Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
95. Tidak tinggal diam.


__ADS_3

"Yang..." Panggil Axell. Tangan kekarnya terangkat untuk mengusap lembut puncak kepala Dira.


"Ada apa, kak?" Tanya Dira sambil menoleh ke arah Axell.


"Lo yang ada apa? Gue perhatiin Lo jadi lebih banyak diam tadi di meja makan ..." Tanya Axell balik. "... Makan Lo juga dikit banget, ada yang lagi Lo pikirin?" Tanyanya lagi.


Dira diam, mata indahnya lekat menatap wajah Axell yang masih menatap kearahnya menunggu jawaban. Seketika ia kembali teringat dengan apa yang Bunda Resty katakan padanya saat di dapur tadi. Menit kemudian kepalanya menggeleng sebagai jawaban.


Axell menghela nafasnya, gadisnya itu tidak mau bercerita. "Sini, tidur di lengan gue!"


Menurut, Dira lalu perlahan merebahkan kepalanya pada lengan Axell. "Gue nggak tau apa yang lagi Lo pikirin. Lo bisa cerita semuanya sama gue. Tumpahin semua masalah Lo! Kalo Lo belum bisa terima gue sebagai suami Lo, Lo bisa anggap gue teman biar Lo nyaman buat cerita. Tapi kalo Lo belum siap cerita, it's okay. Gue nggak bakal maksa Lo." Ucap Axell sambil mengelus rambut Dira sambil sesekali mendaratkan ciuman di puncak kepala gadis itu.


Mendengar apa yang Axell katakan, seketika perasaan Dira menghangat. Ia merasa di sayang. Tapi tetap saja, ia menggeleng. Gadis itu belum bisa menceritakan apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini.


Axell kembali menghela nafas, ternyata membuat Dira bercerita sangatlah sulit. "Ya udah, sekarang Lo tidur! Udah malem. Besok Lo ada ulangan di mata pelajarannya pak Dhana kan?" Ucap Axell dengan tangan yang masih mengelus kepala Dira.


Dira mendongak menatap wajah Axell, "Kak Axell tau jadwal mapel aku?"


Axell tersenyum dengan mata yang mulai terpejam, "Bahkan gue hafal semua jadwal istri gue ..." Axell kembali mencium puncak kepala Dira "... Tidur, Dira! Gue nggak mau khilaf dan malah nyakitin Lo!"


"Kak -..."


"Tidur, Yang!"


...***...


Masih di d'Dream club', tepatnya di jam 02.15.


"Jangan bilang kalo Lo juga suka sama Dira!" Tanya Nicholas penuh selidik. Dari ketiga cowok tadi, Arfen, Nicholas dan juga Derry hanya Derry saja yang sudah kehilangan kesadarannya. Cowok itu mabuk berat dan bahkan sudah tergeletak tidak berdaya di sofa.


Nicholas memang sengaja tidak minum terlalu banyak untuk mengontrol kesadarannya. Melihat kedatangan Arfen beberapa jam tadi, sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya. Ia akan mencari informasi tentang Dira dari Arfen.


Arfen menatap wajah Nikolas yang duduk tepat di depannya, yang hanya terhalang meja dengan banyak botol minuman dan beberapa gelas di atasnya. Lalu kepalanya ia sandarkan pada sandaran sofa, matanya terpejam beberapa saat setelahnya.


"Gue udah bareng dia dari kecil, bang. Semua tentang Dira gue tau semuanya. Selama ini, kita selalu bareng-bareng. Mustahil kalo gue nggak punya perasaan sama dia ..." Tangan Arfen terangkat untuk menyunggar kasar Surai kecoklatan miliknya. Menit kemudian terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari mulut laki-laki itu.


"... gue sayang banget sama dia, bang." Desah Arfen begitu frustasi. Laki-laki yang sudah setengah mabuk itu kini memukul-mukul jidatnya sendiri dengan kepalan tangannya.


Mendengar pengakuan Arfen membuat tangan Nicholas terkepal, "Jadi ... ini alasan Lo nolak adek gue?" Tanya Nicholas lagi.


"Renata ..." Desah Arfen, " ... gue bahkan nggak pernah punya perasaan sedikit pun sama adek Lo, bang."


"Kalo Lo nggak punya perasaan sama Rere, terus kenapa malam itu Lo -

__ADS_1


"Nggak ada yang terjadi antara gue sama Renata." Ucap Arfen cepat, sengaja memotong kalimat yang Nicholas ucapkan. Arfen tahu betul, kemana arah pembicaraan dari Nicholas sekarang ini.


Nicholas mendengus kasar, emosinya perlahan muncul. "Lo pikir gue percaya?"


"Malam itu gue cuma bawa adek Lo pergi dari sini. Adek Lo mabuk berat waktu itu. Dan gue ... gue masih ingat semua yang gue lakuin karena gue nggak minum hari itu." Tak menunggu jawaban dari Nicholas, whatever dia mau percaya atau tidak. Arfen lalu bangkit masih dengan kesadaran yang tidak seberapa, ia melangkahkan kaki menuju private room miliknya.


Laki-laki itu berjalan dengan sempoyongan menaiki anak tangga sambil sesekali berhenti karena sibuk menggosok mata dengan tangannya, seakan mengumpulkan kesadarannya.


"Arrghh! Sshht ... Axello Brengs*k! Alkohol sialan -


"Huuweek ...


...***...


