
Jam istirahat sedang berlangsung setelah bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan di sinilah Zaki sekarang, sedang menikmati nasi goreng dan jus jeruk seorang diri di kantin. Tanpa adanya Melody dan juga Dira.
"Lo sendirian aja, Zak? Dira sama Melody mana?" Tanya Nayla yang baru saja memasuki kantin bersama dengan Verrel dan juga Bastian. Gadis itu nampak menoleh ke setiap sudut kantin dan tak mendapati adanya Dira di kantin tersebut.
Tak menjawab Zaki hanya mengangkat kedua baunya acuh sambil menikmati makanannya.
Plak!
"Aauw... sakit, Nay! Lo jadi cewek kasar banget, sih!" Protes Zaki saat setelah Nayla memukul punggungnya.
"Habisnya Lo, gue kan nanya, Dira mana?" Tanya Nayla lagi.
Zaki berdesak kesal, "Cckk. Gue nggak tahu, Nayla! Tadi si Dira keluar kelas pas pelajarannya Bu Retno. Terus nggak balik lagi." Jawab Zaki malas.
"Sama siapa? Sama Axell?" Tanya Nayla dengan nada tak suka. Nayla mengira jika Dira meninggalkan kelas karena Axell yang sengaja mengajaknya, seperti yang pernah Axell lakukan beberapa kali.
Zaki menggeleng kepalanya, "Sama ayang Beb gue." Jawab Zaki lalu menyeruput minumannya.
"Ya udahlah, Beb. Kita makan aja dulu!" Sahut Verrel pada Nayla dan mendapat angkutan kepala dari gadis itu.
Sementara Bastian, ia nampak kebingungan mencari seseorang. "Eh, Rel, si Axell mana? Bukannya tadi bareng kita ke sini?" Tanya Bastian pada Verrel.
"Paling lagi di ruang OSIS." Jawab Verrel asal.
"Gue berani taruhan. Pasti junjungan Lo pada lagi nyari si Dira ..." Sahut Zaki "... gue tadi lihat dia nggak jadi masuk kantin, karena mungkin udah ngelihat Si Dira yang nggak ada duluan disini." Lanjut laki-laki itu.
...***...
Ceklek!
Pintu ruang UKS terbuka dan Axell langsung masuk ke dalamnya. Laki-laki itu berjalan pelan sambil membuka setiap gorden pembatas di ruang UKS tersebut untuk mencari seseorang.
__ADS_1
Dapat. Axell memasuki satu ruangan dan berjalan perlahan karena tak ingin mengganggu seseorang yang tengah beristirahat di dalamnya.
"Thank's udah kasih tau gue. Tapi biar gue aja yang jaga Dira. Lo boleh pergi!" Ucap Axell lirih pada Melody.
Melody mengangguk mengerti dan beranjak dari duduknya. Meninggalkan Axell dan juga Dira di UKS.
Sebelumnya laki-laki itu berjalan beriringan menuju kantin dengan Bastian, Verrel dan jangan lupakan Nayla juga. Tapi Axell mengurungkan niatnya memasuki kantin tersebut karena tidak mendapati sang istri di sana. Jadilah ia menghubungi ponsel Dira dan bertapa terkejutnya saat Melody yang menerima telepon tersebut dan mengatakan kalau Dira tengah beristirahat di UKS sekarang ini.
"Kalau sakit kenapa nggak bilang sih, Yang?" Lirih Axell sambil mengusap pelan rambut Dira. Laki-laki itu menyadari wajah gadisnya yang terlihat pucat.
'Kamu udah berhasil bikin aku sayang banget sama kamu, Dira. Kalau aku sampai kehilangan kamu, entah ... Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi sama diri aku nanti.' Ujar Axell dalam hati.
Cup...
Axell mengecup kening Dira lama. Seakan menyalurkan rasa sayang yang begitu mendalam ia rasakan pada istrinya.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu ruang UKS terbuka dan masuklah Nayla, disusul dengan Verrel dan juga Bastian yang sudah pasti mengekor di belakangnya.
Axell mengerutuki dirinya sendiri. Kenapa tadi ia bisa lupa berpesan pada Melody agar tidak memberitahu Nayla jika Dira sedang berada di UKS saat ini.
"Dira Kenapa?" Tanya Nayla.
"Gue nggak tahu." Jawab Axell tanpa menoleh ke arah Nayla.
"Nggak tahu! Lo kan pacarnya!" Ucap Nayla mencibir.
Axell menoleh ke arah Nayla. Ditatapnya wajah Gadis itu dengan tatapan tajam siap menusuk. "Kalau Lo mau ngajak ribut, seenggaknya jangan di sini. Keluar Lo!" Ucap Axell pelan, tapi dengan penekanan di setiap kata-katanya. Dan itu sukses membuat Nayla bungkam seketika. Lebih baik diam daripada diusir kan?
