Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
69. Dira aman sama gue. (Axello)


__ADS_3

Seorang cowok berseragam sekolah menengah atas duduk seorang diri di salah satu bangku taman SMA Bhakti Bangsa. Ia sedang menatap lurus ke depan tepat di pintu gerbang sekolah. Memperhatikan setiap kendaraan yang masuk.


Tiba-tiba pandangannya terfokuskan pada sebuah mobil sedan mewah hitam mengkilat yang baru saja memasuki pintu gerbang dan berjalan mulus menuju parkiran khusus. Tak berapa lama keluarlah seorang gadis berambut panjang kecoklatan yang di biarkan terurai dengan indah. Disusul dengan seorang cowok yang keluar dari balik kemudi tak lama setelah gadis itu keluar tadi.


Cowok yang masih betah duduk di taman itu mengamati gadis tadi. Detik kemudian ia mendesah pelan. "Huuhh... Dira."


"Kenapa, bro. Pagi-pagi udah ngelamun? Kesambet setan tau rasa, Lo!" Cibir seseorang yang baru saja datang dan langsung duduk di samping cowok tadi.


"Hati gue... sakit, Rel." Jawab cowo tadi tak bersemangat.


Cowok yang baru saja datang tadi mengernyitkan dahinya bingung, "Lah... Emangnya Lo punya hati?" Cibir cowok tadi yang tak lain adalah Verrel.


"Ck. Sialan, Lo. Temen lagi patah hati juga." Cibir cowok itu pada sahabatnya.


"Patah hati sama siapa, sih, Bas? Makanya cerita sama gue kalo Lo lagi ada masalah! Jangan Lo pendem sendiri! Lama-lama nggak kelar tuh masalah, gila iya." Ujar Verrel pada sahabatnya itu, Bastian.


Bastian kembali mendesah pelan. "Dira, man... Bidadari gue sekarang udah ada yang punya."


"Dira?" Ulang Verrel. "... Udah punya cowo maksud Lo?" Tanyanya lagi.


Bastian mengangguk pelan. "Diam-diam doi udah jadian sama Axell. Kek nggak percaya aja gitu... Berasa di tikung gue."


"Siapa yang di tikung, Bas?" Sahut Nayla yang baru saja datang. Sementara Verrel langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir, bermaksud agar Nayla diam.


"Axell? Kapan mereka jadian?" Tanya Verrel yang mencoba mengorek informasi yang belum ia ketahui.


Bastian menggeleng lalu menoleh ke arah Verrel sekilas, "Gue nggak tau kapan lebih tepatnya. Axell nggak mau jawab sejak kapan mereka jadian."


Sebenarnya Verrel sudah tahu hubungan antara Dira dan Axell, walau hanya status pacaran yang Verrel ketahui. Tapi untuk lebih tepatnya kapan hubungan itu mulai terjalin, Verrel juga tak bisa menebak.


"Kok Axell nggak pernah cerita ke kita, ya?" Tanya Verrel pura-pura terkejut mendengar kabar jadiannya Axell dengan Dira.


Verrel sedang menebak, mungkin hubungan keduanya baru terjalin beberapa Minggu. Mengingat ia yang sering memergoki Axell dan Dira yang berada dalam satu waktu di tempat yang sama belakangan ini. Bahkan Verrel pernah dengan sengaja mengikuti keduanya. Tapi karena ada telepon mendadak dari mamanya, terpaksa Verrel harus menghentikan laju mobilnya untuk mengikuti kemana Axell dan Dira pergi. Verrel pikir, itu awal proses pendekatan keduanya.


'Berarti waktu itu, mereka udah in relationship, dong!'


Sementara Nayla yang tak tau apa-apa jadi bingung sendiri. Melihat Bastian yang biasanya terlihat ceria, kini berubah menjadi murung. Dan ia sempat mendengar kata di tikung. Lalu, apa hubungannya dengan Axell yang katanya baru jadian? Memangnya Axell jadian sama siapa?


"Beib, ini ada apa?" Tanya Nayla yang kini sudah tidak dapat menebak apa yang sudah terjadi sebenarnya.


