
Axell berjalan santai menuju kelasnya. Dengan satu tangan yang sengaja ia masukkan ke dalam saku celana sebelah kiri, semakin menambah kesan cool yang selalu melekat pada image dari sang ketua OSIS Bhakti Bangsa itu.
Saat hampir menaiki tangga yang akan membawanya menuju ke lantai tiga - dimana kelasnya berada, suami dari Dira itu tiba-tiba menghentikan langkah. Karena merasakan ponselnya yang bergetar di dalam saku celana sebelah kanan.
Tangan kanan Axell merogoh ponsel tersebut dan melihat siapa yang sedang menelponnya di jam sekolah seperti sekarang ini.
'Ayah?' Gumam Axell dengan satu alis terangkat, setelah melihat nama si pemanggil. Tidak biasanya sang ayah menelpon di jam sekolah seperti sekarang ini. Ada hal penting mungkin? Begitu pikirnya.
Tak ingin membuat sang ayah semakin lama menunggu, Axell memutuskan untuk segera menerima sambungan telepon tersebut.
"Halo... Assalamualaikum, Yah?"
"(....)."
"Hari ini, Yah?"
"(....)."
"Baik, Yah. Axell langsung kesana."
"(....)."
Tuutt... tuutt...
Layar ponsel Axell langsung menggelap setelah sambungan telepon itu sengaja di putus dari sang ayah di seberang sana setelah menyelesaikan kalimatnya.
Axell lalu berbalik. Ia mengurungkan niatnya untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Ia lebih memilih izin hari ini demi membantu ayahandanya di kantor. Menggantikan sang ayah untuk meeting dengan salah satu perusahaan yang meminta untuk bekerja sama dengan perusahaan milik ayahnya itu.
Sampai di dalam mobil, Axell menunda untuk menyalakan mesin mobilnya. Ia lalu mengetikkan pesan yang ia tujukan untuk sang istri. Mengatakan kalau ia akan ke kantor hari ini.
^^^📤 Axarkan.^^^
^^^Yang, aku ke kantor ayah.^^^
^^^Ada meeting.^^^
^^^Nanti kmu pulang sama Melody atau minta antar pulang Babas!^^^
__ADS_1
^^^Gpp kan?^^^
^^^Love you, Baby.^^^
Send ✅
Masih dengan posisi seperti tadi, Axell tak langsung menyalakan mesin mobilnya. Ia masih menatap isi pesan yang ia kirimkan untuk Dira yang terlihat masih centang satu abu-abu. Itu tandanya sang istri sudah mulai mengikuti pelajaran. Entah mengapa perasaannya menjadi aneh. Ia tiba-tiba merasa khawatir yang entah untuk apa, Axell sendiri tak mengerti.
"Perasaan gue aja kali." Monolognya. Lalu ia memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya. Detik kemudian Axell mulai menyalakan mesin mobil dan mulai meninggalkan area parkir khusus SMA Bhakti Bangsa.
...***...
Kurang dari satu jam, kini Axell sudah sampai di lobi kantor ayah Marvellyo dengan setelan jas rapi lengkap dengan dasi yang terpasang di lehernya.
Axell berjalan tenang menuju dimana ruangannya berada. Nampak sesekali kepalanya mengangguk samar tanpa senyum, untuk membalas para karyawan yang menyapanya ramah.
Sebelum menuju ke kantor, Axell tadi pulang ke apartemen terlebih dulu untuk mengganti pakaiannya. Sangat tidak mungkin ia meeting dengan seragam sekolah yang menunjukkan terang-terangan dimana ia mengenyam pendidikan. Selain tidak pada tempatnya, Axell tak ingin jika ada orang yang akan meremehkan kinerjanya karena terlihat masih sebagai seorang pelajar.
Tanpa mereka semua tahu, menggantikan ayah Marvellyo meeting sudah Axell mulai dari semenjak ia menginjak SMA Bhakti Bangsa. Disaat teman sebayanya masih sibuk belajar, nongkrong dan hura-hura tak jelas, Axell sudah harus disibukkan dengan berbagai kesibukan di kantor sang ayah. Bisa di bilang, masa remajanya terasa monoton dan sangat membosankan.
Ironi memang. Axell bahkan jarang masuk ke sekolah karena kesibukannya di kantor. Melewatkan masa SMA, dimana teman-teman begitu menikmati masa remaja seusianya.
Namun, ternyata pelarian Axell hanya sia-sia saja. Bagaimana tidak? Saat turun dari pesawat, Axell langsung dibuat terkejut dengan adanya enam orang pria dewasa berpakaian ala body guard dan berjalan mendekat kearahnya. Mereka membungkuk hormat saat setelah berhenti tepat di depan Axell.
'Shitt!' Umpatnya kala itu. Padahal Axell yakin, tidak ada yang mencium kepergiannya ke London. Akhirnya, Axell hanya bisa pasrah, karena saat itu juga, Axell langsung di bawa pulang ke Indonesia menggunakan jet pribadi.