Nayla kini memilih duduk di ruang tunggu yang terletak di sudut ruangan, ditemani Verrel yang juga ikut duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Lo kenapa sih, Beb? Gue perhatiin kenapa Lo sekarang kek jadi setengah musuhan gitu sama Axell? Bukannya Lo pernah bilang sendiri, entah itu Axell ataupun Arfen, Lo nggak bakal masalah sama siapa yang jadi pacarnya si Dira?" Tanya Verrel pelan tapi masih bisa didengar oleh telinga Axell.
"Tanpa gua kasih tau, Lo harusnya bisa ngerti jawaban gue, Rel!" Jawab Nayla.
Verrel mengangguk mengerti. Laki-laki itu ingat betul saat Nayla mengatakan kalau Axell seperti membawa pengaruh buruk untuk Dira. Axell seperti bisa membuat Dira begitu menurut padanya. Dan juga Nayla khawatir dengan gaya pacaran keduanya yang terkesan terlalu intens. Nayla hanya tak ingin jika keduanya sampai kebablasan dalam hal berpacaran. Itu sebenarnya yang Nayla pikirkan saat ini.
"Tapi gue percaya sama Axell. Dia nggak mungkin sampai melewati batasannya." Ucap Verrel mengatakan apa yang sedang ia pikirkan.
Bukannya membuat Nayla tenang dan merasa lebih baik. Entah mengapa mendengar apa yang Verrel katakan, seakan mematik api pada diri Nayla.
Gadis itu pun menatap Verrel tak suka. "Lo bisa bilang gitu karena dia sahabat Lo, Rel! Mana ada sahabat yang ngejelekin sahabatnya sendiri?" Protes Nayla.
"Tapi coba Lo liat, Beb! Dengan mengesampingkan dulu rasa nggak suka Lo itu. Ngelihat Dira yang kayak gitu, Bisa Lo lihat betapa khawatirnya Axell? Itu tandanya Axell emang beneran sayang sama Dira. Coba deh, Lo ingat-ingat! Pernah nggak Axell sebegitu sayangnya sama cewek sampai kek gini? Coba Lo bandingin waktu Axell sama Rere dulu! Jauh banget nggak, sih?" Ucap Verrel yang berusaha mencoba memberikan pengertian pada kekasihnya itu.
Dalam hati Nayla membenarkan apa yang Verrel katakan. Disini Nayla bisa melihat Axell yang benar apa kata Verrel barusan. Ia bisa melihat dengan jelas, terlihat guratan kekhawatiran yang sangat ketara dari wajah Axell saat ini.
"Si ibu negara kita kenapa, Xell?" Tanya Bastian yang kini mendekat ke arah Axell untuk melihat keadaan Dira lebih jelas. Laki-laki itu enggan menyimak sepasang kekasih yang sepertinya sedang bersi tegang di sampingnya tadi.
Axell menggeleng pelan, "Gue juga nggak tau, Bas. Pas gue telepon Dira, Melody yang angkat dan bilang kalau Dira lagi di sini." Jawab Axell tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari Dira.
Bastian mengangguk mengerti. "Jadi itu yang bikin lo nggak jadi masuk ke kantin tadi." Tanya Bastian memastikan.
Axell mengangguk. "Kayaknya gue harus telepon Om David buat mastiin keadaan Dira. Dia suka aneh akhir-akhir ini." Putus Axell. Laki-laki itu lalu mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan mencari kontak Om David.
Tapi belum sempat Axell menekan tombol panggil, terdengar suara lenguhan dari Dira. Sepertinya istrinya itu akan bangun. Dan benar saja.
"Kak Axell ... kok Kak Axell bisa ada di sini?" Tanya Gadis itu setelah benar-benar membuka matanya dan mendapati Axell yang duduk tepat di samping brankar yang ia tempati sekarang.
Bukannya menjawab pertanyaan Dira, Axell malah melontarkan pertanyaan balik pada istrinya itu, "Kenapa nggak bilang kalau kamu lagi nggak enak badan sih, Yang? Hmm? Sengaja ya mau bikin aku khawatir?" Ucap Axell pelan.
Dira tersenyum mendengar apa yang Axell katakan. Ia lalu duduk dan meraih satu tangan Axell untuk ia genggam.
__ADS_1
"Aku nggak pa-pa kok, Kak. Beneran. Mungkin cuma salah makan aja tadi." Jawab Dira pelan.
"Aku telepon Om David ya, Yang? Atau kita ke rumah sakit aja gimana? Aku khawatir banget sama kamu."