Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
144. Lemot berjamaah.


__ADS_3

Zaki berjalan tergesa sambil menggendong Dira yang sudah tidak sadarkan diri di toilet sedari tadi. Beserta Melody yang juga berjalan di belakangnya. Sebenarnya banyak hal yang ingin Melody tanyakan pada Zaki. Tapi melihat kondisi Dira Yang lebih membutuhkan pertolongan, ia menunda sesi tanya jawab dengan kekasihnya itu.


Saat sampai di dekat mobil, Melody berlari mendahului langkah Zaki. Ia membukakan pintu mobil agar Zaki lebih mudah memasukkan tubuh Dira ke dalam mobil. Melody masuk ke mobil melalui pintu yang lain dan membantu Zaki meletakkan kepala Dira di pangkuannya. Zaki lalu menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat. Tapi, tanpa mereka berdua sadari, ada dua pasang mata Yang melihat aksi mereka tadi.


"Eh, tadi itu Zaki kan?" Tanya Nayla tiba-tiba. Gadis itu sedang berada di taman depan dekat pintu gerbang, bersama dengan seorang Bastian. Keduanya tengah menunggu kedatangan Verrel yang sedang mengambil mobil di parkiran.


Bastian mengikuti arah pandang Nayla. Matanya memincing untuk memperjelas pandangannya, karena jarak mereka yang memang tidak terlalu dekat.


Bastian melihat gadis yang sudah ia pastikan bernama Melody tengah tergesa-gesa membukakan pintu mobil untuk Zaki yang kedapatan sedang menggendong seorang gadis yang sepertinya tak sadarkan diri.


"Dari baunya sih, kek nya iya ..." jawab Bastian setelah memastikan apa yang dilihatnya. "... Tapi cewek yang dibawa Zaki tadi siapa?" Tanya Bastian.


Mata Nayla membulat setelah sesuatu terlintas dipikirannya secara tiba-tiba. "Jangan-jangan asma Dira kambuh?" Tebak Nayla yang kini berubah panik.


"Kalian berdua ngeliatin apaan sih?" Tanya Verrel dari dalam mobil. Kekasih dari Nayla itu melihat ke depan sana. Ia bisa melihat mobil Zaki yang berjalan melewati pintu gerbang. "... Woy!! Ada apaan, sih? Kok kalian ngeliatin mobil Zaki gitu banget?!" Protes Verrel karena tak mendapat tanggapan dari kekasih dan juga sahabatnya.


Tanpa menjawab dan tanpa aba-aba, Nayla dan Bastian langsung kompak masuk ke dalam mobil Verrel. "Kita ikutin mobil Zaki." Pungkas Nayla.


Verrel menarik satu alisnya. "Nggak jadi pulang kita? Ada apaan sih?" Tanyanya yang malah jadi bingung sendiri. Verrel masih belum mengerti, apa yang sebenarnya terjadi disini. Karena memang tadi ia tidak melihat Zaki dan Melody sebelumnya.


"Buru, Rel! Kita jelasin di jalan nanti ... sebelum kita kehilangan jejak mereka." Sahut Bastian yang tiba-tiba jadi ngegas. Keadaan lagi genting begini, tapi kenapa sahabatnya itu tiba-tiba jadi lemot mode on?


"Wowowo... Santai kali, ngab! Kalian kenapa tiba-tiba jadi kompak begini?" Tanya Verrel yang kini sudah mulai melajukan mobilnya untuk mengikuti mobil Zaki yang sudah mulai jauh.


"Si Zaki lagi bawa ciwi ..." Jawab Bastian yang memang sedang duduk di samping kemudi. "... Dan kek nya tuh ciwi pingsan." Tambahnya.


"Pingsan?" Ulang Verrel yang tak yakin dengan apa yang ia dengar. Karena Ia memang tengah fokus mengemudikan mobilnya. Mengikuti mobil Zaki yang semakin mengecil di pandangannya. Dapat Verrel tebak, Zaki tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Dan gue curiga cewek itu Dira." Sambung Nayla dan itu sukses membuat Verrel terkejut.


'Disa pingsan? Gawat! Tadi Axell nggak masuk kan?'


Tak ingin kembali bertanya dan malah membuatnya semakin kehilangan jejak, Verrel semakin menginjak pedal gasnya untuk menyusul mobil Zaki.


...***...

__ADS_1


Sementara di mobil Zaki


Melody terus melihat Zaki dari belakang. Kalau harus disuruh nunggu sampai di rumah sakit dulu, kayaknya dia nggak akan sesabar itu deh. Lidah di dalam mulutnya udah beneran nahan gatel untuk bertanya.


"Zak, Lo ..." Menggantung. Melody nggak jadi tanya karena Zaki sempat menatap serius kearahnya melalui kaca spion.


"Kenapa? Gue masih pacar Lo. Nggak usah aneh-aneh! Gue kek gini karena gue emang peduli sama Dira, bukan karena gue suka atau apapun itu. Lo tau kan, Dira udah ada laki yang Lo tau sendiri kalo ngamuk kek apa?" Ujar Zaki di sela-sela mengemudi. Ia tadi sempat melihat Melody yang terang-terangan menatap ke arahnya. Sebagai cowok yang peka, Ia tahu, Apa yang sedang dipikirkan oleh gadisnya sekarang ini.


"Ckk. Bukan itu maksud gue." Decak Melody.


Zaki mendengus kasar, "Terus apa?" Tanya Zaki sambil menatap lampu merah yang menurutnya tak kunjung berubah warna menjadi hijau.


