
Axell bangun dari tidurnya karena merasa terusik. Saat matanya terbuka, ia sudah mendapati Dira yang tengah menggerakkan jari telunjuknya seolah menulis di dada bidang miliknya.
"Morning, baby ..." Sapa Axell dengan suara serak, khas bangun tidur sambil tersenyum.
Dira mengangkat wajah dari dada bidang Axell, lalu ikut tersenyum melihat senyum suaminya yang selalu terlihat tampan, "Morning too, Hubby." Jawabnya.
Axell terkesiap mendengar panggilan Dira padanya barusan. Matanya mengerjap cepat. Mau nggak percaya, tapi apa yang telinganya dengar itu tidak salah. Axell yakin telinganya masih berfungsi dengan sangat baik.
'Hubby?'
Axell tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya pada Dira.
Cup.
Axell mengecup singkat bibir istrinya itu.
"Morning kiss."
Tak menjawab apapun, Dira hanya tersenyum.
"Mandi yuk, Yang!" Ajak Axell yang kini mulai bangun dari posisi tidurnya.
Nggak langsung menjawab, Dira hanya menatap Axell dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Yang ..." Panggil Axell lagi. "... Kamu jadi sekolah nggak hari ini?" Tanya Axell pelan.
Dira menghela nafas pelan, "Iya. Ayo mandi." Jawab Dira yang kini mulai beranjak. Lalu berjalan mendahului Axell ke kamar mandi.
Melihat istrinya yang meninggalkannya begitu saja, Axell hanya menghela nafas pelan.
...***...
"Dira..." Panggil Nayla setengah berteriak.
Dira yang kebetulan baru saja keluar dari mobil Axell seketika menoleh. Ia tersenyum melihat Nayla yang melambaikan tangan kearahnya sembari duduk di taman dekat parkiran bersama dengan Verrel dan juga Babas.
"Bentar, Nay ..." Dira menoleh pada Axell yang kini berdiri di sampingnya. "... aku ke Nayla dulu ya, Kak." Pamit Dira semangat.
Baru mau berjalan meninggalkan Axell, pergelangan tangan Dira sudah lebih dulu di raih oleh sang suami.
Dira reflek melihat ke arah tangannya. Lalu beralih pada Axell seolah bertanya, kenapa?
__ADS_1
Axell menggeleng pelan, "Nggak, pa-pa." Jawab Axell yang mengerti maksud tatapan Dira. "... Ayo! Tadi mau samperin Nayla, kan."
Dira mengangguk. Keduanya pun berjalan ke arah di mana Nayla, Verrel dan Bastian duduk tadi.
"Aaa... Dira!" Heboh Nayla saking senangnya. Gadis itu langsung beranjak dari duduknya dan langsung memeluk Dira seperti sudah lama tidak bertemu. Padahal hanya kemarin Nayla tidak menjenguk Dira. Lebih tepatnya saat Dira pulang dari rumah sakit. "... gue pikir Lo belum masuk sekolah hari ini." Ucap Nayla.
"Gue udah kelamaan nggak masuk, Nay. Gue jenuh kalo harus di rumah ..." Jawab Dira setelah melepas pelukannya dengan Nayla. "... lagian gue udah ngerasa sehat banget, kok." Tambahnya dengan begitu meyakinkan.
"Oh iya, sorry ya, Dir. Kemarin kita nggak datang jengukin Lo di rumah. Soalnya kemarin kita ada bimbel sampai male - Aduhh! Sakit, Bege!" Pekik Verrel yang tiba-tiba mengaduh saat Bastian yang dengan tanpa rasa bersalah, memukul punggungnya begitu saja.
"Nggak ada yang perlu Lo jelasin ke Dira, Geblek!" Ucap Bastian asal.
"Gue nggak ngejelasin ..." Jawab Verrel yang mulai ngegas. Ini masih pagi, tapi kenapa sahabatnya itu sudah mulai bikin ulah? "... cuma ngasih tau Dira doang."
Bastian membuang nafas kasar, kenapa sahabatnya ini nggak tahu maksud dari pukulannya?
Sebenarnya saat Bastian memukul Verrel, itu bukan iseng pukul biasa. Hanya saja itu kode dari Bastian. Tapi sayangnya Verrel tidak menangkap hal itu.
"Sok-sokan Lo mau dateng ke rumah Dira, emang Lo tau rumah Dira di mana?" Bastian menepuk lututnya dengan jari telunjuk dan kepala yang sedikit ia miringkan ke arah Dira. "... Otak kok di taruh di dengkul!" Cibirnya sambil melotot.
"Ya... ya... gue kan bisa tanya sama pacar Gue. Ya nggak, sih Beib!" Verrel ikutan melotot dengan dagu terangkat.