"Si Axell... Udah in relationship sama Dira."

__ADS_1


...**...


"Lo kemarin kemana, Dir. Kok nggak masuk?" Tanya Melody sebelum memasukkan bakso ke dalam mulutnya. Kini keduanya sedang berada di kantin sekolah setelah bel istirahat berbunyi sepuluh menit yang lalu.


"Perut gue nyeri, Mel... biasa." Jawab Dira sambil mengutak-atik ponselnya.


"Oh ... Kirain ..." Jawab Melody menggantung.


Dira menoleh. "Kirain apa, Mel?" Tanyanya.


"Kirain Lo bolos buat janjian sama kak Axell, sengaja nggak masuk kalian berdua." Jawab Melody yang memang berpikir kalau Dira tidak masuk sekolah karena tengah bersama dengan Axell. Mengingat apa yang di katakan Zaki padanya tentang Axell dan Dira. Melody sedang mencoba mencari tahu kebenarannya.


Tak langsung menjawab, Dira lalu menggelengkan kepalanya, "Ada-ada aja Lo, Mel."


"Tapi beneran deh, Dir. Gue sempet ngira kalo Lo sama kak Axell ada something. Apalagi kalo ngeliat cara dia lagi Mandang Lo... Kek ada manis-manisnya gitu." Jawab Melody yang mengatakan pendapatnya.


"Lo kira iklan air minum, ada manis-manisnya?" Cibir Zaki yang baru saja datang entah dari mana.


"Nyaut aja, Lo! Ini urusan cewe, Lo cowo diem!" Protes Melody.


"OK, gue ganteng, gue diem." Jawab Zaki.


Sementara Dira yang melihat perdebatan kecil antara Melody dan Zaki hanya tersenyum. Sepertinya perdebatan di antara keduanya tidak akan ada habisnya.


Tak lama kemudian, datanglah Verrel dan sahabatnya si tengil yang sedang patah hati. Bastian.


"Kalian cuma bertiga? Terus Nayla mana?" Tanya Verrel yang tak melihat adanya Nayla pada Dira dan teman-temannya.


"Nayla belum kesini, kak." Jawab Dira setelah menyesap minumannya.


"Ah... masa', sih? Padahal tadi dia bilang mau kesini, nemuin Lo." Tanya Verrel yang tak yakin dengan jawaban Dira.


"Lagi di toilet kali, kak." Sahut Melody.


Sementara Bastian, cowok itu jadi lebih banyak diam sekarang. Bastian yang biasanya akan selalu heboh dan bersemangat saat bertemu Dira, kini malah merasa sedih setiap melihat gadis yang berhasil merebut hatinya itu. Bagaimana tidak, gadis yang ia impikan akan menjadi kekasihnya itu kini telah menjadi kekasih sahabatnya. Dan mau tak mau, ia harus merelakan perasaanya untuk melepas gadis itu.


"Lo kenapa, Bas? Sakit gigi?" Tanya Zaki yang terkesan mencibir melihat Bastian yang tak seperti biasanya. "... Diem-diem Bae, nggak kek biasanya Lo!"


Verrel menoleh ke arah Bastian yang sepertinya tak ada minat untuk menjawab apa yang Zaki katakan. "Lagi patah hati dia. Si Dira, bidadarinya udah jadian sama sahabatnya sendiri." Jawab Verrel.


Zaki mendengus geli, "Udah gue kira, sih. Ini bakal terjadi kalo Babas tau mereka berdua... pacaran." Jawab Zaki enteng sambil mengusap wajahnya yang basah dengan keringat sehabis makan bakso pesanannya.

__ADS_1


"Jangan bilang Lo udah tau dari lama, Zak!?" Tanya Verrel sambil mengangkat telunjuknya ke arah Zaki. Sementara Zaki hanya Mengangkat bahunya acuh. Ia enggan menjawab.


"Lo beneran jadian sama kak Axell, Dir?" Tanya Melody yang langsung menyela sesi tanya jawab antara cowok-cowok tadi. Melody juga penasaran disini. Apa yang ia pikirkan selama ini sepertinya akan terjawab sebentar lagi.