"Gue nggak akan pernah biarin Lo pergi dari gue, Yang. Sebisa mungkin gue harus tetap bisa pertahanin Lo agar tetap berada di sisi gue. Lo istri gue, dan selamanya akan tetap begitu. Gue nggak akan tinggal diam, kalo sampai sahabat Lo masih nekat gangguin pernikahan kita." Pungkas Axell.


Laki-laki yang masih terjaga sambil memeluk istrinya itu tidak bisa tidur. Axell masih memikirkan Arfen yang ternyata masih suka mengirim pesan pada gadisnya.


"Setelah Lo udah benar-benar bisa nerima gue jadi suami Lo, gue akan berusaha bikin Lo cepat hamil. Biar sahabat Lo itu tau, kalo Lo punya gue ... Hanya milik gue!"


...***...


"Aku duluan ya, kak!" Pamit Dira pada sang suami.


Gadis itu mengangguk patuh lalu keluar dari dalam mobil Axell. Saat Dira baru keluar dari beberapa meter meninggalkan mobil Axell, gadis itu mendengar suara seseorang yang sedang memanggil nama suaminya.


"Xello."


Dira reflek berhenti. Gadis itu menoleh dan langsung di hadapkan dengan pemandangan yang secara tidak langsung menyentil hatinya. Dira melihat Axell yang berjalan menjauh meninggalkan area parkir sekolah dengan tangan yang menarik tangan gadis yang tak lain bernama Renata itu.


Deg!


"Kak Axell mau bawa dia kemana?"


...***...


"Gue tau, sebenarnya Lo juga masih sayang, kan sama gue?" Ucap Renata saat langkah kaki Axell terhenti setelah keduanya memasuki gedung aula SMA Bhakti Bangsa yang hanya ada mereka bersua di dalamnya. "... gue baru tau, ternyata Lo anak pemilik sekolah ini."


Axell menarik salah satu sudut bibirnya, "Nggak usah ke ge-eran!" Ucap Axell ketus. "Ada yang harus gue kasih tau sama Lo. Gue nggak mau terlibat skandal, makanya gue sengaja bawa Lo kesini."


Gadis itu menatap lekat wajah Axell, menit kemudian ia tersenyum. Tanyanya terangkat untuk mengelus pelan salah satu pipi Axell, "Perasaan kit masih sama, Xell. Gue tau, Lo nggak bener-bener suka sama gadis itu karena sebenarnya Lo belum bisa move on dari gue."


Axell meraih tangan Renata, menjauhkan tangan yang tengah menari-nari bebas di wajahnya lalu menghempaskan nya. "Berhenti gangguin Dira kalo Lo masih mau aman sekolah disini! Jangan pernah Lo usik dia!" Ucap Axell penuh dengan penegasan.

__ADS_1


"Kenapa, Xell? Emangnya apa yang udah gue lakuin sama dia? Dia ngadu apa emang sama Lo? Cckk. jadi cewe Cepu banget!" Ucap Renata santai, bahkan tanpa rasa takut sama sekali.


"Dia nggak bilang apa-apa, tapi gue tau semuanya. Lo kan yang udah nyiram dia di toilet hari itu?" Ucap Axell dingin.


Bukannya tajur, Renata malah semakin melebarkan senyumnya. "Bukti ada?" Tanya Renata seakan seakan menantang Axell, atas dasar apa Axell menuduhnya.


"Sebelum Lo masuk ke sekolah ini, nggak ada yang pernah ngusik dia sebelumnya." Ujar Axell.


"Bukan berarti gue kan pelakunya?" Ucap Renata masih dengan santainya.


"Terserah kalo Lo masih nggak mau ngaku. Tapi gue tegasin sama Lo, jangan pernah gangguin Dira! Atau - ...


"Atau apa, honey? Hm?" Tanya Renata cepat sambil memotong ucapan Axell yang belum terucap sepenuhnya. Bahkan dengan nada menggoda yang malah membuat Axell jijik mendengarnya.


"Gue bisa dengan mudah ngeluarin Lo dari sekolah ini." Jawab Axell.


"That's not gonna happen, Xello." Jawab Renata santai.


"Gue akan terus pantau Lo, Re! Lo tau gue orangnya kayak apa? Sekali Lo dengan sengaja pancing emosi gue, gue bisa bertindak tidak terduga." Pungkas Axell tidak main-main.


"Jangan kasar sama gue, Xell! Gue tau, Lo nggak beneran ancam gue ..." Ucap Renata penuh percaya diri. "... nggak mungkin Lo tega nyakitin gue ... orang yang Lo cinta."


"Berhenti ngomong cinta ke gue, Re! Perasaan gue ke Lo udah nggak ada. Sekarang yang ada di hati gue cuma Dira. Dan Lo, berhenti gangguin gue sama dia. NGERTI, LO!" Bentak Axell kaku pergi meninggalkan aula setelahnya.


"Gue nggak akan pernah berhenti, Xell. Sebelum gue dapet apa yang gue mau. Kalo gue nggak bisa miliki Lo, berarti cewek itu juga!"


...***...


"Gimana ulangannya, Yang?" Tanya Axell yang tiba-tiba muncul dan langsung membuat gadis yang baru keluar dari kelasnya itu terkejut.


"Kak Axell." Lirih Dira sambil mengusap-usap dadanya.


"Lo kaget? Sorry!" Ucap Axell sambil mengelus kepala Dira. "... Mau ke kantin?" Tanyanya.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Dira, gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Tuan dan nyonya Axello yang terhormat, mohon kerjasamanya untuk tidak menampilkan keuwuan di depan kami semua, bisa?" Ucap Zaki yang baru saja muncul di belakang Dira.


"BERISIK!"


...***...


__ADS_1


__ADS_2