Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
193. Arfen dan Andira 2.


__ADS_3

*Sebelumnya maaf untuk para zheyeng-zheyeng setia Raxell atas hiatusnya aku akhir-akhir ini. Aku tidak bisa menjanjikan apapun kedepannya karena aku takut ingkar. Semoga kedepannya aku ga ngilang-ngilang lagi.😊😊


*Untuk para zheyengku, sebelum baca part ini, baca dulu part sebelumnya biar nyambung dan galupa sama alurnya.


*Makasih, sama² 😘🤗..


*


*


*


📥 +6281222797***


Gw di kafe depan,


Ada ssuatu yg mau gw omongin,


Gw tunggu 10 menit, Lo ksini or gw masuk ke sekolah Lo?


Dira menggigit bibir bawahnya setelah membaca pesan masuk dari ponselnya. Memang hanya tertera nomor di atas pesan tersebut, tapi Dira tahu betul, siapa yang mengiriminya pesan karena memang Dira masih mengingat siapa pemiliknya.


"Dir, kok bengong? Ayo balik!" Tegur Melody yang berhasil mengalihkan atensi Dira dari ponselnya. Ia menoleh dan mendapati Melody yang sudah berdiri dengan tas yang sudah melingkar di pundaknya.


"Iya, bentar." Dira lalu lanjut mengemasi bukunya. Lalu memasukkan ponsel ke saku bajunya tanpa sempat membalas pesan tadi.


"Ada apa?" Tanya Zaki yang menangkap sesuatu dari wajah Dira.


Dira menoleh pada Zaki. Bibirnya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu tapi berujung menggeleng karena ragu. "Nggak apa-apa." Jawabnya dan melangkah pelan mendahului Zaki dan Melody.


"Ada apa, sih?" Tanya Melody yang tiba-tiba penasaran. Apa ia melupakan sesuatu?


Tak menjawab, Zaki malah mengangkat kedua bahunya. Lalu memutar tubuh gadis itu menghadap ke luar dan menoleh pada Adit yang berada tak jauh darinya. Zaki menggerakkan dagunya ke arah pintu dimana Dira yang baru saja melewatinya tadi. Adit yang paham dengan maksud Zaki langsung beranjak dari tempat duduk dan berjalan keluar kelas mengikuti Dira.


Melihat Adit berjalan keluar, Zaki lalu mendorong kedua pundak Melody dan membawa gadis itu keluar kelas karena memang hanya tinggal mereka berdua di dalam kelas saat ini.


...***...


"Yuk, Dir?" Melody melambaikan tangannya pada Dira.


"Duluan aja!" Jawab Dira singkat.


"Lo nggak bareng kita aja?" Tanya Zaki ikut bersuara.


"No, thanks. Gue nggak minat jadi nyamuk." Jawab Dira dengan tangan yang tengah mengutak-atik ponselnya.


"Ya udah... kita duluan ya!" Seru Melody yang kini sudah berjarak dari posisi Dira sekarang ini. Dira hanya mengangguk dengan ponsel yang kini menempel ditelinga. Ia sedang menelpon Nayla untuk menanyakan sesuatu.

__ADS_1


"Dir, gue disini ... ngapain telepon?" Tanya Nayla yang kini berjalan di samping Dira. Gadis itu baru keluar dari toilet yang Dira lewati.


Dira menoleh, ia reflek mematikan sambungan teleponnya pada Nayla. Lalu melihat sahabatnya itu yang berada di sampingnya tanpa membawa tas sekolah.


"Kelas gue balik masih satu jam lagi." Ucap Nayla.


"Hooo." Dira mengangguk mengerti. Lalu menoleh pada tangga yang ada di ujung koridor sana. Tangga yang membawa ke lantai empat dimana kelas sang suami dan Nayla berada.


"Lo nggak di jemput? Kenapa nggak minta Axell anter aja?" Tanya Nayla lagi.


Dira menggeleng dan kembali menatap Nayla. "Nay, Lo yang ngasih nomor w.a gue ke Arfen, ya?" Tanya Dira tanpa ragu.


"Arfen?" Dahi Nayla berkerut mendengar pertanyaan Dira. "... Nggak, Dir! Beneran deh!" Jawab Nayla yang memang jujur, bahkan Nayla sampai mengacungkan kedua jarinya. Dira menghela nafas dengan kedua bahu yang melemah.


"Gue beneran nggak ngasih nomor Lo ke dia, Dir. Lo nggak percaya sama gue?" Tambah Nayla agar Dira semakin percaya.


Dira menatap Nayla sengit, ia tak suka dengan apa yang Nayla katakan, "Percaya gue ...." Jawab Dira yang malah terdengar lemah. "... PMS Lo?"


Nayla manyun, ia memegang perutnya yang memang terasa tidak nyaman sejak pagi tadi. "Hari pertama ..."


"... Kenapa, sih?" Tanya Nayla yang tiba-tiba bingung sendiri. "... Dia nge-chat Lo emang?" Tanyanya.


Dira kembali menghela nafas dengan kepala yang mengangguk pelan. "Arfen di Rolanda Cafe."