Dira masih diam. Melihat Bastian yang seperti ini, gadis itu jadi tak enak sendiri.


*Kalo nggak enak kasih kucing aja, Dir!! 🤣🤣


Verrel yang melihat Dira hanya diam jadi gemas sendiri. Kenapa untuk berkata 'iya' terlalu sulit untuk gadis itu lakukan?


"Yaelah, Dir. Bilang IYA, GUE UDAH JADIAN SAMA AXELL. Gitu doang... apa susahnya, sih? Jelas-jelas Babas liat Lo kemaren di apartemen Axell. Sok-sok'an nggak mau ngaku. Nih, ya, Dir... Ibarat maling, Lo itu udah ketangkep basah." Protes Verrel.


Sementara Melody, ia hanya melongo setelah mendengar apa yang baru saja Verrel katakan. Ini secara langsung membenarkan apa yang ada di pikirannya sekaligus menjadi pembenaran tentang apa yang Zaki katakan kemarin.


"Jadi kabar itu bener, Dir? Udah gue duga dari lama juga, sih. Sebenernya diem-diem gue sering perhatiin kak Axell dari jauh. Ia kek ngawasin Lo gitu." Cerocos Melody yang mengatakan apa yang selama ini ia lihat.


"Jadi diem-diem Lo suka perhatiin si Axell, Mel." Tanya Verrel antusias.


"Iya, kak. Ya kita semua taulah kak Axell orangnya seperti apa? Kelewat cuek. Apalagi kalo sama yang namanya cewe. Tapi semenjak hari itu, waktu kak Axell yang nolongin Dira pingsan, kak Axell jadi suka perhatiin Dira diam-diam. Menurut gue nih, ya, kak... kak Axell suka sama Dira itu udah lama." Jelas Melody.


Verrel mengangguk mengerti. Apa yang ada dalam pikiran Melody sama persis dengan apa yang ada dalam pikirannya. Verrel juga sering mendapati sahabatnya itu tengah memperhatikan Dira diam-diam. Axell yang cuek saat teman-temannya sedang bicara seketika akan merespon saat mendengar nama 'Dira'.


"Jadi beneran, dong, Dir, Lo kemaren sama kak Axell?" Tanya Melody yang tak sabar menunggu Jawaban yang keluar dari mulut Dira. Padahal jelas-jelas ia sudah tau sendiri apa jawabannya.


Sementara Dira, gadis itu masih diam. Ia menggigit bibir bagian dalamnya. Lalu bangkit. "Gue ke toilet bentar, ya!" Ujarnya lalu pergi keluar dari kantin


...***...


"Stop, Xell. Ada yang mau gue omongin sama Lo. Bentar!" Ucap seorang gadis yang menghentikan langkah kaki Axell untuk keluar dari ruang OSIS.


Axell hanya mengangkat satu alisnya seakan bertanya ada apa? Kenapa tiba-tiba gadis di depannya ini menghentikan jalannya.


"Gue denger Lo jadian sama Dira. Udah sejak kapan?" Tanya gadis itu.


"Kenapa Lo ingin tau?" Bukannya menjawab, Axell malah melontarkan pertanyaan pada gadis tadi.


"Ya karena Dira itu sahabat gue. Dan gue nggak mau kalo Lo sampai nyakitin dia." Jawab gadis tadi yang tak lain adalah Nayla.


Axell mendengus geli mendengar jawaban Nayla, "Yakin itu alasan Lo? Bukan karena Lo yang lebih ngedukung Dira jadian sama sahabat Lo yang lain... Si Arfen?" Tanya Axell menohok.


Nayla menghela nafas pelan. "Gue nggak masalah Dira mau pacaran sama Lo ataupun juga sama Arfen. Bagi gue, selama Dira bahagia gue pasti akan dukung keputusannya. Yang gue takutkan disini kalo Dira sampai milih orang yang salah. Gue hanya pengen Dira pacaran sama orang yang benar-benar pantes buat dia dan juga bisa jagain dia." Jawab Nayla.

__ADS_1


Axell menarik satu sudut bibirnya, "Lo tenang! Dira aman sama gue."


__ADS_2