Langkah kaki Axell terhenti saat akan memasuki ruang kerjanya. Ia menoleh saat melihat pak Septa yang berjalan mendekat kearahnya. Kepala Axell mengangguk setelah melihat senyum dari asisten ayahnya tersebut.
"Tuan muda, anda sudah di tunggu Tuan Marvell di ruangannya." Ucap pria paruh baya yang sudah Axell kenal bahkan saat usianya masih kecil.
"Panggil Axell saja, pak!" Jawab Axell dengan satu tangan yang mempersilahkan pak Septa untuk berjalan di depannya.
Pak Septa mengangguk dengan senyum. Ia melupakan satu hal, Axell tidak suka jika ia memangilnya dengan sebutan Tuan muda.
Tok...
Tok...
__ADS_1
Tok...
"Masuk!" Terdengar suara dari ayah Marvellyo yang membuat pak Septa langsung membuka ruang kerja yang terlihat paling berbeda dari ruangan lainnya.
"Pagi, ayah." Sapa Axell saat masuk ruang kerja Ayah Marvellyo.
"Pagi. Baru sampai, boy?" Tanya ayah Marvellyo setelah melihat kedatangan sang putra bersama dengan asistennya.
"Baru aja, yah." Jawabnya setelah duduk di sofa. Sementara pak Septa duduk di samping seseorang yang sudah lebih dulu sampai sebelumnya, tepat didepan Axell, hanya terhalang meja.
Tangan kekar Axell meraih dua map berisi berkas yang terletak di atas meja. Dapat ia tebak, itu adalah file berisi materi penting meeting untuknya pagi ini.
"Perusahaan mana yang harus Axell handle kali ini, Yah?" Tanya Axell sebelum membuka isi dari salah satu berkas yang ada ditangannya.
"MG." Jawab ayah Marvellyo singkat. Pria paruh baya itu masih sibuk membubuhkan tanda tangan pada berkas yang tadi sekertarisnya antar sebelum kedatangan Axell tadi.
"MG?" Ulang Axell meyakinkan apa yang baru saja ia dengar tadi. Satu alis Axell terangkat. Pandangannya kini beralih menatap pak Septa yang kini juga menatap padanya.
Pak Septa mengangguk membenarkan apa yang Axell ucapkan tadi. Axell reflek menoleh pada sang ayah. Matanya memincing melihat ayahnya yang terlihat biasa saja.
"Ayah sengaja?" Tanya Axell terkesan menuduh. Ia kembali meletakkan berkas yang tadi belum sempat ia lihat isinya.
"Kenapa masih bertanya kalau kamu sendiri sudah tau jawabannya, boy?" Jawab ayah Marvellyo yang kini menutup berkas yang sudah ia tanda tangani.
"Kenapa harus Axell? Kenapa bukan ayah yang meeting dengan pihak MG?" Tanya Axell yang terkesan seperti menolak pertemuan yang akan ia lakukan sebentar lagi.
Ayah Marvellyo tersenyum. "Lakukan tanpa perlu bertanya kenapa, boy! Ayah hanya ingin melihat hasil yang akan kamu putuskan untuk perusahaan itu." Jawab ayah Marvellyo yang kini berdiri dan mulai memakai kembali jas yang ia letakkan di belakang sandaran sofa kebesarannya. Ayah Marvellyo bersiap menghadiri meeting penting lainnya bersama dengan pak Septa.
Axell diam. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Tiba-tiba ia teringat dengan wajah seseorang yang secara tidak langsung pernah membuatnya begitu meradang dengan sang istri. Satu sudut bibir Axell terangkat samar. "Ayah akan dapatkan hasilnya."
Axell lalu bangkit dan berjalan meninggalkan ruang kerja sang ayah, disusul dengan seseorang yang tadi duduk disamping pak Septa dengan dua berkas yang terletak diatas meja tak lupa juga ia bawa.
Keduanya berjalan menuju ruang meeting yang berjarak tak jauh dari ruang kerja Ayah Marvellyo.
Tepat sampai didepan pintu, Axell menghentikan langkah dan diikuti pula dengan seseorang yang berjalan dibelakangnya tadi. Axell berbalik. Ia menatap tampilan cowok di depannya sekarang ini. Keduanya saling pandang untuk beberapa saat. Tampilan keduanya hampir sama. Hanya beda usia tiga tahun dan juga status.
Menit berlalu, cowok tadi tersenyum pada Axell. "Bagaimana kabar anda, Tuan Axell? Sepertinya anda kelihatan jauh lebih baik dari yang terakhir kita bertemu ... saat anda melarikan diri hari itu?"
__ADS_1
Axell mendengus sebal. "Jangan terlalu formal sama gue, Ndu! Dan juga, gue minta Lo lupain kejadian itu!"