Verrel baru ngeh kalo Bastian mengkode dirinya, hanya saja apa hal yang di maksud Bastian itu, Verrel masih nggak paham.
"Yuk, Dir. Kebetulan gue juga mau ke kelas." Ajak Nayla yang langsung paham dengan Axell.
Sebagai teman sekelas Axell, Nayla tahu. Ada sesuatu hal yang ingin laki-laki itu bicarakan dengan kedua sahabatnya. Hanya saja, apa sesuatu hal itu, Nayla sama sekali tidak tahu.
Dira menoleh ke arah Nayla dan Axell bergantian, lalu tersenyum penuh arti.
Dira senang melihat respon Nayla saat ini yang tidak seperti sebelumnya saat melihat sang suami. Dira ingat, sebelumnya Nayla tampak seperti tidak menyukai hubungannya dengan Axell.
"Aku duluan ya, kak ..." Pamitnya pada Axell. Lalu menoleh pada Verrel dan bastian, "... Kak Verrel, kak Bastian... duluan."
"Iya, Dir." Jawab Verrel.
"Bye, bidadari ..." Balas Bastian dengan lambaian tangan.
Bugh!
"Aduhh!" Pekik Bastian kesakitan.
__ADS_1
"Bidadari pala Lo!" Maki Verrel setelah memukul kepala Bastian. "... Suaminya masih disini, Man! Nantangin Lo?!" Tanya Verrel tak habis pikir dengan Babas. Sahabatnya yang satu ini memang suka kadang-kadang.
Bastian nyengir ke arah Axell, kalau dulu mungkin ia akan takut dengan Axell. Tapi kalau sekarang,
"Emang gue ngapain?" Tanya Bastian santai.
Verrel mendengus, "Lo godain Dira. Masih tanya ngapain?!"
Bastian terkikik, "Jangankan godain Dira, ngajakin Dira selingkuh aja gue udah pernah ... Langsung depan suaminya malah." Jawab Babas dengan bangganya.
Mata Verrel mendelik, ia menatap Bastian tak percaya.
"Dan gue hampir mau bunuh Lo waktu itu." Jawab Axell dingin.
Bastian nyengir, ia teringat dengan ekspresi wajah Axell yang nggak enak di lihat waktu itu. "Kan gue cuma bercanda, Xell." Ucap Bastian.
Verrel geleng-geleng kepala sendiri. Ia kini beralih menatap Axell. "Ada apa, Bro? Kek nya ada yang mau Lo omongin!"
Axell tidak langsung menjawab. Ia malah melihat ke arah gerbang. Matanya intens memperhatikan satu mobil yang baru saja masuk. Mobil milik Zaki.
Verrel mengikuti arah pandang Axell. Ia ingin tau apa yang sedang menyita atensi dari sahabatnya itu.
"Selain Bastian, hanya mereka berdua yang tau status gue dan Dira yang sebenarnya ... itu yang Dira tau." Ucap Axell pelan, lalu menoleh pada Verrel. "... jadi kasih tau Nayla! Bersikap seolah-olah kalian berdua nggak tau apa-apa!"
"Tapi kenapa, Xell?" Verrel bingung sendiri. "... Maksud gue, apa alasannya Lo ngelakuin ini? Kan Lo sendiri yang ngakuin status Lo waktu di rumah sakit!"
"Ya elah, Rel! Lo kek nggak tau Axell aja ..." Celetuk Bastian menyela.
Verrel mengrenyit, nggak bisa bohong kalau wajahnya saat ini memang benar-benar menggambarkan kalau ia sedang bingung.
"... Sobat kita ini kan, bucin banget." Tambah Bastian.
Itu fakta.
Verrel mengangguk setuju dengan apa yang Bastian katakan. Ia mengiyakan karena memang ia sendiri juga tahu. Apalagi Verrel juga masih ingat, bagaimana bucinnya Axell dengan mantan kekasihnya dulu.
Tapi masalahnya, apa yang Bastian katakan tadi tidak cukup menjadi jawaban dari pertanyaannya.
"Gue cuma nuruti maunya istri gue. Dia belum siap kalo statusnya di ketahui orang banyak." Ujar Axell memberi tahu.
"Terus, yang Dira ... Sorry kalo gue nanya ini... Lo belum kasih tau dia?" Tanya Verrel lagi.
__ADS_1
Axell langsung menatap Verrel sesaat. Lalu perlahan kembali menatap ke depan. Helaan nafas panjang keluar dari mulut Axell setelahnya.
"Belum. Semalam gue udah mau kasih tau dia ..." Tiba-tiba Axell menggeleng pelan. "... Tapi momennya nggak tepat."