"Lo udah tau, kalo Dira dan kak Axell udah -


"Udah." Jawab Zaki cepat. Bahkan ia tak membiarkan Melody menyelesaikan kalimatnya.


"Sejak kapan?" Tanya Melody lagi.


Zaki kembali menghela nafas. Baru berjalan seratus meter, ia harus kembali berhenti karena kembali terjebak dengan lampu merah. Untuk kesekian kalinya ia kembali menyesalkan dirinya yang tinggal di Jakarta. Ibukota yang terkenal macetnya minta ampun.


Perjalanan yang biasanya bisa ia tempuh dengan waktu sekitar 15 menit, kini harus memakan waktu lebih dari 30 menit. Padahal rumah sakit sudah di depan sana.


"Zaki! Lo belum jawab pertanyaan gue!" Protes Melody. Rasa keponya benar-benar masih ada karena Zaki yang masih enggan memberikan jawaban.


Entah sudah berapa kali Zaki menghela nafas. "Ceritanya panjang. Gue nggak bisa jelasin, intinya gue tau udah dari lama." Jawab Zaki. Ia lalu membelokkan mobilnya memasuki kawasan rumah sakit.


...***...


Zaki dan Melody sedang menunggu di ruang tunggu IGD dengan perasaan yang tak jauh beda. Hanya saja, Zaki terlihat lebih khawatir dengan keadaan Dira sekarang ini. Mengingat status Dira yang sudah menikah. Dan juga tingkah Dira yang terbilang aneh belakangan ini. Zaki sempat berpikir kalau Dira tengah hamil anak dari Axell. Nggak salah kan kalau Zaki mikir kayak gitu? Mengingat Axell dan Dira yang tinggal bersama di apartemen.


"Gue masih nggak habis pikir deh sama tuh cewe ..." Ucap Melody tiba-tiba. "... kenapa tuh cewe bisa jahat banget sama Dira? Padahal dia kan baru sekolah disini!"


Zaki menoleh ke arah Melody, "Emang Lo nggak tau?" Tanya Zaki yang langsung mendapat gelengan kepala dari Melody. "... Cewe tadi itu mantan pacarnya Axell."


"Mantan pacar? Putusnya udah dari lama emang?" Tanya Melody lagi.

__ADS_1


Zaki mengangguk mengiyakan. "Eh, Mel... tadi gue ngeliat mobil Verrel di belakang kita. Kek nya mereka ngikutin kita kesini?" Ujar Zaki mengatakan apa yang sempat dilihatnya tadi.


"Lo yakin? Tapi mereka kok belum sampai ke sini?" Tanya Melody balik. "... Harusnya mereka sudah ada disini, kan?"


Zaki menyandarkan kepalanya di dinding, "Kejebak macet mungkin. Gue tadi sempat lihat Nayla ngeliat kearah kita ..."


Melody diam. Terlalu panik dengan keadaan Dira yang pingsan, ia sampai tak menyadari akan hal itu.


"Nayla belum tahu hubungan Dira dan Axell yang sebenarnya ..." Zaki lalu kembali menatap Melody serius. "... Jadi gue minta sama Lo, jangan ngomong apa-apa dulu ke dia! Gue yakin, masih belum banyak orang yang tahu kalo Dira dan Axell udah nikah!"


Melody mengangguk patuh. Tapi tak menampik, ia masih bingung disini.


Zaki seperti tau banyak hal.


"Dari mana Lo tau?" Tanya Melody menuntut penjelasan.


Sejak masih di sekolah tadi, Zaki berhasil menanamkan rasa penasaran yang membuat Melody tak bisa tenang. Rasa ingin tahunya bergejolak.


Zaki memejamkan matanya. Kepalanya kembali ia sandarkan pada dinding. "Lo nggak ngerasa emang?" Tanya Zaki balik.


Melody mendengus sebal. Ia itu lagi mode kepo maksimal. Alasan dia tanya ke Zaki itu kan karena ingin dapetin jawaban dari semua pertanyaan yang muncul di kepalanya sedari tadi. Bukan malah main tebak-tebakan seperti sekarang ini.


"... Emangnya Lo nggak liat, sikap Nayla akhir-akhir ini sama mereka berdua?" Tanya Zaki lagi. Melody dia sambil mengingat-ingat kejadian beberapa hari terakhir.


"... Nayla terkesan jaga jarak sama Axell karena mikir kalo Axell bawa pengaruh buruk buat Dira dan ngerubah sikap Dira selama ini." Jelas yang langsung mendapat anggukan kepala dari Melody.


"... Kalo mereka udah tau status mereka yang sebenarnya, nggak mungkin sikap Nayla jadi gitu ke mereka." Tambah Zaki lagi. Zaki benar-benar memberikan penjelasan pada Melody seperti seorang guru yang menjelaskan pada muridnya.


"Pantesan kak Nayla kek nggak setuju kalo Dira sama kak Axell." Gumam Melody yang masih bisa terdengar di telinga Zaki dengan sangat jelas.


"Nah ... itu Lo tau. Heran gue, kenapa Lo tiba-tiba jadi lemot kek gini?" Cibir Zaki. Tak terima di bilang lemot, tangan Melody bergerak bebas untuk memukul perut Zaki.


Bugh!


"Sakit, Mel! Kok Lo malah mukul gue, sih?" Protes Zaki tak terima dengan Melody yang malah tiba-tiba memukul perutnya.

__ADS_1


Ceklek!


__ADS_2