupnya?" Tanya papa Pras hati-hati. "... Dira termasuk gadis yang sulit membuka diri untuk orang baru." Sambung papa Pras.


Axell menganggukkan kepalanya mendengar apa yang di katakan oleh mertuanya tadi. Kalau di ingat-ingat, seingat Axell memang itu yang ia rasakan. Dira memang masih tertutup padanya.


Melihat menantunya menganggukkan kepala, Membuat papa Pras menghela nafas panjang. Ia mengerti, ternyata apa yang ia pikirkan adalah benar adanya. "Papa harap, kamu bisa sabar menghadapi Dira, nak. Sebelumnya Dira adalah gadis yang ceria. Sikap Dira berubah semenjak kepergian dari kakak dan mamanya." Ujar papa Pras menjelaskan.


Axell menoleh ke arah pria paru baya yang berdiri di sampingnya itu. Memang banyak hal yang belum ia ketahui tentang Dira. Dan sekarang papa Pras ingin membicarakan tentang gadis itu. Axell jadi sangat antusias untuk mendengar kelanjutan cerita dari papa Pras tentang gadis yang berstatuskan istrinya itu.


Papa Pras lalu mulai menceritakan tentang sakit yang di derita Dara - Kakak dari Dira, hingga menyebabkannya meninggal dunia. Pun juga dengan kecelakaan yang menyebabkan mama Dira meninggal.


Tak cukup sampai di situ, papa Pras pun juga menceritakan tentang alasan yang membuat Dira memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen. Semua papa Pras ceritakan tanpa ada yang di tutup-tutupi pada menantunya, termasuk tentang bubur yang membuat Dira bad mood seketika hanya dengan melihat makanan bertekstur lembut itu.


'Jadi, ini alesan Lo tinggal sendiri di apartemen. Sorry, gue baru tau. Gue sempat salah mikir.'

__ADS_1


"Atas semua yang terjadi, papa harap kamu bisa memaklumi istrimu, nak! Buat dia kembali tersenyum seperti sedia kala." Pinta Papa Pras penuh harap.


__ADS_2