"Ngajak ketemu?" Tanya Nayla pelan, takut-takut kalau tembok disampingnya ikut mendengar apa yang mereka bicarakan. Kalau sampai temboknya Cepu ke Axell kan jadi gawat!


Dira kembali menggigit bibirnya. Iya, sih, mungkin ini adalah kesempatan untuk ia bertemu dengan Arfen dan mengatakan semuanya. Axell juga pernah bilang kalau dia mengizinkan Dira bertemu dengan Arfen saat kejadian mama Diva di rumah sakit hari itu. Tapi, mengingat bagaimana ia pernah melihat marahnya sang suami. Dira jadi berpikir dua kali untuk menemui Arfen sendiri. Sepertinya, ia akan membicarakan ini pada Axell sebelum ia benar-benar menemui Arfen nantinya.


Dira lalu menggeleng pelan, "Gue langsung pulang aja."


...***...


Dira baru saja akan membuka pintu taksi online yang ia pesan, tapi cekalan tangan seseorang menghentikan pergerakannya.


"Wait!"


Dira menoleh dan pandangannya langsung bertemu dengan kedua manik mata Arfen.


"Arfen..."


"Gue mau bicara." Ucap Arfen terdengar lembut, namun dengan tatapan mata yang serius.


"Tapi..." Dira melirik supir taksi yang memperhatikan interaksi antara dirinya dan Arfen.


Arfen meraih dompet dari saku belakangnya, menarik tiga lembar uang warna merah dan menyerahkannya pada supir taksi tersebut. "Maaf, pak. Tapi biar saya saja yang antar dia pulang!"


"Tapi, den ... ini kebanyakan." Jawab pak supir yang malah enggan menerima uang Arfen.

__ADS_1


Arfen tersenyum, "Ini rezekinya keluarga bapak."


"Tapi, den -"


"Bapak terima aja!" Ucap Arfen yang langsung menaruh uang tersebut pada tangan pak supir. Lalu membawa Dira pergi menuju mobilnya.


...***...


"Ar, Lo mau bawa gue kemana?" Tanya Dira pada akhirnya setelah keduanya saling diam setelah beberapa menit berlalu.


Arfen memilih tak menjawab, pandangannya fokus mengarah jalan yang akan membawanya dan Dira ke suatu tempat.


"Arfen -"


Arfen reflek menoleh dan membuat Dira langsung kicep karena melihat tatapan mata yang belum pernah Dira lihat dari Arfen sebelumnya.


Tatapan mata yang sangat ... berbeda.


Mendadak rasa takut langsung mendatangi Dira tanpa permisi. Ia meremat ujung rok seragamnya untuk menguasai diri agar tetap tenang.


Arfen menghela nafas melihat Dira yang untuk pertama kali takut akan dirinya. Ia kembali menghela nafas lalu kembali menatap ke depan. Sebelumnya ia selalu berhasil menenangkan gadis itu. Dan sekarang, ia alasan gadis itu takut.


"Dir, kenapa sekarang Gue susah banget cuma untuk bisa ketemu sama Lo?" Satu pertanyaan yang akhirnya muncul di bibir Arfen. Ada nada kesedihan yang terselip di kalimat Arfen tadi.


Dira menunduk, bingung untuk menjawab pertanyaan Arfen dan bingung mau ngomong apa?


"Iya ... gue tau, Lo sekarang ceweknya Axello. Tapi gue ini ... masih tetap sahabat Lo kan, Dir?"


Dira masih diam, mendadak lidahnya terasa kelu dan tidak bisa berkata apa-apa.


"Kenapa susah banget buat temuin Lo sekarang? Gue bahkan sampai nggak habis pikir, sebenarnya apa salah gue? Kenapa Lo terkesan jauhin gue sekarang?" Pertanyaan beruntun yang Arfen ajukan karena Dira yang masih betah dengan diamnya.


"Ar ... Lo itu salah pa -"


"Apa karena Axell yang larang Lo buat ketemu sama gue, setelah gue pukul dia?" Satu pertanyaan yang berhasil membuat Dira menoleh padanya. "... Iya?!"


"Apa Lo bilang?" Mata Dira melebar, ia terkejut mendengar ucapan Arfen. "... Jadi Lo yang udah pukul kak Axell?"


"Jadi dia nggak cerita sama Lo?" Arfen mendengus geli, "... Nice. Dia nggak ingin Lo khawatir, atau dia ... nggak mau Lo tau kalo gue yang udah pukul dia?"


"Arfen, tolong jawab gue!" Dira menuntut jawaban dan terkesan tak sabar.


"Iya. Gue yang pukul dia kemaren." Jawab Arfen dengan begitu meyakinkan.


"Tapi kenapa?" Arfen membuang muka melihat Dira yang begitu terkejut. "... Apa alasan Lo mukul kak Axell? Kasih tau gue!"


Arfen kembali menatap Dira lama. Sesuatu didalam dada sana tiba-tiba terasa memanas. Rasa sakit yang pagi tadi ia rasakan kini semakin berlipat sakitnya.

__ADS_1


'Karena dia udah ngrebut Lo dari gue.'


__ADS_2